Kamis, 03 September 2009

Tekad mendatangkan Dewi Gangga ke bumi

Tekad mendatangkan Dewi Gangga ke bumi

Bhagiratha merenung dalam-dalam, “Sejatinya manusia itu tergantung dari air, setiap hari minum air. Makanan pun mengandung air. Nasi dan lauk juga dihasilkan dari tanaman dan hewan yang hanya dapat hidup bila ada air. Membersihkan tubuh juga memakai air. Bahkan manusia juga berasal dari air ayah. Setelah berada dalam perut ibu berkembang menjadi janin yang hidup menyelam dalam air ketuban. Terima kasih Gusti yang mencukupi air bagi kehidupan makhluk hidup. Sudah beberapa generasi leluhurku ingin mendatangkan Dewi Gangga ke Bumi. Semoga kali ini, berkat rahmat Gusti, kami berhasil.”

Berdasar ilmu pengetahuan, sel telur ibu mempunyai kandungan air 96%. Saat lahir bayi mengandung air 80%. Ketika menginjak dewasa kandungan air menjadi sekitar 70%. Dr. Masaru Emoto membuktikan bahwa air dapat merespon informasi yang diberikan kepadanya. Air yang diberikan nyanyian indah, ucapan penuh kasih, ataupun doa dari segala bahasa akan membentuk sebuah kristal hexagonal yang indah. Bila air memberikan respon terhadap vibrasi intens terhadapnya, maka sudah semestinya manusia yang mempunyai kandungan 70 % air akan dipengaruhi oleh informasi terhadapnya. Apalagi bagian otak dan jantung yang mengandung sekitar 90% air. Informasi yang baik terhadap manusia akan membuat manusia menjadi baik. Beberapa acara ritual keagamaan yang memakai sarana air mempunyai dasar ilmiah yang kuat.

Bhagirata merenung, “Ada tiga sifat alam yaitu satvik-tenang, rajas-agresif dan tamas-malas atau lembam. Bumi bersifat paling tamas, api dan angin bersifat rajas dan air berada diantaranya. Ruang bersifat satvik. Semua makhluk memiliki kombinasi campuran dari lima unsur alami. Ada yang banyak apinya gampang marah, ada yang tenang dan ada yang malas. Sifat diriku pun dipengaruhi campuran unsur-unsur alami......”

Sejatinya semua zat dan makhluk adalah energi, dengan adanya sifat alami maka kerapatan energi berlainan. Paling rapat adalah bumi atau padat diikuti air, api, angin dan ruang. Hal tersebut dibuktikan Einstein yang mengetengahkan rumus E = M.C2. Energi adalah materi dalam fungsi kecepatan. Berbeda kecepatan berbeda pula wujudnya.

Bhagiratha bertekad mendatangkan Dewi Gangga ke bumi. Dan ingatannya melayang ke beberapa waktu sebelumnya. Almarhum ayahnya menceritakan tentang kakeknya yang bernama Amsuman.

Amsuman cucu Sagara

Raja Bahuka mati dan salah seorang istrinya akan masuk ruang pembakaran mayat. Sang istri dihentikan para resi karena ia sedang hamil. Isteri yang lain iri karena hanya dia yang hamil. Mereka mencampur racun dalam makanan istri Bahuka yang sedang hamil tersebut. Harapan mereka gagal, sang anak tetap lahir dan menjadi putra mahkota. Dia dinamakan Sagara, yang beracun.

Sagara akhirnya menjadi maharaja dan melakukan ritual Asvamedha, ritual menggunakan kuda diikuti pasukan lengkap. Para raja yang tidak berani mengganggu kuda tersebut berarti menyatakan tunduk kepada maharaja. Alkisah kuda yang dipakai sebagai ritual tersebut dicuri Indra dan diletakkan dalam gua tempat Resi Kapila bertapa. Para putra Sagara yang berjumlah 60.000 orang mencari jejak kuda dan sampai ke gua Resi Kapila. Para putra raja begitu angkuh dan berniat membunuh Resi Kapila. Mereka berkata, “Lihat pencuri kuda ini, berpura-pura bertapa setelah mencuri kuda, mari kita bunuh beramai-ramai!” Dalam keadaan marah karena ada yang mengganggu acara Asvamedha, mereka tidak dapat melihat seorang Resi Suci yang mungkin tidak tahu permasalahannya.

Resi Kapila membuka mata dan sorotan mata sang resi membuat 60.000 putra Sagara menjadi debu.

Dari salah satu istri, Sagara mempunyai putra yaitu ayahanda dari Amsuman. Setelah ayahandanya meninggal dunia, Amsuman menjadi andalan Raja Sagara, sang kakek. Amsuman mencari informasi tentang nasib ke 60.000 pamannya. Akhirnya Ansuman bertemu Resi Kapila beserta kuda dan tumpukan debu yang menggunung di dekatnya.

Ansuman yang tenang dapat melihat bahwa Resi di depannya adalah Resi Kapila yang sangat bijak yang telah terkenal di seluruh negri. “Bapa Resi, kami hanya dapat melihat hal-hal yang bersifat duniawi, obyek-obyek indera. Bapa Resi adalah Gusti yang mewujud untuk membimbing manusia. Tolonglah kami!” Amsuman menangis dan jatuh di kaki Resi Kapila. Resi Kapila berkata pelan, “Wahai anak muda, ambillah kuda kakekmu. Indra telah meninggalkan kuda tersebut ketika aku larut dalam meditasi yoganidra. Para pamanmu mati karena terbakar oleh keangkuhan. Satu-satunya sarana yang dapat mensucikan mereka kembali adalah air sungai Gangga.”

Kapila Vasudewa

Kapila Vasudewa adalah seorang resi yang mengajarkan tentang keilahian. Pikiran adalah penyebab perbudakan sekaligus penyebab kebebasan. Manakala pikiran dihubungkan dengan ketiga sifat alami, aku berpikir dan aku ada, maka pikiran menjauh dari dalam diri dan tertarik menuju obyek inderawi. Pikiran mencari kepuasan di luar, dan di luar diri itu tak ada batasnya.

Manakala pikiran berbalik ke arah dalam. Ke pusat, Purusa, Tuhan, maka pikiran bisa bebas terhadap indera. Berpikir ke dalam diri adalah langkah pertama ke arah tujuan. Tujuan yang jelas, memusat, terfokus ke Kendra, pusat. Tujuannya satu sehingga bisa terfokus. Diri, Aku, Purusa berada di luar ketiga sifat alami.

Manakala rasa ‘aku dan milikku’ lenyap, maka pikiran bebas dari nafsu, marah dan sifat lainnya. Kesenangan dan penderitaan dunia tidak mempengaruhinya. Diri menjadi bebas dari keterikatan. Bhakti adalah cara paling tepat dan paling mudah mencapai Tuhan.

Keterikatan itu seperti pohon hijau yang kekal dalam diri manusia, sulit membinasakannya. Oleh karena itu, obyek keterikatan tersebut harus diganti. Obyek keterikatan duniawi harus diganti dengan obyek Ilahi. Kejadian tersebut harus dilaksanakan secara berangsur-angsur. Maka paling baik adalah bergaul dengan para suci, para sadhu. Masuk sangha para suci.

Kriteria para suci, para sadhu antara lain bahwa penderitaan, penyakit dan sakit fisik tidak dapat mempengaruhi mereka. Mereka penuh rasa kasih terhadap sesama. Mereka tidak punya musuh dan mereka damai dengan dirinya sediri. Pikiran mereka tenang dan bersih. Tidak pernah berbelok dari jalan kejahatan. Mereka hanya tertarik cerita tentang Aku dan senang berbagi kisah tentang Aku. Mereka bebas dari keterikatan dan disebut sadhu.

Para bhakta tersebut tidak akan binasa. Waktu adalah senjata yang paling hebat, namun tidak mempan terhadap mereka. Diri hanya tertuju pada-Ku dan Aku sayang kepadanya. Bhakta tidak pernah takut karena alam semesta ini berada dalam kekuasaan-Ku.

Demikian Resi Shuka menjelaskan ajaran Kapila Vasudewa kepada Raja Parikesit.

Bhagiratha

Raja Parikesit larut dalam Kisah Resi Shuka, dan menyimak kisah selanjutnya......

Mendengar laporan Amsuman tentang ke 60.000 putranya, Raja Sagara merasa tak bahagia dan tak lama kemudian menobatkan Amsuman sebagai raja dan pergi bertapa. Amsuman, kakek Bhagiratha berusaha mendatangkan Dewi Gangga ke bumi, tetapi sampai maut datang menjemput, keinginannya belum tercapai. Dilipa, putra Amsuman, ayahanda Bhagirata juga tidak berhasil membawa Dewi Gangga ke bumi sampai akhir hayatnya.

Bhagiratha meninggalkan kerajaannya kepada para menterinya dan bertekad untuk membawa Dewi Gangga ke bumi.

Pada suatu saat, Bhagiratha mendapat penglihatan tentang Dewi Gangga, “Dewi engkau lahir di kaki Narayana. Ketika Vamana menapakkan kaki tiga langkah sewaktu peristiwa dengan Raja Bali, kakinya dibersihkan tujuh resi dan Brahma menggunakan diri-Mu. Berkahi kami dan rumah kami dengan diri-Mu.”
Seakan Bhagiratha mendapat jawaban, “Diriku menghormati upaya leluhurmu dalam beberapa generasi untuk membawaku ke bumi. Akan tetapi kamu tidak mengetahui kecepatan yang terjadi kala diriku turun ke bumi. Siapa yang kuat menahanku? Mengapa pula aku harus turun ke bumi? Orang yang berdosa kala mandi di airku akan bersih, dan dosa mereka tertinggal dalam diriku. Bagaimana aku dibersihkan dari kotoran?”

Bhagiratha menjawab, “Duhai Dewi, para resi suci, para penglihat agung, mereka telah melampaui perbudakan karma. Mereka tidak punya pikiran selain Tuhan. Manakala mereka berendam di airmu mereka akan membersihkanmu. Masalah kekuatanmu ketika turun ke bumi, kami akan minta bantuan Mahadewa.”

Dewi Gangga jujur, air bersifat mensucikan, tetapi setelah banyak orang kotor yang mandi, dirinya hanya memberikan vibrasi sesuai apa yang ada dalam dirinya. Kesucian para suci itulah yang mengembalikan kesucian air. Hal tersebut tidak bertentangan dengan pemahaman air dari Dr. Masaru Emoto. Oleh karena itu manusia perlu waspada dalam melakukan ziarah atau tirtayatra. Banyak orang yang setelah ziarah di tempat tertentu malah menjadi pedagang, karena aura dagang meliputi tempat ziarah atau tirtayatra tersebut. Para sucilah yang memberikan vibrasi kesucian, berada dekat para suci meningkatkan kesucian diri.

Kita semua pasti pernah merasakan sebuah fenomena. Bahkan sering sekali kita mengalaminya. Kadang kadang, kita bertemu dengan seseorang dan sepertinya kita diguyuri, disirami dengan air kehidupan. Bertemu dengan dia dan memandang wajahnya sudah cukup. Kita merasa begitu segar, padahal tidak terjadi dialog apa pun saling bersentuhan pun tidak. Sebaliknya pertemuan dengan orang lain bisa membuat kita merasa begitu gelisah. Tiba tiba kita menjadi lemas. Apa sebabnya? Yang memiliki kehidupan akan membagikan kehidupan. Yang memiliki kegelisahan akan membagikan kegelisahan. * 2 Sehat seimbang cara Sufi

Bhagiratha melakukan tapa untuk memperoleh bantuan Shiva, Sang Mahadewa.

Akhirnya, Dewi Gangga dengan sedikit kesombongan turun ke bumi dan airnya hilang di rambut Sang Mahadewa. Gangga tidak bisa lepas dari rambut Sang Mahadewa. Setelah itu Gangga diturunkan dengan menetes agar tidak angkuh lagi. Gangga membagi dalam tujuh aliran dan salah satu aliran mengikuti kereta Bhagirata yang diarahkan menuju gua tempat para pamannya menjadi debu. Tumpukan debu tersebut termurnikan.

Perjuangan memerlukan waktu yang panjang. Hingga beberapa generasi. Tidak harus semuanya tercapai dalam kehidupan ini. Bekerja fokus, serius dan tanpa pamrih, tanpa terikat hasil. Hasil bisa saja datang setelah beberapa generasi.

Meniti ke dalam diri

Kesadaran yang terfokus keluar mempunyai arah 360 derajat dan begitu menyebar, batas di luar juga tak berhingga. Sehingga manusia tak pernah puas dengan mencari di luar, apalagi macam jenis kesenangan di luar juga bervariasi seluas 360 derajat. Lain dengan kesadaran yang terfokus ke dalam diri, ke pusat diri yang hanya satu.

Segala sesuatu yang selama ini kita anggap "kepunyaan" kita akan meninggalkan kita. Yang tersisa, hanyalah "aku" diri kita sendiri. Lantas apa gunanya menangisi kehilangan itu? Apa yang hilang? Yang hilang itu toh bukan milikmu? Bagaimanapun juga, pada suatu ketika akan meninggalkanmu, lantas apa yang harus ditangisi? Carilah sesuatu yang kekal, yang abadi, yang dapat meningkatkan kualitas hidupmu. Yang dapat meningkatkan kesadaran dalam dirimu. Jangan menyia nyiakan waktumu, mengejar sesuatu yang sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. * 2 Sehat seimbang cara Sufi

Pedoman dalam kitab diibaratkan sebagai peta, route jalan. Menjalani route jalan seperti yang ada dalam peta dimungkinkan, akan tetapi bagaimana kalau mencari sebuah lokasi di Kota Jakarta pada saat ini dengan peta tahun 1950? Hal tersebut akan memerlukan perjuangan yang berat. Kebanyakan manusia hanya pamer route jalan mana yang lebih unggul, dan bahkan berkelahi karenanya. Mereka belum menjalani route jalan tersebut. Sebetulnya tujuan akhirnya satu juga.

Untuk memudahkan perjalanan, lebih baik mengikuti seorang pemandu yang sudah tahu seluk beluk lokasi tujuan akhir. Syaratnya seseorang harus percaya kepada sang pemandu tersebut. Berikut ini adalah kriteria seorang pemandu dalam buku * 2 Sehat seimbang cara Sufi

Ciri khas seorang master, adalah:
1. la tidak akan menjawab pertanyaan seorang murid, apabila muridnya belum siap. Persis sama seperti yang dikatakan oleh Siddhartha Gotama, Sang Buddha "Apabila ada yang bertanya, Meditasi itu apa? Jangan dijawab." Yang bertanya 'meditasi itu apa, tujuannya apa' adalah orang yang berjiwa dagang. la sedang melakukan transaksi jual-beli. la tidak akan pernah bisa menyelami alam meditasi. Menjelaskan cahaya itu apa kepada seorang buta tidak akan membantu. Kita justru mencelakakan dia. Penjelasan kita akan membangkitkan "ego" dalam dia. la akan beranggapan bahwa ia sudah tahu “cahaya" itu apa. Bahkan ia akan menyebarkan penjelasan tentang cahaya itu kepada para buta yang lain.
"Apabila ada yang bertanya, Meditasi itu bagaimana?', maka jangan menunda jawabanmu. Jelaskan caranya." Demikian pesan Sang Buddha kepada Anand, salah seorang murid Beliau. Apabila seorang buta menyadari kebutaannya, dan minta agar disembuhkan segeralah layani dia.

2. Kesiapan seorang calon murid pun akan diujinya lewat proses yang panjang dan melelahkan. Kesabarannya, ketekunannya semuanya akan diuji terlebih dahulu Masa tunggu ini bisa seminggu, dua minggu setahun, dua tahun bahkan belasan tahun. Banyak yang drop out, karena mereka tidak sabar menanti. Banyak yang bahkan kehilangan gairah mereka untuk menekuni bidang spiritual. Satu per satu, mereka "gugur". Memang demikian kehendak seorang Master. la tidak akan membagikan mutiara "kepada babi" sebagaimana pernah dikatakan oleh Nabi Isa.

3. Untuk menghindari kerumunan massa yang hanya sekadar "ingin tahu", tidak jarang para master sejati akan melakukan hal hal yang aneh, yang membingungkan. Mereka yang datang untuk tujuan tujuan tettentu selain untuk pencerahan dan kesadaran akan tersaring dengan sendirinya.

4. Sering sekali penampilan luar mereka akan memberikan kesan lain. Saya sering mengatakan bahwa mungkin Anda akan menemukan seorang master di McDonald, sedang menikmati french fries. * 2 Sehat seimbang cara Sufi

Terima Kasih Guru yang telah menjelaskan tentang pemandu. Jenuh sudah diri ini berkali-kali tersesat di belantara kota. Diri ini sadar sesungguhnya belum tahu apa-apa, hanya keyakinan pada pemandu yang mendorong diri melangkah maju.

Mohon blessing. Jay Gurudev!

Rabu, 02 September 2009

Tarekat dan Jalan Mistik Syekh Siti Jenar

Tarekat dan Jalan Mistik Syekh Siti Jenar

LIMA PULUH DUA
“Adapun asalnya kehidupan itu, berdasar kitab Ma’rifat al’iman, seperti dijelaskan di bawah ini, terbebani 16 macam titipan;
Yang dari Muhammad : roh, napas.
Yang dari Malaikat : budi, iman.
Yang dari Tuhan : pendengaran, penciuman, pengucapan, penglihatan.
Yang dari Ibu : kulit, daging, darah, bulu.
Yang dari Bapak : tulang, sungsum, otot, otak.

Inilah maksud dari lafal “kulusyaun halikun ilawajahi”, maksudnya semua itu akan rusak kecuali dzat Allah yang tidak rusak. .

Kitab Ma’rifat al-Iman adalah karya dari Maulana Ibrahim al-Ghazi, al-Samarqandi, yang menjadi salah satu sumber bacaan Syekh Siti Jenar.

Kalimat “kulusyaun halikun ilawajahi” lebih tepatnya berbunyi “kullu syai-in halikun illa wajhahu” (Segala sesuatu itu pasti hancur musnah, kecuali wajah-Nya (penampakan wajah Allah)) [QS : Al-Qashashash / 28:88]. Dari kalimat inilah Syekh Siti Jenar mengungkapkan pendapatnya, bahwa badan wadag akan hancur mengikuti asalnya, tanah. Sedangkan Ingsun Sejati (Jiwa) mengikuti “illa wajhahu”, (kecuali wajah-Nya). Ini juga menjadi salah satu inti dan kunci dalam memahami teori kemanunggalan Syekh Siti Jenar. Maka kata wajhahu di sini diberikan makna Dzatullah.

Bagi Syekh Siti Jenar, antara Nur Muhammad, Malaikat, dan Tuhan, bukanlah unsur yang saling berdiri sendiri-sendiri sebagaimana umumnya dipahami manusia. Nur Muhammad dan malaikat adalah termasuk dalam Ingsun Sejati. Ini berhubungan erat dengan pernyataan Allah, bahwa segala sesuatu yang diberikan kepada manusia (seperti pendengaran, penglihatan dan sebagainya) akan dimintakan pertanggungjawabannya kepada Allah, maksudnya adalah apakah dengan alat titipan itu, manusia bisa manunggal dengan Allah atau tidak. Sedangkan proses kejadian manusia yang melalui orangtua, adalah sarana pembuatan jasad fisik, yang di alam kematian dunia, roh berada dalam penjara badan wadag tersebut.



LIMA PULUH TIGA
“Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, wahai musafir papa, yang tidak memiliki apa-apa. Sebab, engkau yang tidak memiliki apa-apa maka tidak pernah kehilangan apa-apa.” .

Hakikat Zuhud bukanlah meninggalkan atau mengasingkan diri dari dunia. Zuhud adalah perasaan tidak memiliki apa-apa terhadap makhluk lain, sebab teologi kepemilikan itu hakikatnya tunggal. Manusia baru memiliki segalanya ketika ia telah berhasil Manunggal dengan Gustinya, sebab Gusti adalah Yang Maha Kuasa, otomatis Yang Maha Memiliki. Sehingga dalam menjalani kehidupan di dunia ini, sikap yang realistis adalah perasaan tidak memiliki, karena sebatas itu antara makhluk (manusia) dengan makhluk lain (apa pun yang bisa ‘dimiliki’ manusia) tidak bisa saling memiliki dan dimiliki. Karena semua itu merupakan aspek dari ketunggalan.

Orang yang masih selalu merasa ‘memiliki’ akan makhluk lain, pasti tidak akan berhasil menjadi salik (penempuh jalan spiritual) yang akan sampai ke tujuan sejatinya, yakni Allah Yang Maha Tunggal, karena memang ia belum mampu untuk manunggal. Nah, zuhud dalam pandangan Syekh Siti Jenar adalah menjadi satu maqamat menuju kemanunggalan dan menjadi salah satu poros keihsanan dan keikhlasan.



LIMA PULUH EMPAT
“Jika engkau kagum kepada seseorang yang engkau anggap Wali Allah, janganlah engkau terpancang pada kekaguman akan sosok dan perilaku yang diperbuatnya. Sebab saat seseorang berada pada tahap kewalian maka keberadaan dirinya sebagai manusia telah lenyap, tenggelam ke dalam al-Waly. Kewalian bersifat terus-menerus, hanya saja saat Sang Wali tenggelam dalam al-Waly. Berlangsungnya Cuma beberapa saat. Dan saat tenggelam ke dalam al-Waly itulah sang wali benar-benar menjadi pengejawantahan al-Waly. Lantaran itu, sang wali memiliki kekeramatan yang tidak bisa diukur dengan akal pikiran manusia, di mana karamah itu sendiri pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari kekuasaan al-Waly. Dan lantaran itu pula yang dinamakan karamah adalah sesuatu di luar kehendak sang wali pribadi. Semua itu semata-mata kehendak-Nya mutlak.

Kekasih Allah itu ibarat cahaya. Jika ia berada di kejauhan, kelihatan sekali terangnya. Namun jika cahaya itu di dekatkan ke mata, mata kita akan silau dan tidak bisa melihatnya dengan jelas. Semakin dekat cahaya itu ke mata maka kita akan semakin buta tidak bisa melihatnya. Engkau bisa melihat cahaya kewalian pada diri seseorang yang jauh darimu. Namun, engkau tidak bisa melihat cahaya kewalian yang memancar dari diri orang-orang yang terdekat denganmu.” .

Doktrin kewalian Syekh Siti Jenar sangat berbeda dengan doktrin kewalian orang Islam pada umumnya. Bagi Syekh Siti Jenar, yang menentukan seseorang itu wali atau bukan hanyalah pemilik nama al-Waliy, yaitu Allah. Sehingga seorang wali tidak akan pernah peduli dengan berbagai tetek-bengek pandangan manusia dan makhluk lain terhadapnya. Demikian pula terhadap orang yang memandang kewalian seseorang.

Syekh Siti Jenar menasihatkan agar jangan terkagum-kagum dan menetukan kewalian hanya karena perilaku serta kewajiban yang muncul darinya. Yang harus diingat adalah bahwa para auliya’ Allah adalah pengejawantahan dari Allah al-Waliy. Sehingga apapun yang lahir dari wali tersebut, bukanlah perilaku manusia dalam wadagnya, namun itu adalah perbuatan Allah. Seorang wali dalam pandangan Syekh Siti Jenar tidak lain adalah manusia yang manunggal dengan al-Waliy dan itu berlangsung terus-menerus. Hanya saja perlu diingat, setiap tajalliyat-Nya adalah bagian dari si Wali tersebut, namun tidak semua sisi dan perbuatan si wali adalah perbuatan atau af’al al-Waliy.

Oleh karena itu sampai di sini, kita harus menyikapi dengan kritis terhadap sebagian naskah-naskah Jawa Tengahan yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar pernah mengungkapkan pernyataan, “di sini tidak ada Syekh Siti Jenar, yang ada hanya Allah,” serta ungkapan sebaliknya “di sini tidak ada Allah, yang ada hanya Siti Jenar.” Kisah yang berhubungan dengan pernyataan tersebut, hanya anekdot atau kisah konyol dan bukan kisah yang sebenarnya. Dan itu merupakan bentuk penggambaran ajaran anunggaling Kawula Gusti yang salah kaprah. Pernyataan pertama “di sini tidak ada Syekh Siti Jenar, yang ada hanya Allah,” memang benar adanya. Namun pernyataan kedua, “di sini tidak ada Allah, yang ada hanya Siti Jenar,” tidak bisa dianggap benar, dan jelas keliru.

Teologi Manunggaling Kawula Gusti bukanlah teologi Fir’aun yang menganggap kedirian-insaniyahnya menjadi Tuhan, sekaligus dengan keberadaan manusia sebagai makhluk di dunia ini. Jadi kita harus ekstra hati-hati dalam memilah dan memilih naskah-naskah tersebut., sebab banyak juga pernyataan yang disandarkan kepada Syekh Siti Jenar, namun nyatanya itu bukan berasal dari Syekh Siti Jenar.



Ajaran Syekh Siti Jenar menurut Ki Lonthang Semarang

“Kalau menurut wejangan guru saya, orang sembahyang itu siang malam tiada putusnya ia lakukan. Hai Bonang ketahuilah keluarnya napasku menjadi puji. Maksudnya napasku menjadi shalat. Karena tutur penglihatan dan pendengaran disuruh melepaskan dari angan-angan, jadi kalau kamu shalat masih mengiaskan kelanggengan dalam alam kematian ini, maka sesungguhnyalah kamu ini orang kafir.”

“Jika kamu bijaksana mengatur tindakanmu, tanpa guna orang menyembah Rabbu’l ‘alamien, Tuhan sekalian alam, sebab di dunia ini tidak ada Hyang Agung. Karena orang melekat pada bangkai, meskipun dicat dilapisi emas, akhirnya membusuk juga, hancur lebur bercampur dengan tanah. Bagaimana saya dapat bersolek?”

“Menurut wejangan Syekh Siti Jenar, orang sembahyang tidak memperoleh apa-apa, baik di sana, maupun di sini. Nyatanya kalau ia sakit, ia menjadi bingung. Jika tidur seperti budak, disembarang tempat. Jika ia miskin, mohon agar menjadi kaya tidak dikabulkan. Apalagi bila ia sakaratul maut, matanya membelalak tiada kerohan. Karena ia segan meninggalkan dunia ini. Demikianlah wejangan guru saya yang bijaksana.”

“Umumnya santri dungu, hanya berdzikir dalam keadaan kosong dari kenyataan yang sesungguhnya, membayangkan adanya rupa Zat u’llahu, kemudian ada rupa dan inilah yang ia anggap Hyang Widi.”

“Apakah ini bukan barang sesat? Buktinya kalau ia memohon untuk menjadi orang kaya tidak diluluskan. Sekalipun demikian saya disuruh meluhurkan Dzat’llahu yang rupanya ia lihat waktu ia berdzikir, mengikuti syara’ sebagai syari’at, jika Jum’at ke mesjid berlenggang mengangguk-angguk, memuji Pangeran yang sunyi senyap, bukan yang di sana, bukan yang di sini.”
“Saya disuruh makbudullah, meluhurkan Tuhan itu, serta akan ditipu diangkat menjadi Wali, berkeliling menjual tutur, sambil mencari nasi gurih dengan lauknya ayam betina berbulu putih yang dimasak bumbu rujak pada selamatan meluhurkan Rasulullah. Ia makan sangat lahap, meskipun lagaknya seperti orang yang tidak suka makan. Hal itulah gambaran raja penipu!”
“Bonang, jangan berbuat yang demikian. Ketahuilah dunia ini alam kematian, sedang akhirat alam kehidupan yang langgeng tiada mengenal waktu. Barang siapa senang pada alam kematian ini, ia terjerat goda, terlekat pada surga dan neraka, menemui panas, sedih, haus, dan lapar”. .

“Tiada usah merasa enggan menerima petuahku yang tiga buah jumlahnya. Pertama janganlah hendaknya kamu menjalankan penipuan yang keterlaluan, agar supaya kamu tidak ditertawakan orang di kelak kemudian hari. Yang kedua, jangan kamu merusak barang-barang peninggalan purba, misalnya : lontar naskah sastra yang indah-indah, tulisan dan gambar-gambar pada batu candhi. Demikian pula kayu dan batu yang merupakan peninggalan kebudayaan zaman dulu, jangan kamu hancur-leburkan. Ketahuilah bagi suku Jawa sifat-sifat Hindu-Budha tidak dapat dihapus. Yang ketiga, jika kamu setuju, mesjid ini sebaiknya kamu buang saja musnahkan dengan api. Saya berbelas kasihan kepada keturunanmu, sebab tidak urung mereka menuruti kamu, mabuk do’a, tersesat mabuk-tobat, berangan-angan lam yakunil.”

“…orang menyembah nama yang tiada wujudnya, harus dicegah. Maka dari itu jangan kamu terus-teruskan, sebab itu palsu.” .



Khotbah Perpisahan Sunan Panggung

“Banyak orang yang gemar dengan ksejatian, tapi karena belum pernah berguru maka semua itu dipahami dalam konteks dualitas. Yang satu dianggap wjud lain. Sesungguhnya orang yng melihat sepeti ini akan kecewa. Apalagi yang ditemui akan menjadi hilang. Walaupun dia berkeliling mencari, ia tidak akan menemukan yang dicari. Padahal yang dicari, sesungguhnya telah ditimang dan dipegang, bahkan sampai keberatan membawanya. Dan karena belum tahu kesejatiannya, ciptanya tanpa guru menyepelekan tulisan dan kesejatian Tuhan.”

“Walaupun dituturkan sampai capai, ditunjukkan jalannya, sesungguhnya dia tidak memahaminya karena ia hanya sibuk menghitung dosa besar dan kecil yg diketahuinya. Tentang hal kufur kafir yang ditolaknya itu, bukti bahwa ia adalah orang yang masih mentah pengetahuannya. Walaupun tidak pernah lupa sembahyang, puasanya dapat dibangga-banggakan tanpa sela, tapi ia terjebak menaati yang sudah ditentukan Tuhan.

Sembah puji dan puasa yang ditekuni, membuat orang justru lupa akan sangkan paran (asal dan tujuan). Karena itu, ia lebih konsentrasi melihat dosa besar-kecil yang dikhawatirkan, dan ajaran kufur kafir yang dijauhi justru membuat bingung sikapnya. Tidak ada dulu dinulu. Tidak merasa, tidak menyentuh. Tidak saling mendekati, sehingga buta orang itu. Takdir dianggap tidak akan terjadi, salah-salah menganggap ada dualisme antara Maha Pencipta dan Maha Memelihara.
Jika aku punya pemikiran yang demikian, lebih baik aku mati saja ketika masih bayi. Tidak terhitung tidak berfikir, banyak orang yang merasa menggeluti tata lafal, mengkaji sembahyang dan berletih-letih berpuasa. Semua itu dianggap akan mampu mengantarkan. Padahal salah-salah menjadikan celaka dan bahkan banyak yang menjadi berhala.”

“Pemikiran saya sejak kecil, Islam tidak dengan sembahyang, Islam tidak dengan pakaian, Islam tidak dengan waktu, Islam tidak dengan baju dan Islam tidak dengan bertapa. Dalam pemikiran saya, yang dimaksud Islam tidak karena menolak atau menerima yang halal atau haram.
Adapun yang dimaksud orang Islam itu, mulia wisesa jati, kemuliaan selamat sempurna sampai tempat tinggalnya besok. Seperti bulu selembar atau tepung segelintir, hangus tak tersisa. Kehidupan di dunia seperti itu keberadaannya.”

“Manusia, sebelum tahu makna Alif, akan menjadi berantakan….Alif menjadi panutan sebab uintuk semua huruf, alif adalah yang pertama. Alif itu badan idlafi sebagai anugerah. Dua-duanya bukan Allah. Alif merupakan takdir, sedangkan yang tidak bersatu namanya alif-lapat. Sebelum itu jagat ciptaan-Nya sudah ada. Lalu alif menjadi gantinya, yang memiliki wujud tunggal. Ya, tunggal rasa, tunggal wujud. Ketunggalan ini harus dijaga betul sebab tidak ada yang mengaku tingkahnya. ALif wujud adalah Yang Agung. Ia menjadi wujud mutlak yang merupakan kesejatian rasa. Jenisnya ada lima, yaitu alif mata, wajah, niat jati, iman, syari’at.”

“Allah itu penjabarannya adalah dzat Yang Maha Mulia dan Maha Suci. Allah itu sebenarnya tidak ada lain, karena kamu itu Allah. Dan Allah semua yang ada ini, lahir batin kamu ini semua tulisan merupakan ganti dari alif, Allah itulah adanya.”

“Alif penjabarannya adalah permulaan pada penglihatan, melihat yang benar-benar melihat. Adapun melihat Dzat itu, merupakan cermin ketunggalan sejati menurun kepada kesejatianmu. Cahaya yang keluar, kepada otak keberadaan kita di dunia ini merupakan cahaya yang terang benderang, itu memiliki seratus dua puluh tujuh kejadian. Menjadi penglihatan dan pendengaran, napas yang tunggal, napas kehidupan yang dinamakan Panji. Panji bayangan dzat yang mewujud pada kebanyakkan imam. Semua menyebut dzikir sejati, laa ilaaha illallah.” .



Kematian di Mata Sunan Geseng

“Banyak orang yang salah menemui ajalnya. Mereka tersesat tidak menentu arahnya, pancaindera masih tetap siap, segala kesenangan sudah ditahan, napas sudah tergulung dan angan-angan sudah diikhlaskan, tetapi ketika lepas tirta nirmayanya belum mau. Maka ia menemukan yang serba indah.”

“Dan ia dianggap manusia yang luar biasa. Padahal sesungguhnya ia adalah orang yang tenggelam dalam angan-angan yang menyesatkan dan tidak nyata. Budi dan daya hidupnya tidak mau mati, ia masih senang di dunia ini dengan segala sesuatu yang hidup, masih senang ia akan rasa dan pikirannya. Baginya hidup di dunia ini nikmat, itulah pendapat manusia yang masih terpikat akan keduniawian, pendapat gelandangan yang pergi ke mana-mana tidak menentu dan tidak tahu bahwa besok ia akan hidup yang tiada kenal mati. Sesungguhnyalah dunia ini neraka.”

“Maka pendapat Kyai Siti Jenar betul, saya setuju dan tuan benar-benar seorang mukmin yang berpendapat tepat dan seyogyanya tuan jadi cermin, suri tauladan bagi orang-orang lain. Tarkumasiwalahu (Arab asli : tarku ma siwa Allahu), di dunia ini hamba campur dengan kholiqbta, hambanya di surga, khaliknya di neraka agung.”

Selasa, 01 September 2009

EMPAT PULUH DELAPAN

EMPAT PULUH DELAPAN
Menurut Syekh Siti Jenar, bahwa al-Fatihah adalah termasuk salah satu kunci sahnya orang yang menjalani laku manunggal (ngibadah). Maka seseorang wajib mengetahui makna mistik surat al-Fatihah. Sebab menurut Syekh Siti Jenar, lafal al-Fatihah disebut lafal yang paling tua dari seluruh sabda-Sukma. Inilah tafsir mistik al-Fatihah Syekh Siti Jenar. .

Bis………………………… kedudukannya…………. ubun-ubun.
Millah………………………kedudukannya….. ………rasa.
Al-Rahman-al-Rahim…….kedudukannya……………penglihatan (lahir batin).
Al-hamdu…………………kedudukannya………… …hidupmu (manusia).
Lillahi………………………kedudukannya…. ……….cahaya.
Rabbil-‘alamin…………….kedudukannya…………..n yawa dan napas.
Al-Rahman al-Rahim…….kedudukannya……………leher dan jakun.
Maliki……………………..kedudukannya…… ………dada.
Yaumiddin………………..kedudukannya……… ……jantung (hati).
Iyyaka……………………kedudukannya…….. …….hidung.
Na’budu…………………..kedudukannya…….. …….perut.
Waiyyaka nasta’in………kedudukannya…………….dua bahu.
Ihdinash………………….kedudukannya…….. ……..sentil (pita suara).
Shiratal…………………..kedudukannya……. ………lidah.
Mustaqim…………………kedudukannya……… ……tulang punggung (ula-ula).
Shiratalladzina…………..kedudukannya……… …….dua ketiak.
An’amta…………………..kedudukannya…….. ……..budi manusia.
‘alaihim……………………kedudukannya…… ………tiangnya (pancering) hati.
Ghairil…………………….kedudukannya…… ……….bungkusnya nurani.
Maghdlubi………………..kedudukannya……… …….rempela/empedu.
‘alaihim……………………kedudukannya…… ……….dua betis.
Waladhdhallin……………kedudukannya………. ……mulut dan perut (panedha).
Amin………………………kedudukannya……. ………penerima.

Tafsir mistik Syekh Siti Jenar tetap mengacu kepada Manunggaling Kawula-Gusti, sehingga baik badan wadag manusia sampai kedalaman rohaninya dilambangkan sebagai tempat masing-masing dari lafal surat al-Fatihah. Tentu saja pemahaman itu disertai dengan penghayatan fungsi tubuh seharusnya masing-masing, dikaitkan dengan makna surahi dalam masing-masing lafadz, maka akan ditemukan kebenaran tafsir tersebut, apalagi kalau sudah disertai dengan pengalaman rohani/spiritual yang sering dialami.

Konteks pemahaman yang diajukan Syekh Siti Jenar adalah, bahwa al-Qur’an merupakan “kalam” yang berarti pembicaraan. Jadi sifatnya adalah hidup dan aktif. Maka taksir mistik Syekh Siti Jenar bukan semata harfiyah, namun di samping tafsir kalimat, Syekh Siti Jenar menghadirkan tafsir mistik yang bercorak menggali makna di balik simbol yang ada (dalam hal ini huruf, kalimat dan makna historis).

EMPAT PULUH SEMBILAN
“Di di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yang cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah…Ketahuilah juga, apa yang dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dengan seorang manusia biasa seperti yang lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam Ada sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.” .

Syekh Siti Jenar menyatakan secara tegas bahwa dirinya sebagai Tuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu satu hal yang selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di dunia ini, sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zotmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, di mana roh suci terjerat badan wadag yang dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yang menguburkan kebenaran sejati, dan berusaha mengubur kesadaran Ingsun Sejati.

LIMA PULUH
“Syekh Siti Jenar berpendapat dan mengganggap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat Rasul yang sejati, sifat Muhammad yang kudus. Ia berpendapat juga, bahwa hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yang jika sudah diminta oleh empunya akan menjadi tanah dan membusuk, hancur-lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup.”

“Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur, dan sering kali tidak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya.” .

“Kalau kamu ingin berjumpa dengan dia, saya pastikan kamu tidak akan menemuinya, sebab Kyai Ageng berbadan sukma, mengheningkan puja ghaib. Yang dipuja dan yang memuja, yang dilihat dan melihat yang bersabda sedang bertutur, gerak dan diam bersatu tunggal. Nah, buyung yang sedang berkunjung, lebih baik kembali saja.” .

Ini adalah pandangan Syekh Siti Jenar tentang psikologi dan pengetahuan. Menurut Syekh Siti Jenar, sumber ilmu pengetahuan itu terdiri atas tiga macam; pancaindera, akal-nalar, dan intuisi (wahyu). Hanya saja pancaindera dan nalar tidak bisa dijadikan pedoman pasti. Hanya intuisi yang berasal dari orang yang sudah manunggallah yang betul-betul diandalkan sebagai pengetahuan.

Oleh karenanya, konsistensi dengan pendapat tersebut, Syekh Siti Jenar menegaskan bahwa baginya Muhammad bukan semata sosok utusan fisik, yang hanya memberikan ajaran Islam secara gelondongan, dan setelah wafat tidak memiliki fungsi apa-apa, kecuali hanya untuk diimani.

Justru Syekh Siti Jenar menjadikan Pribadi Rasulullah Muhammad sebagai roh yang bersifat aktif. Dalam memahami konsep syafa’at, Syekh Siti Jenar berpandangan bahwa syafa’at tidak bisa dinanti dan diharap kehadirannya kelak di kemudian hari. Justru syafa’at Muhammad hanya terjadi bagi orang yang menjadikan dirinya Muhammad, me-Muhammad-kan diri dengan keseluruhan sifat dan asmanya. Rahasia asma Allah dan asma Rasulullah adalah bukan hanya untuk diimani, tetapi harus merasuk dalam Pribadi, menyatu-tubuh dan rasa. Itulah perlunya Nur Muhammad, untuk menyatu cahaya dengan Sang Cahaya. Dan itu semua bisa terjadi dalam proses Manunggaling Kawula-Gusti.

LIMA PULUH SATU
“Bukan kehendak, angan-angan, bukan ingatan, pikir atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan juga kekosongan atau kehampaan. Penampilanku bagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, napasku terhembus ke segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Syekh Siti Jenar belum mau menuruti perintah sultan. Hal ini disebabkan karena bumi, langit, dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia. Manusialah yang memberikan nama. Buktinya sebelum saya lahir tidak ada.

Syekh Siti Jenar menghubungkan antara alam yang diciptakan Allah, dengan konteks kebebasan dan kemerdekaan manusia. Kebebasan alam mencerminkan kebebasan manusia. Segala sesuatu harus berlangsung dan mengalami hal yang natural (alami), tanpa rekayasa, tanpa pemaksaan iradah dan qudrah. Maka ketidakmauannya memenuhi penggilan sultan, dikarenakan dirinya hanyalah milik Dirinya Sendiri. Jadi seluruh manusia masing-masing mamiliki hak mengelola alam. Alam bukan milik negara atau raja, namun milik manusia bersama. Maka setiap orang harus memiliki dan diberi hak kepemilikan atas alam. Ada yang harus dimiliki secara privat dan ada juga yang harus dimiliki secara kolektif.

Dari wejangan Syekh Siti Jenar tersebut, juga diketahui bahwa hakikat seluruh alam semesta adalah tajaliyat Tuhan (penampakan wajah Tuhan). Adapun mengenai alam yang kemudian memiliki nama, bukanlah nama yang sesungguhnya, sebab segala sesuatu yang ada di bumi ini, manusialah yang memberi nama, termasuk nama Tuhanpun, dalam pandangan Syekh Siti Jenar, diberikan oleh manusia. Dan nama-nama itu seluruhnya akan kembali kepada Sang Pemilik Nama yang sesungguhnya. . Maka memang nama itu perlu, namun jangan sampai menjebak manusia hanya untuk memperdebatkan nama.