Sabtu, 05 September 2009

Kisah Raja Yayati leluhur Sri Krishna dan Parikesit

Kisah Raja Yayati leluhur Sri Krishna dan Parikesit






Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka. Hukum Sebab-Akibat merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah ‘dualitas’ – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot. *1 Shambala

Kegalauan hati Raja Yayati

Raja Yayati sedang gundah, kutukan Resi Sukra, bahwa dirinya akan mengalami ketuaan lebih cepat dari seharusnya mengagetkannya. Dengan berbagai alasan dirinya minta kutukan dicabut, tetapi hal tersebut tidak bisa ditarik kembali. Resi Sukra memberi jalan keluar, putranya dapat mewakili kutukan tersebut.

Dua putranya dari istri Dewayani, Yadu dan Turwasu menolak. Dua dari tiga putranya dari istri Sarmishta, Druhyu dan Anu juga menolak. Tinggal satu putranya yang belum ditanyai kesediaannya untuk menggantikan dirinya menerima kutukan Resi Sukra.

Berbagai perasaan berkecamuk di benak Raja Yayati. Ternyata seorang raja yang perkasa di mata rakyat bahkan musuh-musuhnya, sejatinya tunduk di bawah bayang-bayang istri-istrinya. Bahkan kini dirinya pun tak bisa berbuat apa-apa ketika para putranya menolak permintaannya. Kejadian tersebut melenyapkan keangkuhannya. Dirinya menjadi raja yang amat berkuasa, namun Gusti lah penguasa segalanya. Kejadian tersebut juga membuka mata batinnya, bahwa seorang arif bijaksana sebetulnya telah mengalahkan egonya. Dan mengalahkan ego itu terasa berat bagi seorang yang sedang berkuasa.

Tiba-tiba ingatannya melayang pada kejadian yang telah lampau. Semua akibat terjadi karena ada sebabnya. Sebab yang kait-mengkait, yang semakin menjauhkannya dari diri sejatinya. Dan semua itu terjadi karena dia selalu menggunakan mind dalam memutuskan pilihan tindakan.

Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena sesungguhnya mind-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang hanya memiliki thought – satuan pikiran. Sekian banyak thoughts dan bahkan feelings, pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan mind. Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya ‘simptom’ mind, tetapi masih belum cukup berkembang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, mind baru mengkristal sepenuhnya. *1 Shambala



Menolong Dewayani

Pada hari itu dirinya sedang berburu. Dan, tanpa terasa dirinya mengendalikan kudanya menjauh dari rombongannya. Ketika sampai pada sebuah sumur, dia mendengar suara perempuan terisak-isak. Ditolongnya perempuan cantik tersebut yang mengenalkan diri sebagai Dewayani, putri Resi Sukra.

Dewayani menjelaskan bahwa dirinya sebelumnya mandi di sungai bersama Sarmishta, putra Raja Asura Vrsaparva. Karena akan datang badai, mereka terburu-buru naik ke atas dan tanpa sadar saling bertukar baju. Kemudian terjadilah keributan, Dewayani menganggap Sarmishta tidak sopan karena seorang asura kok berani memakai pakaian putri seorang Brahmin. Padahal sang brahmin, Resi Sukra adalah Guru dari raja asura dan karena dibimbing Resi Sukra maka bangsa asura menjadi jaya.

Sarmishta menghina ayahandanya dengan mengatakan, bahwa bagaimanapun ayahnyalah yang memberi makan sang resi, sehingga sang resi dapat diibaratkan sebagai seorang pengemis. Mereka berkelahi, dan Dewayani dalam keadaan capai terperosok masuk sumur, sedangkan Sarmishta sudah duluan lari meninggalkannya.

Ketika sang raja mau pergi, Dewayani menangis. Dewayani mengatakan bahwa dia adalah seorang perawan dan sang raja telah menolongnya keluar sumur dengan tangan kanan dan telah memberikan kainnya sebagai penutup tubuh. Sudah seharusnya sang raja menjadi suaminya.

Obyek pencarian kita tampak beragam. Ada yang mencari uang. Ada yang mencari jodoh. Ada yang mencari kedudukan. Ada yang mencari ketenaran. Tetapi, bila ditarik benang ke belakang, apa pun yang kita cari semata-mata untuk membahagiakan diri. Yang sedang mencari uang berpikir bahwa uang bisa membahagiakan dirinya. Yang mencari jodoh berpikir bahwa jodoh dapat membahagiakan dirinya. Begitu pula dengan mereka yang sedang mencari kedudukan dan ketenaran. *2 Narada Bhakti Sutra

Dirinya waktu itu bingung, Resi Sukra adalah seorang mahaguru yang dihormati tiga dunia. Raja asura Vrsaparwa, Dirinya sebagai raja manusia dan raja dewa Indra pun menghormati Resi Sukra. Dirinya berkata tidak berani menjadi suami Dewayani sebelum Resi Sukra mengizinkannya. Dirinya berkata jujur karena kalau Resi Sukra tidak berkenan dirinya takut akan kena kutukannya.

Menurut hukum ketertarikan, law of attraction, begitu Raja Yayati terfokus pada takut menerima kutukan, maka pikiran tentang kutukan memenuhi pikirannya, hanya dia meminta tidak menerima kutukan. Sebagai hasilnya kutukan justru mendekatinya. Itulah sebabnya kata-kata afirmasi bersifat positif dan tidak memakai kata tidak. Misalnya afirmasi aku tidak malas, maka yang memenuhi pikiran malas, hanya aku ingin yang tidak malas, afirmasi yang sering gagal. Lain bila afirmasi, aku rajin dan disiplin, sebuah afirmasi yang positif.



Perkawinan dengan Dewayani dan Sarmishta

Ketika dirinya sedang berburu lagi, dia bertemu kembali dengan Dewayani diiringi seorang gadis cantik yang ternyata bernama Sarmishta beserta seribu dayangnya. Resi Sukra yang hadir di tempat itu mengizinkan dirinya mengawini Dewayani, akan tetapi berpesan agar tidak mengawini Sarmishta.

Di halaman istana yang luas Sarmishta dan seribu dayangnya melayani Dewayani yang telah menjadi istri raja Yayati. Pada suatu hari dirinya kebetulan bertemu Sarmishta yang cantik di halaman belakang istana. Dan, Sarmishta pun piawai dalam menarik perhatian dirinya dengan menceritakan kejadian yang menimpanya.

Peran mata harus dipahami dengan betul. Pemicu-pemicu di luar menggunakannya sebagai pintu untuk masuk ke dalam diri kita. Awal mulanya dari “penglihatan”. Kesadaran kita mengalir ke luar lewat sekian banyak indera, tetapi mata adalah indera utama, gerbang utama. Jauh lebih mudah mengalihkan kesadaran ke dalam diri, bila gerbang utama ditutup. *3 Atma Bodha

Dirinya terpesona oleh gaya cerita Sarmishta.

Sarmishta menjelaskan bahwa sebetulnya ketika Sarmishta dan Dewayani tertukar pakaiannya, pakaiannya dulu lah yang dipakai oleh Dewayani. Dia hanya memakai pakaian yang tersisa. Sudah biasa terjadi adu mulut antara dua orang gadis yang sebelumnya sebagai sahabat karib. Ketika Sarmishta melaporkan kejadian kepada ayahnya, ayahnya khawatir Resi Sukra tidak akan berkenan menjadi guru para asura lagi. Dirinya beserta seribu dayangnya diajak Ayahnya mendatangi rumah Resi Sukra.

Kepada Dewayani, Raja Vrsaparva, ayahnya berkata, “Kekuatanku dan kekayaanku diperoleh atas bantuan ayahmu. Asura yang mati dalam peperangan dihidupkan kembali oleh ayahmu sehingga asura mengalami kejayaan. Perintahkan kepadaku apa yang harus kulakukan agar Resi Sukra tetap menjadi mahaguru kaum Asura.”

Selanjutnya, Dewayani meminta agar Sarmishta beserta seribu dayangnya menjadi pelayan Dewayani dan mengikuti kemana pun dia pergi. Ketika Sarmishta ditanya ayahandanya mengenai kesanggupannya dalam menjalani perintah Dewayani, Sarmishta berkata, “Sudah sewajarnya seseorang yang mendapat masalah harus mencari jalan keluar penyelesaiannya. Akan tetapi pengorbanan ini dilakukan demi ayahandanya, seorang raja dan juga demi rakyat di kerajaan ayahandanya. Maka saya tunduk pada permintaan Dewayani.” Sejak saat itu Sarmishta menjadi pelayan Dewayani.

Terketuk oleh kebesaran jiwa Sarmishta, dirinya mengajak Sarmishta kawin secara gandarwa.

Akhirnya terjadilah perkawinan gandarwa antara Dirinya dengan Sarmishta, sang putri raja Vrsaparva. Dari Dewayani lahirlah dua putra Yadu dan Turvasu. Dari Sarmishta lahirlah tiga putra Druhyu, Anu dan Puru.



Kutukan Resi Sukra

Dulu dirinya takut mendapat kutukan Resi Sukra kala Dewayani meminta dia menikahinya, sekarang ketakutan serupa muncul karena dirinya telah melanggar nasehat Resi Sukra untuk tidak menikahi Sarmishta.

Pada hari itu, Dewayani pergi ke halaman istana dan melihat tiga anak menjelang remaja yang tampan. Ditanyailah mereka itu siapa. “Kami adalah putra Raja Yayati dan ibu kami adalah Sarmishta.”

Dewayani sangat terpukul……….. Dia ingat pada waktu waktu remaja, ada murid ayahnya yang sangat tampan bernama Sang Kaca. Sebagai anak remaja tentu saja dia menyukai Sang Kaca. Ketika Sang Kaca telah menyelesaikan pelajaran dan bernit pamit kepada Resi Sukra, dirinya minta agar Sang Kaca mengawini dirinya. Sang Kaca menolak, karena dirinya belum dewasa dan lagi pula dirinya adalah putri gurunya yang sangat dihormatinya.

Pada waktu itu Dewayani mengutuk Sang Kaca bahwa ilmunya tidak akan mencapai kesempurnaan. Akan tetapi Sang Kaca tidak takut, karena dia memang bersih tanpa kesalahan. Bahkan Sang Kaca balas mengutuk dirinya bahwa nantinya dirinya akan dimadu oleh budaknya. Dan kutukan tersebut kini menjadi kenyataan………

Dewayani lapor kepada Resi Sukra dan Resi Sukra berang dan mengutuk dirinya bahwa dirinya akan cepat menua daripada seharusnya. Dirinya mohon agar kutukannya dicabut, karena ketuaanya akan merugikan kerajaan dan istri-istrinya. Resi Sukra berkata, “Kutukan tersebut bisa diwakili oleh salah seorang putramu. Hanya pesanku, bila putramu bersedia berkorban dan kau masih ingin kemudaan, bila masih dalam batas etika, nikmatilah dunia ini, nikmatilah sepenuhnya. Nikmati sampai titik jenuh – begitu kenyang, sehingga merasa mual dan muak. Lantas engkau akan mulai bertanya pada diri sendiri, “Apa lagi?” Pertanyaan ini dapat menjadi pemicu bagi peningkatan kesadaran dalam dirimu. Selama engkau masih puas dengan keadaan di sekitarmu, peningkatan kesadaran tidak akan terjadi. Selama itu, engkau masih sepenuhnya berada pada tingkat kesadaran terbawah. Kesadaran awal manusia adalah kesadaran Muladhar – kesadaran mendasar. Kesadaran ini yang membuat engkau membumi, sangat realistis, dan logis.” *4 Kundalini Yoga

Kepada Dewayani Resi Sukra berkata, “Putriku, dulu kau minta aku menyetujui perkawinanmu dengan Yayati, sekarang kau meminta aku mengutuk Yayati. Kau belum betul-betul mencintai dirinya, kau baru mencintai egomu sendiri. Renungkanlah!”

Dan, Dewayani termenung……



Kebesaran hati Sang Puru

Kini dirinya menemui putra bungsunya Puru. Dirinya menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya sejak pertemuannya dengan Dewayani dan Sarmishta. “Putraku aku menjelaskan semuanya kepadamu, agar kamu dapat menarik hikmah dari kejadian yang telah saya alami.” Tidak ada yang perlu disesali, semuanya sudah terjadi, yang penting tidak diulangi. Keinginan-keinginan duniawiku membuat siklus hidupku semakin panjang. Aku tidak begitu berhasrat lagi untuk memintamu menggantikan diriku menerima kutukan Resi Sukra. Aku akan menerimanya dan sisa waktuku yang lebih sedikit akan kugunakan untuk bertapa.”

“Ayahanda, keempat kakakku menolak menjadi pengganti yang menjalani kutukan dan mereka telah kau tolak sebagai putra mahkota. Diriku pun masih terlalu muda untuk menjadi penggantimu bila ayahanda pergi bertapa. Demi ibu, demi ayah, demi kerajaan ini aku merelakan usiaku menjadi tua, kuterima tugas menggantikan diri ayahanda untuk menjalani kutukan. Semoga ayah dapat memperoleh seorang putra lagi untuk menjadi putra mahkota. Semoga ayah menyelesaikan tugas-tugas yang masih tertunda……” Jawaban Puru membuat dirinya kaget, terharu dan butir-butir air mata dirinya bercucuran.

Puru berpegang pada kata para bijak, “Seseorang harus mempunyai kemampuan untuk menerima ketidakadilan demi kebaikannya. Mereka yang hendak memasuki alam meditasi harus menghadapi segala rintangan dengan kesadaran ini: Dalam sekian banyak masa kehidupan sebelumnya, aku telah berpaling dari hal-hal yang penting dan terikat pada hal-hal sepele yang tidak berarti…… aku telah berkelana melewati segala bentuk kehidupan…… mengamuk tanpa alasan, dan bersalah atas kemunduran diri. Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri. Aku menerimanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan.” *5 Bodhidharma

Menurut kitab-kitab suci, “Bila menghadapi musibah, janganlah engkau berkeluh kesah, karena apa pun yang terjadi bukanlah tanpa alasan. Dengan pemahaman seperti itu, kau menjadi tenang dan dengan mudah memasuki alam meditasi.”

Dirinya kembali kepada kemudaan sebelumnya dan memerintah kerajaan dengan adil dan bijaksana. Kemarahan Dewayani sudah berkurang seiring bertambahnya usia. Bahkan kini Dewayani telah dikaruniai seorang Putri bernama Madawi. Dewayani bahkan memberikan penghormatan kepada Puru atas pengorbanannya. Sarmishta sangat sedih melihat putranya yang kelihatan tua, tetapi bangga mempunyai putra yang berjiwa agung.

Kesadaran dirinya dan kedua istrinya meningkat, “Kami menyadari bahwa apa pun yang dialami, sebetulnya adalah akibat dari tindakan sendiri di masa lalu. Bagaimana cara menghadapi masalah yang berada di depan mata, itulah pilihan yang ada pada saat ini yang akan menentukan akibat ke depan.”



Dirinya bersyukur, “Terima kasih Gusti yang telah memberikan kami kesempatan untuk menyelesaikan tugas yang harus kami selesaikan dalam kehidupan ini. Gusti, kami juga bersyukur bahwa Gusti telah menganugerahi kami dengan putra yang berjiwa luhur.”

Dan, akhirnya dirinya memanggil Puru untuk mengembalikan kemudaannya. Puru setelah menjadi muda kembali, selanjutnya dinobatkan sebagai raja pengganti dirinya.

“Putraku aku dulu salah dalam mengidentitaskan diriku. Pikiranku ku anggap sebagai diriku sehingga aku terombang-ambing antara mengejar kesenangan dan ketakutan mengalami penderitaan. Kini aku sadar. Kelahiranku, kehidupanku, semua sudah ditentukan sebelumnya, tetapi bagaimana cara menghadapi ketentuan itu sepenuhnya tergantung pada diriku sendiri. Dan kini aku memutuskan menyerahkan kemudaan dan kekuasaan kerajaan kepadamu.”

Kadang kita mengidentitaskan diri kita dengan badan, kadang dengan pikiran, kadang dengan emosi. Kadang kita terlibat dengan benda-benda duniawi yang tidak permanen. Kadang kita bersuka ria, kadang tenggelam dalam duka yang tak terhingga. Kita melupakan identitas diri kita yang sebenarnya. Kita lupa akan ‘Aku’ yang sejati, yang tak pernah musnah, yang kekal dan abadi. *6 Bhagavad Gita

Banyak pemicu di luar yang senantiasa berupaya untuk mengelabui dan menjauhkan diri kita dari kebenaran. Harta sebagai pemicu berusaha untuk meyakinkan kita bahwa “kau lebih kaya dari orang lain” atau sebaliknya, “kau miskin, dia kaya”. Pendidikan dan pengetahuan sebagai pemicu berusaha untuk mengelabui kita, “kau pintar, dia bodoh.” Atau, “kau bodoh sekali, dia pintar”. Demikian pula dengan status sosial, kedudukan, dan lain sebagainya. Krishna mengajak Arjuna untuk merenungkan: “Semua itu ‘menjadi’ milikmu setelah kelahiranmu; setelah segala jerih payah dan interaksimu dengan dunia. semua itu merupakan pemberian masyarakat. Adakah sesuatu di dalam dirimu yang tidak merupakan pemberian?” “Arjuna, jati dirimu adalah sesuatu yang riil, sesuatu yang berarti, sesuatu yang sudah ada sejak keberadaan dirimu. Ia bukanlah pemberian dunia; bukanlah pemberian masyarakat. Alihkan kesadaranmu pada jati dirimu, maka kau akan terbebaskan dari pengaruh-pengaruh yang tidak berarti.” *7 Gita Management

Resi Shuka mengakhiri kisahnya dan melanjutkan, “Dari Yadu putra Dewayani lahirlah kaum Yadawa dan Sri Krishna berasal dari Kaum Yadawa. Sedangkan Raja Parikesit berasal dari keturunan Puru.”

Parikesit matanya berkaca-kaca, “Terima kasih Guru, yang telah memberitahu sejarah leluhurku, Puru, putra raja yang masih remaja berani menjalani hidup dalam ketuaan, dan karena kisah-kisah Guru, kini diriku juga sudah berani menghadapi kematian. Apabila berkenan, dan umurku masih belum berhenti, mohon Guru meneruskan cerita tentang para leluhurku. Guru, diri Guru adalah Ilahi yang mewujud untuk memanduku. Terimalah sembah sujudku. Namaste.”

Jay Gurudev!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar