Selasa, 25 Agustus 2009

siti

DUA PULUH SEMBILAN
“Syahadat Panetep panatagama, kang jumeneng roh idlafi, kang ana
telenging ati, kang dadi pancere urip, kang dadi lajere Allah, madhep
marang Allah, iku wayanganku roh Muhammad, iya, iku sajatining
manusia, iya iku kang wujud sampurna. Allahumma kun walikun, jukat
astana Allah, pankafatullah ya hu Allah, Muhammad Rasulullah.” (mantra
Wedha, hlm. 54).

(Syahadat Penetap Panatagama, yang menempati roh idlafi, yang ada di
kedalaman hati, yang menjadi sumbernya kehidupan, yang menjadi
bertempatnya Allah, menghadap kepada Allah, bayanganku adalah roh
Muhammad, yaitu sejatinya manusia, yaitu wujudnya yang sempurna.
Allahumma kun walikun jukat astana Allah, pankafatullah ya hu Allah,
Muhammad Rasulullah).

Syahadat ini adalah sejenis syahadat netral, yakni yang memiliki
fungsi dan esensi yang umum. Pengucapannya tidak berhubungan dengan
waktu, tempat, dan keadaan tertentu sebagaimana syahadat yang lain.
Hakikat syahadat ini hanyalah berfungsi untuk meneguhkan hati akan
tauhid al-wujud.

TIGA PULUH
“Ini adalah syahadat sakaratnya roh (pecating nyawa), yang meliputi
empat perkara :

1. Ketika roh keluar dari jasad, yakni ketika roh ditarik sampai pada
pusar, maka bacaan syahadatnya adalah, “la ilaha illalah, Muhammad
rasulullah.”

2. Kemudian, ketika roh ditarik dari pusar sampai ke hati, syahadat
rohnya adalah “la ilaha illa Anta”.

3. Kemudian roh ditarik sampai otak, maka syahadatnya “la ilaha illa Huwa”.

4. Maka kemudian roh ditarik dengan halus. Saat itu sudah tidak
mengetahui jalannya keluar roh dalam proses sekarat lebih lanjut.
Sekaratnya manusia itu sangat banyak sakitnya, seakan-akan hidupnya
sekejap mata, sakitnya sepuluh tahun. Dalam keadaan seperti itulah
manusia kena cobaan setan, sehingga kebanyakkan kelihatan bahwa kalau
tidak melihat jalan keluarnya roh menjadi lama dalam proses
sekaratnya. Jika rohnya tetap mendominasi kesadarannya, tidak kalah
oleh sifat setan, maka syahadatnya roh adalah “la ilaha illa Ana”.
(Mantra Wedha, bab 211, hlm. 57).

Ajaran tentang syahadat pecating nyawa tersebut diberikan oleh Syekh
Siti Jenar bagi orang yang belum mampu menempuh laku manusia
manunggal, sehingga diperlukan prasyarat lahiriyah yang berupa
syahadat pecating nyawa tersebut. Bagi yang sudah mampu menempuh laku
manunggal, maka prosesnya seperti yang dilakukan Syekh Siti Jenar,
kematian bukan masalah kapan ajalnya datang, juga bukan masalah waktu.
Kematian termasuk dalam salah satu agenda manunggalnya iradah dan
qudrat kawula Gusti dan sebaliknya.

Kalau diperhatikan secara seksama, ajaran Syekh Siti Jenar yang
dikhususkan bagi kalangan ‘awam (yang tidak mampu mengalami
Manunggaling Kawula Gusti secara sempurna) tersebut hampir sama dengan
ajaran Syuhrawardi.

Shalat (tarek dan Daim)

Syekh Siti Jenar mengajarkan dua macam bentuk shalat, yang disebut
shalat tarek dan shalat daim. Shalat tarek adalah shalat thariqah,
diatas sedikit dari syari’at. Shalat tarek diperuntukkan bagi orang
yang belum mampu untuk sampai pada tingkatan Manunggaling Kawula
Gusti, sedang shalat daim merupakan shalat yang tiada putus sebagai
efek dari kemanunggalannya. Sehingga shalat daim merupakan hasil dari
pengalaman batin atau pengalaman spiritual. Ketika seseorang belum
sanggup melakukan hal itu, karena masih adanya hijab batin, maka yang
harus dilakukan adalah shalat tarek. Shalat tarek masih terbatas
dengan adanya lima waktu shalat, sedang shalat daim adalah shalat yang
tiada putus sepanjang hayat, teraplikasi dalam keseluruhan tindakan
keseharian ( penambahan, mungkin efeknya adalah berbentuk suci hati,
suci ucap, suci pikiran ); pemaduan hati, nalar, dan tindakan ragawi.

Kata “tarek” berasal dari kata Arab “tarki” atau “tarakki” yang
memiliki arti pemisahan. Namun maksud lebih mendalam adalah
terpisahnya jiwa dari dunia, yang disusul dengan tanazzul
(manjing)-nya al-Illahiyah dalam jiwa. Shalat tarek yang dimaksud di
sini adalah shalat yang dilakukan untuk dapat melepaskan diri dari
alam kematian dunia, menuju kemanunggalan. Sehingga menurut Syekh Siti
Jenar, shalat yang hanya sekedar melaksanakan perintah syari’at adalah
tindakan kebohongan, dan merupakan kedurjanaan budi.

Pengambilan shalat tarek ini berasal dari Kitab Wedha Mantra bab 221;
Shalat Tarek Limang Wektu. (Sang Indrajit: 1979, hlm. 63-66).

Keterangan bagi yang mengamalkan ilmu shalat tarek lima waktu ini.
(Semua hal yang berkaitan dengan shalat tarek ini diterjemahkan dengan
apa adanya dari Kitab Wedha Mantra. Makna terjemahan yang bertanda
kutip hanyalah arti untuk memudahkan pemahaman. Adapun maksud dan
substansi yang ada dalam kalimat-kalimat asli dalam bahasa Jawa-Kawi,
lebih mendalam dan luas dari pemahaman dan terjemahan
diatas.(penulisnya wanti-wanti banget). Pelaksanaan shalat tarek bisa
saja diamalkan bersamaan dengan shalat syari’at sebagaimana biasa,
bisa juga dilaksanakan secara terpisah. Hanya saja terdapat perbedaan
dalam hal wudlunya. Jika dalam shalat syari’at, anggota wudhu yang
harus dibasuh adalah wajah, tangan, sebagian kepala, dan kaki,
sementara dalam shalat tarek adalah di samping tempat-tempat tersebut,
harus juga membasuh seluruh rambut, tempat-tempat pelipatan anggota
tubuh, pusar, dada, jari manis, telinga, jidat, ubun-ubun, serta pusar
tumbuhnya rambut (Jawa; unyeng-unyengan). Walhasil wudlu untuk shalat
tarek sama halnya dengan mandi besar (junub/jinabat).

Bahwa kematian orang yang menerapkan ilmu ini masih terhenti pada
keduniaan, akan tetapi sudah mendapatkan balasan surga sendiri. Maka
paling tidak ujaran-ujaran shalat tarek ini hendaknya dihafalkan,
jangan sampai tidak, agar memperoleh kesempurnaan kematian.
Bagi yang akan membuktikan, siapa saja yang sudah melaksanakan ilmu
ini, dapat saja dibuktikan. Ketika kematian jasadnya didudukkan di
daratan (di atas tanah), di kain kafan serta diberi kain lurub
(penutup) serta selalu ditunggu, kalau sudah mendapatkan dan sampai
tujuh hari, bisa dibuka, niscaya tidak akan membusuk, (bahkan kalau
iradah dan qudrahnya sudah menyatu dengan Gusti), jasad dalam kafan
tersebut sudah sirna. Kalau dikubur dengan posisi didudukkan, maka
setelah mendapat tujuh hari bisa digali kuburnya, niscaya jasadnya
sudah sirna, dan yang dikatakan bahwa sudah menjadi manusia sempurna.
Maka karena itu, orang yang menerapkan ilmu ini, sudah menjadi manusia
sejati.

Sedangkan tentang ilmu ini, bukanlah manusia yang mengajarkan, cara
mendapatkannya adalah hasil dari laku-prihatin, berada di dalam
khalwat (meditasi, mengheningkan cipta, menyatu karsa dengan Tuhan
sebagaimana diajarkan Syekh Siti Jenar).

Tentang anjuran untuk pembuktian di atas, sebenarnya tidak diperlukan,
sebab yang terpenting adalah penerapan pada diri kita masing-masing.
Justru pembuktian paling efektif adalah jika kita sudah
mengaplikasikan ilmu tersebut. Apalagi pembuktian seperti itu jika
dilaksanakan akan memancing kehebohan, sebagaimana terjadi dalam kasus
kematian Syekh Siti Jenar serta para muridnya.

TIPULUH SATU
Shalat Subuh

Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Kudus kang shalat, iya
iku rohing Allah. Allah iku lungguh ana ing paningal, shalat iku
sajrone shalat ana gusti, sajroning gusti ana sukma, sajroning sukma
ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajro-ning urip ana eling, pardhu
ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing awakku.”

(Aku berniat shalat, roh Kudus yang melaksanakan shalat, yaitulah
rohnya Allah. Allah yang menempati penglihatan, shalat yang di dalam
shalat itu ada gusti, di dalam gusti ada sukma, di dalam sukma ada
nyawa, di dalam nyawa terdapat kehidupan, di dalam kehidupan terdapat
kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar tetap
mantap mengerti akan diriku sendiri).

Malaikatnya adalah Haruman (malaikat Rumman), memujinya dengan “Ya Hu,
Ya Hu.” Seratus kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, sirku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu
akbar, tetep madhep langgeng weruh ing sirku.”

(Aku berniat shalat, sir [rahasia]-ku yang shalat, wajib dari Allah
ta’ala, Allahu akbar, tetap menghadap dengan abadi mengerti akan sir
[rahasia]-ku).

Malaikatnya Haruman, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Kemudian memuji; “ya Rajamu, ya Rajaku.” (Arab; Ya maliku al-Mulku).
Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.

Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak
adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung,
tergulung membuat semesta). Seratus kali.

Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing
Allahku.” (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.

Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing
Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada
Allahku), Seratus kali.

TIGA PULUH DUA
Shalat Luhur

Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh idlafi kang shalat,
iya iku rohing Pangeran. Pangeran iku lungguhe ana ing kaketek, shalat
iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana
urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep
mantep weruh ing Pangeranku.” (Aku berniat shalat, roh Idlafi yang
melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Tuhan. Tuhan yang menempati
ketiak, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti
terdapat sukma, di dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya
kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban
dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Tuhanku).
Malaikatnya adalah Jabarail (malaikat Jibril), memujinya dengan, “Ya
Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, kang shalat osikku, pardlu ta’ala Allahu
akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing osikku.” (Aku berniat
shalat, yang shalat bisikan dan gerak hatiku, wajib dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan
bisikan nuraniku).
Malaikatnya Jabarail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku).
Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.

Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng
Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari
segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya
tergulung, tergulung membuat semesta). Seratus kali.

Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.”

(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.

Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku”,
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.

TIGA PULUH TIGA
Shalat ‘Ashar

Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Abadi kang shalat, iya
iku rohing Rasul. Rasul iku lungguhe ana ing poking ilat, shalat iku
sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip,
sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep
weruh ing Rasulku.”

(Aku berniat shalat, roh keabadian yang melaksanakan shalat, yaitulah
rohnya Utusan. Utusan Tuhan yang menempati ujung lidah, shalat yang di
dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam
sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam
kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Utusanku).

Malaikatnya adalah Mikail, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, angen-angenku kang shalat, pardlu ta’ala
Allahu akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing angen-angenku.”

(Aku berniat shalat, angan-anganku yang shalat, wajib dari Allah
ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti
akan angan-anganku).

Malaikatnya Mikail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku).
Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.

Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng
Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari
segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya
tergulung, tergulung membuat semesta). Seratus kali.

Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing
Allahku.” (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.

Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing
Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada
Allahku), Seratus kali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar