Sabtu, 05 September 2009

Perjalanan Batin Dewi Sinta Bagian Pertama, isteri seorang Avatara

Dan, di atas segalanya, Anugerah-Nya yang sungguh tak tertandingi ialah “Kebebasan”. Ia memberi kita kebebasan untuk berpikir, berkarya, Ia tidak memperbudak kita. Jika kita berhamba kepada-Nya, maka itu pun bukanlah karena perintah-Nya. Tetapi, semata karena cinta kita, karena kesadaran serta keinginan kita untuk berhamba. Ia membebaskan kita dari belenggu-belenggu keterikatan, keserakahan dan lain sebagainya yang mengikat diri kita dan menyebabkan kesengsaraan. Ia membebaskan diri kita dari identitas diri yang palsu, “aku” yang tidak berarti. Ia mengantar kita pada Kesadaran Tertinggi Sang Aku Sejati! *1 Panca Aksara

Pergolakan batin Dewi Sinta di Alengka

Setiap Rahwana datang Dewi Sinta berada dalam ketegangan, dia selalu bersiap untuk melakukan bunuh diri dengan cundrik yang tak lepas dari tubuhnya. Begitu Rahwana memaksa, dia segera melakukan bunuh diri. Akan tetapi sudah sekian lama, ternyata Rahwana tidak memaksakan diri. Rahwana hanya mau menikahinya apabila dia mau menjadi isterinya. “Gusti, aku bersyukur atas perlindungan-Mu. Hanya pada-Mu yang tidak dapat kulihat, hanya keberadaan-Mu dapat kurasakan, bahwa Gusti begitu menyayangi diriku. Gusti, aku merasakan kebahagiaan kala aku sendirian dan dapat berkomunikasi dengan diri-Mu. Sudah lama aku tak tahu kabar berita suamiku. Aku yakin pada-Mu kalau Engkau berkenan sesulit apa pun keadaannya, akan ada juga jalannya. Aku pasrahkan diri ini kepada-Mu. Kepada siapa lagi kalau bukan pada-Mu”

Menyadari kehadiran serta keterlibatan-Nya setiap saat tidak segampang berdoa sekian kali setiap hari atau setiap minggu, karena saat ini apa yang kita anggap berdoa hanya melibatkan fisik kita. Lapisan-lapisan kesadaran mental dan emosional pun sering tidak terlibat. Itu sebabnya saat berdoa, kita masih bisa berpikir tentang hal-hal yang tidak berkaitan dengan ibadah kita. Lalu bagaimana berserah diri sepenuhnya? Bagaimana berdoa dengan khusuk? Dalam sutra ini, Narada menyebut tiga hal – keinginan, amarah dan keangkuhan. Saat berdoa pun ketiga-tiganya masih ada. Misalnya berdoa untuk memperoleh sesuatu. Entah sesuatu itu rumah di Simprug atau kapling di Surga, keinginan tetaplah keinginan. Kemudian, amarah. Bila ada keinginan yang tidak terpenuhi, doa pun bisa menjadi luapan amarah. Dan, keangkuhan… Saat berdoa, “aku” masih hadir. “Aku” berdoa. “Aku” rajin berdoa. *2 Narada Bhakti Sutra

Rahwana mempunyai adik bungsu bernama Wibisana. Putri Wibisana bernama Trijata diminta Rahwana untuk membujuk dirinya agar mau dinikahi Rahwana. Tetapi setelah begitu lama, dia tetap menolak dan saat ini Trijata bahkan sudah menjadi teman karibnya.

Ada perasaan yang masih mengganjal di hati Dewi Sinta, bahwa Rahwana selalu menyebut dirinya titisan dari Dewi Widowati, oleh karena itulah dia tidak akan memaksa menjadi isterinya. Rahwana yakin bahwa dengan penuh kesabaran, akan ada saatnya dirinya akan menerima Rahwana.

Dan, malam itu Dewi Sinta merenung begitu dalam dan ingatannya menerawang ke masa silam……



Menjadi istri Sri Rama

Dia ingat kala dirinya menjadi putri Raja Janaka dan sedang mencari ksatriya yang cocok sebagai suaminya. Dalam sayembara memperebutkan dirinya tersebut Sri Rama telah memenangkan sayembara. Rona muka Dewi Sinta memerah, ingat betapa dirinya pada waktu itu langsung jatuh hati pada calon suaminya, seakan dalam masa kehidupan sebelumnya dia memang pasangan ksatriya tampan tersebut.

Ayahnya, Prabu Janaka pernah mengingatkan, “Jodoh sebetulnya sudah menjadi suratan alam. Hasil tindakanmu di kehidupan masa lalu menentukan jodoh dan nasibmu di kehidupan kini. Akan tetapi, kesempatan hidup kali ini jangan dibiarkan begitu saja. Kau diberi kesempatan untuk meningkatkan kesadaranmu, menyadari jati dirimu. Upaya yang kaulakukan di masa kehidupan ini penting bagi masa depanmu, syukur kalau kau dapat melepaskan diri dari lingkaran hidup-mati yang tak berkesudahan.”

Waktu itu ayahandanya menyebutkan bahwa dirinya dalam kehidupan sebelumnya pernah menjadi Dewi Citrawati istri dari Prabu Harjuna Sasrabahu, pada waktu itu dirinya terlalu manja dan merepotkan suaminya, maka dalam kehidupan ini jangan sampai dirinya manja dan merepotkan suami. Perkataan ayahnya yang waskita tersebut seakan-akan sudah tahu bahwa dirinya akan membuat kerepotan pada suaminya di kemudian hari. Dirinya pernah mendengar bisik-bisik cerita dari pelayannya bahwa Dewi Citrawati itu sangat cantik dan merupakan penjelmaan Dewi Widowati dari Kahyangan. Dia pernah meminta memindahkan Taman Sriwedari yang berada di Kahyangan ke dunia. Karena salah paham mengira Sang Prabu sudah meninggal, maka sang dewi bunuh diri. Justru hal inilah yang membuat Sang Prabu yang sebenarnya masih hidup putus asa.

“Mematuhi nasehat ayahku, aku memang berusaha agar tidak manja.” Bahkan ketika Sri Rama mematuhi Raja Dasarata, ayahanda Sri Rama yang kalah janji dengan istri ketiganya, Keikayi agar pengganti sang raja adalah Bharata, putra dari istri ketiga tersebut dan Sri Rama diminta mengasingkan diri di hutan selama 14 tahun, dirinya pun dengan senang hati mengikuti suaminya. Baginya Sri Rama adalah segalanya. Tak ada yang lain.

Dalam kesendiriannya di Alengka, dirinya sering meditasi, mengolah diri. Dan, dirinya mendapatkan pemahaman.

Alam dengan seluruh isinya sadar akan peran masing-masing dalam Jagad Raya. Api berperan sebagai penghangat, pembakar, dan ia tidak pernah melupakan perannya itu. Sebagai energi ia pun menjaga suhu badan kita. Barada di kutub utara, suhu badan kita tidak ikut turun menjadi minus sekian. Apa yang terjadi jika suhu badan kita turun menjadi minus 50 atau 60 derajat? Kita sudah pasti mati. Begitu juga air, angin, tanah dan ruang angkasa berperan sesuai dengan tugas mereka masing-masing, sesuai dengan sifat mereka masing-masing. Adalah manusia yang sering melakukan pemberontakan. Kemudian, ia menciptakan ketakseimbangan bagi diri sendiri. Ia kehilangan keseimbangan diri. Celakanya, ia masih tidak mau sadar. Ia masih mencari pembenaran. Ia masih menyalahkan pihak lain, bahkan keadaan di luar, atas kesalahannya. Ia menciptakan sosok setan yang menyeramkan. Masih tidak cukup, ia pun menciptakan iblis, jin, dan lain sebagainya. Semua itu adalah ciptaan pikirannya sendiri. Diperbudak oleh pikiran yang sudah lepas kendali itu manusia jatuh. Tapi, ia masih saja tidak sadar. Kejatuhan itu pun dibenarkannya. Bagaimana pun aku adalah manusia biasa. *3 Mawar Mistik

Mendambakan Kijang Kencana

Dirinya menyadari kesalahannya pada saat minta Sri Rama menangkap kijang kencana yang cantik yang akan dipeliharanya. Bukankah wajar saja seorang wanita setia membutuhkan kesenangan kecil sebagai perintang waktu dalam kehidupan di hutan belantara?

Dewi Sinta menyadari keteledorannya, pola pikirannya belum sepenuhnya terkendalikan, pada waktu itu dia menggunakan ‘mind’-nya, sehingga tergelincir pada keinginan untuk mempunyai hewan kesenangan pribadi.

Terbayang oleh Dewi Sinta kala dia mendengar suara jeritan di kejauhan, dia sangat cemas sekali. Kecemasan Dewi Sinta pada Sri Rama, yang melalaikan bahaya yang mengancam pada dirinya sendiri. Laksmana telah diminta Sri Rama, kakaknya untuk menjaga dirinya saat berlari mengejar kijang kencana. Dalam kecemasannya, berbagai dugaan berseliweran dalam pikirannya, sehingga dirinya memaksa Laksmana mengejar Sri Rama.

Dirinya ingat Sebelum Laksmana pergi mengejar Sri Rama, Laksmana telah membuat lingkaran garis bermantra yang membuat binatang buas dan raksasa tidak dapat menerobos garis tersebut. Pada waktu binatang buas dan raksasa datang menakut-nakutinya, Dewi Sinta tetap teguh dan merasa aman berada dalam pagar pengaman, garis batas pengaman yang dibuat Laksmana.

Dirinya baru lalai ketika seorang pengemis tua meruntuhkan ibanya. Dirinya, melupakan nasehat Laksmana untuk jangan keluar dari pagar pengaman. Tanpa sadar tangan Dewi Sinta terjulur keluar berniat memberi kepada sang pengemis. Dan, dalam hitungan detik tangan pengemis tersebut sudah menarik Dewi Sinta keluar dari pagar pengaman. Rahwana paham atas kelemahan hati seorang wanita yang penuh rasa iba terhadap seorang pengemis tua yang menderita.

Kemudian dirinya dibawa lari Rahwana, dan seekor burung garuda raksasa berusaha merebutnya, terjadilah perang tanding yang hebat. Dia sangat sedih kala sang garuda luka parah dan ditinggal pergi Rahwana yang kembali membawa lari dirinya. Dia selalau berdoa, bahkan sampai saat ini agar sang garuda dapat bertemu Sri Rama dan menyampaikan keadaan dirinya.



Menyadari Jati Diri Sri Rama

Mengingat ingat pengalamannya, dada Dewi Sinta berdesir….. Ah!…… “Selama ini aku menganggap Sri Rama sebagai suami yang sabar. Tetapi, kini aku paham sebetulnya dia lah Guru Sejati seperti yang selalu diucapkan ayahandanya. Semua perjalanan ini ada maknanya. Makna bagi dunia dan juga makna bagi perjalanan spiritualnya.” Semua pengalaman ini membuat diriku semakin dewasa. Dialah Guru Sejatiku, anugerah alam kepada diriku. Selama aku dekat dengannya, hal ini tak pernah kusadari. Sri Rama, suamiku ternyata engkaulah Guru Sejatiku.” Sesaat Dewi Sinta sudah bertemu Sri Rama dalam gelombang kasih. Berjauhan tetapi terasa dekat. “Mungkin setelah aku sadar, Dia baru akan datang menyelamatkanku.”

Jika Anda bertemu dengan seorang Master, hidup Anda akan segera berubah. Suatu ruangan yang gelap selama 40 tahun dapat menjadi terang dalam sekejap oleh sebatang lilin, tidak memerlukan 40 tahun untuk meneranginya. Pertemuan dengan seorang Master akan membuat Anda gembira; hari pertemuan menjadi perayaan! Anda akan menari dan menyanyi karena kegirangan. Anda baru akan tahu bahwa seorang Master tidak pernah memperbudak orang lain. Ia menguasai dirinya; ia tidak ingin menguasai Anda. Pertemuan dengan seorang Master justru akan mempercepat kebebasan Anda, mempermudah proses ketidakbergantungan Anda. *4 Kehidupan

Ketika Trijata membawa Hanoman ke hadapannya, dirinya sudah merasa pertemuan dengan Sri Rama semakin dekat.

Selama bertahun-tahun Dewi Sinta selalu siap bunuh diri dengan cundrik-nya apabila Rahwana akan memaksanya. Dan ketika dirinya sudah menyadari siapa sejatinya Sri Rama, datanglah Hanoman membangkitkan jiwanya, dengan membawa berita bahwa Sri Rama akan datang ke Alengka untuk membebaskannya. Dewi Sinta terdiam beberapa lama. Dan, akhirnya menyadari, bahwa keinginannya untuk memperoleh kijang kencana pada akhirnya akan mengakibatkan pertempuran antara Sri Rama dan Laksmana dibantu bangsa kera melawan Rahwana dengan bangsa raksasa.

Dewi Sinta juga menyadari bahwa tidak setiap raksasa jahat, Kumbakarna dan Wibisana, adik-adik Rahwana tidak setuju penculikan dirinya. Dan sebetulnya ‘silent majority’, mayoritas masyarakat raksasa juga tidak cocok dengan kebijaksanaan Rahwana. Tetapi mereka diam. Dan diamnya membuat adharma merajalela. Semoga kini tak ada lagi masyarakat yang diam kala melihat adharma merajalela……….

Sebenarnya Rahwana pun tidak pernah memaksakan kehendaknya, dia hanya mau memperistri dirinya apabila dirinya berkenan untuk itu, hanya dia menyandera dirinya sampai menyerah dan pasrah. Tidak semua manusia melakukan tindakan seperti Rahwana ketika seorang perempuan lemah berada dalam genggamannya.

Kesadaran Dewi Sinta meningkat, seakan-akan Hanuman membawa kiriman energi yang luar biasa dari Sri Rama. Dan terkuaklah selubung hijab, yang selama ini menutupinya. Aku ini siapa? Untuk apa aku di dunia? Apakah ada rencana besar Hyang Widhi untuk melenyapkan keangkara-murkaan, atau untuk melenyapkan etnis raksasa, perpaduan antara manusia dan binatang? Dewi Sinta sadar telah mendapat peran yang harus dijalankannya dengan baik. Dewi Sinta sadar dirinya terlibat dengan Hukum Sebab-Akibat, dan dirinya akan menjalaninya dengan penuh kesadaran. Kemudian Dewi Sinta memahami adanya Hukum Evolusi, termasuk evolusi dalam kesadaran. Keputusannya sudah bulat semua akan dilakoninya dengan penuh kesadaran.

Tetapi yang mengalami Hukum Sebab-Akibat dan Hukum Evolusi itu mind. Dan aku ternyata bukan mind. Kala mind ku berhenti saat tidur lelap, aku pun masih ada. Siapakah aku?

Ya Allah, Ya Rabb, ternyata inilah Suara-Mu. Suara-Mu di sini, Yahaan, suara-Mu di sana, Wahaan….Yahaan-Wahaan, Yahaan-Wahaan….. Yaha-Waha, Yaha-Waha..Yh-Wh… YHWH! Demikian, secara tidak sengaja kutemukan Rumusan Agung; kutemukan Makna di balik sesuatu yang melampaui segala makna… Yahaan-Wahaan – Sini-Sana – Di mana-mana – Hanyalah Dia Yang Ada – aku tak ada – Hanya Dia – aku tiada – Dia – aku – Dia – aku – Diaku – diriku – Aku – Dia! *3 Mawar Mistik



Menjadi diri sendiri itu moksha

Tiba-tiba ingatan Dewi Sinta melayang kepada pesan sang ayahanda tentang bebas dari kehidupan dan kematian yang tak berkesudahan.

Moksha bukanlah sesuatu yang terjadi pada saat kematian atau setelah kematian. Moksha harus terjadi sekarang dan saat ini juga. Pada saat kematian, mau tidak mau roh harus meninggalkan badan. Dia kena gusur. Bagi dia tidak ada pilihan lain, kecuali meninggalkan badan. Itu bukan moksha. Anda masih hidup, masih memiliki badan, tetapi tidak terikat dengan badan—itulah moksha. Dan, tidak terikat dengan badan berarti tidak terikat dengan segala macam hubungan yang ada karena badan. Anda mencintai anggota keluarga, bukan karena mereka anak Anda atau pasangan Anda atau orang tua Anda atau saudara Anda, tetapi karena mereka juga berasal dari Sumber Ilahi yang sama. Kita semua adalah saudara kandung. Kesadaran seperti ini akan membebaskan Anda dari permusuhan dan pertikaian. Inilah moksha. *5 Atma Bodha

Mokhsa berarti kebebasan. Kebebasan apa? Dari Siapa? Dari keterikatan. Tidak mengkait-kaitkan diri dengan apa saja. Dengan siapa saja. Untuk mencapai mokhsa, untuk memperoleh keselamatan, untuk mengakhiri lingkaran kematian dan kelahiran, Anda tidak butuh lahir sampai seratus kali. Sekarang dan saat ini pun, Anda bisa terbebaskan. Anda bisa mencapai mokhsa, bisa memperoleh keselamatan, bisa terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian. Yang terikat dengan Hukum Karma, Hukum Sebab Akibat, Reinkarnasi, Evolusi, dan lain sebagainya adalah badan Anda, mind Anda, jiwa Anda, ego Anda. Kesadaran Ilusiflah yang terikat dengan semua itu. Merasa “terjerat” oleh hukum-hukum itu pun adalah bagian dari Kesadaran Ilusif. Dengan melampauinya, Engkau terbebaskan dari ilusi dan segala produk hukumnya. *5 Atma Bodha

Jangan menganggap dirimu rendah, jangan menganggap dirimu tinggi. Just be yourself. Jadilah dirimu. Itu saja. Tidak perlu meniru orang. Dan “menjadi diri sendiri” itulah moksha—kebebasan! Kesadaran diri atau “menjadi diri sendiri” merupakan sisi lain moksha atau kebebasan. Yang menyadari dirinya akan menjadi bebas. Yang bebas akan menyadari dirinya….. Dalam ayat ini, Shri Shankara sedang berupaya untuk meyakinkan bahwa sesungguhnya kita bukan budak. Sesungguhnya tidak ada rantai yang mengikat kaki dan tangan kita. Tidak ada yang membelenggu kita. Bahwasanya kita sedang mengada-ada. Sadarlah!*5 Atma Bodha

Para master ingin kita sadar dulu baru menjalankan dharma. Itulah sebabnya terjadi konflik antara Yudas dengan Gusti Yesus. Yudas ingin membebaskan Bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa Romawi dengan cara apa pun. Gusti Yesus ingin membebaskan bangsanya dari perbudakan diri melalui kebebasan sejati. Bagi Gusti Yesus walaupun dapat mengusir penjajah, sebelum datang kesadaran, bangsanya tetap akan dijajah lagi oleh kelompok elit dari bangsanya sendiri. Karena belum sadar, keinginan berkuasa dan menjajah tetap ada dalam diri manusia.

Gusti Yesus berada dalam diri. Demikian juga Yudas pun berada dalam diri. Pertentangan antara hati nurani dan mind selalu terjadi. Bagi diri kami pribadi, menunggu pencerahan memerlukan waktu, belum tentu sampai hembusan nafas yang terakhir sudah mendapat pencerahan. Paling aman mengikuti Guru yang sudah cerah, Guru yang sudah turun gunung. Tekun meningkatkan kesadaran sambil berkarya, sehingga hidup ini tidak sia-sia.

Bahkan Rahwana, Dewi Sinta, Hanoman dan Sri Rama pun berada dalam diri………..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar