Selasa, 08 September 2009

Mutiara Quotation Buku ISHQ ALLAH

Mutiara Quotation Buku ISHQ ALLAH


Judul : ISHQ ALLAH Terlampauinya Batas Kewarasan Duniawi dan Lahirnya

Cinta Ilahi

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2005

Tebal : 153 halaman



Mutiara Quotation Buku ISHQ ALLAH



Legenda adalah wahana yang luar biasa untuk memasuki wilayah rohani. Dan, kali ini disajikan bagi Anda, para pembaca, petualangan cinta, dari khasanah legenda rakyat Sindh, yang memberi terang rohani kepada masyarakat itu sejak abad kelima belas. Judulnya Mumal Rano.Buku ini adalah bagian dari trilogi

Ishq Allah

Ishq Ibaadat

Ishq Mohabbat



Hati-hatilah, kau memasuki wilayah terlarang. Kau harus membedakan antara”aku”-mu, cinta dan Dia. Ada tiga macam cinta, ishq mijazi atau nafsu birahi. Ada ishq hakiki atau cinta sejati, dan ada ishq ilahi atau cinta yang kau tujukan kepada Allah semata.



Sumro berarti pahlawan. Hamir sumro dalam kisah ini bukan saja seorang pahlawan, tetapi juga seorang hamir, amir, penguasa. Bila kepahlawanan bertemu dengan kekuasaan, apa lagi yang perlu diragukan? Namun, Hamir Sumro tetap ragu-ragu.



Tepi Sungai Kak sudah di depan mata. Pantai seberang sudah tak jauh lagi. Hamir Sumro pun sesungguhnya sudah dalam perjalanan menuju Kak, dan Kak berarti debu – ia sudah dalam perjalanan menuju kedebuan diri.ia sudah dalam perjalanan menuju kefanaan abadi, untuk mencapai kebakaan kekal. Ia juga sangat beruntung, dapat bertemu dengan seorang Murshid, seorang Guru. Sang Fakir itulah Pembawa Berita dari nseberang sana, namun ia masih tetap ragu-ragu. Ya, Hamir Sumro ragu-ragu, maka ia menoleh ke arah sahabta karibnya, Rano.



Rano berarti pecinta, lover. Ia bukanlah seorang pahlawan seperti Sumro. Ia bukanlah seorang hamir, seorang penguasa. Ia hanyalah seorang rano, seorang pecinta.



Seolah Hamir pun sadar. Hanyalah cinta seorang Rano yang dapat mempertemukan dirinya dengan Mumal. Ya, ia ingin bertemu dengan Mumal, dengan sang Jelita. Itulah arti kata mumal – jelita, cantik, lembut.



Sesungguhnya Sang Fakir tengah menantang Hamir Sumro untuk melanjutkan perjalanannya. Peringatan yang diberikannya bukanlah untuk mematahkan semangat. Sayang Hamir Sumro tidak memahami maksud sang Fakir. Ia ragu-ragu, bimbang.. dan, dalam keraguannya, ia lupa bahwa dirinya adalah seorang pahlawan, seorang penguasa. Di hadapan Rano, sang Pecinta, kepahlawanan dan kekuasaan Hamir Sumro menjadi tak berarti.



Fakir: Aku tak memiliki tujuan, Rano. Jalan inilah tujuanku. Berjalan itulah tujuanku. Berjalan sambil memberi peringatan kepada setiap pejalan: Hindari Mumal, hindari Kak, bila kau tak ingin kehilangan segala yang kau miliki.



Untuk bertemu dengan Mimal, kita harus jadi seorang pecinta. Kekuatan dan kekuasaan belaka tak dapat mengantar kita kepada Mumal. Cinta merupakan syarat utama, syarat mutlak. Tak ada tawar-menawar lagi di sini.



Kemudian, setelah bertemu dengan Mumal, apa yang terjadi setelah pertemuan itu? Kita kehilangan segala yang kita miliki, termasuk identitas diri yang kita peroleh dari dunia. Seperti Sang Satria yang berasal dari Mendhra, kita kehilangan pasukan, kedudukan, kesatriaan… kita menjadi seorang fakir, miskin, melarat – tanpa kepemilikan.



Jalur Sutera Cinta, Jalan Menuju Allah bukanlah jalan biasa. Bila siap kehilangan segala demi cinta-Nya, lanjutkan perjalananmu, Bila tidak, urungkan niatmu.



Jiwa dapat merasakan cinta, tetapi hanya raga yang dapat bercumbuan dengan cinta. Selama kita berada dalam kesadaran rohani, cukuplah cinta yang dirasakan. Dalam keheningan diri, dalam kasunyatan abadi, dalam kebenaran hakiki, diri kita pun larut, hanyut… Segala keinginan sirna… Untuk merasakan cinta atau mohabbat, mahabah – nafsu, nafs atau kesadaran jasmani memang harus dilampaui. Tapi setelah merasakan cinta dan kembali pada kesadaran jasmani, timbul rasa rindu yang akan mencabik-cabik jiwa kita, membakar raga kita. Kita ingin merasakan dengan badan apa yang pernah kita rasakan dengan roh kita. Keadaan ini memang tak dapat dipahami oleh mereka yang belum pernah merasakan cinta, yang masih bergulat dengan nafsu.



Seorang pecinta tidak puas dengan mohabbat. Mohabbat sangat lembut, hanya dapat dirasakan dalam keheningan diri, oleh mereka yang telah mencapai kekhusyukan jiwa yang sampurna. Setelah merasakan mohabbat, seorang pecinta menjadi liar. Ia terobsesi dengan Yang dicintainya. Ia ingin bercumbuan dengan-Nya di tengah keramaian dunia. Ia menjadi seorang Aashiq. Mohabbat berubah menjadi Ishq – Cinta yang dinamis, agresif. Karena itu tingkah laku para pecinta sulit dipahami oleh mereka yang belum kenal cinta.



Ia yang kita cintai,kita muliakan, tidak puas dengan surat-surat yang diterimanya. Pertemuan dengan pengantar pun tidak memuaskan dirinya. Ia ingin bertemu dengan pengirim… Dan, saat terjadi Pertemuan Agung itu pengantar pun harus menyingkir.



Kita cepat puas, terlalu cepat puas. Kadang, menerima surat saja sudah puas. Kadang, pertemuan dengan pengantar sudah memuaskan. Bahkan, sering kali, membaca surat-surat-Nya, sudah memuaskan kita. Kenapa? Karena kita malas melakukan perjalanan yang terasa tak bertujuan. Atau, mungkin kita takut – takut larut, takut hanyut di dalam-Nya. Takut melepaskan aku untuk menyatu dengan-Nya…



Kebingungan Rano sungguh rohani. Istana pun berhala. Yang kita sebut rumah-Nya pun sesungguhnya hanyalah tumpukan batu… terbuat dari pasir dan tanah, mirip bangunan-bangunan lain di dunia.



Yang kita sebut istana atau Rumah-Nya pun sesungguhnya adalah bangunan buatan manusia. Taruhlah yang membuat beberapa orang luar biasa, sesungguhnya mereka pun orang – manusia, insan-insan Allah.



Sudah ratusan, bahkan ribuan kali kita mengunju8ngi istana-Nya, tapi kerinduan kita tetap tak terobati. Kita masih rindu, karena kita belum pernah menatap wajah Mumal.



Demi matahari, bulan dan bintang, demi pepohonan dan bebatuan ciptaan-Nya, jutaan kali kita bersaksi bahwa kita telah melihat-Nya, tapi,sesungguhnya kita baru melihat istana-Nya, itu pun barangkali. Kita tak pernah berjumpa dengan Mumal.



Janganlah puas dengan luapan emosi yang kita rasakan saat melihat istana-Nya, saat berada di depan rumah-Nya. Pertahankan kerinduan, masuki istanan-nya, rumah-Nya… seperti Rano.



Dalam kegagapan saya, saya hanya dapat bercerita tentang terjadinya Pertemuan Agung. Apa yang terjadi dalam pertemuan itu, tak dapat saya ceritakan. Saya dengar banyak sekali binatang buas yang dijumpai Rano dalam tahap akhir perjalanannya menuju istana. Ada hewan berkepala lima, panca indera….. Ada nafsu, ada amarah, ada keserakahan, ada keterikatan, ada pula keangkuhan. Ada pula yang bercerita bahwa sesungguhnya Rano tak pernah berjalan menuju istana. Setidaknya tahap akhir perjalanan itu tak pernah terjadi, karena istana itu lenyap sebelum terjadinya Pertemuan Agung.



Entah, kisah mana yang benar? Rano berjalan menuju istana, atau tidak, entah! Yang pasti, Pertemuan Agung itu terjadi. Tapi, dari mana saya tahu? Bagaimana saya ketahui bahwa Pertemuan Agung itu sungguh terjadi? Saya tahu tentang pertemuan itu setelah bertemu Rano. Ya, setelah bertemu dengan dia dalam perjalanan pulang.



Ada yang sudah puas mendengar Kesaksian seorang Saksi. Ada yang belum dan ingin menyaksikan sendiri. Kelompok pertama yang puas mendengar kesaksian adalah para agamawan. Kelompok kedua yang ingin menyaksikan sendiri adalah para rohaniwan.



Namun, munculnya keinginan untuk menyaksikan pun terpicu oleh kesaksian-kesaksian yang pernah kita baca, kita dengar sebelumnya. Karena itu, agama harus dilewati, dilakoni – tidak dilepaskan. Seperti halnya kita tak pernah melepaskan jalan, kita hanya mengakhiri perjalanan bila sudah mencapai tujuan. Ya, kita tak pernah melepaskan jalan, karena jalan itu masih ada, tetap ada. Dan, jalan itu menghubungkan tujuan kita dengan segala yang ada di luar.



Bila sudah sampai di tujuan, tak ada sesuatu pun yang perlu kita lepaskan. Berada di sana kita begitu sibuk merayakan hidup, sehingga tidak punya waktu lagi untuk memikirkan apa yang perlu dilepaskan, apa yang tidak. Dalam perayaan, segala-galanya terlepaskan dengan sendiri, kau tak perlu melepaskan sesuatu pun. Yang tersisa hanyalah perayaan, hanyalah Pertemuan Agung dengan Sang Khalik.



Keraguannya terhadap keberhasilan cinta itu menjadi penghalang. Sesungguhnya pertemuan dengan seorang saksi saja sudah cukup untuk turut menyaksikan, karena seorang saksi senantiasa tengah menyaksikan. Namun, kita harus bertemu, tak cukup membaca tentang dirinya lewat kisah-kisah yang sudah tertulis.



Inilah pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh seorang Master, seorang Sadguru, Guru Sejati, Bagaimana? Sekian banyak orang yang datang dan bertanya. Apa itu meditasi? Sang Guru membisu, ia tidak mau jawab. Seorang murid bertanya. Kenapa Guru, kenapa kau membisu? Apa salahnya menjelaskan apa itu meditasi?

Sang Bhagavan menjawab, Apa gunanya menjelaskan apa itu cahaya, kepada orang-orang buta? Menjelaskan cahaya kepada orang buta justru dapat menyesatkan mereka. Sekadar penjelasan, sekadar pengetahuan sering kali membuat kau merasa tahu, sudah melihat, padahal bagaimana seorang buta dapat melihat?

Kebutaan itu harus diobati dulu. Kemudian, penjelasan tentang cahaya tidak penting lagi, tidak dibutuhkan lagi. Kita dapat melihat sendiri.

Saat ini, kita terbebani oleh penjelasan, oleh pengetahuan. Dan, kita berpikir bahwa sekadar pengetahuan sudah cukup. Padahal, bagi seorang buta, pengetahuan tentang cahaya sungguh tidak cukup, bahkan tidak berguna. Pengetahuan tentang meditasi pun tidak berguna, apalagi pengetahuan tentang cinta – tidak bermakna. Sang Buta harus diobati, kemudian meditasi akan terjadi sendiri, cinta akan bersemi sendiri.

Kemudian, masih bersama Sang Guru, siswa tadi melihat ada seorang yang datang. Dia adalah seorang pencari, seorang talib, bukan talib-taliban, tetapi Talib Sejati, Talib yang tidak menodai makna Talib. Aku sulit bermeditasi, teach me how to meditate. Ajarkan padaku, bagaimana bermeditasi…

dan, Sang Guru pun melirik ke siswanya, Ia siap… Kemudian ia memanggil orang itu, Datanglah dekat aku… Maka, terjadilah meditasi Dekati aku… dan terjadilah meditasi.



Lain bahasa Siddharta, lain pula bahasa Isa. Siddharta berkata, Dekati aku. Isa berkata, Ikuti aku. Kata Mustafa, Aku rasul. Kata Mansur, Aku kebenaran. Krishna berseru, sesungguhnya Aku dan kamu sama, Aku tahum kau tidak tahu.



Tunggu sebentar Rano. Beri aku waktu untuk mempersiapkan diri. Lagi pula aku harus membawa sedikit bekal untuk perjalanan.

Tunggu sebentar, tunggu sebentar, kemudian sebentar berubah menjadi dua bentar, tiga bentar, dan seterusnya. Kita sering mendengar, Aku memang senang sekali dengan hal-hal spiritual, dengan segala yang berbau rohani… tapi tunggu sebentar; biarlah aku selesaikan dulu tanggunganku. Dan, tanggungan itu tak pernah selesai. Karena yang menanggung adalah diri kita sendiri. Yang harus diselesaikan bukan tanggungan, melainkan diri sendiri.

Bila sudah mau bertemu Mumal, persiapan apalagi yang kita butuhkan? Bila kita ingin mengakhiri perjalanan, bekal apa pula yang kita bicarakan?

Aku ingin menyucikan dulu diriku sebelum bertemu dengan-Nya, katanya. Aku ingin mensucikan diucapkan seolah kita bisa menyucikan! Bila aku bisa menyucikan, bahkan, bila aku tahu apa itu kesucian, kenapa harus menodai diri?

Saat kau mengambil air untuk menyucikan diri, kata Guruku dulu, sadarlah bahwa Yang Maha Menyucikan hanyalah Dia, Dia, Dia… Atas nama Dia, demi kasihnya, basuhilah dirimu dan biarlah Dia yang menyucikan dirimu. Maha Besar Allah, Maha Suci Rabb, sesungguhnya tanpa air dan pasir pun Ia dapat menyucikan diri kita, membersihkan diri kita. Air yang kita ambil sekadar untuk mengingatkan noda-noda yang menempel pada jiwa kita, akan ketakberdayaan kita untuk menyucikan dirimu. Karena itu, berdoalah selalu, Ya Allah, Ya Rabb, atas Nama-Mu Yang Maha Suci, sucikan diriku. Sesungguhnya, niat kita untuk menyucikan diri itu pun muncul berkat Kesucian-Nya, semata-mata atas Kehendak-Nya.



Wuzu dalam bahasa Urdu atau wudhu sebagaimana kita menulisnya di Indonesia hanyalah sarana, jelas bukan tujuan. Ibadah pun adalah sarana, bukan tujuan. Yang sedang kita tuju adalah Dia, Dia.. Dan, sarana-sarana itu penting bagi kita, karena kita belum sampai di tujuan. Pernahkah terpikir, sarana apa lagi yang kita butuhkan bila kita sudah sampai di tujuan?

Bila kita memahami Saksi. Kesaksian, dan Yang Disaksikan sebagai Tri-Tunggal – tiga tapi satu, satu tapi tampak tiga – kita sudah sampai! Bila belum, kita belum sampai..

Sesungguhnya Hamir Sumro sudah sampai, hanya saja tidak sadar bahwa dirinya sudah sampai. Sesungguhnya kita pun sudah sampai, hanya saja tidak sadar – persis seperti Hamir Sumro. Kelahiran kita sebagai manusia membuktikan pencapaian kita. Ketaksadaran kita disebabkan oleh kegagalan kita mempertahankan kemanusiaan diri. Kembali pada khitah asal kita, kembali pada takdir kita, maka terselamatlah jiwa kita saat itu juga.



Kadang kita masih tidak meyakini ketulusan hati pemandu kita. Kadang kita malah menyangsikan ketulusannya. Namun, bagi seorang pemandu, kesiapan diri kita untuk dipandu sudah cukup. Ia menawarkan jasanya tanpa syarat, tanpa keharusan untuk mempercayai ketulusannya.

Seorang pemandu, seorang Guru Sejati menerima kesiapan diri kita, walau persiapan kita masih belum matang, masih mentah dan jauh dari sempurna.

Sesungguhnya Guru adalah Govind, Govind adalah Guru seperti dinyatakan oleh Kabir. Guru itulah yang sedang kita cari. Ia yang sedang kita cari telah datang dalam wujud Guru kita!

Ia yang telah menyaksikan-Nya, menjadi bukti nyata akan kesaksiannya. Berhentilah mencari bukti-bukti lain. Apalagi bila kita mencari bukti-bukti itu dari mereka yang belum pernah menyaksikan-Nya. Untuk apa mencari bukti di luar diri. Keberadaan kita sudah merupakan bukti akan Kehadiran-Nya!



Rano tak akan menunggu lama untuk kita. Ia sedang dalam perjalanan pulang, dan ia mengajak kita pulang bersamanya. Terimalah undangannya, pulanglah bersama dia. Entah kapan lagi kita bertemu dengan seorang Rano. Entah kapan lagi kita menerima undangan serupa.

Seorang Rano tak akan lama bersama kita. Tak bisa, karena dunia kita menggerahkan jiwanya. Kita tak mampu menghadirkan Mumal dalam dunia ini, karena secara kolektif kita masih berpikir bahwa dunia ini adalah dunia kita dan Mumal berada di luar dunia. Secara kolektif kita masih mencarinya di luar sana. Kesadaran kolektif kita membuat gerah para Rano. Mereka tak mampu bertahan lama di sini, karena kesadaran kita juga yang tidak menunjang kehadiran mereka.



Kita sering lupa bahwa Yang Maha Mencipta juga Maha Memelihara. Lupa bahwa Yang Maha Memelihara juga Maha Mendaurulang. Kita lupa bahwa tak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa Kehendak-Nya.

Bila Sumro siap, sudah pasti ada yang diutus untuk memandunya. Bila suatu bangsa siap, datanglah pemandu. Sungguh malang bangsa yang tidak dikirimi utusan atau pemandu lagi.

Sungguh malang umat yang dibiarkan berjalan sendiri tanpa panduan, atau barangkali setiap bangsa, setiap umat, tidak hanya pernah, namun selalu dikirimi utusan. Lain perkara bila justru ada yang menolak, tidak menerima kiriman-Nya.



Mumal belum mengutus Rano. Rano memaksakan kehendaknya, maka ia harus berpisah dari Mumal. Kadang, dalam ketidaksadaran kita membenarkan perpisahan itu. Kita pikir diri kita sudah siap berjalan sendiri..

Berjalan sendiri? Setelah bertemu dengan Mumal, masih adakah sesuatu di dalam diri kita yang dapat berjalan sendiri? Masih adakah sesuatu yang terpisah dari Mumal? Masih adakah diri kita? Masih adakah aku, kau?

Bila aku masih ada, sesungguhnya pertemuan dengan Mumal sudah berakhir. Kita mengakhirinya sendiri dengan memunculkan diri kita.



Hidup bebas dalam dunia tidak menjamin kebebasan bagi jiwa. Sesungguhnya, dunia ini sendiri merupakan kurungan bagi jiwa. Jiwa kita jauh luas daripada dunia di mana kita tinggal. Dunia kita sangat sempit, dan menyesakkan jiwa. Bila ingin hidup bebas, kita harus membiarkan jiwa kita mwnciptakan du nia baru, dunia yang luas di mana ia dapat bernapas lega.ini yang sedang dikerjakan oleh para nabi, utusan, mesias, avatar, dan buddha. Mereka sedang menciptakan dunia baru di mana mereka dapat bernapas lega. Ya, di mana mereka dapat bernapas lega. Dan bila kita hidup sezaman dengan mereka, kelegaan itu akan kita rasakan.

Hidup sezaman tidak harus diartikan dalam satu masa yang sama.. bila hidup sezaman dengan mereka yang tidak hidup dalam satu masa yang sama? Sulit bagimu, bukalah mata hatimu. Di sekitarmu pasti ada seorang Rano.. pasti. Berusahalah untuk hidup bersamanya, dan yang harus merasakan kebersamaan bukan saja ragamu, tapi jiwamu.



Pertemuan agung adalah Hak dan Takdir kita semua. Tak ada kekuatan di dunia maupun di luar dunia yang dapat menghalangi Pertemuan itu, karena Kekuatan Tunggal sendiri menghendaki pertemuan itu. Maka siapa yang dapat menghalanginya? Ya, kita dapat menundanya.

Dan, selama ini kita telah menunda pertemuan itu. Kita, pikiran kita, kemalasan kita telah menunda pertemuan yang seharusnya sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam ketaksadaran kita, ingatan tentang pertemuan yang pernah terjadi kita anggap cukup. Kadang bacaan tentang pengalaman seorang Rano dari masa silam sudah memuaskan kita.

Kita malas, kita takut, kita ragu… kita tidak berani melangkah menuju Kak. Kita tidak berani menafikan diri secara total, tidak menyisakan apa-apa. Karena apa-apa yang kita rasa kita miliki saat ini kita anggap sangat berarti, sangat bermakna.



Sesungguhnya Rano membohongi mereka. Tidak ada jalur alternatif, tidak ada jalan singkat. Sesungguhnya tak ada jalan, yang dibutuhkan hanyalah kesadaran akan keberadaan Kaka, dan kita akan berada di Kak dalam sekejap itu pula. Rano membohongi mereka, supaya mereka melepaskan peta dan bersedia melangkah, untuk meniti jalan ke dalam diri. Peta memang baik untuk dipelajari, tapi mempelajari peta saja tak dapat mengantar kita ke tujuan.



Di awal perjalanan, kita harus membedakan Kak dari pantai seberang ini di mana kita tinggal. Dunia adalah dunia, dan akhirat adalah akhirat. Dunia untuk sesaat, akhirat untuk selamanya. Tapi, apa iya, apa betul akhirat untuk selamanya? Bila memang demikian, bagaimana Rano bisa kembali dari akhirat dan berbicara tentang akhirat? Bagaimana ia dapat menyampaikan berita tentang akhirat?



Ia yang sedang berupaya untuk mendamaikan dunia sesungguhnya terjebak dalam permainan ego-nya sendiri. Damaikah diri kita sehingga kita ingin mendamaikan dunia? Damaikah diri kita sehingga kita dapat mendamaikan dunia? Dalam kedamaian diri kita, dunia menjadi damai. Bila kita mengaku sudah damai dan masih melihat ketakdamaian dalam dunia, sesungguhnya kita sendiri belum damai. Ketakdamaian dunia hanya terlihat bila diri kita belum damai.

Saat diri kita menjadi damai, saat kita berdamai dengan diri sendiri, niat untuk mendamaikan dunia pun sirna. Karena, saat itu kita tak mampu melihat ketakdamaian lagi. Yang terlihat hanyalah kedamaian, kedamaian, kedamaian.

Untuk mendamaikan dunia, terlebih dahulu kita harus damai dulu. Pada saat itu, kita akan mendengar bisikan Mumal, Lakoni hidupmu untuk menghiburku.melakoni hidup demi Mumal, untuk menghibur-Nya, dapat disimpulkan sebagai hidup penuh arti atau hidup sia-sia – peduli amat! Kita bisa dianggap Duta Damai atau Pembawa Kekacauan – untuk apa dipikirkan?



Kita boleh membantu, boleh melayani, tetapi janganlah membiarkan emosi kita terlibat. Keterlibatan kita secara emosional menjatuhkan derajat kita… kemudian kita tak dapat lagi mengangkat diri yang jatuh. Untuk mengangakat mereka yang jatuh, mereka yang berada di bawah, kita harus berada di atas. Untuk membantu mereka yang tidak sadar, kita harus dalam keadaan sadar. Untuk membantu mereka yang hanya dalam duka, kita harus berada di atas perahu suka. Untuk membantu, yang kita butuhkan bukanlah rasa kasihan, tapi kasih.



Logat mereka berbeda; bahasa mereka beda; penampilan para utusan pun berbeda-beda. Beda pula cara merayu Rano. Kadang, ia diberi nasehat; kadang diberi peringatan; kadang dirayu; kadang ditegur; kadang dimarahi; kadang disayang. Setiap cara melahirkan satu paham, satu agama… Itulah kisah di balik kelahiran agama-agama dunia.



Dunia kita ada karena Dia ada. Semesta ada karena Allah ada. Kak ada karena Mumal ada. Renungkan: Kata Dunia dapat kita ganti dengan Alam Semesta atau pun Kak. Kata Dia dapat kita ganti dengan Allah atau Mumal. Tapi kata ada tak dapat kita ganti. Bila kata ada kita ganti, kalimat kita akan kehilangan arti. Ketahuilah ada itulah Yang Maha. Allah Ada. Bapa di Surga Ada. Sang Hyang Widi Ada.Tao Ada. Buddha Ada… Ini Ada. Itu Ada. Sebutan bagi Yang Ada dapat berubah, tapi Yang Ada tak pernah berubah.



Persis ini yang terjadi setiap kali Ia mendatangi kita dengan busana yang berbeda, padahal busana hanyalah bagian kecil dari Kebenaran Diri-Nya. Kita terjebak dalam perbedaan yang disebabkan oleh busana, busana pakaian, busana badan, busana bahasa, busana budaya, busana adat-istiadat. Ironisnya, dalam keterjebakan itu kita masih bersikukuh bahwa hanyalah diri kita yang benar, hanyalah diri kita yang mengenal Kebenaran Yang satu Itu!



Menerima Semesta sebagai wujud Allah tidak berarti menolak Yang Tak Terwujud. Menerima Semesta berarti menerima semua – menerima Wujud dan Yang Tak Terwujud. Rano menerima seekor unta milik Mumal, tetapi menolak Mumal. Menerima Onta tidak salah; menolak Mumal adalah kesalahan. Seorang pecinta menerima Kekasihnya sebagai satu keutuhan, karena Sang Kekasih memang Utuh Ada-Nya. Ia Tak Terbagikan.



Pertanyaan kesalahan apa masih berasal dari ego manusia. Penjelasan apa pun tak membantu. Saat bertanya bagaimana memperbaiki kesalahan, kita sudah menyadari kesalahan diri. Kemudian jawaban yang kita peroleh baru membantu.



Kesiapan diri Rano, kesadarannya mengundang bantuan. Dan, bantuan bisa berupa apa saja.. Berupa sosok seorang Murshid, berupa kicauan burung, berupa suara alam. Wujud bantuan memang beda, bisa berbeda, namun apa yang terjadi lewat bantuan selalu sama…



Untuk kesekian kalinya biar saya ulangi lagi. Jumlah orang yang mengikuti kita tidak membuktikan pencapaian kita.kuantitas tidak membuktikan kebenaran kita.



Agama-agama kita pun masih sibuk mempersoalkan Wujud dan Tanpa Wujud. Angin berwujud atau tidak? Tapi angin berada di dalam wujudmu, berarti Yang Tak Berwujud pun dapat berada di dalam wujud.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar