Sabtu, 05 September 2009

Kelahiran Parikesit, Sang Pewaris Tahta Hastina

Kelahiran Parikesit, Sang Pewaris Tahta Hastina



Peran mata harus dipahami dengan betul. Pemicu-pemicu di luar menggunakannya sebagai pintu untuk masuk ke dalam diri kita. Misalnya Anda “melihat” sesuatu di showcase toko. Muncul keinginan untuk memperolehnya, membelinya, maka tangan akan mencari dompet. Kaki akan bergerak masuk ke dalam toko. Awal mulanya dari “penglihatan”. Kesadaran kita mengalir ke luar lewat sekian banyak indra, tetapi mata adalah indra utama, gerbang utama. *1. Atma Bodha

Orang tua Parikesit

Abimanyu adalah seorang tokoh dalam perang Bharatayuda. Ia adalah putera Arjuna dengan Wara Subadra, adiknya Sri Krishna. Konon Wara Subadra adalah titisan Dewi Widowati yang pernah menitis sebagai Dewi Citrawati, isteri Prabu Arjuna Sasrabahu yang titisan Wisnu, kemudian menitis menjadi Dewi Sinta, istri Sri Rama yang juga titisan Wisnu, dan dalam Zaman Dwapara Yuga menitis ke Wara Subadra, adik Sri Krishna, sang titisan Wisnu.

Abimanyu menghabiskan masa kecilnya di Dwarawati, kota tempat tinggal ibunya. Ia dilatih oleh ayahnya, Arjuna, dibimbing pakdhenya, Prabu Kresna, dan di-‘momong’, diasuh sejak kecil oleh Semar dan putra-putranya. Disebutkan bahwa Abimanyu adalah inkarnasi dari putera Soma, Dewa Bulan. Sang Dewa Bulan membuat perjanjian bahwa puteranya tinggal di bumi hanya selama 16 tahun.

Abimanyu telah mempunyai istri Dewi Siti Sundari, salah satu putri Sri Krishna. Selesai bertapa, Abimanyu bertemu dengan Dewi Utari yang memiliki tanda-tanda bahwa wanita cantik ini akan kuat menerima wahyu ‘cakraningrat’. Oleh karena takut ditolak, Abimanyu menipu dengan mengatakan dirinya masih perjaka. “Kalau tidak percaya biarlah alam yang menjadi saksi”. Abimanyu masih menggunakan ‘mind’, belum pasrah terhadap Gusti, karena dia juga ingin kerajaan Wirata akan berkoalisi dengan Pandawa melawan Korawa. Abimanyu berusia 16 tahun saat ia terbunuh sebagai pahlawan dalam pertempuran Bharatayuda.

Parikesit adalah putra dari Abimanyu dengan Dewi Utari.



Wahyu ‘Cakraningrat’

Wahyu Cakraningrat adalah wahyu ‘wijining ratu’, wahyu pewaris raja. Alkisah banyak pemuda mencari wahyu cakraningrat agar keturunannya dapat menjadi Maharaja. Disebutkan ada tiga pemuda yang mencari wahyu cakraningrat: Raden Abimanyu, Ksatriya Plangkawati putra Raden Arjuna dengan Dewi Wara Subadra; Raden Samba Wisnubratha, Ksatriya Parang Garuda, putra Prabu Krishna dengan Dewi Jembawati; dan Raden Lesmana Mandrakumara, Ksatriya Sarojabinangun, putra Prabu Suyudana dengan Dewi Banowati.

Ketiganya bertapa di Alas Krendhawahana, sebuah hutan ‘gung liwang liwung, gawat keliwat-liwat, janma mara janma mati, sato mara sato mati’, daerah angker tempat Bathari Durga bersemayam, makhluk apa pun yang masuk akan mati.

Pada suatu tengah malam, terlihat seberkas sinar yang sangat terang berkeliling di atas Alas Krendhawahana. Sinar itu tak lain adalah Wahyu Cakraningrat yang tengah mencari ‘wadah’, pemuda yang sanggup menerimanya. Pertama-tama, Wahyu Cakraningrat “masuk” ke dalam diri Lesmana Mandrakumara. Merasa kemasukan wahyu, ia pun menyudahi tapanya. Dia sangat girang dan berpesta pora merayakannya bersama para prajurit Korawa. Mereka mabok kelezatan makanan dan minuman. Tingkat kesadaran Lesmana Mandrakumara masih di cakra bawah, cakra makan minum, sehingga sang wahyu cakraningrat tidak dapat bertahan lama. Hawa nafsu makan dan minum Lesmana Mandrakumara membuat suasana panas dan sang wahyu pergi ke luar.

Selanjutnya, Wahyu Cakraningrat “masuk” ke dalam diri Samba Wisnubratha. Merasa kemasukan wahyu, dia pun menyudahi tapanya. Bathari Durga tidak berkenan dengan hal tersebut dan mengubah dirinya menjadi bidadari yang cantik jelita. Dia pun menggoda Samba. Samba Wisnubratha terpengaruh dan tergoda. Dia pun mencumbu dan memperlakukan si wanita itu layaknya istri sendiri. Akibatnya sangat fatal, Wahyu Cakraningrat yang berada dalam tubuhnya seketika keluar dan melesat, mencari pertapa lain. Pusat kesadaran Samba masih di cakra seks, energinya masih cair dan selalu bergerak ke bawah menuju cakra kedua.

Kemudian Wahyu Cakraningrat “masuk” ke dalam tubuh Abimanyu. Merasa kemasukan wahyu, ksatria putra Raden Arjuna ini pun merasa sangat bersyukur kepada Gusti. Mengetahui momongannya kemasukan wahyu, Semar pun mewanti-wanti agar Abimanyu semakin berhati-hati.

Semar adalah pemandu manusia yang bijak, yang mengikuti perintahnya akan selamat. Ketika bidadari jelmaan Bathari Durga menggodanya, Abimanyu pun selalu menghindar meskipun si wanita terus-menerus mengejarnya. Melihat momongannya dalam kesulitan, Semar segera membantu. Dia menghajar sang bidadari habis-habisan. Tiba-tiba, si wanita cantik itu berubah wujud aslinya sebagai Bathari Durga yang bersegera mohon maaf dan menghilang. Guru, dalam hal ini Semar, Sang Pemandu mempunyai pengaruh luar biasa terhadap muridnya. Keyakinan seorang murid terhadap Gurunya akan menyelamatkannya. Pada saat itu kesadaran Abimanyu belum sepenuhnya berupa kesadaran kasih yang berpusat di cakra keempat. Pada saatnya kesadaran Abimanyu akan meningkat karena selalu di’momong’ oleh Semar.

Semar menasehati, “Raden Abimanyu, ‘momongan’-ku, hormatilah Kebenaran Jati Diri-mu, jangan kau merendahkan Diri Sejati-mu dengan harta, tahta dan wanita yang hanya menyamankan pancaindra dan pikiran secara sementara. Begitu kau terpesona dan terikat dengan duniawi itu kau telah menduakan Gusti. Gusti Kebenaran Abadi kau bandingkan dengan ilusi duniawi, hal tersebut termasuk tersesat dari jalan Kebenaran. Banyak manusia yang setiap saat mohon petunjuk agar diberikan jalan yang benar, jalan yang diridhoi, jalan yang tidak tersesat. Tetapi yang diinginkan mereka keduniawian dan bukan Gustinya sendiri, mereka menduakan Gusti. Bahkan Gusti pun hanya digunakan sebagai alat untuk mencari keduniawian. Apakah itu tidak berarti kesenangan egonya di-Tuhan-kan? Mungkinkah ego dapat terpuaskan? Contohlah Prabu Krishna, dia menjadi raja yang berpenampilan indah, tetapi semuanya tidak melekat di hatinya. Jangan terkecoh penampilan seseorang. Tindakan Sri Krishna selalu berpegang teguh pada Kebenaran.”



Senjata Aswatama

Dewi Drupadi histeris, lima putra dan semua saudara laki-lakinya terbunuh pada malam hari selagi tidur. Aswatama telah membunuh seluruh keturunan Pandawa yang masih hidup, sebagai balas dendam atas kematian Drona, ayahnya. Saat Arjuna menemukan Aswatama, mereka berperang tanding. Akhirnya, Bramastra, senjata Brahma, senjata sangat canggih dari Aswatama dilepaskan. Arjuna merasakan bulu kuduknya meremang, dan diingatkan Sri Krishna untuk segera melepaskan senjata yang sama.

Saat kedua senjata mengudara, Sri Krishna berteriak menggelegar, “Batalkan segera arah senjata-senjata itu, apabila sempat bertemu dunia akan musnah dan kalian berdua harus menanggung akibatnya! “ Arjuna dapat mengendalikan, tidak demikian dengan Aswatama. Diarahkannya bramastra ke calon cucu Pandawa yang masih dalam kandungan, agar habis anak keturunan Pandawa.

Aswatama kalah berperang tanding dan diikat dengan tali secara memalukan. Sudah sepantasnya, karena dia telah membunuh putra-putra Pandawa di malam hari tanpa menggunakan etika. …… Ternyata Drupadi minta Aswatama dilepaskan, dia ingat ibu Aswatama akan merana bila dia dibunuh. Drupadi telah dapat merasakan kesedihan seorang ibu yang putranya terbunuh.

Arjuna memotong rambut kebrahmanaan Aswatama, mengambil permata di dahinya, dan mengusir Aswatama. Sebuah penghinaan yang amat keji bagi Aswatama. Dia pergi dan dalam hati bertekad, “Ada suatu masa dimana anak keturunanku di Arva Sthan menaklukkan negara anak cucu kalian!”

Malam itu Dewi Utari lari terengah-engah menemui Sri Krishna. Dia merasa sebuah gumpalan energi gelap mengejar-ngejar dan mengancam kehidupan kandungannya. Sri Krishna paham, dan meminta Dewi Utari duduk diam, menutup mata dan berdoa. Dewi Utari merasakan kedamaian, dan dalam bayangannya Sri Krishna telah masuk ke dalam kandungannya menunggu bramastra datang, kemudian menangkap dan membawa senjata itu keluar dari tubuhnya.



Mencari Krishna

Selama sekian bulan dalam kandungan ibunya, seorang anak tidak perlu mencari makanan. Ia mendapatkan suplai 24 jam secara kontinu. Saat itu ia mendapatkan suplai makanan dari peredaran darah ibunya. Organ-organ di dalam tubuhnya tidak perlu bekerja keras untuk mengolah makanan. Begitu lahir, ia tersadarkan bahwa suplai makanannya sudah terhenti, muncullah rasa takut yang sangat mencekam. Ia mencari makanan! Barangkali belum lapar betul, tetapi ia sudah tahu bahwa sekarang makanan tak dapat diperolehnya dengan cara biasa. Rasa takut yang muncul karena lapar, atau karena makanan itu, sesungguhnya menciptakan “semangat” dalam diri seorang anak. Yaitu semangat untuk mencari, semangat untuk berjuang, dan semangat untuk menemukan. *2.Fear Management.

Yang dicari bayi putra almarhum Abimanyu dan Dewi Utari itu bukan makanan, tetapi Sri Krishna yang telah menyelamatkan hidupnya. Sejak kecil ia selalu memeriksa setiap orang apakah dia Sri Krishna yang menyelamatkannya ketika masih berada dalam kandungan. Karena itu dia dinamakan Raden Parikesit, yang sejak kecil selalu melakukan “pariksa” terhadap setiap orang, yang selalu mencari Sri Krishna.

Sementara ini, mata kita lebih banyak memboroskan energi. Perolehan energi lewat mata tidak seberapa. Kita sangat tergantung pada perolehan lewat kedua lubang hidung, mulut, dan pori-pori. Karena itu, banyak di antara kita yang mengalami gangguan pada saluran pernapasan. Energi yang kita peroleh tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Terjadinya ‘short-supply of energy’ ini menciptakan rasa takut dalam diri kita. Karena kekurangan energi, kita merasa terancam, lalu kita berusaha untuk “menarik” energi secara paksa. Seorang laki-laki bermata jelalatan, sesungguhnya sedang “menarik” energi. Seorang perempuan centil yang sedang menarik perhatian pun sesungguhnya sedang menarik energi. Orang yang berpoligami atau berpoliandri sedang menarik energi. Menambah jumlah istri, suami, atau simpanan, selir, pacar, semuanya adalah upaya untuk menarik enegi. Ketika menarik energi dengan cara itu pun terasa belum cukup, kita menciptakan konflik, friksi, perang. Dari adu pikiran dan adu mulut hingga adu otot semuanya adalah urusan tarik menarik energi. Perlombaan adalah cara untuk menarik energi. Namun cara itu sesungguhnya tidak sopan; tidak santun, tidak menghormati martabat manusia, tidak sesuai dengan derajat manusia. *2. Fear Management

Raden Parikesit begitu berbahagia kala melihat Sri Krishna, tanpa ragu dia merangkak dan minta dipangku Kakek Krishna. Suasana begitu hening, angin semilir dari jendela sampai terdengar desisnya. Semua orang di tempat kejadian tersebut menahan napas, dan meleleh air mata mereka tanpa henti. Isakan tangis sahut menyahut menyemarakkan suasana haru. Mata Parikesit dan Sri Krishna berkaca-kaca.



Energi Kasih

Hubunganmu dengan murshid seharusnya hubungan hati, bukan hubungan pikiran. Seharusnya kau dapat merasakan luapan kasih yang ada dalam hati murshidmu untukmu. Bila kau masih berhubungan dengan pikiran, masih menggunakan rasio dan logika, kamu baru dalam tahap belajar dari dia. Kau baru menerima dia sebagai sebagai pengajar—bukan sebagai guru, sebagai murshid. *3. Bhaja Govindam

Parikesit belum bisa bicara, Sri Krishna juga tidak perlu bicara, tetapi hati mereka telah tertaut erat.

Orang yang cukup peka terhadap energi dapat secara langsung merasakan bila ada yang berusaha untuk menarik energinya. Ia akan menjauhi orang itu, karena berada dekat orang itu akan menimbulkan friksi yang tak berguna. Sebaliknya dua orang yang saling mencintai tidak perlu saling memanipulasi. Interaksi antara keduanya berjalan sendiri tanpa tarik menarik. Keduanya merasa lebih segar karena keduanya memperoleh sesuatu. Dalam satu kelompok di mana 10 atau 20 orang saling mencintai, interaksi energi yang terjadi sedemikian dahsyatnya sehingga dalam radius 6 hingga 60 kilometer, setiap makhluk dapat merasakan getaran-getaran cinta. Apalagi jika jumlah orang yang saling mencintai dan mengasihi itu mencapai 100; getaran energi berlipat ganda dan menyebar hingga radius ribuan kilometer. *2. Fear Management

Tidak perlu takut kita akan mulai dari mana untuk memperbaiki keadaan Ibu Pertiwi. Pada suatu acara Temu Hati dengan Bapak Anand Krishna. Dijelaskan bahwa seorang peneliti di Jepang meneliti tentang karakter monyet. Dia menempatkan 300 monyet di pulau A, dan 300 monyet di pulau B. Dan pulau A dan pulau B dipisahkan laut dengan jarak puluhan kilometer. Kemudian di Pulau A si peneliti ingin mempelajari cara berpikirnya monyet, dan satu monyet diajarkan untuk mencuci ketelanya sebelum dimakan. Tetapi seminggu kemudian si monyet ini makan lagi tanpa dicuci. Kemudian dipaksa lagi. Dan selama 6 bulan si Peneliti mengajarkan hal yang sama pada seratus monyet, sampai dari satu monyet akhirnya mencapai seratus monyet yang makan ubi setelah dicuci dulu. Ketika mencapai angka seratus, tiba-tiba esoknya 300 monyet semuanya mencuci ketela mereka.

Yang sulit dicerna akal adalah ketika di pulau A 100 monyet mulai mencuci ketela, di pulau B yang satupun monyet tidak diajari, ternyata semuanya mencuci ketela. Ini penelitian ilmiah sekali yang membuktikan ada satu benang merah yang mempersatukan satu jenis makhluk. Jadi satu keunggulan yang dicapai oleh seorang manusia itu menjadi milik seluruh umat manusia.

Kalau kita bicara dalam konteks yang lebih kecil, kesadaran yang dimiliki oleh satu orang Indonesia akan menjadi milik seluruh bangsa Indonesia. Jadi jangan berkecil hati. Mencapai 100 orang yang berkesadaran akan setengah mati, tetapi setelah seratus orang sadar gaungnya akan cepat sekali. Jadilah 100 orang yang mencintai Ibu Pertiwi dan setelah itu kesadaran masyarakat akan cepat meningkat untuk mencintai Ibu Pertiwi. Fesbuk dapat menjadi sarana untuk saling mengasihi. Semoga!

Semua terjadi berkat rahmat Guru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar