Kamis, 03 September 2009

Tekad mendatangkan Dewi Gangga ke bumi

Tekad mendatangkan Dewi Gangga ke bumi

Bhagiratha merenung dalam-dalam, “Sejatinya manusia itu tergantung dari air, setiap hari minum air. Makanan pun mengandung air. Nasi dan lauk juga dihasilkan dari tanaman dan hewan yang hanya dapat hidup bila ada air. Membersihkan tubuh juga memakai air. Bahkan manusia juga berasal dari air ayah. Setelah berada dalam perut ibu berkembang menjadi janin yang hidup menyelam dalam air ketuban. Terima kasih Gusti yang mencukupi air bagi kehidupan makhluk hidup. Sudah beberapa generasi leluhurku ingin mendatangkan Dewi Gangga ke Bumi. Semoga kali ini, berkat rahmat Gusti, kami berhasil.”

Berdasar ilmu pengetahuan, sel telur ibu mempunyai kandungan air 96%. Saat lahir bayi mengandung air 80%. Ketika menginjak dewasa kandungan air menjadi sekitar 70%. Dr. Masaru Emoto membuktikan bahwa air dapat merespon informasi yang diberikan kepadanya. Air yang diberikan nyanyian indah, ucapan penuh kasih, ataupun doa dari segala bahasa akan membentuk sebuah kristal hexagonal yang indah. Bila air memberikan respon terhadap vibrasi intens terhadapnya, maka sudah semestinya manusia yang mempunyai kandungan 70 % air akan dipengaruhi oleh informasi terhadapnya. Apalagi bagian otak dan jantung yang mengandung sekitar 90% air. Informasi yang baik terhadap manusia akan membuat manusia menjadi baik. Beberapa acara ritual keagamaan yang memakai sarana air mempunyai dasar ilmiah yang kuat.

Bhagirata merenung, “Ada tiga sifat alam yaitu satvik-tenang, rajas-agresif dan tamas-malas atau lembam. Bumi bersifat paling tamas, api dan angin bersifat rajas dan air berada diantaranya. Ruang bersifat satvik. Semua makhluk memiliki kombinasi campuran dari lima unsur alami. Ada yang banyak apinya gampang marah, ada yang tenang dan ada yang malas. Sifat diriku pun dipengaruhi campuran unsur-unsur alami......”

Sejatinya semua zat dan makhluk adalah energi, dengan adanya sifat alami maka kerapatan energi berlainan. Paling rapat adalah bumi atau padat diikuti air, api, angin dan ruang. Hal tersebut dibuktikan Einstein yang mengetengahkan rumus E = M.C2. Energi adalah materi dalam fungsi kecepatan. Berbeda kecepatan berbeda pula wujudnya.

Bhagiratha bertekad mendatangkan Dewi Gangga ke bumi. Dan ingatannya melayang ke beberapa waktu sebelumnya. Almarhum ayahnya menceritakan tentang kakeknya yang bernama Amsuman.

Amsuman cucu Sagara

Raja Bahuka mati dan salah seorang istrinya akan masuk ruang pembakaran mayat. Sang istri dihentikan para resi karena ia sedang hamil. Isteri yang lain iri karena hanya dia yang hamil. Mereka mencampur racun dalam makanan istri Bahuka yang sedang hamil tersebut. Harapan mereka gagal, sang anak tetap lahir dan menjadi putra mahkota. Dia dinamakan Sagara, yang beracun.

Sagara akhirnya menjadi maharaja dan melakukan ritual Asvamedha, ritual menggunakan kuda diikuti pasukan lengkap. Para raja yang tidak berani mengganggu kuda tersebut berarti menyatakan tunduk kepada maharaja. Alkisah kuda yang dipakai sebagai ritual tersebut dicuri Indra dan diletakkan dalam gua tempat Resi Kapila bertapa. Para putra Sagara yang berjumlah 60.000 orang mencari jejak kuda dan sampai ke gua Resi Kapila. Para putra raja begitu angkuh dan berniat membunuh Resi Kapila. Mereka berkata, “Lihat pencuri kuda ini, berpura-pura bertapa setelah mencuri kuda, mari kita bunuh beramai-ramai!” Dalam keadaan marah karena ada yang mengganggu acara Asvamedha, mereka tidak dapat melihat seorang Resi Suci yang mungkin tidak tahu permasalahannya.

Resi Kapila membuka mata dan sorotan mata sang resi membuat 60.000 putra Sagara menjadi debu.

Dari salah satu istri, Sagara mempunyai putra yaitu ayahanda dari Amsuman. Setelah ayahandanya meninggal dunia, Amsuman menjadi andalan Raja Sagara, sang kakek. Amsuman mencari informasi tentang nasib ke 60.000 pamannya. Akhirnya Ansuman bertemu Resi Kapila beserta kuda dan tumpukan debu yang menggunung di dekatnya.

Ansuman yang tenang dapat melihat bahwa Resi di depannya adalah Resi Kapila yang sangat bijak yang telah terkenal di seluruh negri. “Bapa Resi, kami hanya dapat melihat hal-hal yang bersifat duniawi, obyek-obyek indera. Bapa Resi adalah Gusti yang mewujud untuk membimbing manusia. Tolonglah kami!” Amsuman menangis dan jatuh di kaki Resi Kapila. Resi Kapila berkata pelan, “Wahai anak muda, ambillah kuda kakekmu. Indra telah meninggalkan kuda tersebut ketika aku larut dalam meditasi yoganidra. Para pamanmu mati karena terbakar oleh keangkuhan. Satu-satunya sarana yang dapat mensucikan mereka kembali adalah air sungai Gangga.”

Kapila Vasudewa

Kapila Vasudewa adalah seorang resi yang mengajarkan tentang keilahian. Pikiran adalah penyebab perbudakan sekaligus penyebab kebebasan. Manakala pikiran dihubungkan dengan ketiga sifat alami, aku berpikir dan aku ada, maka pikiran menjauh dari dalam diri dan tertarik menuju obyek inderawi. Pikiran mencari kepuasan di luar, dan di luar diri itu tak ada batasnya.

Manakala pikiran berbalik ke arah dalam. Ke pusat, Purusa, Tuhan, maka pikiran bisa bebas terhadap indera. Berpikir ke dalam diri adalah langkah pertama ke arah tujuan. Tujuan yang jelas, memusat, terfokus ke Kendra, pusat. Tujuannya satu sehingga bisa terfokus. Diri, Aku, Purusa berada di luar ketiga sifat alami.

Manakala rasa ‘aku dan milikku’ lenyap, maka pikiran bebas dari nafsu, marah dan sifat lainnya. Kesenangan dan penderitaan dunia tidak mempengaruhinya. Diri menjadi bebas dari keterikatan. Bhakti adalah cara paling tepat dan paling mudah mencapai Tuhan.

Keterikatan itu seperti pohon hijau yang kekal dalam diri manusia, sulit membinasakannya. Oleh karena itu, obyek keterikatan tersebut harus diganti. Obyek keterikatan duniawi harus diganti dengan obyek Ilahi. Kejadian tersebut harus dilaksanakan secara berangsur-angsur. Maka paling baik adalah bergaul dengan para suci, para sadhu. Masuk sangha para suci.

Kriteria para suci, para sadhu antara lain bahwa penderitaan, penyakit dan sakit fisik tidak dapat mempengaruhi mereka. Mereka penuh rasa kasih terhadap sesama. Mereka tidak punya musuh dan mereka damai dengan dirinya sediri. Pikiran mereka tenang dan bersih. Tidak pernah berbelok dari jalan kejahatan. Mereka hanya tertarik cerita tentang Aku dan senang berbagi kisah tentang Aku. Mereka bebas dari keterikatan dan disebut sadhu.

Para bhakta tersebut tidak akan binasa. Waktu adalah senjata yang paling hebat, namun tidak mempan terhadap mereka. Diri hanya tertuju pada-Ku dan Aku sayang kepadanya. Bhakta tidak pernah takut karena alam semesta ini berada dalam kekuasaan-Ku.

Demikian Resi Shuka menjelaskan ajaran Kapila Vasudewa kepada Raja Parikesit.

Bhagiratha

Raja Parikesit larut dalam Kisah Resi Shuka, dan menyimak kisah selanjutnya......

Mendengar laporan Amsuman tentang ke 60.000 putranya, Raja Sagara merasa tak bahagia dan tak lama kemudian menobatkan Amsuman sebagai raja dan pergi bertapa. Amsuman, kakek Bhagiratha berusaha mendatangkan Dewi Gangga ke bumi, tetapi sampai maut datang menjemput, keinginannya belum tercapai. Dilipa, putra Amsuman, ayahanda Bhagirata juga tidak berhasil membawa Dewi Gangga ke bumi sampai akhir hayatnya.

Bhagiratha meninggalkan kerajaannya kepada para menterinya dan bertekad untuk membawa Dewi Gangga ke bumi.

Pada suatu saat, Bhagiratha mendapat penglihatan tentang Dewi Gangga, “Dewi engkau lahir di kaki Narayana. Ketika Vamana menapakkan kaki tiga langkah sewaktu peristiwa dengan Raja Bali, kakinya dibersihkan tujuh resi dan Brahma menggunakan diri-Mu. Berkahi kami dan rumah kami dengan diri-Mu.”
Seakan Bhagiratha mendapat jawaban, “Diriku menghormati upaya leluhurmu dalam beberapa generasi untuk membawaku ke bumi. Akan tetapi kamu tidak mengetahui kecepatan yang terjadi kala diriku turun ke bumi. Siapa yang kuat menahanku? Mengapa pula aku harus turun ke bumi? Orang yang berdosa kala mandi di airku akan bersih, dan dosa mereka tertinggal dalam diriku. Bagaimana aku dibersihkan dari kotoran?”

Bhagiratha menjawab, “Duhai Dewi, para resi suci, para penglihat agung, mereka telah melampaui perbudakan karma. Mereka tidak punya pikiran selain Tuhan. Manakala mereka berendam di airmu mereka akan membersihkanmu. Masalah kekuatanmu ketika turun ke bumi, kami akan minta bantuan Mahadewa.”

Dewi Gangga jujur, air bersifat mensucikan, tetapi setelah banyak orang kotor yang mandi, dirinya hanya memberikan vibrasi sesuai apa yang ada dalam dirinya. Kesucian para suci itulah yang mengembalikan kesucian air. Hal tersebut tidak bertentangan dengan pemahaman air dari Dr. Masaru Emoto. Oleh karena itu manusia perlu waspada dalam melakukan ziarah atau tirtayatra. Banyak orang yang setelah ziarah di tempat tertentu malah menjadi pedagang, karena aura dagang meliputi tempat ziarah atau tirtayatra tersebut. Para sucilah yang memberikan vibrasi kesucian, berada dekat para suci meningkatkan kesucian diri.

Kita semua pasti pernah merasakan sebuah fenomena. Bahkan sering sekali kita mengalaminya. Kadang kadang, kita bertemu dengan seseorang dan sepertinya kita diguyuri, disirami dengan air kehidupan. Bertemu dengan dia dan memandang wajahnya sudah cukup. Kita merasa begitu segar, padahal tidak terjadi dialog apa pun saling bersentuhan pun tidak. Sebaliknya pertemuan dengan orang lain bisa membuat kita merasa begitu gelisah. Tiba tiba kita menjadi lemas. Apa sebabnya? Yang memiliki kehidupan akan membagikan kehidupan. Yang memiliki kegelisahan akan membagikan kegelisahan. * 2 Sehat seimbang cara Sufi

Bhagiratha melakukan tapa untuk memperoleh bantuan Shiva, Sang Mahadewa.

Akhirnya, Dewi Gangga dengan sedikit kesombongan turun ke bumi dan airnya hilang di rambut Sang Mahadewa. Gangga tidak bisa lepas dari rambut Sang Mahadewa. Setelah itu Gangga diturunkan dengan menetes agar tidak angkuh lagi. Gangga membagi dalam tujuh aliran dan salah satu aliran mengikuti kereta Bhagirata yang diarahkan menuju gua tempat para pamannya menjadi debu. Tumpukan debu tersebut termurnikan.

Perjuangan memerlukan waktu yang panjang. Hingga beberapa generasi. Tidak harus semuanya tercapai dalam kehidupan ini. Bekerja fokus, serius dan tanpa pamrih, tanpa terikat hasil. Hasil bisa saja datang setelah beberapa generasi.

Meniti ke dalam diri

Kesadaran yang terfokus keluar mempunyai arah 360 derajat dan begitu menyebar, batas di luar juga tak berhingga. Sehingga manusia tak pernah puas dengan mencari di luar, apalagi macam jenis kesenangan di luar juga bervariasi seluas 360 derajat. Lain dengan kesadaran yang terfokus ke dalam diri, ke pusat diri yang hanya satu.

Segala sesuatu yang selama ini kita anggap "kepunyaan" kita akan meninggalkan kita. Yang tersisa, hanyalah "aku" diri kita sendiri. Lantas apa gunanya menangisi kehilangan itu? Apa yang hilang? Yang hilang itu toh bukan milikmu? Bagaimanapun juga, pada suatu ketika akan meninggalkanmu, lantas apa yang harus ditangisi? Carilah sesuatu yang kekal, yang abadi, yang dapat meningkatkan kualitas hidupmu. Yang dapat meningkatkan kesadaran dalam dirimu. Jangan menyia nyiakan waktumu, mengejar sesuatu yang sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. * 2 Sehat seimbang cara Sufi

Pedoman dalam kitab diibaratkan sebagai peta, route jalan. Menjalani route jalan seperti yang ada dalam peta dimungkinkan, akan tetapi bagaimana kalau mencari sebuah lokasi di Kota Jakarta pada saat ini dengan peta tahun 1950? Hal tersebut akan memerlukan perjuangan yang berat. Kebanyakan manusia hanya pamer route jalan mana yang lebih unggul, dan bahkan berkelahi karenanya. Mereka belum menjalani route jalan tersebut. Sebetulnya tujuan akhirnya satu juga.

Untuk memudahkan perjalanan, lebih baik mengikuti seorang pemandu yang sudah tahu seluk beluk lokasi tujuan akhir. Syaratnya seseorang harus percaya kepada sang pemandu tersebut. Berikut ini adalah kriteria seorang pemandu dalam buku * 2 Sehat seimbang cara Sufi

Ciri khas seorang master, adalah:
1. la tidak akan menjawab pertanyaan seorang murid, apabila muridnya belum siap. Persis sama seperti yang dikatakan oleh Siddhartha Gotama, Sang Buddha "Apabila ada yang bertanya, Meditasi itu apa? Jangan dijawab." Yang bertanya 'meditasi itu apa, tujuannya apa' adalah orang yang berjiwa dagang. la sedang melakukan transaksi jual-beli. la tidak akan pernah bisa menyelami alam meditasi. Menjelaskan cahaya itu apa kepada seorang buta tidak akan membantu. Kita justru mencelakakan dia. Penjelasan kita akan membangkitkan "ego" dalam dia. la akan beranggapan bahwa ia sudah tahu “cahaya" itu apa. Bahkan ia akan menyebarkan penjelasan tentang cahaya itu kepada para buta yang lain.
"Apabila ada yang bertanya, Meditasi itu bagaimana?', maka jangan menunda jawabanmu. Jelaskan caranya." Demikian pesan Sang Buddha kepada Anand, salah seorang murid Beliau. Apabila seorang buta menyadari kebutaannya, dan minta agar disembuhkan segeralah layani dia.

2. Kesiapan seorang calon murid pun akan diujinya lewat proses yang panjang dan melelahkan. Kesabarannya, ketekunannya semuanya akan diuji terlebih dahulu Masa tunggu ini bisa seminggu, dua minggu setahun, dua tahun bahkan belasan tahun. Banyak yang drop out, karena mereka tidak sabar menanti. Banyak yang bahkan kehilangan gairah mereka untuk menekuni bidang spiritual. Satu per satu, mereka "gugur". Memang demikian kehendak seorang Master. la tidak akan membagikan mutiara "kepada babi" sebagaimana pernah dikatakan oleh Nabi Isa.

3. Untuk menghindari kerumunan massa yang hanya sekadar "ingin tahu", tidak jarang para master sejati akan melakukan hal hal yang aneh, yang membingungkan. Mereka yang datang untuk tujuan tujuan tettentu selain untuk pencerahan dan kesadaran akan tersaring dengan sendirinya.

4. Sering sekali penampilan luar mereka akan memberikan kesan lain. Saya sering mengatakan bahwa mungkin Anda akan menemukan seorang master di McDonald, sedang menikmati french fries. * 2 Sehat seimbang cara Sufi

Terima Kasih Guru yang telah menjelaskan tentang pemandu. Jenuh sudah diri ini berkali-kali tersesat di belantara kota. Diri ini sadar sesungguhnya belum tahu apa-apa, hanya keyakinan pada pemandu yang mendorong diri melangkah maju.

Mohon blessing. Jay Gurudev!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar