Sabtu, 05 September 2009

Perjalanan Batin Dewi Sinta Bagian Kedua, Melahirkan Putra Kembar Perkasa

Dunia masih belum selesai dengan evolusi fisiknya. Sementara itu, para pecinta sudah mengalami evolusi batin, maka dunia tidak dapat memahami keadaan para pecinta. Dunia akan selalu menolak para pecinta seperti itu, termasuk keluarga dan kerabat terdekatnya. Kalau mau menapaki jalur itu, kita harus bersiap-siap untuk itu. Jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan yang tidak sering ditempuh. Berapa banyak orang tua yang memberi nama nabi atau orang suci kepada anak mereka dan berharap anak mereka akan mengikuti jejak nabi dan orang suci itu? Banyak yang berharap; segelintir yang memenuhi harapan. Dan, hanya hitungan jari yang berhasil. *1 Kidung Agung

Hasta Brata

Ego Dewi Sinta telah sirna. Dalam keadaan ‘no-mind’, dia pasrah kepada Gusti. Ketika Rahwana beserta balatentaranya berhasil dihancurkan pasukan Sri Rama. Dan, ketika Sri Rama tidak mau menjajah negara Alengka dengan menyerahkan tampuk pimpinan kerajaan Alengka kepada Wibisana adik Rahwana, Dewi Sinta semakin bersyukur kepada Gusti bahwa dia dikaruniai suami yang bijaksana. Suaminya adalah Gusti yang mewujud untuk membimbing manusia. Dirinya tertegun kala suminya memberikan nasehat dalam pelantikan Wibisana sebagai Raja Alengka. Nasehat yang diberi judul Hasta Brata. Sebagai raja Wibisana harus meneladani delapan sifat alam.
Sifat Matahari. Terang benderang memancarkan sinarnya tiada pernah berhenti. Segalanya diterangi, diberinya sinar cahaya tanpa pandang bulu. Sebagaimana matahari, seorang raja harus bisa memberikan ‘pepadhang’ kepada rakyat, berhati-hati dalam bertindak seperti jalannya matahari yang tidak tergesa-gesa namun pasti dalam memberikan sinar cahayanya kepada semua makhluk tanpa pilih kasih.
Sifat Bulan. Sebagai planet pengiring matahari bulan bersinar dikala gelap malam tiba, dan memberikan suasana tenteram dan teduh. Sebagaimana bulan, seorang raja hendaknya rendah hati, berbudi luhur serta menebarkan suasana tentram kepada rakyat.
Sifat Bintang. Menghiasi langit dimalam hari, menjadi penunjuk arah dan sumber ilmu perbintangan. Seorang raja harus bisa menjadi kiblat kesusilaan, budaya dan tingkah laku serta mempunyai konsep berpikir yang jelas. Bercita-cita tinggi mencapai kemajuan bangsa, teguh, tidak mudah terombang-ambing, bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Bagi yang berlayar di samudera kehidupan, bintang sebagai pedoman dalam menentukan arah.
Sifat ‘Mendung’, Awan. Seakan-akan menakutkan tetapi kalau sudah berubah menjadi hujan merupakan berkah serta sumber penghidupan bagi semua makluk hidup. Seorang raja harus berwibawa dan menakutkan bagi siapa saja yang berbuat salah dan melanggar peraturan. Namun disamping itu selalu berusaha memberikan kesejahteraan kepada rakyat sesuai dengan haknya.
Sifat Bumi. Sentosa, suci, pemurah memberikan segala kebutuhan yang diperlukan makhluk yang hidup diatasnya. Menjadi tumpuan bagi hidup dan pertumbuhan benih dari seluruh makluk hidup. Sebagaimana bumi, seorang raja seharusnya bersifat sentosa, suci hati, pemurah serta selalu berusaha memperjuangkan kehidupan rakyat yang tergambar dalam tutur kata, tindakan serta tingkah laku sehari-hari.
Sifat Samudera. Luas, tidak pernah menolak apapun yang datang memasukinya, menampung, menerima dan menjadi wadah apa saja. Sebagaimana samudera seorang raja hendaknya luas hati dan kesabarannya. Tidak mudah tersinggung bila dikritik, tidak terlena oleh sanjungan dan mampu menampung segala aspirasi rakyat dari golongan maupun suku mana pun serta bersifat pemaaf.
Sifat Api. Bersifat panas membara, kalau disulut akan berkobar dan membakar apa saja tanpa pandang bulu, tetapi juga sangat diperlukan dalam kehidupan. Sebagaimana sifat api, seorang raja harus berani menindak siapapun yang bersalah tanpa pilih kasih dengan berpijak kepada kebenaran dan keadilan.
Sifat Angin. Meskipun tidak tampak tetapi dapat dirasakan berhembus tanpa henti, merata keseluruh penjuru dan tempat.

Para leluhur menggambarkan 8 sifat alam tersebut sebagai 8 dewa dengan namanya masing-masing. Pada hakikatnya dewa adalah unsur alami.



‘Aghni Pariksha’, Pemeriksaan kesucian lewat api

Kebahagiaan bersatu kembali dengan Sri Rama pun dijalani dengan penuh kesadaran. Semua ini hanya terlaksana atas karunia Hyang Widhi. Perasaan bersyukurnya kepada Hyang Widhi diungkapkan dengan rasa kasih kepada Sri Rama.

Sri Rama berpesan pelan dengan penuh keseriusan, “Istriku, Dewi Sinta, kau telah memahami segalanya…… Pertahankan pemahaman itu dengan tindakan keseharian. Pencerahan itu bisa dicapai, tetapi mempertahankannya itu jauh lebih sulit. Cuweklah terhadap kata orang. Kau akan dinistakan orang yang tidak tahu, aku pun akan disalahkan mereka yang merasa tahu. Konflik dan perbedaan pandangan itulah yang ada di dunia. Istriku kau akan meneruskan perjalanan spiritualmu tanpa diganggu masyarakat. Sedangkan aku sebagai raja, aku masih harus memberi contoh selangkah demi selangkah agar mereka dapat memahami. Sebagai raja, aku harus lebih memperhatikan suara masyarakat daripada suara keluarga dan kerabatku. Istriku kau akan mengerti aku dan kamu sejatinya satu…..”

Bahkan ketika Sri Rama mengikuti pendapat penduduk negaranya untuk tes uji kesucian bagi dirinya, dikarenakan lebih dari satu tahun berada di istana Alengka, Dewi Sinta menerima dengan penuh kesadaran. “Banyak hal yang telah kulakukan di dunia yang telah menyebabkan kesengsaraan banyak makhluk. Bila Hyang Widhi akan mengambil nyawaku dengan cara dibakar hidup-hidup diriku pun menerima dengan tegar. Lebih baik hukum sebab-akibat ini kuterima dalam kehidupan kini daripada nanti.”

Dewi Sinta paham akan adanya Hukum Sebab-Akibat yang akan datang kepadanya akibat tindakannya yang tidak selaras dengan alam pada waktu kesadarannya masih rendah.

Dan, seluruh negeri terkesima dengan selamatnya Dewi Sinta dari amukan api. Seluruh negeri menerima kembali Dewi Sinta sebagai permaisuri dari Sri Rama.

Dosa disebabkan oleh ketakselarasan kita dengan alam. Setiap tindakan yang tidak selaras dengan alam adalah dosa. Dosa tidak memiliki eksistensi di luar tindakan kita yang tidak selaras dengan alam. Adanya dosa karena adanya tindakan kita yang tidak selaras dengan alam. Matematika dosa sebenarnya sederhana sekali. Dosa = Aku + Tindakan yang tidak selaras dengan alam. *2 Mawar Mistik

Pada dasarnya, ‘Kau’ – ‘Aku’ yang menghuni badan ini tak ternodakan. Dosa adalah kekhilafan, disebabkan oleh kurangnya kesadaran. Begitu kau sadar, kau dapat mengoreksi dirimu. Apabila kita dapat meningkatkan kesadaran kita, kita berada dalam kesadaran-Nya, dalam kesadaran ‘Aku’ yang sejati, dalam kesadaran Ia. Pada kondisi semacam itu kekhilafan tak akan terjadi. Dalam kesadaran ‘Itu’, seseorang tidak dapat menjadi khilaf lagi. Ia tak membunuh, juga tak terbunuh. *3 Bhagavad Gita



Mengasingkan diri demi keutuhan kerajaan Ayodya

Dewi Sinta mengheningkan cipta beberapa lama dan membuka mata. Dirinya berada di pondok sederhana di kaki pegunungan yang indah, pada lembah yang subur. Bunyi burung bersahutan dilatarbelakangi gemericik suara sungai Tamsa dan matahari baru saja bersinar setelah melewati bayangan bukit yang perkasa. Dia tahu kedua anak kembarnya sedang tekun belajar pada Resi Walmiki. Dan ingatannya menerawang ke masa silam………..

Masih terngiang-ngiang pesan Sri Rama, “Istriku kau akan meneruskan perjalanan spiritualmu tanpa diganggu masyarakat. Sedangkan aku sebagai raja, aku masih harus memberi contoh selangkah demi selangkah agar mereka dapat memahami. Sebagai raja, aku harus lebih memperhatikan suara masyarakat daripada suara keluarga dan kerabatku. Istriku kau akan mengerti aku dan kamu sejatinya satu…..” Suaminya benar. Sabda seorang avatara adalah benar, dirinya menerima apa pun yang terjadi dan bersyukur. Lebih mudah meningkatkan spiritual bersama Resi Walmiki, tanpa masyarakat yang salah memahami dirinya karena tingkat kesadaran mereka yang berbeda. Tugas Sri Rama adalah meningkatkan kesadaran masyarakat dan setelah tugasnya selesai, mereka akan bertemu lagi…….

Perjalanan kehidupan seseorang mempunyai alur-alur baru yang sering berada diluar nalarnya. Setelah mengalami kebahagiaan bersama Sri Rama menjadi permaisuri di kerajaan Ayodya, dia masih saja mendengar banyaknya suara-suara penduduk yang tetap menyangsikan kesuciannya, walau dia sudah selamat dalam Aghni Pariksa, pembuktian di atas api. Sri Rama adalah raja besar yang bijaksana, dan juga seorang suami yang baik. Tetapi sebagai seorang raja, Sri Rama sudah seharusnya lebih mementingkan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi. Dewi Sinta adalah seorang istri yang luar biasa baiknya, tetapi dirinya juga lebih mementingkan negara dari pada kepentingan pribadinya. Tugas Sri Rama adalah meningkatkan kesadaran masyarakat.

Demi negara, demi suami tercinta, pada suatu malam dirinya menyelinap ke luar istana pergi jauh meninggalkan istana. Setelah itu dirinya seakan lenyap ditelan rimba. Hanya berbekal keyakinan kepada Hyang Widhi, dirinya merelakan segala-galanya. Dengan intuisinya dirinya mencari tempat tinggal yang jauh dari kebisingan kota.



Bertemu dengan Resi Walmiki

Dalam perjalanannya, dirinya baru sadar bahwa dirinya telah mengandung benih putera Sri Rama. Dalam perjalanan itu pula dia bertemu dengan Resi Walmiki yang bijaksana. Bertemu seorang Guru sebagai karunia Hyang Widhi perlu disyukuri. Segalanya sekarang semakin jelas, Guru Walmiki membimbing Dewi Sinta yang memang sudah matang spiritualitasnya.

Dirinya melahirkan putera kembar, yang diberi nama Lawa dan Kusa. Lawa dan Kusa tumbuh menjadi anak yang luar biasa cerdas. Bibitnya berasal dari kombinasi Raja tampan Sri Rama yang bijaksana dan Dewi Sinta cantik yang kesadaran spiritualnya telah tinggi. Apalagi mereka berada dalam bimbingan Guru Walmiki yang arif bijaksana.

Ketika Lawa dan Kusa meningkat remaja mereka menanyakan siapakah ayah mereka. Dan, Resi Walmiki membacakan Kitab Ramayana, yang merupakan kisah dari Rama dan Sinta. Dewi Sinta telah menceritakan semua kisah hidupnya kepada Gurunya, Resi Walmiki. Resi Walmiki telah mengabdikan dirinya untuk peningkatan kesadaran manusia yang telah ‘siap’. Kisah Dewi Sinta dengan Sri Rama di catat dan diabadikannya dalam Kitab Ramayana. Kitab yang masih dapat memicu peningkatan kesadaran seseorang puluhan ribu tahun sesudah kejadiannya.

Lawa dan Kusa menanyakan kepada Resi Walmiki apakah ada ‘dosa asal’ mereka, sehingga mereka dibesarkan di pedesaan dan tidak di perkotaan. Resi Walmiki menjelaskan bahwa ‘blueprint’ kehidupan adalah hasil dari tindakan masa lalu kita. Tetapi tindakan yang harus diambil pada saat ini adalah sepenuhnya merupakan pilihan diri sesuai tingkat kesadaran kita.

Alam bawah sadar atau subconscious adalah beban yang kita warisi sejak lahir. Dalam tradisi Kristen, mereka menamakannya “Dosa Asal”. Dosa Asal bukanlah sesuatu yang kita warisi dari Baba Adam dan Bibi Hawa. Cerita Adam dan Hawa bersifat metaforis. Cerita Adam dan Hawa membutuhkan penghayatan dan pendalaman. Apabila Anda hanya membacanya begitu saja, Anda tidak akan pernah memahami makna sebenarnya. Ular, si penggoda Hawa yang disebut-sebut sebagai manifestasi Setan, adalah pikiran Anda sendiri, mind Anda sendiri. Mind membuat Anda cerdik, membuat Anda asdar akan baik dan buruk, tetapi pada saat yang sama juga merampas keluguan Anda. Mind pula yang merenggut kesadaran dan kepolosan Anda. *4 Semedi2

Tindakan manusia mengungkapkan pola pikir alam bawah sadar atau subconscious. Itulah sebabnya manusia sudah paham mana tindakan yang tepat dan yang tidak tepat, tetapi dirinya tetap bertindak tidak tepat karena pola pikir bawah sadar yang telah membelenggu dirinya. Sudah paham merokok tidak baik, sudah ngerti nebang hutan ikut menyebabkan banjir, tetapi tindakan tersebut tetap dilakukannya juga. Sulit melepaskan diri dari kebiasaan lama. Drug addiction, sexual addiction, violence addiction, property addiction mekanismenya hampir sama.

Para pencetak teroris paham tentang subconscious, sehingga mereka telah membentuk pola pikir bawah sadar para teroris dan para pelaku tindak kekerasan. Semakin muda mereka dibentuk polanya, semakin kuat pola tersebut mencengkeram diri mereka. Para pelaku tidak sadar bahwa panggilan suci mereka adalah panggilan ‘mindset’ yang sengaja dibentuk oleh para pencetak teroris dan pembuat kekerasan. Para pelaku merasa benar, bahwa mereka berjalan menapaki jalan suci, padahal mereka korban pembentukan pola mind, mereka budak dari bawah sadar mereka.

Itulah sebabnya program pertama dari meditasi adalah ‘katarsis’, membuang pola-pola lama……… dan hasilnya lahir kembali menjadi manusia yang baru, manusia yang bebas dari pola lama. ‘Neo-Men and Women’. Manusia-manusia yang sadar akan kebebasan dirinya.



Dewi Sinta tertelan bumi karena kesuciannya

Sudah menjadi kebiasaan di benua Jambudwipa, benua tempat Kerajaan Ayodya. Seseorang Maharaja mengadakan ritual melepaskan kuda putih yang diikuti pasukan tentara yang kuat. Kuda putih tersebut dibiarkan memilih jalan sendiri yang dikehendakinya. Tak ada seorang raja tetangganya yang mengambil kuda putih tersebut. Apabila seseorang raja berani melakukannya, berarti dia telah berani menentang sang maharaja dan terjadilah pertempuran sampai seorang raja kalah dan tunduk, ataupun kerajaannya dapat menundukkan kerajaan sang maharaja. Di benua Jambudwipa seorang maharaja ibarat seorang presiden yang diakui oleh banyak negara bagian sekelilingnya.

Ketika kuda putih melewati desa tempat Dewi Sinta tinggal, kuda tersebut ditangkap oleh Lawa dan Kusa. Pasukan tentara yang mengikutinya tahu bahwa anak-anak remaja tersebut bukan seorang raja, tetapi semua pasukan mereka dapat dikalahkan mereka. Sang kembar tidak mau menyerahkan kuda tangkapannya. Komandan pasukan yang kalah tempur melapor kepada Sri Rama yang kemudian menyuruhnya membawa pasukan yang lebih kuat. Akan tetapi pasukan itu pun takluk pada Lawa dan Kusa. Akhirnya seperti pesan Sri Rama, diundanglah kedua remaja tersebut ke istana.

Ketika sang kembar bertemu Sri Rama pada sidang paripurna di istana, keduanya menembangkan Kisah Ramayana yang digubah Resi Walmiki. Sebuah tembang Ilahi yang menyentuh rasa terdalam. Semua pendengarnya hanyut dalam tembang suci. Suasana menjadi begitu syahdu.

Kidung dalam bahasa latin disebut canticle. Getaran-getaran yang keluar dari lagu ini dapat mengubah dirimu dalam sekejap. Setiap sel dalam tubuh kita sedang bergetar. Getaran di dalam diri kita memahami bahasa lagu. Ia sudah pasti memberi respon, asal lagunya indah. Jangankan manusia yang otaknya sudah cukup berkembang, arak dan anggurpun memberi respon terhadap lagu. Produsen mempercepat proses fermentasi menggunakan gelombang radio. Lagu atau musik tertentu menjadi sarana yang kuat untuk mengantar kita ke alam meditasi. Alam meditasi berarti alam di dalam diri. Dan, di alam sana yang ada hanyalah getaran. Semua organ di dalam tubuh dapat diredusir menjadi gelombang, getaran. Maka, organ-organ tubuh sangat responsif terhadap getaran. Karena itu, lewat musik kita bisa mudah memasuki alam meditasi. *1 Kidung Agung

Di antara nyanyian tembang tersebut terdengar isak tangis tertahan bersahutan. Para petinggi kerajaan menangis haru dan Sri Rama sadar bahwa kedua remaja kembar yang wajahnya sama dengan dirinya ini adalah putra-putra Dewi Sinta yang berhak menjadi putera mahkota kerajaan Ayodya. Semua orang sadar atas kekeliruan pandangan mereka selama ini terhadap Dewi Sinta.

Selanjutnya, Sri Rama mengajak seluruh petinggi kerajaan menemui Dewi Sinta…….. Semua orang terpesona melihat Dewi Sinta yang anggun bersama seorang tua yang berwibawa dan keduanya memiliki wajah yang bercahaya seperti cahaya yang ada di wajah Sri Rama.

Dewi Sinta berujar, “Suamiku inilah Guruku, Resi Walmiki yang mengabadikan kisah kasih kita berdua agar kisah kita abadi. Semoga kisah ini mengetuk hati nurani mereka yang mau mengambil hikmahnya. Urusanku di dunia telah selesai, kedua anak kita telah kukembalikan kepada status mereka yang sebenarnya. Aku mencintaimu, cinta yang suci. Kasihku abadi dan sebagai bukti bahwa cintaku suci aku akan tertelan bumi”………. Demi melihat Dewi Sinta yang tertelan Bumi, Sri Rama berkata kepada resi Walmiki dan seluruh petinggi kerajaan serta kedua puteranya, “Tugasku pun telah selesai dan Sri Rama pun lenyap. Hujan rintik-rintik mengiringi pelangi indah yang terbentuk di langit……….

Konon ada legenda dari Resi Agastya, Rama Semar bagi Nusantara, bahwa Wisnu pernah mengorbankan isteri seorang resi dalam penyelamatan sebuah peperangan. Dan sang resi mengutuk Wisnu bahwa dia akan selalu berada jauh dengan isterinya. Sehingga kala menitis menjadi Sri Rama, dia pun berjauhan jaraknya dengan isteri tercinta. Dan kutukan tersebut telah dilakoni dan mereka telah bersatu, mereka menunggu tugas Hyang Widhi kapan dititiskan kembali.



Dewi Sinta dalam diri manusia

Penutup ini dijiwai oleh Buku Kidung Agung. * 1 Kidung Agung

Dunia masih belum selesai dengan evolusi fisiknya. Sementara itu, para pecinta sudah mengalami evolusi batin, maka dunia tidak dapat memahami keadaan para pecinta. Dunia akan selalu menolak para pecinta seperti itu, termasuk keluarga dan kerabat terdekatnya. Kalau mau menapaki jalur itu, kita harus bersiap-siap untuk itu. Jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan yang tidak sering ditempuh. Berapa banyak manusia semacam Dewi Sinta dalam menempuh perjalanan hidup mereka? Berapa banyak orang tua yang memberi nama Dewi Sinta, Sinta, Shita, Sita kepada anak mereka dan berharap anak mereka akan mengikuti jejak Dewi Sinta? Banyak yang berharap; segelintir yang memenuhi harapan. Dan, hanya hitungan jari yang berhasil

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar