Rabu, 09 September 2009

Putri Resi Visvamitra

Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran, pekarangan rumah adalah alam rasa... dan alam bebas adalah alam Kesadaran Murni. Antara pikiran dan kesadaran ada alam rasa. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas; bukan kebebasan yang dibatasi, tetapi kebebasan yang membatasi diri, karena sesungguhnya pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah. Cinta adalah Alam rasa. Cinta berada antara pikiran yang membelenggu dan kesadaran yang membebaskan. Satu di bawah cinta kita terbelenggu: kita jatuh kepada nafsu. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki kasih! *1 Kidung Agung

Putri Resi Visvamitra

Shakuntala berbahagia melihat putranya yang nampak cerdas tampan dan berwibawa. Tetapi hatinya sedih mengingat ayah dari putranya tersebut telah berjanji menjemputnya, tetapi sampai putranya berusia enam tahun, belum juga menampakkan batang hidungnya. Ibu muda yang anggun dan sangat cantik ini menutup kedua matanya, mengatur napas dan dengan jernih mulai mengingat beberapa episode peristiwa yang telah dilaluinya.

Resi Kanwa, ayah angkatnya bercerita tentang Kausika ayahandanya yang juga bergelar Resi Visvamitra. Kausika adalah seorang raja besar yang pernah merasa tak berdaya karena dikalahkan resi Vasishta. Tekadnya begitu kuat sehingga dia meninggalkan istana dan bertapa bertahun-tahun. Demi peningkatan kesadaran, Kausika melepaskan kenyamanan dari harta, tahta, dan usia demi peningkatan kesadaran. Upayanya membawa hasil dan dia diberi gelar Rajarsi, raja resi oleh para dewa.

Dalam tapanya dia selalu menolong orang yang sedang kesusahan. Raja Trisanku pernah dikutuk menjadi seorang candala dan datang mohon pertolongan kepada Kausika yang kemudian membuatkan surga khusus baginya, sehingga Indra pun mengakui kedaulatan surga tersebut. Kausika juga membantu Sunahsepa yang telah rela mengorbankan nyawanya demi Raja Harischandra dan putra mahkota Rohita dan akhirnya mereka semua dapat diselamatkannya. Kausika terus bertapa sambil membantu mereka yang dalam kesusahan. Dia telah mencapai Rajarsi.

Indra yang takut tahtanya terganggu oleh semangat dan upaya keras Resi Kausika mengirim Menaka salah satu apsari tercantik untuk meruntuhkan tapa Kausika. Alkisah Kausika lupa diri dan menghabiskan lima tahun bersama Menaka. Setelah lima tahun, Kausika sadar dan Menaka sangat takut dimarahi. Tetapi Kausika tidak marah dan berkata bahwa dia akan melanjutkan tapanya yang belum selesai.
Konon akhirnya dia mencapai tingkat Maharsi. Dan dia meneruskan tapanya lagi ingin mencapai Brahmarsi. Indra memanggil Rambha salah satu apsarinhya untuk mengganggu tapa Kausika lagi. Kausika waspada dan tak mau terperosok kedua kalinya. Kemudian dia marah dan mengutuk Rambha untuk hidup seribu tahun di dunia.

Setelah mengutuk dia sadar bahwa dia belum dapat mengendalikan kemarahannya. Akhirnya dia bersumpah untuk mengendalikan indera dan bertapa tanpa bicara. Pada akhirnya Kausika menjadi Brahmarsi dan diberi gelar Visvamitra mencapai kebahagiaan sejati.

Upanishad, esensi dari Veda, kitab suci umat manusia ini mendefinisikan ‘ananda’ atau kebahagiaan seperti mengharapkan orang dungu yang menjelaskan manisnya gula. Bahkan orang tercerdas pun sulit menjelaskan rasa manis gula. Jadi, mereka yang sudah merasakan kebahagiaan akan tetap diam. Mereka yang belum merasakan biasanya petatah-petitih menggambarkan kebahagiaan itu. *2 Si Goblok

Shakuntala putri angkat Resi Kanwa

Shakuntala ingat bahwa ayah angkatnya menyampaikan bahwa Apsari Menaka meninggalkan Shakuntala di hutan dan dia kembali ke kahyangan. Resi Kanwa sahabat Visvamitra menemukan anak kecil perempuan ditemani burung-burung Shakunta. Anak tersebut diberi nama Shakuntala dan diangkat sebagai putri angkatnya.

Shakuntala ingat bahwa dirinya menjadi anak berbakti dan sangat patuh terhadap ayah angkatnya yang dianggapnya sebagai ayah sendiri. Shakuntala mendapat ajaran tentang etika dan keagamaan dan tidak pernah pergi ke kota, sehari-hari hanya berada disekitar pondok sang resi dan sekali-sekali ke hutan di dekatnya.

Pada suatu hari dirinya kedatangan tamu seorang pemuda tampan yang mengaku sebagai Raja Dusyanta. Sang pemuda sedang berburu di hutan dan mampir ke pondok sang resi. Dirinya pernah mendengar tentang raja muda Dusyanta yang tampan dan perkasa, yang menaklukkan banyak harimau yang mengganggu pedesaan. Kini dia bertemu sang raja yang nampaknya terpesona kepada kecantikannya.

Dusyanta berbahagia mendengar Shakuntala merupakan putri Raja Kausika yang telah menjadi Resi Agung Visvamitra. Dusyanta minta dirinya menjadi istri dan bahkan menjanjikan putra buah kasih mereka akan dijadikan putra mahkota. Dirinya telah bilang agar menunggu Resi Kanwa yang sedang bepergian, tetapi sang raja muda mendesaknya, dan kedua hati memang telah bertaut dan sebagai ksatriya maka raja berhak mengadakan perkawinan secara gandharwa.

“Dinda Shakuntala, Atman adalah satu-satunya saudara yang dipunyai orang, satu-satunya teman, satu-satunya orang tua. Kamu tidak melanggar dharma, memberikan dirimu kepadaku dengan persetujuan Atmanmu. Menikahlah denganku secara gandharwa.”
“Kanda Dusyanta, jika jalan ini adalah jalan kebenaran aku menurut. Tetapi berjanjilah putra kita yang akan lahir menjadi raja sesudahmu.”

Setelah Dusyanta berjanji, mereka kawin dengan peralatan ritual sederhana yang ada di padepokan Resi Kanwa.

Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Dan energi tidak bisa mati, tidak bisa dibunuh. Jadi, bagi dia badan itulah materi. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Oleh karena itu mereka selalu mengagung-agungkan kekuatan pikiran. Ada lagi yang menganggap ‘rasa’ atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati. Itulah ‘energi yang tak terjelaskan. Itulah ‘kesadaran murni’ yang tak terungkapkan. *3 Shangrila

Raja Dusyanta kembali ke istana dengan rasa ketakutan terhadap Resi Kanwa, seorang petapa yang keras. Ada beberapa senjata yang paling ditakuti orang, senjata raja adalah pasukannya, sedangkan senjata resi adalah kutukannnya.

Resi Kanwa datang setelah Raja Dusyanta pergi. Shakuntala masuk kamar malu menemuinya. Dengan mata batinnya, sang resi paham apa yang telah terjadi.
“Shakuntala, aku tidak marah, aku merestui perkawinanmu. Dusyanta adalah raja besar yang adil bijaksana. Ia raja terbaik. Kamu akan menjadi ibu dari putra yang akan menjadi maharaja agung.”

Putra Dusyanta

Tahun demi tahun berlalu, Sarwadamana, sang putra menjadi besar dan nampak aura kewibawaan yang memancar darinya. Tetapi Dusyanta belum datang juga. Shakuntala merasa waktu berjalan sangat lambat.

Semua hanyalah permainan pikiran belaka. Orang bisa fokus pada satu waktu kemudian menjadi tidak fokus. Momen waktu menjadi sangat kuat melebihi apa pun. Orang lahir pada satu waktu kemudian mati pada satu waktu juga. Ada saat bahagia dan juga saat sedih. Suatu momen bisa bertahan selamanya, tetapi bisa juga berakhir mendadak. Saat Anda bahagia, banyak yang bilang, waktu berlalu begitu cepat. Saat Anda sedih, waktu seolah-olah merayap bagai siput. Jadi, waktu itu apa? Waktu hanyalah cerminan pikiran Anda, kondisi mental Anda. Kita mungkin hidup di rentang sejarah yang sama, tetapi masing-masing dari kita sebenarnya hidup dalam unit waktunya sendiri. Benar, unit waktu saya bisa jadi berbeda dengan unit waktu Anda. Saya mungkin melewati tahun 2009 ini dengan perasaan sedih, dan Anda mungkin sebaliknya. Waktu bisa saja berlalu begitu lambat bagi saya namun begitu cepat bagi Anda. *2 Si Goblok

Akhirnya sang resi memanggil Sarwadamana, “Cucuku, dari pihak ibumu kau adalah cucu dari Raja Kausika yang agung, yang penuh semangat meniti ke dalam diri, bahkan meninggalkan tahta, membantu orang yang kesusahan dan mencapai Brahmarsi yang disegani bahkan oleh seluruh dewa. Dari pihak ayahmu, Dusyanta mempunyai garis keturunan dari Raja Puru putra Yayati yang bijaksana. Kamu mempunyai genetika bawaan sempurna sebagai raja, sekarang bawa ibumu menghadap ayahmu. Kau jangan memaksa ayahmu menerima dirimu sebagai putranya. Bila dia belum menerima, jangan paksa, yakinlah ada waktunya dia akan memelukmu memanggilmu putra. Aku segera melakukan samadhi mencoba menghubungi kakekmu yang masih bertapa selama seribu tahun. Dia akan membantumu dari jauh. Yakinlah.”

Shakuntala kemudian menurut saja digandeng sang putra menuju istana.

“Ibu aku telah dipesan kakek, sebaiknya ibu menceritakan kisah sebenarnya kepada ayahanda. Setelah itu jangan menangis. Diterima atau tidak diterima ayahanda adalah urusan Gusti. tetapi masalah ini harus terselesaikan. Sehingga arah hidup ananda jelas menjadi putra raja atau mengikuti kakek menjadi seorang pertapa.”

Sepanjang perjalanan semua orang memperhatikan mereka dengan penuh penghormatan. Seorang ibu muda yang anggun bak dewi kahyangan dengan putra yang tampan dan memancarkan aura kewibawaan. Wajah sang putra tidak asing bagi mereka, itu adalah wajah raja Dusyanta.
Sampai di istana mereka melihat sang raja sedang duduk di singgasana. Sang putra segera mengajak sang bunda bersujud menghormati Gusti yang mewujud sebagi raja.

Penolakan Dusyanta

Shakuntala mengingatkan sang raja tentang kejadian sewaktu Raja berkunjung ke rumah Resi Kanwa, “Demikian Paduka Raja Dusyanta, ini adalah putramu hasil paduan kasih dari kita berdua.”
Sang Raja kaget, dan tegang luar biasa, “Tidak, aku tidak ingat benar siapa engkau, nampaknya kita pernah bertemu tetapi aku lupa.”

Kelemahan perkawinan gandharwa adalah tak adanya saksi yang kuat. Dusyanta bingung, bagaimana dia dapat memberi pemahaman kepada para menterinya tentang kejadian tersebut. Siapa yang dapat menjelaskan Sarwadamana benar-benar putranya? Ini adalah masalah besar bagi kerajaan. Begitu diakui, maka otomatis Sarwadamana menjadi putra mahkota. Yang tahu betul putra siapa adalah ibunya, tetapi apakah ibunya dapat dipercaya atau tidak? Dan Dusyanta kebingungan.......

“Ingat raja dulu kau mengajariku agar bertanya pada Atman yang berada dalam diriku untuk kawin denganmu. Mungkin itu sesuai kesadaranku pada waktu itu Manas, pikiran kuanggap Atman. Pikiranku segera memberikan persetujuan. Aku tidak peduli tentang kesadaranku, yang jelas aku sepenuh hati menjadi istrimu. Paduka raja, sekarang bertanyalah pada Atman-mu jangan pada Manas-mu!” “Seorang raja yang menipu dirinya, menipu Atmannya tidak pernah bisa mendapatkan ketenangan.”

“Mungkin kau menolakku karena aku anak asil perkawinan dari raja dengan seorang apsari, tetapi paduka tak dapat menolak darah dagingmu sendiri. Paduka saya ingatkan, nenek moyang paduka, Ayu adalah putra dari raja Pururava dengan Urvasi yang seorang apsari juga.”

Shakuntala menangis, hatinya tersayat dan penuh kekecewaan dan kemarahan. Sang putra segera menggandeng ibunya meninggalkan istana, “Bunda tenanglah, arah hidupku telah jelas, aku akan menjadi pertapa yang paling baik yang dapat membahagiakan dirimu. Yakinlah pada putra remajamu ini! Bunda mari pergi tinggalkan istana ini!”

“Wahai raja, aku mendengar dari kakek Kanwa, bahwa kebenaran ucapan adalah sama agungnya seperti pelajaran kitab suci dan mandi di sungai-sungai suci. Tidak ada dharma yang lebih besar selain kebenaran. Brahman adalah kebenaran mutlak. Jangan menghina Brahman dan Atman dalam diri paduka. Paduka, aku dan bunda mohon diri.”

Akhir yang membahagiakan

Sang raja tertegun, melihat punggung sang ibu dan sang anak. Hatinya ingin mengakui, tetapi dia malu kepada seluruh menterinya. Mau bicara tidak bisa, mau berdiri tidak mampu. Semua yang hadir tersentuh melihat sang ibu muda menangis terisak-isak, dihibur putra remaja yang tabah dan perkasa.
Tiba-tiba datang suara membahana dari langit: “Dusyanta, perempuan ini adalah istrimu, dan anak remaja ini adalah putramu. Dia akan menjadi maharaja yang besar melebihi dirimu. Shakuntala telah berkata benar. Jangan menghina Shakuntala yang telah lama menderita.”

Tiba-tiba nampak para dewa di langit, “Kemarahan seorang perempuan akan menghancurkan seluruh keluarga keturunan Puru. Kejar segera isterimu, tenangkan isteri yang luhur itu. Panggillah putramu dengan nama Bharata karena kami sudah memintamu mengambil dia.” Bhara berarti melindungi, mengawal. “Karena putramu inilah anak keturunanmu dipanggil sebagai dinasti Bharata.”

Sebuah campur tangan Ilahi, tanpa campur tangan ilahi, mungkin dinasti Bharata tak menjadi golongan ksatriya, tetapi menjadi golongan brahmana.

Dusyanta mengejar Shakuntala dan Bharata dan meminta mereka menjadi permaisuri dan putra mahkota.

Uang, materi, dan pikiran menurut Buddha, yang terbangkitkan, adalah “benda”. Dan, seperti benda lainnya, memiliki awal dan akhir. Semua itu hanya temporer, sementara. Kita berinteraksi dengan ketiganya, dan mendapatkan kenikmatan dari interaksi ini. Akan tetapi, kenikmatan pun hanya temporer, sementara. Kenikmatan pun tidak bertahan lama. Kenikmatan pun tidaklah abadi. Lalu, kita pun kecewa. Padahal, kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan inderawi yang memang hanya sementara. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi? Inilah yang menjadi alasan ketidakbahagiaan kita, kekhawatiran kita, stress dan depresi. Kita senantias mencari kebahagiaan, namun hanya segelintir yang menemukan kebahagiaanitu. Kenapa? karena mereka yang segelintir ini mencari kebahagiaan di tempat dan sumber yang tepat. Kebahagiaan itu lebih bersifat rohani dan, oleh karena itu, harus ditemukan di dalam ruh, dari dalam diri masing-masing. Kebahagiaan tidak bisa dicari di luar diri, dari benda-benda luar. Kebahagiaan bukanlah benda. Bukan pula materi. Kebahagiaan itu energi 100% dan 24 karat. Ups, tetapi energi dan materi itu relative, keduanya dikaitkan oleh hukum relativitas yang diteorikan oleh Eistein. *2 Si Goblok

Mata Parikesit menitik, Guru, sejatinya hanya karena rahmat Ilahi kami menjadi salah satu keturunan Bharata. Bagaimana dengan Shakuntala-Shakuntala dan Bharata-Bharata lain yang menjadi korban perkawinan gandharwa, yang ayahnya tetap tidak mengakui.

“Wahai Raja, semua yang lahir dan hidup tidak dapat lepas dari hukum sebab-akibat. Menanam padi menunggu panen 4 bulan lagi. Menanam jambu menunggu panen 7 tahun. Menanam pohon jati bisa menunggu puluhan tahun. Pikiran, ucapan, tindakan kita merupakan benih tanaman dan tak ada seorang, bahkan dewa pun yang tahu kapan panennya. Menerima dan menghadapi panen di depan mata dengan penuh kesadaran. Itulah intinya.”

“Akan tetapi itu semua terjadi dalam jaring ilusi maya. Karena kesadaran kita masih pada tingkatan mental emosional. Para suci kesadarannya telah melampaui kesadaran mental emosional. Semua tindakannnya berdasar intelegensia, selaras dengan alam. Bahkan sudah mencapai kesadaran murni, kebahagiaan hakiki.

Parikesit terharu, “Guru aku pasrah pada-Mu, Guru lebih tahu apa yang lebih baik bagiku. Biarlah Guru yang bersemayam dalam nurani, menjadi jiwa bagi diriku dan aku sekadar menjadi tangan-Mu saja. Namaste. Aku bersujud pada Dia yang berada dalam diri-Mu.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar