Sabtu, 05 September 2009

Potensi ke-Pandawa-an dan ke-Korawa-an dalam diri

Potensi ke-Pandawa-an dan ke-Korawa-an dalam diri

Mahabharata memberikan contoh-contoh karakter pribadi manusia pada tokoh-tokoh utama secara konsisten dari awal sampai akhir cerita. Reaksi para tokoh utama dalam setiap keadaan mencerminkan adanya suatu pilihan manusia dalam mengatasi permasalahanya.

Kanjeng Nabi Sulaiman, Baginda Raja Salomo pernah menyampaikan bahwa apa yang terjadi di masa lalu terjadi pula di masa depan, tak ada sesuatu yang baru di bawah langit ini. Walau “setting” panggung dan pemeran berbeda akan tetapi skenarionya tidak jauh berbeda. Perang semacam bharatayudha ini juga terjadi saat ini, di dunia, di suatu negara, di suatu perusahaan ataupun di dalam diri manusia.Oleh karena itu sejarah lama tersebut tetap dapat dimaknai pada masa kini dengan pemahaman baru dimana otak kita sudah mengalami suatu perkembangan yang signifikan.

Diawali dengan “ignorance”, ketidaktahuan Raja Destarastra yang digambarkan buta terhadap Kebenaran. Sang Raja mempunyai dua sekretaris pribadi, Shakuni, yang artinya “Ia yang larut dalam kenikmatan indera” dan Sanjaya, yang maknanya “Ia yang telah mengendalikan panca indera”. Dalam ketidaktahuannya, Sang Raja lebih condong pada Shakuni daripada Sanjaya. Hanya pada waktu perang Bharatayudalah Sang Destarastra mempercayai Sanjaya yang biasa menjadi sais keretanya untuk menceritakan kejadian perang secara “live” apa adanya. Pada akhirnya Destarastra dan Dewi Gendari pun sadar setelah mendapat pemahaman dharma yang disampaikan oleh Arya Widura. Shakuni sendiri adalah kakak dari Dewi Gendari, istri dari Sang Raja dan keduanya berasal dari Ghandhaar, Khandahar, Afghanistan saat kini.

Shakuni adalah pejabat yang luarbiasa cerdas, hanya sayang otaknya dimaksimalkan untuk menuruti kesenangan panca inderanya. Pada waktu Duryudana menjadi raja, karirnya melesat dan dia diangkat sebagai patih. Putri Shakuni sadar akan karakter Sang Bapak dan memilih meninggalkan istana, untuk menjadi pendamping manusia unggul Udawa yang akhirnya menjadi patih dari kerajaan Dwarawati yang dipimpin Prabu Kresna.

Ketidaktahuan Destarastra, menyebabkan “keterikatan” dia pada putra-putranya dan membiarkan mereka melakukan ketidak-adilan, keiri-dengkian dan tindakan keji terhadap Pandawa. Walaupun Destarastra berlaku pasif, justru karena kepasifan itulah ketidak-adilan merajalela. Pada saat ini pun masyarakat pasif, “silent majority” , tahu tapi diam dan membiarkan, telah mengakibatkan negara kita berada dalam keadaan carut marut. Destarastra adalah contoh orang yang lemah dan menyalahkan nasib ketika putera-puteranya menemui ajal dalam peperangan. Hukum sebab-akibat telah membuat Destarastra sebagai Sang Arsitek bagi nasibnya sendiri.

Di pihak Pandawa, ada Yudhistira yang tidak terikat pada dunia, dan selalu berusaha mencari perdamaian bagi dunia. Baginya dunia ini hanya permainan, “Leela” Sang Gusti, sehingga dia pun jatuh karena permainan judi dengan Korawa, dan saudara-saudaranya harus ikut menderita fisik dengan mengembara di hutan selama belasan tahun. Bhima adalah seorang prajurit yang tegas dan percaya diri serta polos, apabila disuruh Guru atau kakaknya apa pun dilakukannya. Nakula dan Sadewa adalah perwujudan persahabatan dan kemitraan. Arjuna adalah kesatria handal yang masih dalam keadaan bimbang. Apabila hidup ini permainan, terus bagaimana caranya menghadapi Korawa yang nyata-nyata licik dan keji dalam ketidaksadarannya. Prabu Kresna adalah Duta Ilahi, yang menyadarkan Arjuna lewat sebuah percakapan sebelum perang bharatayuda. Adalah kelihaian penutur cerita Abiyasa yang bisa menguraikan nasehat Prabu Kresna menjadi 18 bab Bhagavad Gita.

“Krishna” memang luar biasa: “Jangan membiarkan para pengkhianat bangsa di wilayah kita, mereka kaum radikal, dan orang-orang ekstremis yang melecehkan hukum, jangan hanya karena mereka kerabat, suaranya dibutuhkan dalam pemilihan raja, kau menjadi lemah. Tidak perlu membenci ilalang, tetapi mereka harus dicabut demi keselamatan keseluruhan taman. Apakah mereka tidak memiliki hak untuk hidup? Ya, mereka memiliki hak untuk hidup, persis seperti bakteri baik yang ada di dalam tubuh kita, tetapi sebagai virus yang mematikan. Apakah kita tidak melakukan ‘pembunuhan’ terhadap virus-virus yang mengancam kesehatan? Bukankah mereka pun memiliki hak untuk hidup? Dalil seperti ini datang dari mereka yang sok suci, sok moralis. Mereka tidak praktis. Mereka hidup dalam khayalan mereka sendiri. Kesucian dan moralitas mereka semu. Hanya berlaku selama diri mereka tidak terganggu.”

Kita dapat memahami bahwa potensi Pandawa maupun potensi Korawa ada dalam diri kita. Semua tindakan Korawa ada alasannya. Otak, pikiran, ego kita dapat membenarkan alasan tersebut. Akan tetapi kita juga mempunyai “kesadaran” bahwa walaupun ada alasan yang dapat diterima akal, akan tetapi sebetulnya hal tersebut tidak tepat. Penjelasan Prabu Kresna membuka wacana kita tentang hukum sebab akibat dan meningkatkan kesadaran kita dari kesadaran fisik, ke kesadaran mental-emosional, ke kesadaran intelegensia dan mungkin lebih tinggi lagi.



Antara Korawa dan Sun Tzu

Buku THE GITA OF MANAGEMENT, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 memberikan pencerahan akan adanya kesadaran awal manusia yang menjadi dasar pilihan tindakan manusia. Pada waktu mencoba mengganti kata Sun Tzu menjadi Shakuni atau Korawa, ternyata “suitable” juga.

Tindakan para Korawa mewakili “manusia awal” yang dipimpin oleh nafsu keinginannya, sehingga filsafat semacam Sun Tzu digunakan Korawa sebagai dasarnya. Hukum yang berlaku adalah “fight or flight”, melawan untuk keluar sebagai pemenang atau takut dan melarikan diri dari medan perang. Hukum ini membuat Korawa, menjadi keras, alot. Ia harus membunuh demi keselamatannya.

Sun Tzu, dalam hal ini Korawa adalah masa lalu manusia. Krishna adalah masa kini dan masa depan. Sun Tzu dalam hal ini Korawa masih terjebak dalam kegelapan pikirannya sendiri yang digambarkan dalam kebutaan Destarastra. Cahaya lilin itu tidak mampu menerangi keseluruhan “mind”-nya. Krishna adalah Cahaya Matahari yang mampu mengubah pikiran menjadi kesadaran. Adalah energi dari cahaya itu yang menjadi gizi, menjadi vitamin, dan kemudian mengubah sifat pikiran yang keras menjadi lembut. Korawa adalah anak tangga pertama dalam kehidupan manusia. Karena itu, jangan membenci dia, tetapi juga jangan terikat padanya. Keterikatan kita akan membuat kita berhenti pada anak tangga tersebut, tidak maju-maju. Krishna adalah perjalanan dan pendakian kita saat ini. Krishna adalah anak-anak tangga yang tengah kita tapaki dan akan kita lewati.

Seorang Duryudana bisa menyerang negara lain hanya karena “merasa” terancam oleh keberadaannya. Mereka saling bermusuhan hanya demi sejengkal tanah. Ya, demi sejengkal tanah, demi wilayah kekuasaan. Kesadaran awal manusia adalah kesadaran tentang makanan dan minuman, dan keduanya itu adalah hasil bumi. Ia menciptakan negara, dengan batas-batasnya. Batas-batas itu bukanlah ciptaan alam, tetapi buatan manusia, yang tercipta karena keinginannya untuk menguasai suatu wilayah dengan batas-batas yang jelas. Meluaskan wilayah negara juga menjadi fokus Sun Tzu dan para pemimpin otoriter lainnya.

Bagi Shakuni, seperti Sun Tzu, nilai persahabatan dan kemitraan tidak berarti apa-apa. Ia melihat potensi permusuhan dalam diri setiap orang, apalagi dalam diri orang yang kuat dan aman. Baginya, seorang tetangga yang kuat, aman, apalagi kaya dan sehat, berpotensi untuk menyerang kita. Maka kita harus mempersiapkan diri. Tidak boleh terlena.



Tidak berkiblat pada kebenaran

Keterpurukan negeri kita ini dan kebohongan publik yang sering dilakukan oleh para pemimpin kita, terjadi karena kiblat kita yang salah. Kita sudah tidak berkiblat pada Kebenaran, pada Gusti Yang Maha Benar dan Maha Baik adanya. Saat berdoa, hanya badan kita yang menghadap Bait Allah. Pikiran kita berkiblat pada harta benda. Perasaan kita berkiblat pada kenyamanan jasmani dan keuntungan materi bagi diri sendiri, keluarga, dan kelompok sendiri.

Bisa saja dalam arena politik menggunakan segala macam cara untuk memenangkan pertarungan. Akan tetapi Keberadaan adalah Kekosongan yang sempurna. Pada waktu kita berteriak di depan goa yang dalam, maka pantulan suara yang sama akan kembali sebagai gema. Demikian pula setiap tindakan penuh tipu muslihat, akhirnya akan kembali pula dengan cara yang sama. Tidakkah kita memperhatikan? Cakra Prabu Kresna akan mengejar terus, ke mana pun juga, ke kehidupan-kehidupan selanjutnya, sampai pada suatu saat, ketika lengah, cakra akan berputar kembali menyelesaikan hukum sebab-akibat. Tidakkah kita mengetahui?

Sekarang pilihan berada di tangan kita, ikut di pihak Pandawa atau pihak Korawa. “Krishna” telah mengubah kurukshetra menjadi dharmakshetra, sehingga Arjuna yakin berada pada jalan dharma. Para Arjuna dan Srikandi bangkitlah! Ibu Pertiwi mengharapkan kepedulianmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar