Sabtu, 05 September 2009

FALSAFAH PANUNGGALAN

Aras Dasar Budaya Spiritual Jawa
(Tinjauan Selayang Pandang KAWRUH KEJAWEN)
Oleh: Ki Sondong Mandali

Pendahuluan

Hamit-hamit tabik kaliman,

Tertera dalam susunan acara pada Sarasehan Selasa Kliwon Yayasan Kanthil malam ini, temanya ‘Budaya Spiritual’. Maka saya yang didhawuhi sesorah menjadi gedandaban menyusun makalah yang sesuai tema. Apalagi saya sadar audiens yang akan saya sesorahi para tokoh

pinunjul semua. Jujur kawula rumaos grogi saestu. Meski didera kegamangan, maka malam ini saya mencoba ngaturaken ‘wacana bawarasa’ tentang ‘Falsafah Panunggalan’ sebagai Aras Dasar Budaya Spiritual Jawa. Wacana ini juga saya maksudkan sebagai tinjauan selayang pandang ‘Kawruh Kejawen’. Semoga saja wacana pemikiran saya ini bisa diterima dengan legawa. Sebagaimana kita ketahui, sejarah panjang Jawa telah ‘menerima’ sebaran budaya dan peradaban dari luar. Setidaknya ada sebaran budya dan peradaban besar dunia (Hindu, Buddha, Islam, Kristiani, dan modern sekuler) yang mengalir masuk ke ranah budaya dan peradabanJawa.

Melalui jejak sejarah kita bisa mengetahui bahwa budaya Hindu dan Budha dari Asia Daratan (India) pernah mengkooptasi dan mewarnai budaya Jawa selama lebih seribu tahun. Anehnya, ketika rejim wangsa-wangsa yang berasaskan budaya Hindu dan Budha tersebut surut, ternyata tidak meninggalkan komunitas Jawa pemeluk dua agama tersebut yang signifikan. Hal ini menarik untuk dikaji, karena mengesankan penerimaan Jawa terhadap agama Hindu dan Buddha sepertinya hanya di lapis luar atau ‘lamis’. ‘Inner’ budaya dan peradaban Jawa tetap utuh tidak banyak berubah.

Ketika masuknya budaya dan peradaban Timur Tengah (Arab dan Persia) melalui agama Islam, ‘inner’ budaya dan peradaban Jawa masih tidak bergeming. Bukti nyatanya, terlalu sedikit jumlah kaum ‘muslim Jawa’ yang mengerti dan paham ‘bahasa panembah’ mereka kepada Tuhan. Malah-malah terkesan ada pen-Jawa-an Islam yang dibuktikan dengan diadopsinya laku budaya selamatan Jawa oleh komunitas Muslim Jawa. Demikian pula ketika Jawa menerima aliran budaya dan peradaban yang berasaskan Kristiani. Pen-Jawa-an agama Katolik dan Kristen Protestan terjadi pula. Kedua agama Kristiani tersebut pada kenyataannya juga ‘mengadopsi’ laku budaya Jawa selamatan kelahiran, perkimpoian, dan kematian.

Di era modern jaman ini, Jawa menerima ‘aliran masuk’ budaya dan peradaban modern sekuler Barat yang ujung tombaknya ilmu pengetahuan dan tehnologi. Namun kenyataannya orang-orang Jawa yang ‘terintelekkan’ masih juga percaya ajaran leluhurnya. Setidaknya terindikasi dengan masih banyak yang ‘tunduk tak berani menentang’ terhadap kepercayaan Jawa tentang adanya ‘hari baik’ dan ’hari buruk’. Bisa dikatakan wong Jawa intelek pun masih menganut dan mengikuti pilihan ‘hari baik’ untuk menikahkan anak, bahkan dalam hal melaksanakan ‘serah terima jabatan’ di pemerintahan. Indikasi-indikasi tersebut di atas menunjukkan ada ‘ketangguhan’ budaya dan peradaban Jawa. Makalah ini mewacanakan penelisikan ketangguhan Jawa tersebut.

Falsafah Panunggalan.

‘Ketangguhan Jawa’ dalam bersinggungan dan berinteraksi dengan budaya dan peradaban lain, sudah barang tentu disebabkan ketangguhan aras dasar budaya spiritualnya. Atau boleh dikatakan ada ‘ideologi’ yang terinternalisasi paripurna sampai ‘mbalung sungsum’ dan menjadi ‘otot bayu’ Jawa. Aras dasar budaya spirituil atau ideologi yang tangguh tersebut adalah ‘Falsafah Panunggalan’. Yaitu ajaran atau konsep pandangan hidup yang menyatakan bahwa ‘semua yang ada’ di alam semesta ini ‘manunggal’, merupakan ‘Maha Kesatuan Tunggal Semesta’.

Struktur sistim ‘Panunggalan’ berupa hubungan pancer mancapat (inti-plasma). Bertingkat-tingkat dari yang terkecil (misal: atom dan sel hidup) sampai dengan yang tak terhingga besarnya (alam semesta). Keseluruhannya tersatukan dalam jaringan ‘panunggalan’ secara ‘kosmis-magis’. Dalam Kawruh Kejawen, jaringan hubungan kosmis-magis tersebut diibaratkan sebagaimana hubungan antar ‘jaringan sel’ yang membentuk ‘tubuh manusia hidup’. Semua jaringan sel dalam tubuh saling terhubungkan secara harmonis oleh ‘Urip’ sehingga ‘Ada’.

Piwulang Jawa tentang awal mula tergelarnya alam semesta dinyatakan dengan simbolisasi peristiwa diremasnya ‘antiga’ oleh Hyang Wisesaning Tunggal sehingga tercipta 3 (tiga) unsur semesta: bumi lan langit, cahya lan teja, dan Manikmaya. Bumi lan langit merupakan unsur semesta berupa materi, cahya merupakan unsur cahaya yang terindera, teja merupakan cahaya yang tidak terindera semisal gravitasi bumi dan medan kosmis antar benda angkasa. Sedang Manikmaya merupakan roh atau suksmanya seluruh alam semesta serta seluruh isinya.

Ketiga unsur semesta tersebut sama-sama merupakan derivasi (tajali, emanasi) dari ‘Hyang Wisesaning Tunggal’ yang dalam Kawruh Sangkan1 disebut dengan istilah ‘Guruning Ngadadi’. Maka, karena sesame derivasi ‘Guruning Ngadadi’ ketiga unsur semesta tersebut manunggal, ‘Ada’.

Seluruh ‘titah hidup’ menurut pandangan Kejawen tersusun dari ketiga unsur semesta tersebut. Artinya, bahwa ‘ada’-nya titah hidup (termasuk manusia) ‘dijadikan’ dari unsur bumi lan langit (materi), cahya lan teja, dan Manikmaya atau ‘Dzat Urip’ yang disebut juga ‘Pangeran’. Pemahaman ini rujukannya pada wejangan 1 s/d 3 dari ‘Wejangan Wolung Pangkat” sebagai berikut:

1.Wejangan pituduh wahananing Pangeran :

Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhihin iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun sajatining kang urip luwih suci, anartani warna, aran, lan pakartining-Sun (dzat, sipat, asma, afngal).

Sejatinya tidak ada apapun, sejak masih awang-uwung belum ada pembilangan, belum ada nama dan belum ada sesebutan (durung ana sawiji-wiji) yang ada terdahulu itu Aku (Ingsun). Tiada Pangeran kecuali Aku yang hidup lebih daripada suci, menyatakan wujud, warna, nama, dan pekerti-Ku (dzat, sipat, asma, apngal).

2.Wejangan pambuka kahananing Pangeran :

Satuhune Ingsun Pangeran Sejati, lan kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi ana padha sanalika saka karsa lan pepesthening-Sun, ing kono kanyatahane gumelaring karsa lan pakartining-Sun kang dadi pratandha :

Kang dhihin, Ingsun gumana ing dalem alam awang-uwung kang tanpa wiwitan tanpa wekasan, iya iku alaming-Sun kang maksih piningit.

Kapindho, Ingsun anganakake cahya minangka panuksmaning-Sun dumunung ana ing alam pasenedaning-Sun.

Kaping telu, Ingsun anganakake wawayangan minangka panuksma lan rahsaning-Sun, dumunung ana ing alam pambabaring wiji.

Kaping pat, Ingsun anganakake suksma minangka dadi pratandha kauripaning-Sun, dumunung ana alaming herah.

Kaping lima, Ingsun anganakake angen-angen kang uga dadi warnaning-Sun ana ing sajerone alam kang lagi kena kaupamakake.

Kaping enem, Ingsun anganakake budi kang minangka kanyatahan pencaring angen-angen kang dumunung ana ing sajerone alaming badan alus.

Kaping pitu, Ingsun anggelar warana (tabir) kang minangka kakandhangan paserenaning-Sun. Kasebut nem prakara ing ndhuwur mau tumitah ing donya, yaiku sejatining manungsa. (Dzat Urip kang ana ing raganing manungsa).

Sesungguhnya Aku Pangeran Sejati, dan berkuasa menciptakan segala sesuatu, menjadi ada seketika dengan kehendak dan kepastian-Ku, yang merupakan manifestasi kehendak dan pekerti-Ku dengan tanda-tanda:

Yang pertama, Aku bersemayam dalam jagad awang-uwung yang tiada awal dan tiada akhir, yaitu jagad-Ku yang masih dirahasiakan.

Yang kedua, Aku mengadakan cahaya sebagai media manifestasi-Ku menjelma di Jagad persemayaman-Ku.

Yang ketiga, Aku mengadakan bayangan sebagai media penjelmaan dan rahsa-Ku, bersemayam di jagad penggelaran wiji (benih kejadian).

Yang keempat, Aku mengadakan suksma sebagai pertanda kehidupan-Ku, bersemayam di jagad herah (hakekat darah).

Yang kelima, Aku mengadakan angan-angan yang juga menjadi warna-Ku ada di dalam jagad yang baru dapat diperumpamakan.

Yang keenam, Aku mengadakan budi sebagai kenyataan penangkaran angan-angan dan bersemayam di dalam jagad ruhani.

Yang ketujuh, Aku menggelar tabir (warana, hijab) pembatas persemayaman-Ku.

Enam perkara yang di atas Aku titahkan di dunia, yaitu sejatining manungsa (dzat urip yang ada dalam raga manusia).

3.Wejangan gegelaran kahananing Pangeran :

Sajatining manungsa iku rahsaning-Sun, lan Ingsun iki rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake wiji kang cacamboran dadi saka karsa lan panguwasaning-Sun, yaiku sasamaning geni bumi angin lan banyu, Ingsun panjingi limang prakara, yaiku: cahya, cipta, suksma (nyawa), angen-angen lan budi. Iku kang minangka embanan panuksmaning-Sun sumarambah ana ing dalem badaning manungsa.

Sejatinya manusia itu adalah rahsa-Ku, dan Aku adalah rahsa-nya manusia, karena Aku menitahkan ‘wiji cacamboran’ (benih campuran) yang maujud sebagai kehendak dan kekuasaan-Ku, yaitu hakekat: api, bumi, angin dan air yang Aku berkati lima perkara yaitu: cahya, cipta, suksma (nyawa), angan-angan dan budi. Itu semua seagai bingkai (embanan) penjelmaanKu meliputi dalam raga manusia.

Wejangan atau wirid tersebut di atas dengan sangat jelas menerangkan ‘ide panunggalan’ manusia dengan alam semesta. Diistilahkan dengan ‘jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe’. Panunggalan’ untuk seluruh mahluk disebutkan pada Piwulang adanya ‘saudara gaib’ bagi manusia: ‘Sedulur tunggal dina kelairan’, yaitu semua anak titah ciptaan Tuhan yang bersamaan kelahiran dengan si manusia.

Panunggalan antar titah dumadi yang menyaudarakan manusia dengan semua ‘titah hidup’ bukan sekedar ‘wacana kepercayaan’, namun sudah menjadi laku budaya spirituilnya wong Jawa.

Contoh laku budaya spiritual tersebut:

1.Laku budaya ‘wiwit’, ritual sesaji saat akan memanen padi. Dalam ritual tersebut ada acara ‘mbuwaki’ sesaji di empat sudut bidang sawah dan tulakan (saluran pengairan ke sawah). Dilakukan anak-anak peserta ritual yang diajari pembacaan rapal: “Kaki Dhanyang Nyai Dhanyang Semara Bumi kang manggon ing pojok papat lan tulakan sawah, aku disraya mBok ……… menehake pepancenmu kang wus melu njaga lan ngreksa sawahe”. Ritual wiwit dan rapal ‘mbuwaki’ tersebut menunjukkan sikap menyaudaranya wong Jawa dengan ‘titah gaib’ yang disebut Dhanyang Semara Bumi. Dimana dalam hal ini, titah gaib tersebut ‘dianggap’ ikut membantu menjaga dan ‘ngreksa’ sawah hingga tanaman padinya selamat dan bisa dipanen.

2.Laku budaya ‘bancakan dhawet’ untuk hewan ternak yang melahirkan. Suatu laku budaya Jawa yang dilakukan pemilik ternak saat ternaknya melahirkan. Mangga direnungkan, laku budaya ini kiranya sangat mendalam kandungan wawasan spiritualnya.

3.Tradisi Jawa, pada setiap malam Jumat Kliwon atau malam hari wetonan melakukan sesaji sederhana dengan ‘kembang setaman’. Pagi harinya, kembang setaman disebarkan di ‘perempatan jalan’. Banyak yang menganggap laku budaya ini klenik dan tahayul. Namun kiranya perlu direnungkan rapal ketika membuang kembang setaman tersebut: “Ora nyebar kembang nanging nyebar kabecikan. Sejatining Gusti Ingkang Maha Kuwasa keparenga paring kawilujengan lan karahayon dhumateng sedaya titah Paduka ingkang nglangkungi prapatan punika.”

Masih banyak laku budaya spiritual yang ada di ranah budaya dan peradaban Jawa. Bagi yang tidak mengerti banyak yang menganggap primitif dan bodoh. Namun coba disimak ‘kecerdasan’ Jawa dalam memanipulasi sesaji untuk ritual yang mengharuskan ‘penghilangan nyawa’ hewan. Sesaji kepala kerbau dimanipulasi dengan ‘kerbau-kerbauan’ yang dibuat dari tuntut pisang.

Sesaji kucuran darah segar ayam hitam mulus (ritual penyembuhan ‘kesurupan’) dimanipulasi dengan wujud anak ayam hitam yang masih kuthuk hidup-hidup. Sesaji yang butuh kurban ‘sepasang penganten’ diganti dengan ‘bekakak penganten’. Demikian pula perlu direnungkan tradisi ‘Grebeg Besar’ yang semestinya berupa penyembelihan hewan qurban, diganti dengan ‘tumpeng’ yang terbuat dari penganan dan ‘hasil bumi’ pertanian. Semua ‘kecerdasan’ manipulasi sesaji tersebut menunjukkan konsep bersaudaranya manusia dengan semua ‘titah urip’ yang landasannya ‘Falsafah Panunggalan’. Penghilangan nyawa sesama titah urip nampaknya tidak sejalan dengan rasa pangrasa Jawa.

Berdasarkan konsep ‘pancer mancapat’ (hubungan inti-plasma) banyak kita temukan istilah-istilah dalam KAWRUH KEJAWEN. Yang paling terkenal adalah istilah ‘Manunggaling Kawula Gusti’. Merupakan capaian tertinggi ‘laku spiritual’, tetapi juga bermakna sebagai pandangan Jawa tentang: sisitim tata semesta, sistim tata negara dan pemerintahan, serta sistim tata kemasyarakatan.

Dalam hal pandangan ‘tata semesta’, maka Gusti (Sesembahan, Tuhan) sebagai inti (pancer), sedang seluruh kawula (ciptaan) sebagai plasma (mancapat). Dalam hal ‘tata negara dan pemerintahan’ maka ide (cita-cita) mendirikan negara sebagai inti (Gusti), sedang seluruh warga negara (apapun poisisinya) sebagai plasma (kawula)2.

Dalam hal ‘tata kemasyarakatan’, Jawa mengkonsepkan ide ‘tata tentrem kerta raharja’. Maka untuk mewujudkannya, perlu nilai rukun dan selaras. Maka ide ‘tata tentrem kerta raharja’ dalam bermasrakat tersebut dijadikan inti (pancer). Seluruh warga masyarakat menempatkan diri sebagai plasma (mancapat) terhadap ide tersebut.

Sistim hubungan ‘pancer-mancapat’ (inti-plasma) juga terdapat pada sistim giliran pasaran (ekonomi), Kliwon sebagai pasaran pusat ‘wilayah pasaran’, sedang Legi, Paing, Pon dan Wage sebagai pasaran di sekeliling ‘wilayah pasaran’. Sistim giliran ‘hari pasaran’ ini pada kenyataannya berkait-mengkait antar ‘wilayah pasaran’ sedemikian rupa teratur tidak ada yang ‘dhumpyuk’ antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Dengan demikian, dalam hal kegiatan ‘wilyah pasar’, masyarakat Jawa sudah mengenal suatu sistim yang dinamis, teratur, manunggal, dan mampu mencakup suatu wilayah yang luas.

Struktur sistim ‘pancer-mancapat’ juga berlaku dalam mitologi kesemestaan Jawa. Penguasa Jagad dipersonifikasi sebagai Hyang Manikmaya. Terdiri dari Hyang Manik (inti, pancer) dan Hyang Maya (plasma, manca pat). Dalam pewayangan, Hyang Manik dipersonifikasi sebagai Hyang Jagadnata alias Bethara Guru, sedang Hyang Maya (Taya, Ismaya) dipersonifikasi sebagai Semar, pamomong Jagad. Keduanya merupakan anak derivatif dari Hyang Wisesaning Tunggal (sebutan untuk Sesembahan Jawa).

Inti Kawruh Kejawen

Ajaran atau Piwulang yang ada pada Kawruh Kejawen pada dasarnya mengajarkan kepada manusia untuk memiliki 3 (tiga) aras kesadaran sebagai berikut:

1.Kesadaran ber-Tuhan

Artinya bahwa filosofi Jawa menyatakan adanya Tuhan sebagai Kang Murbèng Alam (Penguasa Alam Semesta). Ujudnya ‘tan kêna kinayangapa’, artinya tidak bias didekati (dihampiri) daya nalar, daya rasa pangrasa, dan daya spirituil yang dimiliki manusia. Maka kemudian, dalam mitologi Jawa, Tuhan berderivate (bertajali, beremanasi) secara bertingkat-tingkat sedemikian rupa sampai bisa dipahami oleh daya nalar, daya rasa pangrasa, dan daya spirituil manusia. Oleh karena itu, sikap dasar wong Jawa terhadap ekpresi kesadaran ber-Tuhan sangat toleran terhadap adanya perbedaan ‘panembah’.

2.Kesadaran Semesta

Merupakan ekspresi kesadaran adanya hubungan kosmis-magis manusia dengan alam semesta dengan seluruh isinya. Wujud ekspresinya berupa pandangan Jawa tentang ‘Bapa Angkasa’ dan ‘Ibu Bumi’. Menurut pandangan Jawa ini, maka ‘uripé manungsa’ disangga unsur-unsur dari angkasa dan bumi yang kemudian ‘kasuksma’ oleh ‘dzat sejatining urip’. Dari filosofi ini pula diturunkan konsep kewajiban manusia menyangga ‘Panunggalan’ atau ‘Kesatuan Tunggal Semesta’, “melu memayu hayuning bawana”. Dari konsep kewajiban manusia tersebut, maka keluarannya berupa ‘nilai rukun’ dan ‘nilai selaras’ yang wajib dioperasionalkan oleh setiap manusia Jawa.

3. Kesadaran wajib beradab bagi umat manusia.

Mengoperasionalkan ‘nilai rukun’ dan ‘nilai selaras’ merupakan ekspresi keberadaban manusia. Di dalamnya terkandung ajaran ‘budi luhur’ guna mewujudkan: kesejahteraan umum dan nuansa damai dalam kehidupan bersama. Bukan sekedar hidup bersamanya sesame manusia, tetapi juga dengan semua mahluk ciptaan Tuhan. Kesadaran bersaudara dengan semua ‘titah dumadi’ merupakan tingkat tertinggi dari keberadaban manusia.

Ketiga aras kesadaran tersebut di atas merupakan ajaran pokok dalam hal melaksanakan ‘Falsafah Panunggalan’.

Panunggalan sebagai Ideologi Jawa.

Sebagai suatu peradaban manusia, maka Jawa memiliki nilai-nilai (values) yang berguna dan mampu memandu bagi manusianya untuk menjalani hidup. Pada kenyataannya, hidup manusia tidaklah sendirian tetapi bersama manusia yang lain maupun semua mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Secara umum nilai-nilai budaya dan peradaban suatu komunitas manusia ada yang bersifat universal, tetapi juga ada yang hanya berlaku untuk ‘komunitas etnis’ manusia yang bersangkutan.

Dalam konteks Jawa sebagai bagian Indonesia dan bagian peradaban seluruh umat manusia, maka nilai-nilai ke-Jawa-an yang perlu diselisik adalah yang berkaitan dengan kepentingan ke-Indonesia-an dan kemanusiaan sejagad. Maka dengan demikian, bisa diselisik ‘ideologi’ Jawa yang bertolak dari nilai-nilai budaya dan peradabannya.

Ketika nilai-nilai ke-Jawa-an bisa diangkat menjadi ideologi, maka dimungkinkan untuk berdialog ‘ideologi’ di kancah internasional. Tidaklah muluk-muluk sekiranya ajaran-ajaran ‘sejatining urip’ (hakekat hidup) Jawa yang bertolak dari ‘Falsafah Panunggalan’ bisa dijadikan ideologi pemersatu umat manusia. Setidaknya bisa dijadikan jembatan penghubung antara kutub peradaban religius berdasar ajaran agama dengan kutub peradaban sekuler berdasar rasionalitas moderen.

Untuk mengantar kepada wacana ini, menarik untuk dikaji carakan aksara Jawa yang oleh banyak pujangga dimaknai sebagai ajaran ‘hakekat urip’. Diantaranya sebagaimana sebagaimana Pratelan wirid Filsafat Nusantara (Penjelasan wirid Filsafat Nusantara)3:

Ha : Hananira sejatining wahananing Hyang
(Keberadaanmu sesungguhnya adalah media adanya Tuhan).

Na : Nadyan nora kasat mata pasti ana
(Walaupun tidak kasat mata, tetapi pasti ada).

Ca : Careming Hyang yekti tan cetha wineca
(Kemanunggalan Tuhan sesungguhnya tidak secara gamblang dijelaskan).

Ra : Rasakena rakete lan angganira
(Rasakan eratnya dengan badanmu).

Ka : Kawruhana jiwanira kongsi kurang weweka
(Ketahuilah akan jiwamu hingga sejelas-jelasnya).

Da : Dadi sasar yen sira nora waspada
(Tersesat bila kamu tidak waspada).

Ta : Tamatna prabaning Hyang sung sasmita
(Perhatikanlah cahaya Hyang yang memberi pertanda/petunjuk).

Sa : Sasmitane kang kongsi bisa karasa
(Pertanda yang hingga dapat terasakan).

Wa : Waspadakna wewadi kang sira gawa
(Perhatikan rahasia-rahasia ilahi yang kau bawa).

La : Lalekna yen sira tumekeng lalis
(Lupakanlah, bahwa engkau itu akan mati).

Pa : Pati sasar tan wun manggya papa
(Mati tersesat tidak urung menderita hina-dina).

Dha : Dhasar beda kang wus kalis ing godha
(Berbeda dengan mereka yang sudah terbebas dari godaan).

Ja : Jangkane mung jenak jenjeming jiwaraga
(Keinginannya hanya serba tenang dan tenteramnya jiwaraga).

Ya : Yatnana liyep luyuting pralaya.
(Rasakanlah keadaan liyep luyuting pralaya = trance).

Nya : Nyata sonya nyenyet labeting kadonyan
(Benar-benar sepi dan sunyi dari keduniawian).

Ma : Madyeng ngalam pangrantunan aywa samar
(Berada di alam pangrantunan = mati sajroning urip, jangan bimbang).

Ga : Gayuhaning tanna liyan jung sarwa arga
(Tujuan hidupnya tak lain hanyalah sampai di sarwa arga = surga).

Ba : Bali murba misesa ing njero njaba
(Kembali menguasai keadaan lahir batin = jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe).

Tha : Thakulane widadarja tebah nistha
(Demi keselamatan dan kesejahteraan sertta jauh dari kenistaan).

Nga : Ngarah ing reh mardi-mardiningrat
(Berkehendak mendapatkan ilmu (reh) menjaga keselarasan jagad).

Adalah hanya ‘krenah’ Jawa yang memaknai huruf-hurufnya dengan ajaran mendalam tentang ‘sejatining urip’. Hal ini pasti ada maksud dan tujuannya. Setidaknya sebagai upaya untuk menempatkan aksara Jawa pada posisi ‘penting’ dan ‘baku’ bagi wong Jawa sendiri. Posisi penting baku tersebut dalam hal wong Jawa belajar mengerti tentang inti pokok piwulangJawa.

Asumsi lain bisa dibangun, bahwa pemberian makna huruf-huruf aksara Jawa tersebut sebagaui upaya para ‘intelektual Jawa’ dalam mewariskan dan menginternalisasikan ‘ideologi Jawa’. Dasar pemikirannya, bahwa lahirnya pemaknaan aksara Jawa tersebut pada saat Jawa sedang mengalami deraan budaya religiusitas agama (Islam) dan budaya rasionalitas sekuler penjajah Belanda. Himpitan kedua kutub budaya dan peradaban tersebut dirasakan para pujangga bisa berdampak ‘mematikan’ budaya spiritual Jawa. Maka para ‘intelektual Jawa’ tersebut mewariskan ‘ide-ide’ Jawa melalui pemaknaan aksara Jawa. Asumsi para pujangga, memperkirakan bahwa carakan aksara Jawa akan tetap eksis sepanjang jaman. Maka ideologi Jawa akan bisa bertahan sepanjang jaman juga.

Untuk itu, penulis secara subyektif mencoba memahami pesan para pujangga yang mengganggit urutan Carakan tersebut :
Ha Na Ca Ra Ka : Di dunia ini ada dua kutub peradaban (ideologi) : religius agama dan rasionalitas sekuler.
Da Ta Sa Wa La : Kedua kutub tersebut selalu bertentangan (konflik).
Pa Da Ja Ya Nya : Sama-sama memiliki landasan yang kuat.
Ma Ga Ba Tha Nga : Konflik diantara keduanya menuju kemusnahan (peradaban).

Dengan pemaknaan subyektif tersebut, maka bias dipahami pemaknaan aksara Jawa sebagai ajaran ‘hakekat urip’ yang tyerkandung dalam Pratelan Filsafat Nusantara. Ajaran hakekat hidup kiranya bias menjembatani ‘pertentangan’ religiusitas agama dengan rasionalitas sekuler.

Sebagai ideologi, Jawa memang memiliki konsep untuk ‘hidup bersama’ dan ‘bernegara’. Bahwa konsep ‘Negari eka adi dasa purwa panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja’ yang arti ringkasnya: negara berdaulat lahir batin dihormati negara lain, berwawasan lingkungan, mampu mencukupi kebutuhan seluruh rakyatnya, subur makmur, amantenteram dan sejahtera. Kiranya konsep bernegara yang demikian mewakili idealisme bernegara yang paripurna.

Kesimpulan

Sesungguhnya masih cukup banyak hal tentang Falsafah Panunggalan yang belum tersajikan. Namun sedikit wacana tersampaikan bisalah kiranya untuk dijadikan masukan dalam rangka memulai kegiatan penelisikan terhadap budaya dan peradaban Jawa.

Berikut kiranya bisa diambil kesimpulan dari wacana pemikiran ini:

1. Aras dasar budaya dan peradaban Jawa (termasuk budaya spiritual) berpangkal tolak dari Falsafah Panunggalan. Aras dasar dimaksud sudah ‘mbalung sungsum’ pada diri setiap manusia Jawa sehingga menjadi ‘pertahanan alamiah’ ketika bersinggungan, beradaptasi, dan mengadopsi nilai-nilai dari budaya dan peradaban lain.

2. Inti ajaran Kawruh Kejawen bersumber dari ‘Falsafah Panunggalan’ dan fokus utama piwulangnya untuk kepenting ‘hidup bersama’ dengan semua titah Tuhan penghuni alam semesta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar