Sabtu, 05 September 2009

Beberapa kesalahan Pandita Drona

Beberapa kesalahan Pandita Drona

Guru adalah seorang Brahmana. Seorang Guru sejatinya adalah seorang Duta Ilahi, Utusan Ilahi. Dia datang ke dunia karena melihat benih-benih kesadaran dalam diri murid-muridnya. Dia menjadi Guru karena petunjuk Ilahi, dia mendapatkan muridnya atas petunjuk Ilahi. Dia hadir untuk mengembangkan kesadaran muridnya. Dan, Pandita Drona adalah Guru Besar bagi Kerajaan Hastina. Akan tetapi sebelum menjadi Guru, Pandita Drona telah mengalami hal-hal yang menyakitkan di masa lalu.

Apa yang disebut “masa lalu” tidak terputuskan dari “masa kini”. Apa yang disebut “masa depan” juga terkait dengan “masa kini”, walau tidak atau belum nampak; bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa melihat sejauh itu. Coba perhatikan. Dapatkah kita memisahkan masa lalu dari masa kini? Apakah kita badan masa depan tanpa masa kini? Apakah kita dapat menciptakan garis pemisah yang jelas dan tegas antara masa kecil dan masa remaja; antara masa remaja dan masa di mana kita menjadi lebih dewasa, lebih matang, kemudian menua? Dengan berlalunya masa kecil, apakah kekanakan di dalam diri kita ikut berlalu juga? Tidak. Kekanakan itu masih ada di dalam diri kita. Keinginan untuk bermain masih ada. Permainannya sudah beda; alat mainnya lain, tetapi keinginannya sama.

Guru Drona sebagai Brahmana, Guru Besar di Kerajaan Hastina, akan tetapi dapat dikatakan beliau kurang katarsis, belum membuang sampah-sampah pikiran masa lalu. Masa ketika Beliau menderita, masa ketika Beliau merasa dihina sahabatnya Drupada yang telah menjadi Raja. Guru Drona merasa berhutang budi kepada Raja Hastina. Ketika Pandu, sebagai Raja Hastina wafat, dan Pandawa masih terlalu kecil, maka Kerajaan Hastina dipegang Drestarata yang cenderung memilih anaknya Duryudana sebagai Raja daripada Yudistira sebagai anak Pandu. Masa kekinian Pandita Drona ketika menjabat Guru Besar Hastina akan menentukan masa depannya.

Sebagai seorang Guru Besar, mestinya Pandita Drona paham tentang Kebenaran. Akan tetapi dia sudah menjadi pekerja gajian Kerajaan Hastina, beliau lebih dekat ke statusnya yang “dihidupi” Hastina daripada sebagai Pemandu Hastina. Beliau telah menurunkan kebrahmanaannya menjadi Sudra, pekerja yang patuh terhadap majikan. Dan itu adalah pilihan Pandita Drona. Para profesor yang mencari kedudukan dalam istana dan melupakan kebrahmanaannya, dan melupakan tugasnya sebagai pengajar tentang kebenaran, seharusnya harus cepat sadar. Para PhD, Philosophy of Doctor pada hakikatnya sudah dipercaya menjadi filosuf pada bidangnya, memahami bidangnya dan menerjemahkan filsafatnya dalam keseharian.

Pandita Drona tidak menerima Bambang Ekalaya sebagai murid, karena takut akan menjadi saingan Arjuna, putera “pemberi status” guru kepadanya. Ketika mengetahui Bambang Ekalaya mampu menjadi pemanah ahli dengan belajar di depan patung dirinya, maka dia meminta Bambang Ekalaya untuk patuh terhadap dirinya, karena telah menganggap dia sebagai gurunya. Dan, ketika Bambang Ekalaya mengiyakan, dia diminta memenuhi etika kepatuhan seorang murid untuk mematuhi apa pun perintah Gurunya. Bambang Ekalaya mematuhi perintah Drona untuk memotong ibu jarinya, sehingga dia tidak dapat menggunakan panahnya lagi. Guru mempunyai tugas mulia, meningkatkan kesadaran murid-muridnya. Walaupun guru sekolah digaji pemerintah, ataupun digaji perusahaan, dia harus sekuat tenaga meningkatkan pengetahuan muridnya. Seorang guru sekolah yang hanya mengajari murid-muridnya untuk lulus ujian, telah meremehkan tugas kebrahmanaannya. Seorang guru yang mendidik anak kecil tentang kekerasan, telah melalaikan tugas kebrahmanaanya dan dia harus mempertanggung-jawabkan pada saat ketika mulutnya dikunci dan badannya berbicara tentang apa yang telah diajarkannya kepada muridnya sehingga sang murid menjadi pelaku bom bunuh diri.

Pandita Drona juga menyuruh Bhima sebagai saingan Duryudana untuk mencari Tirta Kamandanu, yang berada di tengah samudera, agar dia menemui ajal, sehingga berkuranglah saingan Duryudana. Akan tetapi Bhima justru dapat menemukan jatidirinya yang digambarkan sebagai Dewaruci, kembaran Bhima dalam ukuran mini, ketika menjalankan perintah Pandita Drona tersebut.



Ajaran “Bhakti”

Prabu Kresna telah melihat benih kasih yang ada dalam diri para Pandawa, sehingga Beliau menggantikan tugas Pandita Drona dalam membimbing Pandawa. Bimbingan tersebut tidak disadari para Pandawa, karena Prabu Kresna berperan sebagai seorang sahabat. Prabu Kresna ikut dalam pengasingan Pandawa, guna menumbuhkan rasa kasih dalam diri Pandawa agar menjadi “bhakti”. Ketika Prabu Kresna bertindak sebagai Duta Pandawa sebelum perang Bharatayuda terjadi, Yudistira telah sadar bahwa Prabu Kresna adalah Duta Ilahi, dan dia tunduk kepada Prabu Kresna. Pandita Drona pun semestinya memahami hal tersebut. Tetapi kebenaran tersebut tertutup oleh awan delusi penghalang sehingga kebenaran tidak tampak. Keterikatan pada kedudukan, harta dan anak telah menyelimuti kebenaran. Hukum sebab-akibat yang menjadi ajarannya pun terpinggirkan.

Passion-nafsu, love-cinta dan compassion-kasih walau berbeda tingkatannya semuanya masih merupakan produk ego. Dikatakan Tuhan meliputi semua makhluk. Semuanya berasal dari Tuhan, tak ada yang lain selain Tuhan. Ego lah yang membuat Adam ke luar dari Surga. Merasa benar berdasar ego tidak selaras dengan hukum alam. Walaupun kasih sudah menghasilkan pengabdian, akan tetapi masih terselip ego yang sangat halus. Bahkan orang yang melayani tanpa pamrih pun sebetulnya belum mencapai keadaan “bhakti”. Masih ada yang melayani, masih ada yang dilayani dan masih ada pelayanan. “Bhakti” adalah “three being one” bukan “three in one”.

Pernyataan ini semua hanya permainan kata belaka, yang masih merupakan produk pikiran. Prabu Kresna berusaha meningkatkan kesadaran Pandawa. Tujuan Prabu Kresna mendampingi Pandawa adalah untuk meningikatkan kesadaran mereka. Mungkin Dewi Kunti lebih paham tentang Prabu Kresna, “Aku bodoh, tak paham ilmu yoga, penyatuan dengan Tuhan, tetapi aku berani dan tidak ragu terhadap Kresna. Kresna biarlah anakku menderita, dalam penderitaan itulah mereka selalu mengingat-Mu!” Sayang putera-puteranya belum mengahargai ibunya yang bukan orang sekolahan. Dan jalan spiritualnya menjadi lebih panjang. Arjuna pun baru berani dan tidak ragu saat melihat wujud Prabu Kresna yang sebenarnya sebagi wujud penguasa alam semesta. Demikianlah seorang Guru hadir hanya untuk diri muridnya. Dia membimbing muridnya atas dasar petunjuk Ilahi. Guru begitu sabar, tetapi beliau mempunyai keterbatasan waktu juga, beliau masih harus melanjutkan perjalanannya.



Peristiwa meninggalnya Drona

Keterikatan Drona terhadap keduniawian, bukan hanya keterikatannya pada status Guru Besar Kerajaan Hastina, akan tetapi juga keterikatannya kepada putranya semata wayang Aswatama. Hidupnya dipersembahkan kepada putera tercintanya. Ketika dalam perang Bharatayuda dia mendengar putranya meninggal, jantungnya berdebar keras, tubuhnya limbung dan dia ingin mengkonfirmasikan berita ini kepada Yudistira, muridnya dari Pandawa yang paling jujur.

Drona melupakan Prabu Kresna, Wujud Keilahian, yang bisa meyakinkan Yudistira, bahwa perkataannya kepada Drona bukan menipu karena memang “Esthi Aswatama Pejah”, Gajah Aswatama mati. Ketika Drona mendengar ucapan Yudistira: “Esthi, Aswatama Pejah”, dia memaknai “Esthi”, sebagai terjemahan dari kata “Benar”, dan jantungnya berhenti berdetak dan menemui ajal.

Dapat dimaklumi kemudian, bahwa Aswatama sebagai putera yang sangat disayangi Drona, amat sangat marah, Pandawa telah berbuat culas. Dan setelah perang usai, pada malam hari dia berhasil membunuh semua anak keturunan Pandawa, kecuali Parikesit yang diselamatkan Prabu Kresna. Oleh karena itu Dewi Kunti memohon Arjuna untuk tidak membunuh Aswatama ketika tertangkap. “Hutang karma telah impas, jangan membuat karma baru lagi!” Drona ditipu Pandawa sehingga menemui ajal, dan Dewi Kunti memaafkan putera Drona yang telah membunuh anak keturunan Pandawa.

Peristiwa ini dianggap sudah selesai, dan orang melupakan pergolakan jiwa Aswatama yang merasa sangat dipermalukan karena dibuang ke tanah pengasingan. Konon kabarnya, dendamnya mempengaruhi wilayah tersebut dan mewariskan bangsa yang gampang tersinggung dan cepat marah. Resi Krepa paman Aswatama adik Pandita Drona yang bijak, selalu setia menemaninya dan selalu mengingatkan tentang Kebenaran. Pada suatu saat Aswatama sadar, akan tetapi bangsa tersebut sudah terlanjur mempunyai genetik suka perang. Konon, pada suatu saat wilayah Hastina pun pernah ditaklukkan bangsanya. Konon Resi Kripa selalu saja menemui pemimpin-pemimpin bangsa tersebut agar menjadi sabar dan pengasih.

Kesalahan Drona telah mengakibatkan Bharatayuda, bahkan menimbulkan kemarahan Aswatama yang masih saja mempengaruhi jiwa sampai masa kini.

Demikian pemahaman kami sampai dengan saat ini. Semua berkat rahmat Guru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar