Selasa, 08 September 2009

KIDUNG AGUNG Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo

KIDUNG AGUNG Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo


Judul : KIDUNG AGUNG Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Cetakan Kelima 2006

Tebal : 348 halaman



Mutiara Quotation Buku Kidung Agung, Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo



Apa yang mereka lakukan?

Mereka tidak mengikuti siapa-siapa. Pun, tidak mencari apa-apa. Biasa saja. Mereka juga tidak bicara tentang spiritualitas, religiositas dan tas-tas berat lainnyayang hanya membebai jiwa. Mereka hidup tanpa beban, tanpa rasa takut, dan tidak munafik.



Seandainya langit di atas terbelah dan tiba-tiba saja Anda mendengarkan, Kau hanya memiliki 10 hari lagi di dunia ini, apa yang akan Anda lakukan? Apapun jawaban Anda, apapun jawaban kita , sesungguhnya kita hanya berhipotesis. Kenapa begitu? Karena kita tidak mau rugi. Lain perkara jika urusannya menyangkut kehidupan, apalagi keuntungan dan kemakmuran, maka suara langit akan kita terima sepenuhnya. Jika suara itu mengangkat diri saya menjadi imam, mahdi, avatar, nabi, wali, buddha, atau misalnya saja bupati, maka suara itu akan saya percayai seratus persen.

Namun, sesungguhnya semua ini pun masih sekedar hipotesis. Dan kita hidup dalam dunia yang berandai-andai, penuh hipotesis. Banyak di antara kita bahkan beragama karena sebuah hipotesis, tentang surga dan neraka. Ada yang berhipotesis tentang mokhsa dan nirvana, kebebasan mutlak dari siklus kelahiran dan kematian. Kita hidup dalam alam yang serba tidak pasti. Tidak ada kepastian di sisni. Tiada pula kepastian tentang alam sana. Apa pun yang kita dengar dan baca mengenainya sesungguhnya hipotesis. Bagaimana menjelaskan perbedaan antara realita dan hipotesis? Barangkali apa yang kita anggap realita itu pun sekedar hipotesis tentang realita sesuai dengan pemahaman kita sendiri dan sama sekali bukanlah realita.

Meditasi mengajak kita untuk tidak berhipotesis, untuk berhenti berhipotesis dan tidak terjebak dalam realita semu, karena itu pun sekedar hipotesis. Meditasi mengajak kita untuk mengalami hidup ini sepenuhnya, untuk mengalaminya sendiri. Go to the depth, sampai ke dalam-dalamnya, dimana hipotesis dan realita gugur lenyap.

Bertindaklah sesuai dengan kata hati Anda, sesuai dengan nurani Anda. Tetapi, bagaimana mendengarkan suara hati nurani? Sering kali apa yang kuanggap suara hati nurani ternyata bukan suara nurani.

Hidup tanpa harapan? Mustahil. Hidup tanpa berharap? Sangat mungkin. Harapan ibarat angin, ibarat udara. Kita tidak dapat hidup tanpa angin, tanpa udara. Hidup dalam harapan tidak menjadi soal. Persoalan muncul ketika kita mulai berharap, ketika mengharapkan sesuatu. Bila kita mengharapkan angin segar dan yang kita peroleh tidak segar, kita kecewa. Bila mengharapkan kesejukan dan yang kita peroleh kegerahan, maka kita gelisah.

Hiduplah dalam kasih Tuhan, maka kita akan hidup bahagia, damai dan ceria. Tapi, bila kita hidup dengan mengharapakan kasih Tuhan, bersiaplah untuk kecewa, karena definisi kita tentang kasih tidak selalu sama dengan kehendaknya yang penuh kasih.

Hanyalah segelintir pemberani yang berani hidup dalam harapan, tetapi tanpa berharap.mereka terjun ke dalam kehidupan tanpa mengharapkan sesuatu. Maka awalnya mereka terombang-ambing. Kemahiran berenanga sudah ada dalam gen dia, namun kemahiran itu masih berupa potensi yang terpendam, benih yang masih berupa biji.ia harus menanamnya sendiri. Sang Ayah bangga melihat anaknya terjun ke dalam laut tanpa bantuan.Ia meneriaki anaknya dari jauh. Ia membiarkan anaknya terombang-ambing, karena ia yakin anaknya tidak akan tenggelam. Ia juga mempercayai kemampuannya sendiri, dengan instingnya sebagai nelayan. Bila anak itu sudah mulai tenggelam dan tidak mampu membantu dirinya, sang Ayah akan mengetahuinya dan akan langsung terjun ke laut untuk menyelamatkannya. Seperti sang nelayan itulah Sadguru, Guru Sejati, Master, Murshid.



Olah batin, dengan cara apapun, sudah pasti mengubah kesadaran. Bila kesadaran kita masih belum berubah, istana dan kerajaan masih terasa menggiurkan, maka batin kita belum cukup terolah. Adakah urge, dorongan kuat dari dalam diri untuk mengolah batin? Urge adalah keinginan yang sangat kuat, yang menjadi dorongan dari dalam diri kita sendiri untuk melakukan sesuatu. Dengan dorongan kuat itu kita bisa meyelam ke dalam diri. Orang yang telah mengambil langkah menyelan ke dalam diri, bahkan satu langkah saja , pasti pernah dicium oleh-Nya. Kembangkan urge, keinginan yang sangat kuat untuk bertemu dengan-Nya, untuk dipeluk dan cicium oleh-Nya.

Menjadi gadis berarti mempertahankan keperawanan, menjaga kepolosan jiwa, keluguan diri. Jadilah seorang gadis, karena hanya para perawan di dalam kasih-Nya yang dapat mencium aroma kasih itu.



Dunia telah membelenggu kaki dan tangan kita. Kita sudah terperangkap dalam sangkar dunia, sangkar samsara yang menyengsarakan. Samsara berarti pengulangan, pengalaman manusia yang berulang-ulang dan membosankan. Dunia ini adalah proyeksi dari pikiran kita sendiri. Ada karena kita pikir ada. Sesungguhnya kita hidup dalam dunia kita masing-masing. Dunia saya lain dari dunia Anda.

Dilema Si Jelita tidak asing bagi kita. Nasib kita sama. Kita pun diboyong oleh Solomo ke dalam dunia ini. Barangkali Solomo itulah pimiran kita. Kita sudah terjebak dalam alam pikiran kita sendiri. Bagaimana membebaskan diri kita? Bagaimana membebaskan kesadaran diri dari cengkeraman pikiran? Jadilah pemberani seperti si Jelita. Ia berani menolak. Ia tidak peduli akan kegusaran Raja Solomo.

Seorang pengecut selalu berada dalam sangkar pikirannya. Sangkar itulah dunianya. Rasa aman semu yang diperolehnya dari sangkar itu membelenggu jiwa. Sesungguhnya jeruji sangkar itu tidak rapat. Bila mau dia dapat membebaskan dirinya kapan saja. Tapi, ia takut dengan kesadaran luas di luar. Ia memilih untuk tetap berada dalam sangkar.

Hidup berkesadaran memang penuh risiko, karena kita sepenuhnya bergantung pada kesadaran kita sendiri. Hidup berkesadaran berarti menjalani hidup dengan kesadaran kita sendiri. Dan, karena kesadaran kita masih mengalami pasang surut, hidup berkesadaran mengandung risiko kai kita terpeleset jatuh. Itulah biaya kebebasan yang haruskita bayar karena tiada kebebasan di luar hidup berkesadaran. Di luar itu, yang ada hanyalah perbudakan. Kebanyakan dari kita enggan menjalani hidup berkesadaran karena takut jatuh, padahal pengalaman jatuh hanyalah meningkatkan kesadaran kita. Sangkar adalah pikiran, pekarangan rumah adalah alam rasa. Dan alam bebas adalah alam kesadaran murni. Antara pikiran dan kesadaran ada rasa. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas; bukan kebebasanj yang dibatasi, tetapi kebebasan yang membatasi diri. Karena pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah.

Cinta adalah Alam Rasa. Cinta berada antara pikiran yang membelenggu dan kesadaran yang membebaskan. Satu langkah di bawah cinta, kita terbelenggu; kita jatuh kepada nafsu. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki kasih.

Kesadaran ini yang kita butuhkan – kesadaran bahwa kita berada di tempat yang salah. Bila kita berada dalam alam pikiran , kita berada di tempat yang salah. Si Jelita berpisah dari kekasihnya karena ia menimbang; ia menghitung untung rugi. Sang Kekasih ditempatkannya sejajar dengan keluarga. Kemudian terciptalah keadaan di mana ia harus memilih antara kekasih dan keluarga. Ia menjadi bimbang, dan makin terperangkap dalam alam pikiran. Ia tidak rela meninggalkan keluarga, dan tidak mau berpisah dari Sang Kekasih. Ia memasuki alam pikiran yang ramai dan aktif. Padahal statis. Berada dalam alam pikiran, evolusi batin terhenti. Setiap manusia yang sedang mencari keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara jasmani dan rohani, sudah pasti terjebak dalam alam pikiran, karena pikiranlah yang memisahkan duniawi dengan rohani.kemudian menciptakan kegaduhan.

Yang duniawi tidak dapat dipisahkan dari yang rohani. Yang duniawi tidak bisa eksis tanpa rohani. Keluarga yang sudah ada sebelum kelahiran kita pun ada karena sang Kekasih. Keterikatan kita dengan keluarga tidak dapat disejajarkan dengan cinta kita bagi Sang Kekasih.. karena keterikatan adalah anak tangga pertama dalam perjalanan menuju kasih.

Berada dalam kesadaran rohani, kita tidak perlu melepaskan dunia, karena keduniawian terlepas dengan sendiri. Dunia tanpa keduniawian tidak dapat menjerat kita.

Bagi siapa pun sebenarnya rayuan datang dari luar dan dari dalam. Dari luar segala sesuatu yang melencengkan kita dari jalur kesadaran. Dari dalam: segala sesuatu yang membesarkan ego dan akhirnya melencengkan kita dari jalur kesadaran. Karena itu, kta sangat membutuhkan support group. Mari kita membuat sebuah mandala, human mandala, sehingga energi kita tidak boros. Dan dengan energi itiu kita dapat saling membantu, saling mengingatkan, saling melayani, saling melindungi. Dengan terbentuknya sebuah human mandala, setiap orang yang menjadi bagian darinya akan memperoleh support dari saudara-saudaranya dalam mandala itu, karena di dalamnya semua akan sefrekuensi. Walau terpisah dari mandala itu, energinya masih tetap melindungi dirimkita dari pengaruh luar yang tidak menunjang evolusi batin, asal kita masih menganggap diri bagian darinya.asal kita masih menjalin hubungan batin dua arah dengan mandala itu.

Human mandala mampu mengubah pola energi setiap orang yang berada di dalamnya, bila mereka percaya. Kepercayaan atau niat itu dalam hal ini berfungsi sebagai password. Tanpa password itu tidak akan erjadi apa-apa. Kendati demikian, sekedar perubahan pun tidak cukup. Langkah berikutnya adalah sinkronisasi atau sinergi. Setiap orang dalam mandala mesti merasa sehati dengan orang lain. Perasaan kebersamaan haruslah keluar dari ketulusan hati masing-masing peserta.

Pusat mandala itu adalah seorang yang dituakan, barangkali disebut Guru, atau apa pun sebutannya. Yang penting adalah hubungan antara pusat dan kita. Hubungan ini haruslah sepenuhnya berlandaskan kasih yang hanya tahu memberi.tidak pernah menuntut, tidak pernah menagih. Kasih tanpa syarat dan tak terbatas.



Kidung dalam bahasa latin disebut canticle. Getaran-getaran yang keluar dari lagu ini dapat mengubah dirimu dalam sekejap. Setiap sel dalam tubuh kita sedang bergetar. Getaran di dalam diri kita memahami bahasa lagu. Ia sudah pasti memberi respon, asal lagunya indah. Jangankan manusia yang otaknya sudah cukup berkembang, arak dan anggurpun memberi respon terhadap lagu. Produsen mempercepat proses fermentasi menggunakan gelombang radio. Lagu atau musik tertentu menjadi sarana yang kuat untuk mengantar kita ke alam meditasi. Alam meditasi berarti alam di dalam diri. Dan, di alam sana yang ada hanyalah getaran. Semua organ di dalam tubuh dapat diredusir menjadi gelombang, getaran. Maka, organ-organ tubuh sangat responsif terhadap getaran. Karena itu, lewat musik kita bisa mudah memasuki alam meditasi.

Kenyamanan istana, kemapanan hidup menghentikan evolusi batin. Saat itu, kita terjebak dalam kenikmatan sesaat. Silahkan menikmati asal tidak berhenti. Saat menikamati hidup ada kecenderungan besar bahwa kita jadi lupa bahwa perjalanan masih panjang dan kita harus tetap berjalan.

Saat harus memilih, terjadilah friksi. Dan friksi itu menimbulkan energi luar biasa untuk meningkatkan kesadaran, untuk melanjutkan perjalanan.

Jangan mencari Dia dalam ketenangan dan kedamaian. Susah mencari-Nya di sana, karena Tenang itulah Dia; Damai itulah Dia. Latar belakang kegaduhan dibutuhkan sehingga Tenang menjdi nyata.

Nafsu tidak pernah mati, maka harus dikendalikan; mesti ditarik dari dunia dan keduniawian, kemudian diarahkan ke Allah dan keilahian. Proses pengarahan nafsu kepada Tuhan dan keilahian itulah spiritualitas. Itulah meditasi. Dalam bahasa Timur-Tengah itu disebut taubah, membelok, kembali. Maksudnya kembali pada diri sendiri, karena itulah kerajaan-Nya; di sanalah Ia bersemayam.



Rayuan dunia, dan apa saja yang terkait dengannya, selalu memanfaatkan kelemahan manusia. Rasa takut adalah salah satu kelemahan manusia. Rasa takut merupakan kelemahan utama manusia sekaligus menjadi kekuatannya untuk membangun dan membangkitkan semangatnya untuk maju terus. Takut hujan dan lain-lain masuk ke dalam gua. Rumah termewah adalah perkembangan dari gua. Kadang ia mengiming-imingi kadang mengintimidasi itulah sifat dunia.



Seorang Guru datang dalam hidup kita bukan karena kehendaknya, tetapi karena dikehendaki-Nya. Kedatangan seorang murshid atau seorang guru dalam hidup kita terjadi karena dikehendaki oleh-Nya. Itulah kenapa kita sujud kepadanya, karena sesungguhnya dengan sujud kepadanya kita sedang sujud kepada-Nya.

Ciri-ciri seorang manusia sejati:

Suci.

Berani.

Jernih pikirannya.

Luas pandangannya.

Menyebarkan keharuman dan kedamaian.

Berkarya demi kebaikan sesama.

Sehat sehingga dapat melayani sesama dengan baik.

Melangkah dengan pasti, dan

Tidak sombong.



Para masiha tidak bertanya, Kemana kekasihmu pergi? Mereka tahu kekasih tidak pergi ke mana-mana. Mereka menunjukkan jalan supaya kita jalan sendiri. Mereka membakar semangat kita. Mereka membangkitkan kembali jiwa yang sudah sekarat. Bila kita cukup beruntung dan telah menemukan komunitas spiritual yang dapat berperan sebagai support group, pemberangkatan kita menjadi pasti. Tapi, ya cuma sebatas itulah bantuan yang dapat kita harapkan dari mereka. Kenapa? Karena, bila kita tidak berjalan juga, mereka akan mendorong kita untuk terjun ke dalam diri. Salaing dorong inilah pekerjaan support group.



Kadang kita baru tahu sedikit dan sudah langsung ingin berbagi. Tunggu sebentar, kita harus tahu ingin berbagi dengan siapa? Apakah mereka membutuhkan apa yang hendak kita tawarkan kepada mereka. Apakah yang ingin kita tawarkan sudah menjadi kebutuhan mereka?



Setiap master memiliki inner circle. Hubungannya dengan inner circle itu hanya diketahui oleh mereka yang ada di dalamnya. Mereka yang ada di lingkar luar tidak tahu menahu tentangnya. Kadang anggota inner circle pun tidak saling mengenal. Mereka mulai berkumpul dan saling mengenal setelah kematian Sang Guru. Tanda-tanda, simbol-simbol yang diberikan kepada mereka oleh Sang Guru, mempertemukan mereka.

Anggota inner circle adalah pemberani. Mereka berada dalam dunia, tetapi tidak terikat dengan dunia. Mereka adalah kelanjutan jiwa Sang Guru. Sang Guru telah mempersiapkan mereka selama bertahun-tahun. Setiap orang dipersiapkan dengan cara tersendiri, cara yang unik dan khas. Cara yang cocok bagi masing-masing peserta.

Selama seorang Guru masih hidup, kadang seorang peserta akan drop-out dan diganti dengan peserta yang lain. Anehnya, para drop out ini pun tidak tahu bahwa mereka pernah menjadi anggota inner circle. Mereka masuk ke dalam lingkar dalam tanpa pengetahuan dan keluar tanpa pengetahuan. Hanyalah Sang Guru yang mengetahui hal itu.

Kekasihku pergi ke kebunnya, ke kebun rempah-rempah untuk menggembalakan domba-domba di kebun, dan memetik bunga-bunga bakung. Aku milik kekasihku, dan dia milikku, ia mengendalikan domba-domba di tengah bu8nga bakung. Bait ini penuh dengan kode. Setidaknya ada 9 kode di situ. Bahkan, barangkali lebih dari itu. Tetapi sembilan kode pun sudah cukup untuk membuktikan bahwa Si Jelita bukanlah gadis biasa. Ia adalah bagian inner circle Sang Kekasih.

Kepuasan bukanlah buah kepemilikan. Kepuasan adalah buah kesadaran. Ya, kesadaran bahwasanya enough is enough, cukup sudah. Bila seorang perempuan tidak bisa memuaskan, perempuan sejagad pun tidak dapat memuaskan, karena kepuasan itu berasal dari dalam diri kita sendiri, bukan dari mereka.

Seorang Guru datang untuk menyadarkan kita. Kita malah berharap dia bertindak sesuai dengan kesadaran kita. Karena itu di setiap zaman, seorang Yesus pasti dibatui. Seorang Muhammad dipaksa untuk hijrah.

Dunia tidak pernah berhenti merayu kita. Dunia tidak rela melepaskan diri kita. Ia selalu berupaya agar kita menjadi bagian darinya. Bila rayuannya tidak berhasil, ia akan mengecam, mengancam, mendesak dan memaksa dengan menggunakan segala daya upaya. Pokoknya, kita tidak boleh keluar dari lingkarannya. Lingkaran setan kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan.

Bagi seorang bayi, payudara adalah sumber kehidupan. Ketika bayi ini menjadi dewasa, dan bila ia seorang perempuan, ia menemukan sumber kehidupanitu ada di dalam dirinya. Ia menjadi sumber kehidupan. Celakanya, bila bayi yang menjadi dewasa ini seorang pria, ia merasakan betul perpisahan dari sumber kehidupan itu. Ia merasa kehilangan sesuatu yang penting sekali. Dan, ia pun mencari sumber itu dalam sosok perempuan yang lain. Tidak heran, bila seorang pria selalu memperhatikan payudara perempuan. Seorang pria merasa tidak sempurna, hingga suatu ketika ia menemukan sumber kehidupan ke”perempuan”an di dalm dirinya.

Kesempurnaan bukanlah suatu benda. Kesempurnaan adalah perasaan-rasa. Bila kita merasa sempurna, sempurnalah kita.

Membuka diri terhadap guru, berarti membuka diri bagi apa yang hendak disampaikannya. Bukan untuk memuntahkan segala apa yang ada dalam diri, memuntahkan kotoran kita.

Dunia ingin memiliki kita. Keluarga, kerabat dan orang-orang yang mengaku seumat dan seiman ingin memiliki kita. Lembaga-lembaga keagamaan dan politik berebutan untuk memiliki kita. Kadang mereka bergabung untuk menyatakan kepemilikan mereka atas diri kita. Berhati-hatilah, kapal kita berada di tengah laut, wilayah kekuasaan para pembajak laut. Barangkali kita tidak melihat mereka, karena mereka selalu bersembunyi di balik ombak. Mereka pintar, licik. Kapan saja mereka dapat berlaga untuk membajak jiwa kita, untuk menumpas kesadaran kita.

Meditasi bukanlah meninggalkan rumah dan keluarga. Meditasi juga tidak berarti meninggalkan dunia. Meditasi membekali kita dengan semangat dan keberanian untuk menghadapi segala macam tantangan. Kita btetap tinggal di dalam dunia yang sama, di tengah keluarga yang sama, tetapi tidak diperbudak oleh mereka. Seorang istri atau seorang suami tidak dapat menyandera jiwa kita. Orang tua dan saudara tidak boleh merampas hak untuk bertindak sesuai dengan nurani kita. Berilah mereka pengetahuan tentang jatidiri dan kebutuhan manusia untuk menemukannya, karena tanpa penemuan itu, manusia merasa hampa. Ia tidak merasa berguna. Kemudian, tindakannya pun kacau dan mengacaukan.

Kita menjadi manusia yang lebih baik karena meditasi, dan dunia ini sungguh membutuhkan beberapa manusia baik yang rela berkorban demi kebaikan umat manusia, untuk mencegah terjadinya kehancuran total – manusia-manusia baik yang rela mengorbankan kenyamanannya demi kebaikan dunia, manusia-manusia baik yang siap berkarya tanpa pamrih, demi kesatuan dan persatuan dunia.

Salomo berjalan membelakangi matahari, maka ia harus mengikuti bayangannya sendiri. Si Jelita berjalan menuju matahari, bayangannya berada di belakang. Bila kita berjalan menuju Kasih, dunia akan berada di belakang kita. Bila kita berjalan menjauhi kasih, dunia akan berada di depan kita. Dan, keberadaan dunia di depan kita itu sangat merepotkan. Ia ingin kita mengikutinya. Kebebasan kita dirampas. Kita diperbudak. Dengan mengikuti dunia, kita memberinya hak untuk menyetel diri kita.

Dunia ibarat suatu yayasan dan kita dinobatkan sebagai pengurus untuk masa tertentu. Ya, kita semua adalah pengurus bagian dunia yang telah ditetapkan bagi kita masing-masing. Barangkali bagian itu kecil, barangkali besar, barangkali berupa negara, atau rumah tangga. Jadilah seorang pengurus yang baik. Apapun tugasnya, laksanakanlah dengan baik. Salomo yang berada di dalam diri kita masing-masing lupa menunaikan kewajibannya, malah ingin memiliki dunia, padahal dunia selalu berubah.

Dunia tidak dapat memperbudak kita untuk selamanya, kecuali bila kita membiarkannya. Kecuali bila kita mau diperbudak. Salomo tidak dapat menahan kita, kecuali bila kita menikmati hidup dalam tahanannya.

Jelita Syulam adalah seorang pecinta, seorang pengabdi, seorang bhakta. Ia menantang Sang Kekasih Agung untuk menguji cintanya, supaya kelak bila ajal tiba, tidak ada keraguan lagi. Tidak ada kebimbangan lagi. Ya, karena bila saat itu tidak lulus, kita sudah tidak memiliki waktu untuk memperbaiki diri. Sekarang kita masih memiliki waktu. Bila tidak lulus, kita masih bisa memperbaiki diri: masih bisa ulangan.

Saat ajal tiba, bila kesadaran kita masih bercabang, kita akan kembali ke dunia ini. Pertemuan agung dengan Sang Kekasih akan tertunda sekali lagi. Ah, sudah berapa kali kita tunda pertemuan itu. Sudah berapa kali kita gagal menghadiri pesta yang digelar-Nya. Sekarang tidak lagi, kita tidak akan menundanya lagi. Kali ini kita tidak mau gagal lagi. Aku harus berhasil, sebab itu, ujilah kelayakan diriku. Ujilah Tuhanku, ujilah cintaku.

Saat ini kita semua masih berada dalam tahanan Salomo – dunia benda. Setidaknya demikian yang bkita rasakan. Padahal, sesungguhnya tidak seperti itu. Ya, kita berada dalam sangkar dunia, tapi sangkar itu tidak tertutup. Sangkar dunia ini terbuka sepanjang hari, dan sepanjang malam. Kita sendiri yang belum mau keluar. Kita terikat dengan sangkar emas ini. Kilauan emas memang memikat.

Ah, kita masih ragu. Kita masih bimbang. Kita masih takut. Kita masih memikirkan pendapat orang, dan apandangan dunia. Kita masih mengharapkan masyarakat merestui hubungan kita. Sesungguhnya, harapan kita tidak pada tempatnya. Kita tidak membutuhkan fatwa untuk berhubungan dengan Tuhan, kita tidak membutuhkan izin dari siapa pun jua. Bahkan kita tidak dapat dipaksa untuk menyebut Tuhan, Bapa di Surga, Bunda Alam Semesta, Kekasih Agung, Raja di atas segala Raja atau dengan salah satu sebutan yang lain. Kita bebas untuk menentukan sebutan dan sifat dari hubungan kita dengan Tuhan. Jangan kita terlalu percaya pada apa yang dikatakan oleh dunia, karena ia sendiri masih bingung. Apa yang diketahuinya tentang hubungan antarmanusia saja ia masih selalu keliru, apalagi tentang hubungan manusia dengan Tuhan.

Saat pertemuan itu berlangsung, dunia akan merayakannya nbersama kita. Pencerahan seorang Buddha selalu dirayakan. Pengalaman mistis seorang Muhammad pun diperingati setiap hari. Kebangkitan Isa pun menjadi tanggal merah dalam kalender. Kita tidak mau capek sedikit pun untuk mengikuti jejak mereka untuk mengupayakan pencerahan diri. Padahal, pencerahan diri itu sendiri baru merupakan langkah awal. Langkah berikutnya adalah ketika kita turun ke dunia, berinteraksi dengan dunia dan berbagi pengalaman dengan penghuni dunia. Saat itu, ketabahan, kesabaran dan imankita teruji.

Sosok Murshid yang berada di sebelah kita, yang selama ini mendampingi kita juga ditolak oleh dunia. Saat itu terjadilah gejolak yang luar biasa di dalam diri kita. Mengikuti pendapat dunia yang mayoritas atau suara hati yang bahkan minoritas pun tidak. Suara hati berdiri sendiri, tunggal. Satu suara lawan suara-suara sedunia. Pertarungannya bukanlah antara Sang Murshid dan dunia. Pertarungannya adalah antara suara hati dan pikiran kita yang selalu berada di bawah pengaruh dunia.

Sang gembala berada di samping kita. Dunia, keluarga dan kerabatberada di depan kita. Sang Murshid seorang diri, persis seperti Krishna yang mendampingi Arjuna di medan perang Kurukshetra. Seorang diri tanpa senjata. Sementara itu, dunia adalah balatentara Korawa yang hebat dan sudah teruji kekuatan serta kedahsyatannya di medan perang.

Ketika seorang Buddha memutuskan untuk mengunjungi kembali dunia yang pernah ditinggalkannya, ia mengambil resiko besar semata demi kasihnya terhadap kita semua. Karena itu pula, pengorbanan Isa dikaitkan dengan keselamatan dunia. Sayang, sekarang kita sudah tidak lagi memahami jiwa pengorbanan mereka, dan menjadi pemuja bangkai. Jasad Yesus di atas kayu salib menjadi obyek pemujaan kita, sebagaimana wujud Buddha di bawah pohon Boddhi. Kita pikir dengan menerima Yesus yang sudah mati itu jiwa kita sudah terselamatkan. Kita pikir dengan menerima pengalaman seorang Buddha, kita tercerahkan. Tidak, pengalaman para Yesus dan Buddha hanya mengingatkan kita akan pengorbanan mereka, akan kerja keras mereka, akan dnamisme dan energi mereka; dan mengajak kita untuk menjadi dinamis, enerjetik, rela berkorban, dan mau bekerja keras.

Cinta tidak mengharapkan pengakuan, karena pengakuan datang dari dunia dengan hukum gravitasinya; dan hukum gravitasi menimbulkan keterikatan. Padahal, keterikatan itu bukanlah cinta. Cinta justru mengeluarkan kita, membebaskan kita dari hukum itu.

Pertama, kata Guru saya, ia akan memastikan bahwa keluargamu menghalang-halangimu. Keluarga yang menginginkan keterikatanmu, karena ingin memperbudak jiwamu, ingin menguasaimu, selalu menjadi penghalang utama. Jarang sekali kita temukan misalnya di mana keluarga justru menunjang ayau membantu. Kecuali, tentunya bila kita berpura-pura. Kita sedang berdagang, walau dagangan itu kita beri label Cinta. Kedua, lanjut Guru saya, kawan dan kerabat akan meninggalkanmu. Ketiga, kau akan difitnah oleh dunia. Berbagai hujatan akan dilontarkan kepadamu.

Dunia tidak berevolusi bersama. Teori darwin tidak dapat menjelaskan fenomena evolusi tidak bareng itu. Dalam dunia kita yang satu dan sama ini, dunia makin sempit, dunia yang telah m,enjadi global village, dusun global, saat ini pun terjadi evolusi secara sporadis. Masih saja ada kelompok-kelompok primitif di hampir setiap benua.

Dunia masih belum selesai dengan evolusi fisiknya. Sementara itu, para pecinta sudah mengalami evolusi batin, maka dunia tidak dapat memahami keadaan para pecinta. Dunia akan selalu menolak para pecinta seperti itu, termasuk keluarga dan kerabat terdekatnya. Kalau mau menapaki jalur itu, kita harus bersiap-siap untuk itu. Jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan yang tidak sering ditempuh. Berapa banyak Siddhartha yang mmenempuhnya dan menjadi Buddha? Berapa banyak orang tua yang memberi nama nabi atau orang suci kepada anak mereka dan berharap anak mereka akan mengikuti jejak nabi dan orang suci itu? Banyak yang berharap; segelintir yang memenuhi harapan. Dan, hanya hitungan jari yang berhasil.

Adakalanya kita harus tegas. Sesungguhnya bila kita sudah mengenal cinta, bahkan baru mempercayai kekuatannya saja, ketegasan itu akan datang sendiri. Jangan lupa, untuk menjadi tegas kita tidak perlu menjadi keras. Kekerasan dan ketegasan adalah dua hal yang berbeda.

Gembala dalam lagu ini mewakili Murshid, mewakili Tuhan. Ia adalah Sang Kekasih, Kasih itu sendiri. Ia bisa mewakili Murshid dan Tuhan sekaligus, karena Sang Murshid sudah fana, sudah mengalami ketiadaan. Setidaknya demikianlah dalam pandangan sufi. Seorang Murshid sudah fana-fi-Allah – melarut dalam lautan ilahi. Murshid tidak selalu berwujudkan manusia. Kita dapat berguru pada alam yang maha luas, Semesta. Kita juga bisa berguru pada kitab, pada rasul yang sudah tidak berada di tengah kita. Kita bisa belajar dari siapa saja, dari apa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Salomo adalah pemicu-pemicu di luar diri kita. Salomo adalah dunia benda, kedudukan, kekayaan dan ketenaran. Ia senantiasa berupaya untuk menarik kita.

Keluarga si Jelita adalah indra-indra di dalam diri kita. Keluarga si Jelita adalah pikiran, perasaan, keakuan kita. Keluarga di dalam diri ini sering memberi respons kepada pemicu-pemicu di luar. Keluarga di dalam diri ini menyambut baik lamaran Salomo.

Si Jelita itulah diri kita, kesadaran kita. Perjalanan kita untuk keluar dari gravitasi bumi, keluar dari lingkaran kelahiran dan kematian, memang penuh tantangan. Tetapi, jika kita menerima tantangan sebagai tantangan, kita pasti berhasil keluar. Game! Ya, yang lebih awal keluarlah yang mencapai game point.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar