Kamis, 27 Agustus 2009

Zarathustra Dan Ajarannya

Zarathustra Dan Ajarannya

22 Januari 2006 - Oleh: Muhammad Yusuf Khan

Muhammad Yusuf Khan – Inggris
Review of Religion, Agustus 1996
Penterjemah: Iin Qurrotul Ain

Sejarah manusia mengupas secara terus menerus dan tak hentinya
pertentangan dan peperangan antara kekuatan kebaikan dan kekuatan
kejahatan. Saat kebanyakan manusia berubah menjadi bermoral buruk dan
melanggar kedisplinan etika/susila. Ketika kekayaan membuat sebagian
orang melakukan pelanggaran dan berlindung dibalik kekuatan politik
dan menyebarkan ketidakamananan, serta kosong dari norma-norma sosial
dalam masyarakat dan melakukan gangguan perdamaian dan keamanan
disekitarnya. Dalam situasi seperti itu hanya seorang manusia yang
luar biasa baik dan memiliki kemampuan rohani saja yang dapat
menyelamatkan dan menghilangkan pengaruh buruk yang telah tersebar ke
setiap penjuru bumi ini.

Sang Penyelamat atau lebih dikenal dengan sebutan Sang Reformer,
pemberi peringatan, utusan atau nabi yang ditunjuk oleh Tuhan Yang
Maha Agung dengan membawa misi suci akan membimbing manusia ke jalan
yang benar. Dia akan menganjurkan orang-orang untuk berbuat amal
kebaikan, mencegah mereka dari menyakiti orang lain dan dari
perbuatan-perbuatan dosa serta mengajak mereka untuk menyembah Allah,
Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.

Al – Quran Suci sehubungan dengan ini menyatakan sebagai berikut :

"Dan Kami telah bangkitkan dari antara manusia seorang utusan yang
menyeru "Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (pelampau batas)!" Surah
An – Nahl (16:17).

Berkaitan dengan pemikiran yang disebut di sini. Seorang Penulis Barat
Thomas Carlyle menulis :

"Hadiah paling berharga yang dapat langit berikan kepada bumi
adalah seorang laki-laki yang jenius, sebagaimana kita memanggilnya;
ruh seorang laki-laki yang benar-benar dikirim dari langit beserta
amanat Tuhan untuk kita (manusia). Inilah amanat yang telah kita sia –
siakan seperti halnya membuang patung – patung berhala ke perapian,
yang menimbulkan sedikit kebingungan lalu kita menghilangkannya
bagaikan debu, hancur dan tak dapat diharapkan; seperti itu pulalah
penerimaan terhadap manusia agung yang aku tidak memanggilnya selain
kesempurnaan."

Seorang laki –laki jenius yang dianugerahkan kepada bumi oleh
Tuhan Yang Maha Besar pada jaman dahulu, adalah Zarathustra (nama
latinnya Zoroaster) beliau adalah pendiri ajaran Zoroasterisme di
Persia.

Saya memilih topik Zarathustra dan ajarannya untuk study ini
karena beliau telah disebut sebagai yang pertama kali memperkenalkan
kebijaksanaan ketimuran di Eropa dan disebutkan bahwa Zoroasterisme
merupakan agama tertua diantara agama – agama yang telah diturunkan di
dunia. Selain itu Zoroaster lebih umum dikenal sebagai nabi nasional
Persia (sekarang Iran) yang telah membentuk bagian penting dari
kepopuleran Timur Tengah yang juga disebut "Cradle of ancient
civilisations (tempat awal kependudukan masyarakat purbakala)."

Zoroasterisme (juga diberi nama Madyanisme dan Parseisme di India dan
Pakistan ) meski muncul sebelum Islam di Iran namun saat ini yang
bertahan disana hanya minoritas yang menempati area – area terisolasi
dan terpencil dari populasi yang lebih luas. Orang –orang Zoroaster
adalah pendiri dari sebuah kerajaan besar dan untuk beberapa abad
kependudukan mereka berkembang di bawah tiga kaisar besar Persia :
Achaemenian, Parthian dan Sassanian. Saat ini populasi mereka di dunia
menurun hanya tinggal sekitar 140.000 jiwa yang tersebar di seluruh
dunia . Kelompok besar dari anggota komunitas ini hanya sekitar 82.000
jiwa yang menempati Bombay (India) dan sekitar 3000 jiwa berada di
Karachi (Pakistan), namun mereka memiliki tingkat kesejahteraan yang
tinggi. Kelompok-kelompok kecil mereka telah berdiri di berbagai pusat
hampir di seluruh kota – kota penting di barat. Kekuatan dunia para
pengikut Zoroaster saat ini diketahui telah menurun secara perlahan
karena meningkatnya jumlah perkawinan keluar komunitas tersebut dan
karena angka kelahirannya yang rendah. Terlebih lagi ajaran ini
tertutup bagi orang-orang luar yaitu adanya konversi/ penggabungan
dari agama – agama lain tidak diijinkan.

Sebelum menjelaskan tentang kehidupan dan ajaran – ajaran Zarathustra
serta kepercayaannya, penting sekali menampilkan latar belakang
sejarah orang – orangnya, wilayah serta lingkungan – lingkungannya
yang membuat agama ini pernah berkembang dan sukses.
Latar belakang Sejarah

Akar sejarah perkembangan orang – orang Persia atau khususnya para
penganut Zoroster masih menjadi pertanyaan yang sepenuhnya belum
terungkap. Seperti telah disebutkan sejarah agama ini bermula pada
suatu waktu di tahun milenium ke – tiga bersamaan dengan masa orang –
orang Indo – Eropa. Yaitu sekitar tahun 3000 SM, ada sebuah kelompok
dari antara suku- suku yang berada di daerah dekat Eropa Timur yang
mulai terpecah. Beberapa mereka mengembara ke selatan dan tinggal di
Yunani dan Roma, sedang yang lainnya meneruskan perjalanannya ke
selatan dan menetap di Skandinavia. Juga kelompok yang lainnya telah
menggembalakan ternak mereka di padang luas di Caspia timur sekitar
tahun 2000 SM. Di sana orang – orang tersebut membangun tempat tinggal
untuk sewaktu – waktu dan menamakan diri mereka Arya (Arian) yang
berarti yang memiliki kedudukan tinggi. Namun para cendekiawan hanya
menyebut mereka keturunan Indo – Iran. Sekitar tahun 1800 SM mereka
terpecah lagi menjadi 2 kelompok dan mengadakan perjalanan ke daerah
bagian timur dalam dua gelombang. Gelombang pertama melewati Persia
bagian utara dan meninggalkan beberapa penduduknya di sana, serta
membawa sebagian besarnya ke India Timur. Sedangkan gelombang kedua
bermukim di Persia.

Secara umum di ketahui bahwa Medes dan Persia adalah dua kelompok Arya
yang menduduki dan bermukim di Iran selama beberapa abad termasuk
mereka yang tinggal di sana tak lama setelah tahun 1500 SM. Medes
adalah Arya pertama yang memiliki pengaruh di Asia Barat. Pada saat
itu yaitu abad ke – 8 SM kekuatan mereka paling besar.

Berkenaan dengan kondisi keagamaan saat kekuasaan Medes, ada
sekelompok pendeta yang memaksakan pengaruhnya dengan melakukan
evolusi agama , mereka disebut kaum magis. Mereka memiliki kekuatan
secara politik dan sosial, mereka melakukan ritual ketat yaitu
mempersembahkan pengorbanan –pengorbanan kepada dewa – dewa,
menafsirkan mimpi –mimpi, membaca mantera – mantera pengusir setan dan
membunuh makhluk – makhluk yang tidak mereka sukai serta diikuti
tindakkan-tindakkan lainnya yang buruk. Mereka tidak memiliki
kecocokan dengan Achaemian. Dan pada masa kekuasaan Darius berlangsung
wibawa mereka benar – benar jatuh. Mereka (para pendeta) yang
intelektual memilih menerima ajaran Zoroaster dan setuju dengan
pembagian kelasnya. Pada akhir masa Darius mereka mengatur rencana
memasuki dunia politik dan melakukan hierarki keagamaan serta berusaha
memperoleh kembali status sosial mereka.

Orang – orang Persia menghubungkan sejarah masa lalunya dengan nenek
moyang mereka yang di sebut Achaemenes. Cyrus II yang adalah keturunan
generasi kelima Achaemenes dan merupakan seorang pangeran muda Fars
(Bahasa latinnya Peris berasal dari "parsee dan akar kata Persian),
meruntuhkann Medes pada tahun 550 SM dan mendirikan dinasti Achaemenid
( 550 – 330 SM ). Beliau berhasil menaklukan seluruh wilayah Asia
mulai dari batas India hingga Yunani. Kerajaannya terbentang dari
India melewati Mesopotamia (Irak) hingga Syria kanaan. Beliau berhasil
mempersatukan rakyat di wilayahnya dengan aturan yang dibuatnya, meski
mereka memiliki budaya – budaya yang berbeda, kepercayaan berbeda dan
berbicara dengan bahasa yang berbeda pula. Beliau juga menerima adat
istiadat yang muncul dan menghormati kebudayaan daerah serta
menghargai semua dewa – dewa dari rakyat yang berada di wilayah
kerajaannya.

Al – Quran Suci ( Surah Al – Kahfi, ayat 84 – 99 ) menyebutkan bahwa
Zulkarnaen adalah seorang hamba Allah yang saleh dan diberkati dengan
wahyu – wahyu. Beliau digambarkan sebagai seorang penakluk, seorang
pemimpin yang baik dan adil dan disebutkan pula bahwa beliau
memperlakukan negara – negara di bawah kekuasaannya dengan baik dan
penuh pertolongan. Dan terakhir disebutkan bahwa beliau tiba di suatu
daerah pertengahan dimana orang – orang tak beradab dan Gog dan Magog
melakukan kekacauan. Bible setuju dengan semua fakta itu pula secara
khusus disebutkan dalam Al – Quran tentang Zulkarnaen dan hal – hal
tersebut menunjuk kepada Raja Cyrus. Maka tak lain dan tak bukan Cyrus
II menurut Al – Quran adalah Zulkarnaen.

Sepeninggal Cyrus II, ekspedisi – ekspedisi militernya dilanjutkan
oleh putranya Cambyses II (529 – 522 SM) dan keturunan-keturunan
penerusnya adalah Darius (522-486 SM), Xerxes (486-465 SM), Artaxerses
(465-425 SM). Namun pada masa kekuasaan Artaxerses meski berlangsung
selama 50 tahun, namun revolusi-revolusi banyak muncul di Mesir dan
daerah-daerah taklukan lainnya dan pula terjadi peperangan dengan
negara-negara di Yunani yang muncul dan berhenti selama kurun waktu
yang panjang. Akibatnya secara perlahan terjadi kehancuran di dalam
kerajaan Achaemenid. Pada saat penobatan Artaxerses III (359-338 SM)
ke kursi kerajaan, batas-batas kerajaan terdekat yang telah didirikan
hanya bisa bertahan sementara. Pada masa pemerintahan Darius III
Kerajaan ini akhirnya runtuh di tangan Alexander (336-331 SM), setelah
melewati peperangan yang menentukan antara mereka di timur Sungai
Tigris di Padang Karbela. Darius dipaksa untuk melarikan diri dan
akhirnya terbunuh. Angkatan perangnya diistirahatkan ke timur dan
mereka membiarkan saja ketika Alexander Agung menjadi penguasa Asia.

Terkadang sebelum peristiwa-peristiwa ini terjadi, kemunculan
Zarathustra telah disebut-sebut. Namun dimana dan kapan munculnya
masih menjadi bahan diskusi dalam paragraf berikutnya.

Zarathustra (yang berarti dia cahaya emas) adalah pendiri agama Persia
kuno Zoroasterisme yang dikenal dengan nama Zoroaster di barat.
Berasal dari Bahasa Latin Zoroasters dan dalam Bahasa Yunani disebut
Zorastres. Kitab suci agama ini Avesta, menyebut sebutan Zarathustra
secara konsisten, sementara di dalam versi Pahlavi nama itu adalah
Zaratusht dan dalam Bahasa Persia modern beliau disebut dengan nama
Zardusht, Zartusht ataupun Zarathust.

Tanggal Kelahiran

Tanggal kelahiran beliau yang tepat masih menjadi perdebatan. Para
penulis klasik Yunani, menghubungkan hal tersebut dengan sejarah
pribadi-pribadi penting seperti Aristoteles, Hermodorus dan Xanthust
(abad ke-5 SM). Plutarch (kira-kira th. 46-120 M, menempatkan nama
Zoroaster lebih awal dari th 6000 SM. Eudoxus (kira-kira th. 365
SM)menyebutkan hal itu menjadi 6000 tahun sebelum kematian Plato (347
SM). Beberapa ahli sejarah menempatkannya pada kurun waktu antara th
1750 SM dan th. 1000 SM, khususnya ketika Persia keluar dari jaman
batu. Sedangkan Al-Biruni (973-1048 M) telah menulis tanggal berharga
tentang kemunculan Zarathustra yaitu pada tahun 1000 SM, apakah itu
tanggal kelahiran atau tanggal kemunculan beliau setelah menerima
wahyu-wahyu, masih merupakan hal yang membutuhkan interpretasi.
Menurut kepercayaan para pengikut Zoroaster, beliau muncul 258 tahun
sebelum Alexander yaitu saat jatuhnya Persepolis, ibukota kerajaan
Achaemenid pada tahun 330 SM. Yang berarti beliau muncul pada tahun
558 SM. Zoroaster berusia 42 tahun ketika Raja Vishtaspa (bahasa
Yunaninya Hystaspes) yaitu raja dari Chorasmia menjadi pengikutnya.
Dan pendirinya sendiri (Zarathustra) hidup selama 70 tahun
(sebagaimana terbukti). Juga secara tradisional dipercaya bahwa
filusuf Yunani yakni Phytagoras belajar bersamanya. Tanggal
kelahirannya diperkirakan jatuh antara tahun 628-551 SM), meski
pendapat ini tidak diterima oleh para cendekiawan modern.
Tempat Kelahiran

Tempat kelahirannya juga menjadi kontroversi lain. Beberapa orang
menyebut beliau orang Iran Kuno; sedangkan yang lainnya menyatakan
bahwa beliau asli orang Rhages, Rayy modern yaitu sebuah wilayah di
pedalaman Teheran. Seorang cendekiawan Iran menyatakan bahwa tempat
kelahirannya menurut Avesta adalah tepat di tepian Sungai Dareja di
Airyana Vaejah. Sekarang diketahui Dareja adalah Araxes (Seyhoon di
Persia) yang terletak di Transoxiana dekat perbatasan barat daya
(north west) Media. Seorang pengarang Islam Sharastani (1086-1153 M)
dan at-Tabri (kira- kira th. 839-923 M) menyatakan tempat kelahiran
Zarathustra di Iran Barat. Para penulis Arab , Ibnu Hurdadhbah
(kira-kira th. 816 M) dan Yaqut (kira-kira th. 1220 M) menyatakan
dengan jelas Urmiah (sekarang disebut Rizajeh) di Shiz yaitu distrik
Azarbaijan sebagai tempat kelahiran Zoroaster.

Berdasar fakta itulah bukti penanggalan otentik biografi beliau masih
sedikit. Mungkin bisa disimpulkan bahwa Zarathustra lahir di Iran di
akhir abad ke-7 atau awal abad ke-6 SM bersamaan dengan masa
berlangsungnya kekaisaran Persia dibawah pimpinan Cyrus II (550-330
SM).

Zarahustra adalah keturunan gelombang pertama Indo-Iran. Mata
pencaharian Penduduknya adalah bertani. Ayahnya bernama Pourushaspa
memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Ksatria Spitama yang
merupakan generasi ke 45 dari Gayomart manusia pertama (seperti halnya
Adam). Ibunya bernama Dughdova berasal dari Marga Hvogva.

Masa kecil dan masa kehidupan selanjutnya Zarathustra dipercaya kaya
akan keajaiban. Disebutkan bahwa beliau lahir dalam keadaan tertawa
bukannya menangis. Juga diceritakan saat beliau masih kecil telah
terhindar dari banyak ujian dalam kehidupannya dengan bantuan
binatang-binatang besar. Pada suatu kejadian seekor kerbau berdiri
melindunginya dari injakan kaki-kaki kuda ternak. Juga ada diceritakan
saat seekor kuda betina melindunginya dari injakan kuda-kuda lainnya.
Pada saat lainnya seekor serigala bukan menerkam bahkan membiarkan
beliau begitu saja diantara anak- anaknya. (Beberapa pengikut modern
ajaran ini tidak menganggap hal-hal tersebut secara serius).

Disebutkan Zarathustra telah menikah tiga kali, (perkawinan
poligaminya ditolak oleh para pengikut Zoroaster). Beliau memiliki
tiga orang puteri dan seorang anak laki-laki dari isteri pertamanya,
memiliki dua orang putera dari isteri keduanya dan dari isteri ketiga
beliau tidak memiliki anak.

Tradisi-tradisi selanjutnya mempercayai bahwa beliau diajari menjadi
seorang pendeta. Di dalam Gathas beliau menyebut dirinya sebagai
Zaotar yaitu seorang pendeta yang benar-benar berkualitas. Menurut
orang-orang Indo-Iran pengajaran tersebut dimulai pada saat beliau
berusia 7 tahun dan dilakukan secara lisan, pada saat orang-orang
zaman tersebut belum mengenal ilmu baca tulis. Beliau kemungkinan
telah menjadi pendeta pada usia 15 tahun yang menurut orang-orang Iran
pada jaman itu usia tersebut adalah usia matang. Beliau mempelajari
semua hal sedapat mungkin seperti tentang misteri penciptaan dan
realita kehidupan. Rasa ingin tahu beliau membuatnya tidak cepat
merasa puas akan sesuatu hal. Namun wahyu telah membimbing beliau
untuk meditasi dan intropeksi diri. Beliau bermaksud memahami dan
mengerti tentang peranan manusia sebagai makhluk ciptaan.

Beliau meninggalkan rumah pada usia 20 tahun dan kepergian beliau
tersebut bertentangan dengan kehendak orang tuanya. Diceritakan beliau
pergi ke pegunungan. Beliau menginginkan jiwa beliau dalam kesunyian.
Beliau selama bertahun-tahun melakukan perjalanan mencari kebenaran,
terbimbing dengan memiliki pikiran baik, penuh kesadaran dan cinta
kasih. Dalam syairnya disebutkan bahwa selama perjalanan, beliau harus
menyaksikan tindakkan kekerasan. Beliau menyadari ketidakberdayaannya,
tapi memiliki perhatian mendalam terhadap keadilan, penegakkan hukum
moral yang setara baik bagi yang kuat maupun yang lemah, hingga semua
bisa mengikuti jalan kebaikan di kehidupan ini dengan penuh kedamaian
dan ketenangan.

Dengan keinginan kuat dan kekhawatirannya akan mencari kebenaran, pada
saat hari mulai gelap, dengan berdiri di depan matahari tenggelam
beliau berkata : (terdapat pada hal 3 – 4)

Engkau wahai bintang besar! Kemanakah kebahagiaan engkau yang
tanpa kebahagiaan itu untuk apa lagi engkau bersinar!

Sepuluh tahun sudah aku mendaki disini di guaku:

akankan engkau lelah dengan sinarmu dan lelah dengan jalan yang
bukan untukku, elangku ataupun ularku.

Namun kami menantimu tiap pagi dan mengambil milikmu yang sangat
melimpah juga berkatmu.

Wahai! Aku lelah dengan kebijaksanaanku yang seperti lebah
menghimpun terlalu banyak madu; Aku membutuhkan tangan-tangan
merentang untuk mengambilnya.

Untuk itu aku harus memberi dan mengedarkannya hingga kearifan
kembali bersatu diantara manusia di dalam kenaifan mereka dan
kemiskinan kekayaan mereka.

Pada akhirnya aku harus turun ke kedalaman: seperti halnya engkau
berbaring pada hari yang gelap, meski saat engkau tenggelam di balik
laut, dan membawa cahaya ke dunia bawah tanah, engkau adalah tetap
bintang yang paling dermawan!

Seperti halnya engkau, aku harus turun dan mengatakan kepada
manusia yang untuknya aku akan turun.

Berkati aku dengan mata tenangmu yang melihat tanpa iri dengki
malahan dengan rasa gembira yan sangat!

Berkati aku dengan mangkuk yang menumpahkan airnya, hingga menjadi
banjir emas, membawa pantulan kebahagiaan yang banyak kemana saja
mengalir!

Wahai! Mangkuk ini harus kembali kosong dan Zarathustra harus
kembali menjadi manusia. Lalu mulailah Zarahustra turun.

Menurut kepercayaan, Zarathustra menghabiskan waktu 10 tahunnya dalam
pencarian ini. Ketika beliau berusia 30 tahun yaitu saat beliau
memiliki kebijaksanaan yang matang, pandangan rohani (mimpi)
diperlihatkan kepada beliau . Cerita tentang hal tersebut sampai
kepada kita lewat tradisi-tradisi/ kepercayaan, (GAHAS (Yasna 43) dan
Isi Pahlavi (Zadspram ZZ-XXI) berbunyi berikut ini :

Zarathustra berada dalam suatu perayaan festival musim semi, saat
matahari terbenam beliau mengambil air ke sungai untuk ritual suci.
Pada saat beliau berjalan kembali dari tengah sungai menuju pinggiran
sungai beliau melihat wujud malaikat yang bercahaya di pinggiran
sungai yang menyebut dirinya sebagai Vohu Manah (bertujuan baik atau
berniat baik). Zarathustra dibimbing oleh Wujud tersebut yang tak lain
merupakan Perwujudan lain Ahura Mazda (Tuhan yang bijak) dan oleh lima
wujud cahaya abadi. Sebelumnya beliau tidak melihat bayangannya
sendiri sangat berkilauan di atas permukaan bumi kemudian menerima
wahyu. Beliau diajari tentang prinsip-prinsip utama kebenaran atau
agama kebaikan. Saat itulah pertama kalinya beliau melihat Ahura Madza
dan menyadari keberadaan-Nya saat firman-firman – Nya (panggilan
tugas) diperdengarkan kepada beliau. Tentang hal ini beliau
menyatakan:

Karena itulah aku menjadi bagian dari mu dari permulaan.(Yasna 44.11)

Selagi aku masih memiliki kekuasaan dan kekuatan, aku akan ajarkan
manusia untuk mencari kebenaran asha (aturan, kebenaran dan keadilan
). (Yasna 28.4)

Tentang kebenaran wahyu tersebut, beliau menerangkan:

Sungguh aku mempercayaimu wahai Ahura Madza. Engkau adalah pemberi
rezeki yang paling baik, saat Sraosha datang kepadaku dengan niat
baik, saat pertama kalinya aku menerima dan menjadi bijak dengan
kata-kata-Mu. Dan meskipun tugas ini berat, meski kesulitan datang
menghadangku namun aku akan tetap umumkan kepada umat manusia
amanat-Mu yang telah dinyatakan sebagai yang terbaik. (Yasna 43)

Beliau berdoa kepada Madza:

Aku mohon kepada-Mu ceritakanlah kepadaku dengan sesungguhnya wahai
Ahura Madza! bahwa agama ini adalah yang terbaik untuk seluruh umat
manusia. Agama yang berdasar pada kebenaran yang akan mensejahterakan
semuanya, agama yang menetapkan perbuatan-perbuatan manusia berdasar
peraturan dan hukum dengan kesempurnaan kidung rohani suci. Agama yang
memilki hasrat inteligensi, hasrat akan Engkau wahai Madza. (Yasna
44.10)

Zarathustra diberi keyakinan bahwa dia adalah utusan Ahura Mazda,
Tuhan Yang Bijaksana, satu-satunya Tuhan yang patut disembah. Beliau
menentang semua dewa-dewa orang-orang Vedic Iran serta beliau adalah
penentang mitologi-mitologi mereka, persembahan-persembahan korban
serta upacara minum ritual Hoama dan menentang semua yang
dipersekutukan terhadap Ahura Mazda yaitu ahura-ahura dan daeva-daeva
lainnya dalam peperangan universal antara kebenaran dan kebatilan.

Zarathustra menyatakan bahwa Ahura Mazda adalah Azali (tidak
tercipta), kekal selamanya dan Dia adalah pencipta semuanya termasuk
semua dewa-dewa lainnya. Beliau yakin tentang kebijaksanaan, keadilan
dan kebaikan yang mutlak terpisah dari unsur kejahatan dan kezaliman.

Beliau menyatakan tentang keutamaan pengetahuan yang baru beliau
dapatkan. Beliau bersabda:

Saat aku membayangkan Engkau, wahai Mazda. Engkaulah yang awal dan
Yang akhir, Engkaulah satu-satunya yang patut disembah, sumber ajaran
kebaikan, pencipta kebenaran dan keadilan, hakim atas semua
tindakan-tindakan kami di dunia ini . Karenanya aku tempatkan engkau
di hati sanubariku. (Yasna 31.8)

Dengan gejolak jiwa yang sebenarnya, beliau bersabda:

Karenanya aku umumkan yang paling agung dari semuanya! Aku
rangkaikan lagu-lagu pujian untuk-Nya melalui kebenaran, memberi
pertolongan dan dermawan kepada semua makhluk hidup. Biarkan Ahura
Mazda mendengarkan mereka dengan ruh suci – Nya.bq. Demi pikiran baik
yang telah Tuhan perintahkan kepadaku yaitu untuk memuja – Nya dan
demi kearifan-Nya, biarkanlah Dia mengajariku apapun yang terbaik.
(Yasna 45.6)

Zarathustra melihat dalam pandangan rohaninya (kasyaf) seorang musuh
yang muncul bersama Ahura Madza, musuh itu memiliki ruh durjana yaitu
Angra Mainyu, yang dungu dan pemfitnah sesungguhnya.

Beliau menempatkan diri beliau sebagai musuh sejati para pengikut
kedustaan dan beliau adalah pendukung kuat para pengikut kebenaran.
Karena ghairatnya kepada Tuhan Yang Bijak, beliau sangat marah dan
malu saat menyaksikan adanya penyimpangan pada pelaksanaan
upacara-upacara keagamaan. Beliau adalah pribadi yang tidak kenal
kompromi dengan hal-hal tersebut. Musuh kebenaran harus dikalahkan dan
ditaklukkan.

Zarathustra menentang para penyembah daeva-daeva yaitu sekelas
dewa-dewa yang dikenal secara umum oleh orang-orang Indian dan
orang-orang Iran. Para pemimpin musuh-musuh beliau adalah para kavis
dan karapan/ sekasta dengan pendeta. Beliau menentang tradisi-tradisi
dan praktek-praktek keagamaan yang mereka lakukan. Saat beliau
mengumumkan misinya beliau mendapat tantangan keras dari musuh-musuh
beliau baik dari kalangan rakyat maupun para penguasa agama, seperti
halnya apa yang pernah dialami oleh nabi-nabi lainnya. Zarathustra
menyadari kelemahan beliau sendiri dan menyadari jika akan ada
perlawanan terhadap ajarannya. Beliau kecewa ketika karib kerabat dan
sahabat-sahabat beliau menjauhinya, dan ini meninggalkan duka yang
mendalam di hatinya. Misi beliau dimulai ketika beliau berusia 30
tahun dan dalam sepuluh tahun kehidupan beliau selanjutnya, beliau
hanya berhasil membai'atkan satu orang ke dalam ajarannya, yaitu
saudara sepupu beliau sendiri yang bernama Maidyoimah.

Di kampung halamannya sendiri (yaitu Chaychost), beliau tak
henti-hentinya dicaci maki. Beliau mengalami penderitaan yang tak
beradab yang dilakukan oleh para penentangnya baik dari kalangan
bangsawan yang berkuasa maupun dari kalangan para pendeta.

Karena hal ini, pada suatu ketika Zarathustra mengadu kepada Ahura Mazda:

"Tanah mana yang harus aku datangi? Kemanakah akan kuayunkan
langkah-langkah kakiku? Murid-muridku juga teman-temanku memisahkan
diri dan menjauh dariku. Tak satupun teman yang bisa membahagiakanku.
Seluruh penguasa mendukung kebatilan, lalu bagaimana aku bisa
menyenangkan Ahura Madza." (Yasna 46.1)

Tiba-tiba secercah sinar harapan muncul. Beliau tetap teguh dijalannya
dan bersikukuh pada misi yang beliau emban dan beliau yakin bahwa
kebenaran akan menang secara menyeluruh.

Aku hanya memilih ajaran-Mu,Tuhan."(Yasna 46.2)

"Semua pujian akan selalu aku persembahkan untuk-Mu wahai Tuhan
Yang Bijak." (Yasna 50.4)

Menurut kepercayaan Zoroaster, ada cerita tentang kesuksesan
Zarathustra dalam membai'atkan Raja Vishtaspa beserta kalangan istana
kerajaan. Demikian ceritanya:

Ketika beliau berusia 42 tahun, beliau beserta beberapa pengikut
beliau berhijrah meninggalkan kampung halaman dan bermigrasi ke
Bacteria di Iran timur (sekarang disebut Chorasmia). Disini beliau
juga mendapatkan perlawanan dari musuh-musuhnya. Berita tentang nabi
baru terdengar oleh Kavi Vishtaspa yaitu raja wilayah Balkh. Raja
mengundang Zarathustra ke istananya untuk menerangkan ajarannya. Raja
juga mengundang para pendeta untuk berdiskusi. Raja Vishtaspa berhasil
diyakinkan tentang kebaikan ajaran Zoroaster. Raja ini tidak menyukai
para pendeta tradisional yang memusuhi Zarathustra, bahkan kemudian
dia memeluk agama baru tersebut yang jelas bertentangan dengan
kehendak beberapa kalangan istana."

Dalam kisah lain diceritakan sebagai berikut:

Setelah 3 hari berlangsung perdebatan di dewan agung istana raja
antara Zarathustra dengan para kavis dan karapan yang tidak
bersahabat, musuh-musuh beliau ini merencanakan memasukkan beliau ke
dalam penjara. Beliau tertahan disana hingga beliau berhasil menarik
perhatian Raja Vishtaspa. Zarathustra berhasil menyembuhkan kuda
kesayangan raja yang lumpuh. Karena keberhasilannya ini maka Raja
Vishtaspa, ratu beserta beberapa keluarga istana memeluk ajaran
Zarathustra dengan sepenuh hati. Peristiwa ini terjadi saat beliau
berusia 42 tahun. Dan peristiwa ini merupakan pembuka jalan untuk
penyebaran ajaran beliau selanjutnya. Raja Vishtaspa tak hanya memeluk
agama Zoroaster namun juga sang raja membantu menyebarkan ajaran
tersebut ke seluruh kerajaannya.

Meski Zoroaster tinggal di istana para bangsawan dan pada kenyataannya
beliau mendapat jaminan perlindungan dan dukungan istana, namun beliau
tidak mendapatkan ketenangan. Tekanan terus menerus dilakukan oleh
sebagian musuh-musuhnya. Di dalam Gathas diceritakan bahwa Zarathustra
mencela tindakan zalim para bangsawan dan pendeta yang menindas sesama
manusia.

"Akankah kawan-kawanku datang membantuku menyebarkan
ajaran-ajaran-Mu? Kapankah kumpulan kedustaan busuk ini akan sirna?
Yang dengannya para pendeta memperdayai manusia dengan tipu daya
mereka, yang dengannya pula para penguasa yang bermoral buruk akan
menguasai negeri dengan membawa serta niat buruknya? "(Yasna 48.10)

Bertahan terhadap kesulitan-kesulitan besar, Zoroaster mengikrarkan
keinginan beliau untuk meneruskan menyebarkan kebenaran. Beliau yakin
bahwa pekerjaan baik yang seseorang lakukan akan menghasilkan hal yang
baik bagi orang tersebut.

"Amanat-Mu, wahai Ahura Mazda! Akan sungguh-sungguh aku sampaikan
dengan kebijaksanaan. Nasib tidak baik akan menanti mereka yang
berdosa sementara cahaya kebenaran langit akan tetap turun; manusia
sendiri akan berbahagia dan memiliki kebijaksanaan menyebarkan
firman-firman suci-Mu. (Yasna 50.8)

Zarathustra telah membentuk rasa persaudaraan di kalangan pengikutnya,
yang terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada tiga pengkategorian di
antara para pengikutnya, yaitu Xvaetu (berohani kuat), Verezena
(pengikut setia) dan Airyamna (sahabat).

Zarathustra menikahi Havovi yaitu saudara perempuan salah satu
pengikut Zarathustra yang bernama Frashaoshtra (dia adalah pemegang
posisi tinggi di istana Raja Vishtaspa). Sedangkan anak perempuan
termuda Zarathustra dinikahi oleh paman Havovi yang bernama Jamaspha (
dia adalah kepala penasehat Raja Vishtaspa), yang juga tercatat
sebagai pengikut awal ajaran Zarathustra.

Ketiga anak laki – laki Zarathustra menjalankan dan sekaligus mewakili
ketiga kelas sosial tersebut, yaitu para pendeta, prajurit dan petani.

Ketika Zarathustra mencapai usia 77 tahun yaitu setelah 47 tahun masa
kenabiannya, Madzaisme telah sukses berdiri namun pada masa itulah
terjadi pensyahidan terhadap beliau.

Diriwayatkan beliau wafat karena tindakan kekerasan. Beberapa riwayat
menceritakan beliau disyahidkan oleh salah seorang musuh ajaran beliau
yang bernama Turbatur, saat itu beliau sedang memberikan khutbah di
Bacteria (Balkh).

Sumber lainnya menceritakan Bangsa Turanian menyerang Kota Balkh dan
mereka menghancurkan Kuil NUSH AZAR, beliau beserta beberapa pendeta
dibunuh orang-orang Turanian ketika beliau sedang memimpin upacara
keagamaan di perapian suci. Orang-orang Yunani yang sangat menghormati
beliau menceritakan kewafatannya bahwa beliau wafat karena sambaran
cahaya atau api dari langit.
Kitab-kitab Suci Ajaran Zoroaster

Dikatakan bahwa agama ini hanya memiliki satu kitab suci yang disebut
Avesta. Itupun sekarang hanya tinggal beberapa bagian naskah saja.
Menurut para penganut Zoroaster yang berdialek Iran Timur dan dua
orang ahli sejarah muslim pada abad ke-20 dan abad ke-13, yaitu Tabari
dan Mas'udi menyatakan bahwa keseluruhan isi kitab Avesta telah
ditulis dengan tinta emas di atas 12.000 lembaran kulit sapi dan kitab
ini pernah tersimpan di perpustakaan kerajaan yang terletak di
Istakhar atau tersimpan di hasanah kekayaan yang disebut
Dizh-e-Niphist yang terletak di Persepolis, namun itu terbakar habis
saat terjadi invasi Alexander Agung. Salinan kedua kitab ini dibawa ke
Athena dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Yunani. Sabda-sabda
Zarathustra dan para penerusnya kemungkinan telah dituturkan secara
lisan dari generasi ke generasi.

Karena kondisi itu dan juga dikarenakan kekacauan yang timbul saat
datang sang penakluk, maka banyak tradisi-tradisi lisan harus hilang
pula. Disebutkan bahwa sepertiga isi kitab Avesta ini masih tersimpan
di dalam memori para pengikut Zarathustra saat itu.

Juga mengenai literatur-literatur tambahan lainnya mengalami dua kali
kerusakan yang tak dapat tergantikan. Yang pertama terjadi pada abad
ke-7 yang dilakukan oleh para penakluk Bangsa Arab dan berikutnya
terjadi pada abad ke-12, yaitu saat raja – raja Mongol datang dengan
kekuatannya. Lebih dari sepertiga literatur agama ini yang ada di masa
Bangsa Sasania (yaitu era terakhir kekuatan ajaran Zoroaster)
mengalami kehancuran.

Beberapa Riwayat menyebutkan AVESTA terdiri dari 21 NASK (jilid).
Ringkasan jilid-jilid tersebut terangkum dalam kitab Pahlavi, yang
disebut DENKERT. Tertulis abad ke-9 M yang tampilannya sama seperti
saat ini. Jilid-jilid tersebut terbit dengan ukuran tebal.

Setelah terjadi pengusiran orang-orang Yunani oleh orang-orang
Parthia, ajaran Zoroaster bangkit kembali. Raja Volgeses memerintahkan
pengumpulan bagian-bagian AVESTA yang terserak. Pekerjaan ini
dirampungkan oleh Tansar, yakni seorang pendeta agung dari Ardeshir
dan juga merupakan pendiri Dinasti Sassanian pada th. 224 M. Pada
waktu bersamaan penerjemahan AVESTA ke dalam Bahasa Pahlavi
dilanjutkan dan komentar-komentar ditambahkan pada kitab ini, yang
selanjutnya dikenal dengan nama ZEND AVESTA (Aza'nti dalam Bahasa
Avesta dan disebut Avestak-u-Zand dalam Bahasa Pahlavi). Tansar
kemudian menyusun kembali Avesta menjadi 3 bagian : GASSANIK ( Gathic
atau puji-pujian ibadah ) HADHA MANSARIK ( campuran ajaran – ajaran
kerohanian dan ajaran duniawi ) dan ketiga DATIK (hukum).

Avesta masa kini terdiri dari 5 bagian:

"1. YASNA (penghormatan). Isinya berkaitan tentang penciptaan,
wahyu, hukum kekekalan, kebebasan memilih, tujuan hidup, keabadian
ruh, hukum konsekuensi dan pembaharuan dunia. Yasna terdiri dari 72
Haiti (bab) dan mencakup 2 GATHAS.

GATHAS (puji – pujian rohani) adalah bagian otentik kitab AVESTA
yang paling sakral. Di dalamnya berisi cerminan ajaran Mazdaisme yang
hakiki, agama yang dianut dan diamalkan sejak diturunkannya di Iran
timur.

Mazdaisme merupakan agama negara yang dianut sejak awal kekuasaan
Achaemanian. Seperti tersebut di dalam Gathas; Mazdaisme adalah agama
terbaik selamanya. Didalamnya tidak disebutkan tentang nabi – nabi
lainnya selain Zoroaster. Namun Gathas berbicara tentang SAOSHYANT
(berarti orang – orang suci yang memiliki misi memperbaiki dunia).
Ribuan dari antara mereka termasuk Zoroaster disebut SAOSHYANT. Kata
SAOSHYANT dalam bentuk lain yaitu SOSHYOS muncul kembali di dalam
YOUNGER AVESTA yang berarti Sang Penyelamat Pilihan. Kata SAOSHYANT
juga telah digunakan oleh para cendekiawan yang berarti MASIH atau
MAHDI seperti telah tersebut dalam AGAMA – AGAMA IBRAHIM.

1. GATHAS PROPER (Gathas asli), terdiri dari bab 28 –34 dan bab 43 –
53 yang tertera dalam kitab YASNA. Gathas proper adalah bagian tertua
dari kitab AVESTA. Memiliki bahasa berbeda dengan bagian Avesta
lainnya. Tidak berisikan perintah – perintah namun berisikan bacaan –
bacaan yang menginspirasi dan penuh kecintaan yang ditujukan langsung
kepada Tuhan. Isi Gathas ini berbentuk puisi kuno yang sama dengan
masa Indo – Eropa. 17 hymne (puji – pujian ) atau lagu –lagu ini
digubah oleh Zarathustra dan merupakan bagian AVESTA yang telah
diwahyukan. Isi GATHAS ini diimani sepenuh hati oleh komunitasnya.

2. GATHAS HAPTANHAITI, atau 7 BAB, terdiri dari bab 35 hingga bab 42
yang tertera pada Kitab Yasna. Disusun oleh para pengikut Zarathustra
sepeninggal beliau dalam bentuk prosa.

3. YASHT, berarti memuja – muja. Disusun dalam bentuk puji – pujian
YAZATAS (berarti satu – satunya yang di sembah). Kebanyakan YAZATAS
tidak terdapat di dalam GATHAS. Masalahnya Magis ( para pengikut Pra –
ajaran Zoroaster ) telah memasukan beberapa ajaran tersebut ke dalam
ajaran Zoroaster dan berhasil memperkenalkan beberapa dewa – dewa
mereka dalam bentuk Yaztaz.

4. VISPRED, memiliki arti semua festival (perayaan). Terdiri dari 24
bab dan memiliki kaitan dengan 6 perayaan musim Thansgiving yang
disebut GAHANBAR.

5. VENDIDAD, berarti hukum yang menentang para demon ( ruh – ruh jahat
) dan dewa-dewa palsu. Kitab ini juga banyak berisikan tentang
aturan-aturan hygiene (kesehatan).

6. KHORDEH AVESTA, bagian Avesta ini berbentuk bilingual dan berisi doa – doa

sehari – hari yang sebagian berbahasakan Persia. Isi Avesta ini
menggambarkan doa – doa orang – orang Sassanian dan orang – orang
setelah bangsa Sassanian.

Bagian selebihnya AVESTA disebut YOUNGER AVESTA. Ini berbeda dengan 2
GATHAS lainnya dan telah tersusun dalam kurun waktu yang berbeda,
berbahasa Iran timur dan tersusun lama setelah mangkatnya Zarathustra.
Ajaran – ajaran Zarathustra telah dituturkan secara lisan dari
generasi ke generasi lalu ditulis selama masa kekuasaan orang – orang
Sassanian Persia Tengah, tulisan ini disebut Pahlavi.

Kitab –kitab PAHLAVI memiliki kaitan dengan sumber – sumber
berbahasakan Avesta dan kitab – kitab ini memiliki kunci – kunci
bernilai tak terhingga untuk menginterpretasikan kandungan – kandungan
GATHAS dan merupakan kunci bahan study ajaran – ajaran Zoroaster.
Kebanyakan teks – teks PAHLAVI bernilai scholar dan informatif dengan
sentuhan kekayaan filsafat. Beberapa isi kitab ini telah memberikan
pengaruh terhadap ajaran filsafat Islam Syiah di Iran namun tidak
mencerminkan ajaran Zoroaster ortodox. Kebanyakan dari kitab –kitab
ini disusun beberapa abad setelah runtuhnya kekuasaan Sassania. Yakni
penyusunannya berada dalam situasi yang tidak bagus. Namun kitab –
kitab ini setidak – tidaknya merefleksikan kepercayaan – kepercayaan
dan pendapat – pendapat para penyusunnya.

Teks – teks PAHLAVI terbagi menjadi :

1. Versi PAHLAVI berteks AVESTA, yaitu Pahlavi Yasna, Pahlavi Vispred
dan Pahlavi Yasht. Teks – teks ini memiliki nilai agama yang sama
dengan bagian – bagian Avesta asli.

2. AVESTA campuran dan teks – teks PAHLAVI seperti Afrini – Dahman,
memiliki kemurnian yang sama dengan kitab – kitab PAHLAVI. Di dalamnya
di bahas tentang masalah – masalah filosofi, hygiene dan hukum serta
hal – hal seputar agama. Isinya tidak seortodoks doktrin –doktrin
ajaran Zoroaster. Berikut ini adalah beberapa kitab Pahlavi :

1. DINKARN

Sebuah koleksi menarik, berisikan informasi keagamaan, sejarah,
geografi, hukum dan medis.

2. MATIKAN – i – HIZAR DADISTAN

Sebuah risalah hukum perorangan dan peradilan era sassania yang
didasarkan pada putusan – putusan beberapa hakim.

3. SHIKAND GUMANI VIJAR

Sebuah kitab ilmiah berisikan filsafat agama. Membahas kebaikan
dan kejahatan dalam kerangka Zoroasterisme yang luas dan bagian –
bagian tertentu dalam kitab ini berisikan penolakan terhadap doktrin
tertentu kaum Yahudi, Manichaean dan Kristen.

4. BUNDAHISN

Ini adalah kitab yang lain dari kategori yang telah tersebut di
atas. Berisi kemurnian dan dasar penciptaan seperti halnya eschatogy (
ilmu tentang akhirat ).

5. MINOK – KHRAD, sebuah kitab etik yang berisi beberapa cerita –
cerita legenda.

6. SHAYAST – la – SHAYAST atau Pahlavi Rivayat, membahas masalah
dosa, cara menangani mayat, soal ketidaksucian dan cara pensucian yang
tepat.

7. ARDA VIRAF NAMEH, sebuah literatur dan sejumlah cerita – cerita
fiksi tentang kunjungan seorang pendeta tinggi ke surga dan neraka
yang mirip dengan isi cerita komedi perjalanan rohani Dante yang telah
ditulis tiga abad lebih awal.

8. BAHMAN YASHT, Menceritakan kemenangan – kemenangan dan
penderitaan – penderitaan yang dialami oleh para pengikut Zoroaster
seperti penggambaran pengalaman penindasan yang dialami oleh orang –
orang muslim.

Ajaran – ajaran Zarathustra

Zarathustra adalah seorang manusia biasa, manusia yang bijak, seorang
pendeta, seorang guru dan seorang nabi. Beliau adalah pendiri ajaran
baru. Beliau hidup di masa animisme merajalela dan berbagai bentuk
ibadah natural muncul. Penyembahan terhadap matahari saat itu dianggap
penting. Menurut sejarawan Yunani, setelah merubah bentuk penyembahan
kuno tersebut, beliau memperkenalkan doktrin –doktrin yang dianggap
rumit dan aneh. Beliau menyerukan bahwa hubungan individu dengan
Tuhannya secara langsung dapat diraih melalui sikap bijak, bermoral
dan rasa cinta bukan melalui pendekatan tak langsung lewat mediator.
Bahwa pengabdian/ dedikasi dan memberi pertolongan kepada sesama umat
manusia adalah lebih baik dari sekedar menyenangkan para pendeta dan
para bangsawan. Kalangan masyarakat agamis dari Iran Barat yaitu para
Magis (berarti pembesar), menentang beliau dan misinya karena
Zarathustra tidak menyetujui praktek – praktek keagamaan yang mereka
lakukan. Beliau hanya berhasil menarik simpati Raja Vistashpa dan
memiliki akses ke istananya dan juga berhasil membangun sebuah tempat
ibadah sebagai penyempurnaan tugas suci yang diamanatkan Ahura Mazda
atau Tuhan Yang Maha Bijaksana melalui wahyu.

Prinsip awal ajaran Zarathustra berpusat pada Ahura Mazda yaitu Tuhan
Yang Maha Bijaksana karena Dialah Tuhan Yang Paling Tinggi dan Yang
Maha Berdiri Sendiri, satu –satunya Wujud yang patut disembah. Beliau
sendiri menyembah Tuhan dengan bentuk ritual sederhana yaitu
mengangkat kedua tangan beliau dengan penuh kekhusyuan dan sepenuh
hati, dengan pemikiran baik, kata – kata baik dan tindakan –tindakan
baik dan cara seperti inilah beliau memerintahkan kepada pengikutnya
untuk berdoa. Beliau beriman dan mengingatkan kepada pengikutnya untuk
mempercayai bahwa Tuhan adalah Pencipta langit dan bumi juga pencipta
materi dan pencipta dunia kerohanian. Dia adalah sumber pilihan antara
yang terang dan yang gelap, Pemegang Hukum Tertinggi, Pusat Alam, Yang
Mengawali Hukum Moral dan sebagai Hakim seluruh alam semesta.

Dia (Tuhan) dikitari dengan 6 atau 7 AMESHA SPENTAS, atau kedermawanan
abadi (seperti telah tersebut dalam Avesta). Ahura Mazda adalah
pencipta mereka dan Dialah sumber dari segala sumber. Berikut adalah
kelebihan yang tak terpisahkan dari Dia, ialah:

SPENTA MAINYU: ruh suci; ASHA VAHISHTA: keadilan dan kebenaran; VOHU
MANAH: pikiran benar dan ARMAITI atau SPENTA ARMAITI: pengabdian. Ada
tiga sifat lainnya yang tak terpisahkan dari kelompok di atas yaitu
yang melambangkan sifat –sifat baik Ahura Mazda sebagai berikut:

KHSHATHRA VAIRYA: memiliki kekuasaan terhadap apapun yang diinginkan;
HAURVATAT: melingkupi segala sesuatu; dan AMERETAT: keabadian.

Doktrin kedua tercakup dalam ajaran Zarathustra adalah dunia terbagi
atas kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kedustaan, ruh suci dan ruh
perusak. Kedua ruh tersebut secara eksplisit disebut ruh kembar yang
selalu muncul berdampingan. Zarathustra memperingatkan para
pengikutnya kehidupan terbaik yang seseorang dapat capai yaitu
penyesuaian diri dengan ruh kebenaran, meski pada setiap tahapannya
dihadapkan dengan sebuah pilihan yang harus diambil. Ajaran – ajaran
Zarathustra tidak menarik ke arah dualisme kebaikan versus kejahatan
namun lebih ke arah pentingnya pilihan seseorang antara kedua hal
tersebut. Dengan memberikan perintah dan nasehat untuk memilih
kebaikan, kebenaran, dan kesucian ruh.

Doktrin Ketiga adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Bijaksana diberi
kebebasan dalam menjalankan kehidupannya, mereka bebas memilih yang
benar atau yang salah. Juga mereka bebas menjalankan kerohanian atau
keduniawian.

ANGRA MAINYU, adalah ruh perusak yang memilih bertindak buruk karena
dia telah dianugerahi kebebasan memilih. Begitu juga DAEVA – DAEVA
atau dewa –dewa kuno, yang penyembahan terhadap mereka terkait dengan
kekerasan. Zarathustra menganggap hal tersebut sebagai kekuatan iblis.

Doktrin keempat ajaran Zarathustra adalah seseorang diberi kebebasan
mengatur tindakan – tindakannya berdasar pada keinginannya sendiri,
dia sendirilah yang bertanggung jawab atas keseluruhan nasibnya. Dia
sendiri yang mengumpulkan ganjaran abadi atas tindakan – tindakan
baiknya. Juga halnya dengan para pelaku kejahatan, dia akan ternista
dengan konsokuensinya sendiri . Keadilan Tuhan pun berlaku sama yaitu
menghukum dan memberi siksaan abadi di neraka, suatu keberadaan
terburuk.

Doktrin kelima, simbol terluar/ zahir kebenaran adalah API dimana
keberadaan api ini dilibatkan dalam peribadatan dan penyembahan
keagamaan yang dilakukan oleh para pengikut ajaran Zoroaster. Altar
api menjadi pusat tempat pemujaan orang – orang Zoroaster. Zarathustra
menegakkan kebenaran misinya dengan memberikan hukuman api dan baja
yang dicairkan yang kelak di hari akhir pun dipercaya dengan api dan
baja cair inilah manusia akan dihukum.

Para pengikut Zoroaster umumnya dijuluki penyembah api dan dinamai
demikian karena Zarathustra sendiri menghormati elemen ini sebagai
elemen yang memiliki kekuatan kebenaran. Gathas berbicara tentang api
langit digunakan sebagai ujian pada hari peradilan nanti. Gathas
mengatakan bahwa api ini bukan berarti api secara fisik namun
merupakan api rohani dan api terpendam yang bersinar dengan terang di
hati setiap para pengikut Zoroaster yang saleh. Disebutkan pula bahwa
Zarathustra melakukan perjalanan ke seluruh dataran tinggi di Iran
selama bertahun – tahun, beliau menyebarkan ajaran terang dan
memanggil manusia untuk melawan kejahatan dengan cahaya terang dan
melawan iblis dengan kebaikan, memerintahkan untuk menyembah Ahura
Mazda dan menolong – Nya mengalahkan Angra Mainyu yaitu tuhan
kegelapan. Beliau setiap saat membawa serta kubah api (suatu
penggambaran yang muskil). Pada saat kewafatannya, beliau meninggalkan
sebuah rantai pusat pemujaan kepada Ahura, yang masing – masing
lingkarannya memiliki api abadi. Karena hal inilah penilaian tak adil
ditujukan terhadap para pengikutnya dengan menyebut mereka penyembah
api.

Pada akhirnya saya ingin mengemukakan beberapa paragraf dalam
scripture/ tulisan suci para penganut Zoroaster terdiri dari beberapa
hymne ( pujian ) Zarathustra yang telah diterjemahkan oleh seorang
sarjana praktisi penganut ajaran ini yaitu Mr. Taraporewala;

" Sesungguhnya aku percaya kepada – Mu wahai Mazda, sebagai
pemberi rezeki yang paling mulia.

Karenanya aku mempercayai – Mu sebagai penyebab utama semua penciptaan,

Karena kepandaian sempurna – Mu memberi pahala atas semua
perbuatan baik. Kebaikan untuk pelaku kebaikan, kenistaan bagi pelaku
kejahatan hingga hari akhir penciptaan (Yasna 43.5).

Apa – apa yang diajarkan orang- orang yang taat kepada – Mu adalah ini :

Bahwa yang paling patut diminta pertolongan adalah Engkau,

Hakim Suci atas semua amal perbuatan, Raja Kebenaran

Misteri – misteri kehidupan terbentuk karena kehendak – Nya.

Pencipta munculnya bumi;

Kami akan berusaha keras untuk mengungkapkan misteri – misteri ini
melalui cinta ( Yasna 46.9 )

Sejak awal penciptaan dua ruh ini, keduanya muncul bersamaan.
Inilah kebaikan dan kejahatan baik dalam pikiran, perkataan dan
perbuatan.

Antara dua ini biarkanlah yang bijak memilih kebenaran: menjadi
baik bukan melakukan tindakan rendah. ( Yasna 30.3 )

Wahai Penyebab Kematian, buatlah hukum – hukum ini.

Hukum – hukum yang Telah Tuhan Yang Maha Bijaksana tetapkan untuk
mencapai kebahagiaan atau penderitaan,

Hukuman panjang untuk para pengikut kejahatan dan beberkatlah para
pengikut kebenaran,

Berkat keselamatan adalah untuk pengikut kebaikan selamanya! (Yasna 30.11)

Mereka yang pernah hidup, mereka yang sedang hidup dan mereka yang
kemudian akan hidup,

Akankah satu dari antara keduanya menghargai apa yang Dia perintahkan!

Ruh kebaikan akan berada dalam keabadian nikmat,

Namun yakinlah ruh pendusta akan berada dalam penderitaan,

Dan inilah hukum yang yang telah ditetapkan oleh Ahura Mazda yang
memerintah dengan kekuasaan – Nya yang tak terbatas. (Yasna 45.7)

Semua pikiran dan perkataan maupun perbuatan manusia akan
menghasilkan buah sebagaimana yang telah ditetapkan dalam hukum abadi
– Mu,

Keburukan bagi para pelaku keburukan keberkatan kebaikan untuk
pelaku kebaikan. Demikianlah kearifan demikian juga hukum itu berlaku
hingga akhir masa. (Yasna 43.5)

Wahai para pendengar kebaikan terapkanlah kebaikan dalam
kehidupanmu dan ruh penyembuh dari Tuhan Yang Maha Bijaksana akan
didapatkan;

Sebarkanlah ajaran – ajaraan kebaikan Ahura, perkataan – perkataan
– Nya akan memberikan pengaruh dan meyakinkan;

Wahai Mazda, dengan kilatan terang benderang api – Mu tempatkanlah
itu kepada setiap manusia terpilih. (Yasna 31.9)

Sungguh aku menghargai – Mu sebagai Yang Maha Kuat dan Pemberi
Rezeki, wahai Madza!

Dengan tangan dermawan – Mu Engkau tawaran pertolongan yang sama
baik para pelaku kebaikan maupun para pelaku kejahatan.

Di dalam bara api – Mu yang sangat luar biasa terdapat kebaikan,
energi kebaikan telah datang kepadaku, wahai Madza. (Yasna 43.4)

Dengan ruh suci –Mu ini tandailah takdir kami, wahai Mazda Ahura,

Ganjaran kami pahala api – Mu akan diberikan

Seperti halnya armaity dan Asha yang tumbuh di dalamnya,

Para pencari akan dibimbing melalui jalan – Mu. (Yasna 47.6)

Kedua golongan ini yakni kebenaran dan kedustaan, ditempatkan sebagai ujian

Wahai mazda, dengan kilatan api rohani – Mu;

Ujian bara api ini menyingkap jiwa – jiwa terdalam mereka

Kekecewaan penuh akan didapatkan para pelaku kejahatan,

Sedangkan keberkatan penuh akan diraih para pelaku kebenaran. (Yasna 51.9)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar