Sabtu, 05 September 2009

Sadewa dan Semar Dalam Ruwatan Sudamala

Cinta Buta Dewi Uma terhadap Bathara Guru

Cerita yang digambarkan pada relief Candi Sukuh mengungkapkan cerita Sudamala. Bermula ketika Bathara Guru, Dewa Siwa yang sakit parah, sehingga dia minta kepada Dewi Uma untuk mencarikan obat. Obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya itu adalah susu lembu hitam. Karena cintanya terhadap sang suami, Dewi Uma segera pergi mencari air susu yang dimaksud, dengan harapan suaminya cepat sembuh.

Setelah menicari ke mana-mana, tetapi air susu lembu hitam itu tidak ketemu. Dalam keputusasaannya, Dewi Uma bertemu seorang penggembala lembu hitam. Dengan mengemis-ngemis, Dewi Uma mohon sang penggembala memberikan susu lembu hitam tersebut. Tetapi sang penggembala ngotot tidak mau menyerahkan air susu lembu, kecuali Dewi Uma menyerahkan tubuhnya kepadanya. Dewi Uma berada dalam dilema, tidak mau melayani suami tercinta mati, bila mau melayani berarti suami hidup, akan tetapi dirinya ternoda.

Dengan pengorbanan diri, akhirnya susu lembu hitam dapat diberikan dan diminumkan kepada Bathara Guru sehingga dia sembuh dari penyakitnya. Setelah Bathara Guru sehat, Dia menyampaikan bahwa yang menjadi penggembala adalah Bathara Guru sendiri, dan Bathari Uma yang menggunakan ‘mind’ telah melupakan nurani sehingga telah berselingkuh dan diminta melakukan ‘laku’ di dunia menjadi Bathari Durga yang berwujud sangat menyeramkan. Bathari Durga bertugas memangsa manusia yang tersesat dalam menggunakan ‘mind’ yang berada dalam wilayahnya. Setelah dua belas tahun menjalankan ‘laku’ apabila telah kembali hati nuraninya, maka dia berhak kembali ke kahyangan.



Ada penjelasan tentang ‘mind’ yang menarik dalam buku ‘BODHIDHARMA Kata Awal adalah Kata Akhir’, karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Ada yang senang anjing, ada yang menganggapnya binatang menjijikkan. Anjing sama “seolah” menciptakan dua sensasi berbeda. Kita harus melakukan sedikit penelitian. Siapa yang merasakan perbedaan itu? Jelas, kita sendiri. Perbedaan itu terjadi karena apa? Karena ‘mind-set’ kita. Ada ‘mind’ penyayang anjing, ada pula ‘mind’ pembenci anjing. Ada yang membenci anjing dan menyayangi kucing. ‘Mind’ itu pula yang kemudian menciptakan sensasi sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Tahap kedua – kita meneliti ‘mind’. ‘Mind’ bukanlah sesuatu yang nyata. ‘Mind’ hanyalah sebuah ilusi; ada tapi tidak ada; tidak ada tapi ada. Tak ada, tapi terasa ada. Terasa ada, tapi tidak ada.

‘Mind’ ibarat perangkat lunak komputer. Ia tidak bisa berfungsi sendiri. Harus ada perangkat keras agar dia bisa berfungsi. Otak adalah perangkat keras yang dibutuhkannya. Kemudian, selama kita masih mempunyai otak, perangkat itu dapat di-‘over write’ - dapat dirancang kembali, dapat diubah total, hingga sama sekali berbeda dengan aslinya. Ini yang disebut proses ‘deconditioning dan re-creating mind’. Isi ‘mind’ bukanlah harga mati. Kita bisa mengubahnya. ‘Mind’ itu sendiri tak lebih dari sebuah ilusi. Di atas apa yang tertulis, kita dapat menulis ulang apa saja. ‘Mind’ itu ‘rewritable’.

Demikian, dengan melakukan penelitian, pembedahan dan analisis, kita dapat memasuki alam meditasi. Itulah yang disebut Jalur Pengetahuan. Dengan melampaui dualitas yang tercipta oleh ilusi, kita memasuki alam meditasi; belum menjadi meditatif. Kita baru memahami kesatuan sebagai konsep. Masih ada yang memahami, ada yang dipahami, dan ada pemahaman itu sendiri. Ruwatan adalah proses ‘deconditioning and re-creating mind’.

Membutuhkan waktu lama dalam menganalisis ‘mind’ sehingga leluhur kita menggambarkan setelah Bathari Durga bertapa di hutan belantara selama dua belas tahun baru dapat diruwat dan kembali ke jatidirinya. Pada hakikatnya, semua manusia telah diusir ke hutan belantara dunia, karena telah menggunakan ‘mind’-nya sebagai penguasa. Mereka yang telah sadar bahwa jatidirinya yang seharusnya memimpin dan ‘mind’-nya digunakan sebagai alat, mereka telah kembali suci. Ruwatan sendiri hanya dapat dilakukan di dunia, selagi mempunyai otak yang dapat di-‘overwrite’. Ruwatan di dunia ini pada hakikatnya adalah untuk mengembalikan jati diri sebagai penguasa hidup manusia. Semar selalu menjadi Guru Pamomong manusia. Dengan mengikuti petunjuknya manusia cepat menyadari jati dirinya. Terima kasih Semar. Terima Kasih Guru.



Putera Sang Kegelapan

Mendapatkan pengalaman pahit di Mercapada itu, Dewi Uma menanggung malu yang luar biasa. Dia sangat cemas jangan-jangan hasil hubungannya yang mengesampingkan nurani itu membawa akibat, akhirnya kandungan Dewi Uma, Kama Bang dan Kama Putih itu digugurkan dan dibuang ke laut. Dewa Baruna sebagai penguasa laut tidak mau menerima Kama Bang dan Kama Putih tersebut, lalu dilempar kembali ke darat.

Peristiwa ini dilihat oleh Bathara Gana, Putera Bathara Guru yang kemudian memelihara Kama Bang dan Putih yang berbentuk raksasa ini sampai besar. Bersama dengan Kuasa Pencipta, Dewa Brahma, kemudian raksasa ini diberi nama Sang Kala Raja. Ketika sudah mulai dewasa, Sang Kala Raja ingin mengetahui jati dirinya, dan menanyakan kepada Bathara Gana tentang asal-usul orang tuanya.

Setelah mengetahui orang tuanya, Sang Kala Raja menghadap Bathara Guru dan mendapat restu untuk melaksanakan tugasnya, memakan manusia yang terkena ‘sukerta’, manusia yang kena jerat ‘mind’. Dengan menggunakan ‘mind’ seseorang merasa ada lahir dan akan mati, manusia terjebak dalam waktu, dalam jerat Sang Kala.

Dalam buku LIFE WORKBOOK, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya, karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama,2007 dijelaskan tentang kala, waktu.

Manusia dan makhluk lainnya terjerat waktu. Manusia harus tunduk pada waktu. Waktu adalah kontinuitas. Tidak ada garis jelas yang memisahkan masa lalu dari masa kini, dan masa kini dari masa depan. Untuk menyikapinya, manusia perlu selalu mengingat nasihat pujangga besar India yang pernah menjabat sebagai presiden, Prof. S. Radhakrishnan: “Belajarlah dari masa lalu tanpa penyesalan. Masa lalu sudah berlalu, mau disesali pun percuma. Buatlah rencana untuk masa depan tanpa kekhawatiran. Jangan Gelisah; jangan pula ngebet, seolah kita sedang berpacu dengan waktu, karena kita hidup dalam waktu. Hidup dan berkaryalah dalam masa kini dengan penuh kesadaran. Kita tidak dapat berkarya dalam masa lalu yang sudah berlalu, atau pun dalam masa depan yang belum datang. Kita harus berkarya dalam masa kini. Saat ini adalah saat kita untuk berkarya, untuk hidup dan menghidupi. Gunakanlah saat ini dengan sebaik-baiknya!”

Ketika manusia hidup dalam kekinian setiap saat, dia sudah melampaui waktu. Semestinya manusia tidak terpengaruh luaran, “periphere”. Dunia, “periphere” ini adalah bayangan, semacam film yang terpampang di layar kehidupan. Manusia terlalu terpengaruh bayangan, bereaksi terhadap adegan film di layar, padahal layar hanyalah proyeksi dari film di proyektor. Semestinya manusia tidak menempatkan dirinya di bayangan, manusia mendekatkan diri pada proyektornya, pada jatidirinya. Kalau penonton wayang bisa menangis dan tertawa dan terobsesi dengan permainan wayang, manusia perlu mendekat pada dhalangnya.

Manusia harus berhati-hati menghadapi Bathara Kala, menghadapi waktu, semua makhluk dikalahkan oleh waktu, kecuali mereka yang telah melampaui waktu.

Boleh dibilang Bathara Kala adalah sang “waktu” yang bisa menelan “rembulan” dan “matahari”, hati dan pikiran yang terang. Satu-satunya cara untuk terlepas dari cengkeraman Bathara Kala adalah dengan proses penyadaran, yaitu pencerahan hati dan pikiran. Tradisi leluhur pada waktu gerhana matahari dan gerhana bulan memukul kentongan dan lesung beramai-ramai, ayam-ayam dan ternak yang tidur dibangunkan, wanita-wanita hamil harus mandi adalah simbol bahwa kesadaran spiritual harus dibangkitkan, jiwa dan badan harus dibersihkan, agar “rembulan” dan “matahari”, hati dan pikiran terang tidak ditelan oleh keserakahan Bathara Kala yang selalu menerkam sepanjang masa. Kentongan dan pemukul serta lesung dengan alu pemukul sendiri merupakan simbol lingga dan yoni, simbol feminin dan maskulin. Pada dasarnya alat musik gamelan selalu menggunakan kantong udara dan pemukul, misalnya kendang, gong, gambang, sitar dan lain-lainnya yang merupakan simbol feminin dan maskulin.

Tradisi memukul kenthongan dan lesung pada waktu gerhana tersebut juga dapat menjawab pengetahuan ilmiah. Menurut Dr. Masaru Emoto, air terpengaruh oleh vibrasi pikiran yang tertuju padanya. Air yang mendengar lagu indah akan membentuk kristal heksagonal, sedangkan lagu perpisahan tidak membentuk kristal. Kandungan air dalam tubuh kita sekitar 70% hampir sama dengan kandungan air di bumi. Pada waktu laut pasang, maka cairan darah di tubuh kita pun pasang. Pada waktu terjadi gerhana maka maka pasang air laut yang terjadi akan maksimal, demikian pula pasang cairan darah manusia, pada waktu itu mudah terjadi depresi. Suara tabuhan kentongan dan lesung akan menyadarkan diri dan dapat menenangkan cairan darah manusia. ( Tulisan ‘Mengalahkan Bathara Kala Simbol Mengatasi Waktu Dunia’ dapat dilihat pada situs terkait dibawah).



Kontroversi pilihan anak kandung atau anak tiri

Dewi Kuntì, ibu Pandawa cemas mengenai nasib anak-anaknya yang sedang memerangi musuh-musuh raksasa Kalantaka dan Kalanjaya yang sangat kuat. Dewi Kunti meminta kepada Bathari Durga untuk membunuh Kalantaka dan Kalanjaya. Sang Bathari bersedia mengabulkan permintaannya asal Dewi Kuntì menyerahkan Sadewa kepadanya. Dewi Kuntì jelas menolak permintaan tersebut, tetapi pada saat terjadi pergolakan batin, seorang pembantu Bathari Durga merasuk ke dalam diri Dewi Kuntì dan berhasil mempengaruhi dirinya untuk membawa Sadewa ke Alas Setra Gandamayit dan mengikat Sadewa pada sebatang pohon.

Gejolak ‘mind’ memang luar biasa, pertentangan antara mengasihi putera kandung Bhima dan Arjuna yang sedang menghadapi musuh kuat raksasa Kalantaka dan Kalanjaya tetapi mengorbankan putera tiri Sadewa membuat Dewi Kunti lalai dan kemasukan ‘pikiran’ jahat pembantu Dewi Durga.

Sadewa amat patuh terhadap ibunya. Baginya ibu adalah Guru Pertama dalam kehidupan. Apa pun perintah ibunya dia jalani. Sadewa yakin Gusti, Hyang Widhi akan selalu membimbingnya ke arah keselamatan, walaupun nampaknya dirinya akan dikorbankan. Sadewa lebih tenang, karena Semar sang pamomongnya bersedia mengantarkan dia yang dibawa ibu nya ke Alas Setra Gandamayit. Semar pernah membisikinya bahwa dirinya akan diuji rasa bhaktinya kepada sang ibu, kemudian ditakut-takuti untuk dibunuh, akan tetapi hal tersebut merupakan proses pendewasaan spiritualnya. Setelah dia bebas dari rasa takut terhadap kematian hidupnya akan lebih bermakna, dharmanya adalah mengurangi malapetaka, ‘sudamala’.



Bathari Durga bertapa 12 tahun menunggu ruwatan

Para leluhur mengungkapkan perjuangan yang memakan waktu lama sebagai masa duabelas tahun. Rama selama duabelas tahun berada dalam pengasingan, Pandawa selama duabelas tahun dalam hukuman, Bathari Uma pun bertapa duabelas tahun sebelum diruwat.

Duduk di bawah pohon yang mengikatnya dan diawasi Semar dari jarak jauh, Sadewa ditakut-takuti makhluk-makhluk mengerikan. Sadewa tetap tabah dan sesekali melihat ke arah Semar yang sedang khusyuk bersemedi. Akhirnya Bathari Durga datang dengan wujud yang mengerikan yang minta Sadewa mengusir setan ‘mind’ dari dalam tubuhnya. Sadewa mengatakan belum mempunyai kesaktian untuk hal tersebut. Ketidak yakinan Sadewa membuat Bathari Durga memuncak kemarahannya. Di lain pihak, Semar telah kontak batin dengan adiknya, Bathara Guru untuk segera menolong Sadewa. Setengah tidak sadar, Sadewa merapal mantera yang diberikan Semar khusus bagi dirinya, dan tangannya memercikkan air suci. Air suci yang telah kena vibrasi doa dan mantra pribadi pemberian Guru membentuk kristal hexagonal yang indah dan Bathari Durga yang mendapat percikan air, menjadi sadar siapa jatidirinya dan berubah wujudnya menjadi Bathari Uma yang cantik. Bathari Uma berterima kasih dan memberi nama baru Sadewa menjadi Sudamala, ‘yang membersihkan noda kejahatan’. Bathari Uma juga memberikan senjata kelembutan feminin untuk menghancurkan musuh-musuhnya.

Kalika, pembantu Bathari Durga, juga ingin diruwat Sadewa, akan tetapi diledek Semar, “Sudahlah Kalika, sifat raksasa dalam dirimu belum menjadi lembut, bertapalah, merenunglah dan berbaktilah kepada Bathara Guru, akan tiba waktunya dirimu menemukan jatidirimu”. Apakah spiritual kita sudah setingkat Bathari Durga, atau Kalika atau masih seperti raksasa yang belum sadar, Semar mengetahuinya. Kita harus terus berjuang sampai menemukan jatidiri.

Selanjutnya ‘Sudamala’ membantu Nakula, dan kemudian membantu Arjuna dan Bhima mengalahkan raksasa Kalantaka dan Kalanjaya dan mengembalikan kesadaran Dewi Kunti, ibunya.



Perubahan Nama

Pemberian nama baru dalam tradisi leluhur bisa dikaitkan dengan ajaran Yang Mulia Dharmakirti Svarnadwippi, seorang Guru Besar di zaman Sriwijaya. Ajarannya tentang ‘Boddhichitta’, Kesadaran Murni dipelajari oleh Yang Mulia Atisha dari India dan disebarkan di Tibet. Dalai Lama sangat menghormati Guru Besar Dharmakirti dan Guru Besar Atisha. Ajaran Guru Besar Atisha yang terkenal di antaranya adalah setelah mencapai pemahaman tentang Kesadaran Murni, maka tiba saatnya untuk membuang ‘conditioning’ lama, dan menggantinya dengan kesadaran baru. Memperbaiki ‘conditioning mind’ dengan ‘created mind’ yang diterapkan dalam keseharian, sehingga terjadi kelahiran kembali, kelahiran Kesucian di dalam diri. Pemberian nama baru dimaksudkan sebagai pemerkuat ‘created mind’. Sadewa harus menerapkan jatidirinya sebagai Sudamala, pembersih noda kejahatan.



Ajaran Semar Sang Pamomong

Nasehat Semar Sang Pamomong di bawah ini dipetik buku ‘BODHIDHARMA Kata Awal adalah Kata Akhir’, karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005. Semoga kita semua segera sadar.



Pertama: Kesadaran akan dukha, duka. Du berati yang tidak baik, jelek, tidak pada tempatnya. Kha berarti kehampaan, kekosongan, kasunyatan. Dukha berarti “rasa kosong atau hampa yang tidak baik, tidak pada tempatnya – jelek”!. Sebaliknya, sukha atau suka berarti “kasunyatan – rasa kosong yang baik”. Pemahaman kita tentang suka dan duka saat ini kacau balau. Segala sesuatu yang menyamankan kita kita sebut suka, yang tidak nyaman kita sebut duka, padahal makna asalnya lain: “Suka berarti bahagia karena mandiri, saat kau menikmati kesendirianmu. Kau tidak lagi bergantung pada sesutau di luar diri.” Dan, “Duka berarti sedih karena tidak dapat hidup mandiri, sendiri; tidak dapat menikmati keheningan. Selalu bergantung pada sesuatu di luar diri.



Kesadaran Kedua : dukha itu disebabkan oleh keinginan. Lahir seorang diri, kelak mati pun seorang diri. Pertemuan kita hanyalah untuk sesaat. Kekurangan apa, kehampaan apa, kesepian apa yang kita rasakan? Apa betul kita kekurangan sesuatu? Kita “merasa” kekurangan, maka timbul “keinginan” untuk mengisi kekurangan itu, dan kita “tidak dapat” mengisinya. Kita “kecewa”, “marah”, dan “menderita”. Keinginan berada di balik penderitaan. Bila kita telusuri lebih lanjut, keinginan itu sendiri berasal dari mind, dari pikiran……. dan, sesungguhnya ia tak akan menyebabkan penderitaan, bila emosi kita tidak terlibat. Nah, mental-emosional factor inilah yang menyebabkan keinginan dan memperkuatnya sedemikian rupa sehingga dapat menyebabkan penderitaan.



Kesadaran Ketiga: Dukha dapat diakhiri, dilampaui. Dengan cara membebaskan diri dari pikiran dan rasa. Tentu saja itu tidak berarti kita berhenti berpikir atau mematikan rasa, tidak. Kau hanya melampauinya, membebaskan diri darinya. Kemudian bila kita perlu berpikir lagi, silakan menggunakan kembali ‘mind’ kita. Bila ‘mind’ ingin bercumbuan dengan pasangan, silakan kembali menggunakan rasa. Untuk melampaui pikiran dan rasa, sesungguhnya kita tidak harus bekerja keras. Untuk mengikuti kemauan mereka, kita harus bekerja keras. Misalnya, muncul keinginan untuk memiliki sesuatu, tak perlu kita melawannya. Biarlah muncul dengan segala macam gambar khayalannya…….. diamati terus……. tidak lama kemudian, keinginan itu pasti berlalu.



Kesadaran Keempat: Ada cara untuk mengakhiri dukha. Pikiran dan rasa kita tidak pernah konsisten. Dua-duanya selalu mengalami pasang-surut, naik turun. Oleh karena itu, pengaruhnya terhadap kita pun bisa berkurang dan bertambah. ‘And, the good news is’; kita dapat berupaya untuk mengurangi pengaruhnya.



Empat butir Kesadaran Awal atau ‘Four Noble Truths’ ini diterjemahkan menjadi “laku”, praktik, oleh Dharma Pencerahan, Bodhidharma.

Laku Pertama: Kemampuan untuk menerima ketidakadilan. Mereka yang hendak memasuki alam meditasi harus menghadapi segala rintangan dengan kesadaran ini: “Dalam sekian banyak masa kehidupan sebelumnya, aku telah berpaling dari hal-hal yang penting dan terikat pada hal-hal sepele yang tidak berarti…… aku telah berkelana melewati segala bentuk kehidupan…… mengamuk tanpa alasan, dan bersalah atas kemunduran diri. Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri. Aku menerimanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan.” menurut kitab-kitab suci, “Bila menghadapi musibah, janganlah engkau berkeluh kesah, karena apa pun yang terjadi bukanlah tanpa alasan.” Dengan pemahaman seperti itu, kau menjadi tenang dan dengan mudah memasuki alam meditasi. Berhentilah berkeluh kesah, karena apa saja yang terjadi, yang menimpa diri kita, all of it, make sense. Kita memang harus menghadapi semua itu. Sikap nrimo, menerima hidup sebagaimana adanya, dan mengalir bersamanya akan mempermudah entry kita ke alam meditasi. Itu password nya.



Laku Kedua: Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Sebagai makhluk hidup, kita semua terkendali oleh keadaan, belum dapat mengendalikan diri. Keadaan pula yang menentukan pengalaman suka dan duka. Rezeki, penghargaan, ketenaran, atau pengalaman lain yang kita peroleh dalam hidup ini, semata-mata karena perbuatan kita di masa lalu, karena keadaan masa lalu. Bila keadan berubah, pengalaman kita pun berakhir, berubah. Kenapa membesar-besarkan pengalaman itu? Keberhasilan dan kegagalan tergantung pada keadaan, namun “kesadaran”mu tidak tergantung pada sesuatu pun. Ia tidak mengalami pasang-surut. Mereka yang tidak terpengaruh oleh angin kenikmatan, oleh hawa nafsu, memasuki alam meditasi dengan mudah.



Laku Ketiga: Berhenti mengejar sesuatu. Warga dunia ini umumnya hidup dalam ketidaksadaran. Mereka selalu mengharapkan sesuatu, mengejar sesuatu. Hanya segelintir orang bijak yang “terjaga”, sadar, kemudian tidak lagi mengikuti kebiasaan umum. Kesadaran diri mereka tidak terpengaruh oleh keadaan di luar diri yang berubah terus. Yang terpengaruh oleh perubahan itu hanya badan mereka, fisik mereka. Keberadaan sekitarmu sesungguhnya tidak memiliki bobot. Tidak ada sesuatu apapun yang berarti di dalamnya, lalu apa yang harus dikejar? Suka dan duka silih berganti. Tinggal dalam dunia”berlapis tiga” ini seperti tinggal di dalam rumah yang terbakar. Penderitaan tidak dapat dipisahkan dari badan. Adakah seorang “berbadan” yang bebas dari penderitaan? Mereka yang memahami hal ini tidak lagi terikat pada keberadaan dan berhenti berkhayal, berhenti mengejar sesuatu. Ayat-ayat suci pun menyampaikan hal yang sama: “Mengejar berarti menderita. Berbahagialah ia yang telah berhenti mengejar”. Saat kau berhenti mengejar, ketahuilah bahwa saat itu pula kau telah menemukan Jalan. Bukan “tidak mencari”, “tetapi tidak mengejar”. Kadang pencarian tidak bisa dihindari. Tinggal di dalam dunia berlapis tiga. Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.

Kamadhatu mewakili Alam Keinginan. Alam keinginan ini hampir tidak terbatas. Dari dunia di mana kaki kita berpijak, hingga surga tertinggi dalam khayalan, semuanya adalah kamadhatu. Semuanya berada dalam lapis kama atau keinginan, pikiran…. dan bersifat dhatu atau materi.

Rupadhatu adalah Alam Rupa atau wujud Asli. Dalam alam ini, kita baru berkenalan dengan diri sendiri, dengan wujud asli kita. Kesadaran kita tidak lagi mengalir ke luar menggapai galaksi di luar sana, tetapi terarah ke dalam diri. Inilah alam meditasi – melampaui keinginan, pikiran….

Arupadhatu adalah alam tanpa rupa; tanpa wujud. Bila meditasi pun terlampaui sudah, kita memasuki alam ini. Saat itu kita merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta. Kendati demikian, alam ketiga ini pun bukan tujuan Bodhidharma. Alam ketiga itu pun harus dilampaui.



Laku Keempat: Menerjemahkan Dharma atau kebajikan dalam hidup sehari-hari. Sadar akan Kebenaran bahwa pada hakikatnya Keberadaan suci adanya – itulah Dharma. Dan, sadar akan ketiadaan di balik Keberadaan – itulah Kebenaran. Tak ada lagi ketidakterikatan dan keterikatan; tak ada pula subyek dan obyek. Ayat-ayat suci pun menyampaikan:”Dharma melampaui segala macam keadaan oleh karenanya ia bebas dari segala macam noda. Dharma melampaui ‘aku’, maka bebas dari segala bentuk pencemaran”.Para bijak yang memahami serta meyakini hal ini sudah pasti melakoni Dharma dalam hidup sehari-hari.

Sadar akan hakikat yang tak pernah berkurang, mereka senantiasa siap sedia untuk menyerahkan jiwa, raga serta harta tanpa penyesalan maupun rasa angkuh sebagi pemberi atau penerima. Sambil melakoni Dharma dan mempertahankan kesadaran diri, mereka memberi tanpa pamrih; berbagi tanpa keterikatan membantu tanpa pilih kasih. Demikian, mereka memuliakan Jalan menuju Pencerahan.

Bukan sekadar memberi atau berbagi, “kebaikan-kebaikan” lain pun merekajalani. Walau sudah berbuat banyak serta menjalani enam kebaikan untuk melampaui ilusi, sesungguhnya mereka tidak berbuat apa-apa; mereka tidak menjalani apa-apa.

Batara Semar digambarkan sebagai tokoh yang urakan, sebuah simbol kebebasan. Semar adalah juga simbol rakyat paling jelata. Semar justru sering mengendalikan nafsu-nafsu majikannya dengan kebijaksanaan. Semar sering menangis menyaksikan penderitaan majikan dan sesamanya. Semar hanyalah pembantu rumah tangga para kesatria. Semar suka kentut sembarangan. Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar