Sabtu, 05 September 2009

enjata Sri Krishna Dalam Menegakkan Kebenaran Kala Adharma Merajalela

Senjata Sri Krishna Dalam Menegakkan Kebenaran Kala Adharma Merajalela



Para leluhur kita menghormati para Duta Kebenaran. Hanya para raksasa dan mereka yang berjiwa raksasa yang mengabaikan datangnya Duta Kebenaran. Hanuman adalah Duta ke negeri Alengka sebelum negeri umat raksasa dihancurkan Sri Rama. Prabu Kresna adalah Duta Kebenaran sebelum perang bharatayuda dimulai. Ada putaran cakra, ada waktu yang diberikan, ada jedah untuk memilih Kebenaran yang sudah nampak jelas atau tetap memilih berkubang dalam adharma, sampai saat Kebenaran ditegakkan. Nabi Musa juga merupakan Duta Kebenaran bagi kaumnya Fir’aun, demikian pula Pesuruh Gusti lainnya sebagai pembawa peringatan terhadap kaumnya. Banyak umat yang mempertahankan ‘status quo’-nya tidak mau menerima perubahan dan tidak mau mendukung Kebenaran.

Perkawinan Abimanyu, persiapan Pandawa meminta hak kembali Wilayah Indraprasta

Setelah dua belas tahun masa pembuangannya, Pandawa dan Drupadi menetap di Kerajaan Wirata. Untuk mempererat persaudaraan, Abimanyu putera Arjuna, keponakan Prabu Kresna dikawinkan dengan Dewi Utari puteri Raja Wirata. Setelah persiapan pernikahan selesai maka dikirimlah undangan kepada semua sahabat dan kerabat, termasuk ke Raja Hastina dan para kerabatnya.

Korawa tidak hadir dalam acara tersebut. Korawa patut menduga bahwa Pandawa sedang mempersiapkan negosiasi untuk meminta haknya apabila Korawa datang ke pernikahan tersebut. Pihak Korawa takut. Korawa telah menipu dalam perjudian dengan Yudistira, dan masa pengasingan Pandawa telah berakhir. Korawa yang sudah ‘terikat’, nyaman dalam ‘comfort zone’, hasil manipulasi perbuatan sebelumnya, enggan mengembalikan hak Pandawa.

Sifat Korawa tersebut sudah merupakan sifat umum manusia, yaitu keterikatan terhadap kenikmatan indra. Apabila kita diperbudak oleh panca indera kita sendiri, kita akan kehilangan arah, ibarat perahu yang tak terkendalikan. Dalam perjalanan hidup ini, kita tidak dapat melangkah tanpa indera kita. Namun yang menentukan perjalanan kita, rute kita, seharusnya kita sendiri.

Yang menuntut kenikmatan indra adalah mind. Keinginan, keterikatan dan apa yang kita anggap cinta selama ini, semua adalah expression of mind, ungkapan-ungkapan mind. Sifat-sifat dasar manusia juga berkaitan erat dengan mind. Sifat tenang, sifat aktif dan sifat malas atau triguna lahir dari rahim mind. Melampaui ketiga sifat itu berarti melampaui mind. Atau sebaliknya, melampaui mind berarti melampaui ketiga sifat dasar itu. *1 Narada Bhakti Sutra

Setelah upacara pernikahan selesai dan para tamu undangan pulang ke tempat masing-masing, Prabu Kresna memanfaatkan kesempatan untuk bertemu dengan Pandawa dan kerabatnya. Dalam pertemuan tersebut disepakati Sri Krishna akan menjadi Duta Pandawa bagi Kaum Korawa, untuk menegosiasikan pengembalian hak Pandawa. Pada kesempatan itu Sri Krishna memberikan pesan kepada Pandawa. Pesan yang menjadi pedoman Pandawa dalam melakukan dharma.



Nasehat Sri Krishna kepada Pandawa

Sri Krishna berpesan kepada Pandawa untuk mempersiapkan diri. Apabila Korawa mengembalikan wilayah Indraprasta , maka perdamaian akan terwujud di dunia. Akan tetapi berhasil atau tidak Sri Krishna sebagai Duta, persatuan dan kesatuan harus dijaga. Seluruh bangsa harus tunduk kepada pemimpin yang telah disepakati bersama, apabila pemimpin melakukan kesalahan cepat diingatkan dengan penuh kasih. Jangan bertindak menurut kemauan sendiri-sendiri. Apabila masing-masing alat gamelan mengeluarkan suara sendiri-sendiri tanpa kesepakatan maka suaranya akan kacau. Apabila setiap alat gamelan mengikuti irama kesepakatan dengan harmoni dan mengikuti alunan suara sang penyanyi maka suaranya akan terdengar sangat indah. Gamelan mengikuti sang penyanyi, bukan seperti karaoke, penyanyilah yang menyesuaikan diri dengan musiknya.

Orang-orang yang bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling membagi dalam komunitas mereka dapat mencapai tujuan mereka dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena mereka menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain……… Kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan tinggal dalam formasi dengan mereka yang berjalan di depan. Kita akan mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri daripada melakukannya bersana-sama……….. adalah masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama, bergantian. *1 Narada Bhakti Sutra

Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan “daya dukung” bagi burung yang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusah payah untuk menembus ‘dinding udara’ di depannya. Dengan terbang dalam formasi “V”, seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian…….. Kalau seekor angsa terbang ke luar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya………. Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya……. Angsa-angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga…….. Ketika seekor angsa menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, dua angsa lain akan ikut keluar dari formasi bersama angsa tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka tinggal dengan angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka. *1 Narada Bhakti Sutra



Senjata Sri Krishna

Sebagai Duta Hyang Widhi, Sri Krishna digambarkan mempunyai beberapa senjata. Pada hakikatnya, Sri Krishna tidak ada hubungan dengan pemujaan kelompok tertentu, Sri Krishna, Sang Duta Kebenaran berada di dalam diri, bersemayam di hati nurani.

Senjata Cakra: Panah berujud cakra bulat seperti roda dan bergerigi tajam di ujung-ujung giginya. Senjata tersebut adalah senjata pemahaman tentang adanya Hukum Sebab-Akibat yang akan mengejar siapa pun juga dan berada dimanapun juga. Tidak ada tempat untuk sembunyi dari Cakra Sri Krishna, meninggalkan dunia pun tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Beberapa wisdom tentang Hukum Sebab Akibat: “Kebaikan yang kau lakukan pasti kembali padamu. Begitu juga dengan kejahatan. Kau dapat menentukan hari esokmu, penuh dengan kebaikan atau sebaliknya.” “Kenapa mesti menangisi nasib? Kau adalah penentu nasibmu sendiri. Apa yang kau alami saat ini adalah akibat dari perbuatanmu di masa lalu. Apa yang kau buat hari ini menentukan nasibmu esok” *2 SMS Wisdom

Bunga Wijaya Kusuma: Bunga cinta kasih yang jaya, puncak karya pohon kehidupan, yang bisa menyembuhkan penyakit batin dan menghidupkan orang yang telah mati jiwanya. Bagi mereka yang yakin kepada Sri Krishna, dia akan sembuh dari penyakit yang selama ini dialaminya, penyakit lupa diri karena hidup dalam dunia ilusi ‘mind’, maya. Bagi orang yang sadar, taubat, metanoia, Sri Krishna akan menghidupkan kembali jiwanya yang mati dan lahir penuh kasih. Mati dimaksudkan sebagai ego keras yang tidak dapat berubah. ‘Mind’ yang mengeras, sehingga sinar kasih Ilahi tak dapat diterimanya.

Beberapa wisdom tentang kasih: “Dengan menganggap dirimu lahir dari dan dalam dosa, kau menghujat Tuhan. Dirimu lahir dari dan dalam cinta, dan cinta itulah Tuhan, Allah.” “Isilah harimu dengan kasih, maka kau tak akan pernah salah. Kekuatan kasih itu, cahaya cinta itu akan menerangi pikiranmu dan mengarahkan setiap langkahmu.” “Awali harimu dengan cinta kasih, isilah harimu dengan cinta kasih, akhirilah harimu dengan cinta kasih, itulah jalan menuju Tuhan.” “Kasih tidak mengharapkan imbalan. Kasih itu sendiri adalah imbalan. Kebahagiaan yang kau peroleh saat mengasihi itulah imbalan kasih.” *2 SMS Wisdom

Cermin : Alam adalah salah satu wujud kasih Sri Krishna, juga merupakan cermin Sri Krishna. Manusia yang sadar dapat bercermin dari perilaku alam. Alam ini adalah cermin bagi diri, alam bersifat universal, tidak ‘pilih sih’, bertindak sama terhadap semua makhluk. Alam bersifat kasih, hanya memberi. Dalam hal ini cermin hampir mempunyai arti yang sama dengan gaung.

Beberapa wisdom tentang cermin dan gaung: “Men-cahaya-i diri saja tidak cukup. Cahaya yang menerangi dirimu itu mesti dibagikan dengan setiap orang yang membutuhkannya. Yakinlah bila kau mampu melakukan hal itu.” “Bertindaklah sebagai cermin dihadapan orang lain sehingga dia sadar akan wajah asli dirinya.” “Tuhan adalah gaung jiwamu. Bila jiwamu masih berkarat, maka kau akan menggaungkan Tuhan yang berkarat. Kau akan menciptakan sosok Tuhan yang berkarat. Bersihkan jiwamu.” *2 SMS Wisdom



Aji Pameling : Dia dapat memanggil dari jarak jauh, misalnya memanggil Hanuman yang bertapa di Gunung Kendalisada. Dalam bahasa meditasi lebih dekat dengan istilah transmisi.

Mereka yang berada pada gelombang yang sama dapat berkomunikasi tanpa suara, cukup dengan getaran pikiran. Mereka yang mencintai Sri Krishna akan dapat mendengar bisikannya.

Otak kita “mengerjakan” lebih dari 15 miliar sel dalam seluruh tubuh kita. Kurang lebih itulah jumlah sel dalam tubuh manusia. Setiap sel sesungguhnya adalah sebuah electric impulse, percikan listrik yang dapat berubah menjadi radio waves, gelombang suara.

Hanya orang-orang yang pribadinya sudah berkembang secara utuh yang dapat membantu kita untuk mengembangkan diri kita secara utuh. Berada dekat orang-orang seperti itu, kadang kita tidak perlu menunggu untuk disapa, untuk diajak bicara atau mendengar. Bila electric impulse dalam diri kita bergetar pada gelombang yang sama dengan manusia utuh itu, tanpa ucapan pun kita dapat menangkap pemikirannya. *3 Neo Psyhic Awareness

Dalam tradisi kuno, ini yang disebut Shaktipaat. DaIam tradisi Zen dikaitkan dengan transmisi-transmisi ajaran, transmisi kesadaran dari sang guru kepada siswa yang siap. Shaktipaat bukanlah sebuah ritual, tetapi suatu “kejadian” yang hanya terjadi bila guru dan siswa berada dalam gelombang yang sama; ketika keduanya sedang bergetar bersama. Kemudian, seorang guru tidak lagi membutuhkan kertas dan pena, atau media tulisan untuk menyampaikan pemikirannya. Sang siswa pun tidak membutuhkan sepasang telinga maupun mata untuk mendengarkan wejangan guru atau membaca tulisannya. Sungguh setajam apa pun pendengaran seorang siswa, sejernih apa pun penglihatannya, secerdas apa pun otaknya, sehebat apa pun pemahaman serta penangkapannya, dan semahir apa pun seorang guru menyampaikan apa yang hendak disampaikannya, ketika pikiran diterjemahkan menjadi ucapan atau tindakan, terjadilah “penurunan” kualitas; penurunan derajat; penurunan intensitas; penurunan kedahsyatan yang hanya ada dalam pikiran yang masih berupa electric impulse. *3 Neo Psyhic Awareness

Aji Kesawa: Kekuatan untuk mengubah wujud menjadi Raksasa. Dalam diri manusia terdapat potensi raksasa. Potensi luarbiasa yang terpendam dalam diri. Sri Krishna paham adanya potensi luar biasa dalam diri yang akan bermanfaat bagi alam semesta.

Beberapa wisdom terkait dengan Aji Kesawa: “Kau adalah pusat dunia, bila kau berubah, dunia akan berubah. Fokuskan seluruh kesadaranmu pada perubahan diri. Jangan takut pada mereka yang menghalang-halangimu. Bila niatmu kuat dan keinginanmu untuk bekerja keras pun ada….. Maka, ketahuilah bahwa tiada sesuatu yang dapat menghalangimu untuk mewujudkan impianmu.” “Cukup sudah kau mengemis dan minta dikasihani. Sekarang berdirilah di atas kedua kakimu. Sepasang tangan dan kaki yang kau miliki itu hanya menunggu perintahmu untuk menggerakkan bukit-bukit dari tempatnya.” *2 SMS Wisdom

Sebetulnya kala Sri Krishna menggunakan Aji Kesawa, Dia ber-‘triwikrama’, meliputi tiga dunia.

Seorang meditator adalah seorang pencinta. Cinta tanpa syarat, tak terbatas. Dia seorang pengasih. Kasih sejati, kasih Ilahi. Kenikmatan tiga dunia pun sudah tidak bisa mengikat dirinya. Apa pula yang dimaksud dengan tiga dunia? dalam tradisi India kuno, alam semesta dibagi dalam 3 bagian utama. Bhu atau Bumi. Bhuvah atau alam di bawah tanah. Svaha atau alam di atas bumi, di luar bumi. Tiga bagian utama itu kemudian dibagi lagi dalam sekian sub-bagian. Tiga Loka atau tiga dunia, tiga alam, bisa jugaditerjemahkan sebagai tiga masa – masa lalu, masa kini dan masa depan.*1 Narada Bhakti Sutra

Oleh para leluhur triwikrama digambarkan berubah wujud sebagai raksasa yang besar sekali.



Kedatangan Sri Krishna sebagai Duta Kebenaran di Hastina

Prabu Kresna datang ke pertemuan agung Hastina yang dipimpin langsung oleh Prabu Duryudana. Suasana mendadak hening, keriuhan terhenti, para pejabat Korawa terhenyak melihat Prabu Kresna berdiri dan menjelaskan maksud kedatangannya. Prabu Kresna mengatakan bahwa kedatangannya sebagai Duta Kebenaran, yang dalam hal ini Pandawa yang telah menjalani hukumannya dan kini meminta kembali haknya atas Indrapasta.

Duryudana dan para Korawa yang telah mendapat bisikan dari Patih Shakuni bertekad untuk tidak mengembalikan Indrapasta dengan berbagai alasan. Duryudana berkata bahwa Pandawa telah melanggar hukumannya untuk tidak muncul di hadapan umum. Ketika terjadi perselisihan antara Hastina dengan Wirata, para Pandawa telah menampakkan diri dan bahkan mengangkat senjata terhadap para Korawa kerabatnya sendiri.

Prabu Kresna menjelaskan bahwa saat itu menurut perhitungannya, para Pandawa sudah terlepas dari batas masa hukuman dan mereka mengangkat senjata karena saat itu mereka sedang mengabdi di Wirata dan sebagai penduduk Wirata. Adalah merupakan kewajiban mereka untuk mengangkat senjata demi membela negara.

Eyang Bhisma berusaha menengahi agar tidak terjadi perang saudara, sudah seharusnya sesama saudara saling membantu tanpa pamrih dan tidak menyimpan dendam. Duryudana kemudian menanggapi bahwa Eyang Bhisma memang dari dulu lebih memilih Pandawa daripada Korawa. Arya Widura yang kesal atas jawaban Duryudana berkata dengan keras “Duryudana, perkataanmu terhadap kakekmu sudah keterlaluan dan bukan tindakan seorang raja, aku tidak akan merestui semua tindakanmu”. Dengan ketus Duryudana menjawab “Saya juga tidak ingin restu dari paman. Setiap garam dalam makanan paman berasal dari raja, mengapa paman tidak menurut padanya.” Dan, Widura langsung meletakkan busur panahnya dan pergi meninggalkan Hastina tanpa seucap kata pun.

Sri Krishna menjelaskan tentang dharma, agar Korawa sadar. Agar memilih ‘Sreya’ daripada ‘Preya’.

“Ada yang menyenangkan atau Preya, dan ada yang memuliakan atau Shreya.” Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu memuliakan. Tetapi, sesuatu yang memuliakan sudah pasti menyenangkan pula, walau di awalnya tidak terasa demikian. Sesuatu yang menyenangkan pada awalnya memang terasa manis, tetapi akhirnya terasa pahit. Sebaliknya, sesuatu yang memuliakan, awalnya barangkali terasa pahit—akhirnya manis.” Dharma adalah sesuatu yang memuliakan.*4 Panca Aksara

Sri Krishna mencoba meyakinkan Korawa agar mengambil tindakan mulia yang pahit, tetapi manis di akhirnya. Akhirnya Sri Krishna meminta konfirmasi apakah Duryudana akan mengembalikan Indrapasta. Duryudana menjawab, “Pandawa telah menghina keluarga Korawa. Semua Korawa telah bersepakat tidak akan duduk setingkat dengan para Pandawa dan tidak akan mengembalikan Indrapasta”.

Jawaban ini membuat Sri Krishna kesal dan berkata: “Duryudana, para tetua disini akan menjadi saksi atas perkataanmu, perkataanmu ini harus kau pertanggungjawabkan di kemudian hari. Akan ada hari dimana mulutmu dikunci dan anggota tubuhmu akan dimintai pertanggungan jawab. ‘Sapa sing nandur bakal ngunduh ………Aku akan memberitahukan keputusanmu kepada Pandawa!”.



Paska ditolaknya Proposal Perdamaian Sri Krishna

Saat Sri Krishna keluar dari istana, dia dibrondong panah para penembak gelap yang disiapkan Patih Shakuni. Sri Krishna sengaja ber-‘triwikrama’, menjadi raksasa untuk memberikan gambaran Raksasa Alam yang akan melenyapkan Korawa yang tidak tunduk terhadap Kebenaran. Sri Krishna masih berharap para Korawa segera menyadari hukum alam yang alan segera menyelesaikan hutang piutangnya.

Melihat Sri Krishna menjadi Raksasa, para Korawa dan Shakuni segera bersembunyi, sementara Resi Drona juga menggigil ketakutan. Eyang Bhisma dan Prabu Salya dengan tenang meninggalkan gedung pertemuan seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Para Dewa juga menjadi khawatir atas tindakan Sri Krishna dan menunggu apa yang akan terjadi sesudahnya. Sri Krishna merasa telah cukup menunjukkan bahwa apabila Korawa melanjutkan penolakannya, mereka akan dimangsa alam, dan kemudian mewujud menjadi Sri Krishna kembali.

Akan tetapi para Korawa tetap tidak paham dengan datangnya Duta Utusan Kebenaran, sehingga perang bharatayuda tetap terjadi. Bila dalam Ramayana, etnis raksasa yang merupakan keturunan dari percampuran manusia dan hewan harus musnah, maka dalam bharatayuda etnis kloning dari gumpalan daging yang dipecah menjadi seratus Korawa harus dimusnahkan juga.

Alam selalu memberikan peringatan lebih dahulu, sebelum bertindak. Para Pembawa Peringatan, para Pembawa Pesan adalah Duta-Duta Kebenaran. Hanya manusia masih suka berkubang dalam pola kebiasaan lama dan tidak mau menerima pesan kebenaran yang dibawa Sang Duta. Semoga kita dapat menerima Kebenaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar