Selasa, 08 September 2009

Dari Nafsu Menuju Kasih

Dari Nafsu Menuju Kasih




Perjumpaan pertama kita dengan kata kama kemungkinan besar melalui istilah Kamasutra, karya klasik tentang seks dari timur. Kama, kendati demikian, tak hanya mengacu pada seks dalam arti bercinta. Kama lebih tepat didefinisikan sebagai hawa nafsu, atau hasrat.



Sutra ialah benang, atau senar. Kata ini dipakai di sini dalam konteks pemain boneka yang memegang bonekanya dengan benang atau senar. Gerakan boneka-boneka itu dikendalikan dan diarahkan. Oleh sebab itu, pemain boneka disebut Sutradhaari, seperti juga Tuhan, Sang Pemain Boneka yang Hebat. Sekarang ini pun, pengarah acara dan film disebut sutradhaar dalam bahasa Sansekerta, atau sutradara dalam bahasa Indonesia.



Kamasutra mengimplikasikan bahwa hawa nafsu atau hasrat harus dikendalikan, ditata dan diatur secara memadai. Karena nafsu adalah energi, dan hasrat ialah energi.



Ada pepatah lama dalam bahasa Sansekerta, “Pemborosan Energi ialah Pemborosan Hidup.” Dikatakan juga bahwa, ” Energi ialah Kehidupan, dan Kehidupan ialah Energi.” Kita semua memiliki sekecil-kecilnya energi itu di dalam diri kita, dengannya kita hidup dan membuat anak. Energi seksual inilah yang memastikan kelanjutan kehidupan.



Jadi hawa nafsu, hasrat dan seks semuanya saling terkait. Mereka semua ialah manifestasi energi. Inilah energi yang menciptakan. Energi yang sama berada di balik kreatifitas kita di bidang lainnya, dan kemampuan untuk menganalisis.



Apa yang terjadi jika energi ini hanya digunakan untuk aktivitas seksual, misalnya bercinta, masturbasi, dll? Kita tak tersisa lagi energi untuk mengekspresikan kreatifitas kita pada bidang lainnya. Kita bisa jadi tetap produktif, tapi tak lagi kreatif. Sama halnya, kita dapat tetap berpikir, tapi tak dapat berpikir mendalam, menganalisis dan memilah-milah.



Di sisi lain, filsuf sibuk berfilosofi tentang hidup, sehingga tak tersisa lagi energi untuk sungguh-sungguh hidup, menikmati dan merayakan hidup.



Saya pernah bertemu dengan beberapa politisi yang begitu larut dalam politik sehingga tak tersisa energi untuk hal lainnya. Kasus ini terjadi juga dengan para profesional di bidang lainnya.



IInilah sebabnya kenapa para leluhur menasehati kita untuk mengatur kama secara efektif dan efisien. Tak ada larangan untuk memakai kama untuk aktivitas seksual. Kalau kamu mau menjadi Caligula, maka gunakan seluruh energimu untuk itu. Tak masalah. Kendati demikian, kalau kamu ingin menjadi kreatif di bidang lainnya, maka moderasi dalam aktivitas seksual akan bermanfaat.



Sama halnya, kalau kamu ingin menjadi kaya raya, maka kamu bisa mengarahkan seluruh energimu untuk mencari uang. Jangan pikirkan hal lainnya.



Hidup menawarkan pilihan yang tak berbatas. Hidup semuanya tentang pilihan-pilihan. Seorang filsuf bisa berfilosofi tentang tak memilih. Tapi itupun sebuah pilihan. Tak memilih sama juga dengan lebih memilih satu hal ketimbang yang lainnya.



Kita harus, oleh sebab itu, berpikir mendalam sebelum membuat pilihan. Kita harus menganalisis semua pilihan yang kita miliki, sebelum menetapkan satu pilihan di antara mereka. Ini juga alasan kenapa para murid dinasehati untuk menarik diri dari kegiatan seksual. Sepanjang tahun-tahun di sekolahan, mereka perlu memfokuskan energi mereka pada begitu banyak aktivitas lainnya sehingga konsentrasi atas seks tak ada gunanya.



Itu semua, kendati demikian, ialah sekedar pedoman perilaku. Bagaimana kita menggunakan energi kita – bagaimana kita memakai kama – sepenuhnya menjadi keputusan kita. Kita ialah tuan atas diri kita sendiri.



Ada sebuah fenomena berbunganya kama, ketika nafsu berubah menjadi kasih. Ini ialah sebuah fenomena universal. Kita semua dapat mengalaminya. Kita semua memiliki potensi untuk mendaki tingkatan yang lebih tinggi dari nafsu dan menggapai kasih.



Nafsu dan kasih, keduanya ialah manifestasi kama. Ketika kamu terobsesi dengan kemakmuran personal, kemakmuran keluarga, komunitasmu, lembagamu, ini mu dan itu mu – maka kamu menjadi penuh nafsu. Nafsu selalu egois dan mementingkan diri sendiri. Ia tak tahu bahasa tanpa pamrih.



Kasih, di sisi lain, tahu bahasa tanpa pamrih. Ia dapat berkarya untuk keuntungan semua, untuk kemakmuran semua, untuk kebaikan semua, untuk kemajuan dan pertumbuhan semua. Kasih ialah ketika kita sungguh memahami semangat di balik kata-kata, “Satu untuk Semua, Semua untuk Satu.”



Di antara nafsu dan kasih ialah tangga cinta. Dalam nafsu, kamu ialah kamu, dan aku ialah aku. Nafsu itu individualistik. Cinta ialah persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan. Cinta ialah persatuan kamu dan aku. Cinta ialah perjumpaan individualitas kita yang tadinya berjarak. Cinta ialah di mana kita bertemu. Cinta ialah di mana aku untuk kamu, dan kamu untuk aku.



Mari kita ringkas:

-Nafsu ialah Kamu ialah Kamu, dan Aku adalah Aku, Nafsu ialah mengambil, mengambil, dan mengambil.

-Cinta ialah Kamu dan Aku. Ini saling memberi dan menerima.

-Kasih ialah Semua, Semua, Semua. Ini adalah memberi, memberi, memberi.



Pada tingkatan nafsu, kama telah memproduksi para Alexander yang haus kekuasaan, para Mahmud dari Ghazna, para Genghis Khan, para Napoleon dan para Hitler.



Pada level cinta, kita menjumpai para Mahtma Gandhi, para Martin Luther King dan para Mandela. Ini di mana kita peduli pada sesama.



Pada tingkatan kasih, kita bersua denga para Krishna, para Buddha, para Yesus, para Muhammad, dan makhluk spiritual lainnya. Ini ialah tahapan pelayanan tanpa pamrih.



Kama ialah purushartha ketiga, atau pilar terpenting nomor tiga dalam struktur kehidupan manusia. Kita sebelumnya telah membahas dua yang pertama, dharma dan artha, atau kebajikan dan kekayaan.



Di atas lapisan kesadaran yang lebih tinggi, kama merubah dirinya menjadi sankalpa, atau kekuatan niat. Lebih jauh tentang itu nanti.



Sementara waktu ini dulu, kita berjumpa lagi minggu depan untuk mengeksplorasi purusharta keempat sekaligus terakhir, moksa, kebebasan mutlak, pembebasan, keselamatan, atau apapun sebutan kita untuknya. Sampai jumpa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar