Sabtu, 29 Agustus 2009

Nabi adam

Kisah Nabi Adam alayhi salam
Mawlana Shaykh Nazim Adil Al-Haqqani Sultanul Awliya
Rabu, August 26, 2009 | Lefke CY


Dastoor ya Rijaal-Allah, Dastoor ya Sayyidee madad
Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha ill-Allah. Allahu akbar, Allahu akbar wa lillah al-hamd.

Engkau adalah Pencipta kami, Engkau adalah Penguasa (Pengelola) kami. Kami memohon bantuan dan dukungan Surgawi Mu . Wahai Penguasa kami, karunialah kami, demi kehormatan dia yang paling Engkau hormati, yang paling terhormat dan paling agung dan paling anggun, Sayyidina Muhammad (s.a.w.), kami memohon dukungan surgawi untuk menghancurkan setiap kepalsuan, setiap hal buruk, dari dunia dan membuangnya dan untuk mendatangkan apa yang baik, apa yang terbaik untuk ummat manusia. Sebagaimana seharusnya mereka nantinya berada di hadapan Tuhan mereka pada Hari Kebangkitan Kembali.

Wahai manusia, as-salaam `alaykum wa rahmatullahi barakatuh. Dengar dan katakan bersama saya: alfu ’s-salaat alfu ’s-salaam `ala sayyid al-awwaleen wa ’l-akhireen Sayyidina Muhammad (s) dan kami memohon syafa’atmu di dalam bulan yang suci ini dan mohon barakah, keagungan dan kehormatan bulan suci ini.

Wahai manusia! Dengar dan perhatikan dan patuhi Tuhan mu, Pencipta kita. Allah, Allah, Allahu Akbar wa lillahi ’l-hamd.

Wahai manusia! Katakan `audhu billahi min ash-shaytani 'r-rajeem. Katakan kita bertaubat dari langkah buruk, kita bertaubat dari tindakan/amal buruk. Kita menyesali amal dan kegiatan buruk kita. Dan katakan `audhu billahi min ash-shaytani 'r-rajeem – Wahai Tuhan kami, kami berlari kepada Mu dari Satan dan para pembantunya. Dan kami memohon pedang surgawi Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Raheem untuk membuat pertahanan terhadap Satan dan para pembantunya. Semoga Allah menyingkirkan mereka.

Kita, wahai manusia, mengatakan dastoor ya RijaalAllah. Madad Ya Sultan al-Awliya. Kita memohon Penguasa (master) dunia ini, untuk menolong kita, dan memberi kita dukungan surgawi karena kita lemah dan kita memerlukan dukungan surgawi dan dukungan surgawi tidak akan datang, kecuali melalui Penguasa (master) dunia ini.

Kita harus belajar, kita harus berusaha untuk memberikan yang terbaik dari kita untuk Hadhirat Ilahiyyah. Setiap harinya, setiap hari kita harus berusaha untuk sedikit lebih baik dari pada kemarin. Hari ini kita harus sedikit lebih jauh, menuju kemana? Menuju samudera cahaya. Lautan cahaya, lautan cahaya surgawi. Kita harus berusaha mendekati sedikit lebih ke dunia cahaya, posisi cahaya surgawi, untuk menjadi cahaya. Nikmatilah! Itu adalah sangat penting.

Kita disini hidup dalam kegelapan, kegelapan dari hidup ini. Kita hidup melalui kegelapan dan kekotoran dunia ini. Kegelapan. Kita diciptakan melalui Cahaya Tak Berakhir Surgawi. Kita diciptakan melalui dunia cahaya, melalui wilayah tercerahkan dari Tuhan Ciptaan, Tuhan seru seluruh ciptaan.

Berhati hatilah melalui kawasan/wilayah tercerahkan dari Allah S.W.T. ini dan untuk beberapa alasan yang terkenal dan itu adalah untuk sebuah tabayyun yang jujur, yang terkenal melalui kitab kitab suci, alasannya kita telah diusir dari dunia tercerahkan itu ke dunia gelap dan kini kita di sini berada di dalam kegelapan.

Ya. Kamu melihat, memandang matahari bersinar gemilang dan rembulan juga bercahaya, namun dalam hakikatnya kita berada di dalam dunia yang gelap. Kita sekarang, telah diusir dari wilayah tercerahkan dan turun ke dunia gelap ini, dunia liar, dunia yang tak diketahui, (pada nya) kita telah mendarat. Dan kita harus berusaha untuk keluar dari dunia gelap ini, dari wilayah kegelapan ini, untuk kembali ke wilayah tercerahkan (enlighted), wilayah Surgawi Ilahiyyah. Dan wilayah Nya ini tidak pernah berakhir.

Dan kegiatan paling penting atau upaya atau amalan paling penting, upaya kita hendaknya berusaha untuk keluar dari wilayah gelap menuju kepada wilayah tercerahkan.

Kita telah mendarat di sini untuk beberapa alasan dan alasan yang membuat leluhur kita Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa, untuk turun dari dunia tercerahkan ke dunia kegelapan ini, apakah itu? Itu harusnya sangat dikenal. Itu sangatlah pentng. Temukan, itulah yang pertama harus kita pelajari. Sebelum belajar begitu banyak hal yang tidak berguna, kita harus belajar mengapa kita telah dikirim atau mengapa kita telah diusir dari surga yang tercerahkan. Apakah alasan itu?

Jika kamu tidak tahu alasannya kamu tidak dapat menyelamatkan dirimu sebagaimana seorang doctor jika dia tidak tahu alasan penyakitnya, dia tidak dapat melakukan penanganan (tadawi), apapun. Tidak dapat ditangani, tidak. Karena dia tidak tahu alasannya. Jika setiap orang tahu tentang ini, tidaklah diperlukan begitu banyak doctors untuk melakukan penanganan– Setiap orang dapat melakukan penyembuhan sendiri. Namun tidak semua orang mengerti. Beberapa orang mengerti dan beberapa orang dikaruniai (kemampuan) menyembuhkan penyakit ummat manusia.

Dan kita kini juga, makhluk hidup, hidup di antara begitu banyak makhluk. Perhatikan wahai manusia! Kita pernah di Surga. Kita diciptakan di sana. Dan itu adalah kampung kita. Segala sesuatunya indah; Segala sesuatu memberikan barakahnya kepada Adam a.s. dan Siti Hawa. Tak satupun, melukai mereka . Segala sesuatu memberikan kenikmatan kepada Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa. Jadi apakah sebabnya mereka diusir turun dari Surga ke sebuah dunia liar yang penuh dengan begitu banyak makhluk, yang setiap mereka, begitu marah kepada Siti Hawa, kepada Nabi Adam a.s.. Mereka sangat tidak bahagia dari perlakuan para makhluk itu. Dan tak satupun memberi salam kepada Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa di sini, tidak.

Di Surga segala sesuatu memberi salam kepada Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa dan memberikan kenikmatan kepada keduanya. Segala macam kenikmatan, makan, minum, pemandangan. Namun mereka berdua hanya mendarat di planet gelap ini. Mereka diusir dari Surga yang tercerahkan dan jatuh ke dunia ini, planet dan itu adalah muwajaha pertama, mula mula mereka datang ke di hadapan mereka hanya sebuah kegelapan. Mereka mendarat pada sebuah dunia yang tidak diketahui dan dunia itu dalam kegelapan. Gelapnya kegelapan.

Dan tangisan Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa, mereka menangis karena mereka diusir dari Surga yang tercerahkan. Dan kemudian Penguasa Surga memberi mereka sebuah cahaya, nur dan matahari terbit dan mereka ambruk bersujud kepada Penguasa Surga sambil berkata “Wahai Tuhan kami! Ini adalah karunia Mu kepada abdi Mu yang membangkang. Kami telah membangkang, wahai Tuhan kami. Namun Engkau mengkaruniai kami sebuah cahaya, meskipun itu tidak seperti cahaya yang di Surga. Namun kami begitu bahagia karena adanya cahaya ini, bahwa matahari terbit dan memberi kami cahaya, wahai Tuhan kami.” Mereka bersujud, menyembah Penguasa Surga.

Namun, wahai manusia! Mereka memahami alasan yang menyebabkan mereka diusir dari Surga yang tercerahkan – dilempar keluar, dan mereka menangis. Kemudian, wahai manusia. Sebagai gantinya Surga di mana mereka semua begitu mencintai Adam dan Siti Hawa, begitu bersahabat, begitu baik, begitu hormat, semuanya di mana mana, namun ketika sampai di sini mereka mendapati dunia yang liar, dalam kegelapan, penuh dengan makhluk (monster).

Namun semua makhluk itu begitu marah kepada mereka. Bukannya memberi salam, tetapai begitu marah dan mengutuk. Mengutuk. Mereka berkata, “Seorang pembangkang datang, mendarat di antara kita dan mereka akan membuat keonaran kepada kita , karena mereka telah diusir dan dikutuk” dan mereka gemetar (ketakutan). Tak satupun yang menyambut Adam dan Siti Hawa, yang mengatakan” as salamun alaikum!”, tidak. Bahkan semut berkata (kepada sesamanya), “Larilah.” Pohon berkata, “Larilah. Ada abdi pembangkang - larilah!” Dan semua binatang liar melarikan diri dari mereka berdua, bukannya mendekat untuk memberi uluk salam namun menjauh dan berkata bahwa “kutukan yang jatuh kepeda mereka mungkin akan menyentuh kita. Tinggalkan mereka.” Dan mereka melarikan diri.

Dan pepohonan dan buah buahan memberikan buah tetapi tanpa rasa. Tidak ada rasa dari buah dan mereka mencapai daratan dunya. Datang ke dunya mereka begitu menyesal, begitu sedih. Dan Adam, Sallallahu Alayhi Wasallam, dia menangis, tidak makan, tidak minum, hanya menangis di atas puncak Gunung Serendip, dia berdiri di atas satu kaki dan menangis dan menangis .

Dia tidak makan tidak minum apapun selama 30 hari. Itu adalah puasanya. Puasa dan menangis sampai Tuhan mereka menerima taubat mereka dan memberikan Rahmat Nya dan bersabda “Wahai Adam! Aku menerima tawbat kamu, taubat, taubat. Dan dia mulai membuat dunia ini untuk tempat tinggal dirinya dan anak anak nya. Atau kita akan menjadikan diri kita generasi Surgawi. Jika tidak maka Adam dan Siti Hawa akan menjadi berada di Surga tanpa datang dari sana.

Maka, wahai manusia perhatikanlah! Pertama kita harus tahu apakah alasan maka kita berada di planet ini. Apakah alasannya maka Adam dan Siti Hawa mendarat di dunya ini? Itu adalah masalah paling penting dalam keseluruhan Kitab Suci untuk diketahui dan diajarkan. Itu adalah pelajaran pertama untuk Adam dan Siti Hawa dan para keturunan mereka.

Apa yang kamu pikirkan sekarang di masa kita ini? Siapa yang telah bertanya mengapa Adam dan Siti Hawa mendarat di sini? Dan mereka juga tidak bertanya, tentang apakah kutukan yang datang kepada manusia melalui abad ke 21? Manusia saling memangsa (saling menyakiti). Apakah alasannya?

SubhanAllah itu ditulis dalam semua kitab lama, sebuah dongeng yang memberi pelajaran, bukan dongeng khayal, tetapi sebuah kisah yang memberi pelajaran.

Suatu waktu seorang dari antara para alim, dia berada di dalam sebuah perahu, sebuah kapal, bepergian dan dia memperhatikan dan melihat laut itu dan melihat bahwa ikan ikan saling memakan dan melihat sedang terjadi sebuah perang besar (muharaba), dan dia berkata, “Wahai Tuhan kami, Engkau mengetahui segala sesuatu. Saya begitu heran (aja’ib). Aja’ib. Saya merenung apa kiranya alasan (perang ini)?” Dan datanglah suara dari langit yang berbunyi “Wahai abdi Ku. Barusan telah lewat di situ seorang abdi yang membangkang dan (abdi itu) meludah ke laut. Ludahnya itulah yang membuat ikan ikan itu saling berkelahi.”

Kalau ludah seorang abdi yang membangkang yang bisa membuat onar seperti itu, bagaimana tentang (ludah?) kita sendiri. Bahwa sekarang adalah sejarah/kisah baik sekali untuk mengajari manusia alasan adanya krisis, alasan adanya kerusuhan, alasan adanya perkelahian, alasan untuk membuat begitu banyak bom nuclear. Segala sesuatu, yang membuat manusia begitu saling bermusuhan. Itulah alasannya.

Nah wahai manusia! Jika abdi yang membangkang itu membuat kerusuhan di antara ikan di lautan, apa yang dapat kita katakan sekarang?

Setiap diri kita adalah pembangkang dan tidak lagi menghormati Perintah Suci dari Penguasa Langit. Kita tidak memberikan hormat yang tinggi dan pengabdian tinggi kepada Allah S.W.T.. Itulah alasan dari seluruh kesukaran. Wahai manusia! Pikirkanlah hal itu dan jika tidak, maka akan datang kutukan lainnya yang akan membuat tidak akan ada lagi manusia atau hewan atau tetumbuhan yang hidup di bumi ini.

Saya hanyalah seorang yang lemah yang (hanya bisa) memberi peringatan. Peringatan? Saya seorang yang lemah. Saya berkata kepada orang orang, “Peliharalah dirimu!” Itu adalah peringatan.

Itu artinya alasan mengapa Adam dan Siti Hawa telah diusir dari Surga dan dilemparkan keluar hingga mendarat di dunya ini. Dunya ini yang tidak ada nilai di dalamnya di Hadhirat Ilahiyyah. Dan manusia saling memangsa dan saling bunuh dan melakukan begitu banyak hal buruk.

Itulah alasannya. Dan apapun pemahaman kamu dari (pelajaran) ini adalah sumber dari kerusuhan dan krisis, kita harus bertanya “Apa yang ditulis di dalam Testamen Tua (terdahulu)?” “Apa yang tertulis di dalam Testamen Baru?” “Dan apa yang tertulis di dalam Al Qur’an Suci?” Apa yang dikatakannya? Dan tak seorangpun mencari tahu apa yang dikatakan (dalam kitab kitab itu) dan yang menyebabkan situasi seperti ini dan untuk mencari tahu suatu cara menyelamatkan diri kita.

Kamu tidak akan menemukan satu cara untuk menyelamatkan dirimu sampai kamu mencari di kitab kitab suci. Kamu harus mengerti di mana Adam dan Siti Hawa berada di Surganya. Mereka begitu dimuliakan dan segala sesuatu memberikan mereka kenikmatan. Namun apa alasannya mereka diusir? Alasannya adalah karena mereka membangkang, menolak perintah suci, Perintah Suci Allah, Dia bersabda, “Jangan makan!” Dan mereka tidak membungkukkan tubuh kepada Allah S.W.T. sambil mengatakan “Apapun yang Engkau perintahkan (kami lakukan) ya Allah, Tuhan kami!” Mereka tidak mengatakan ini dan akhirnya merekan berlari mendekati dan makan buah terlarang dan segala sesuatu langsung berubah dan segala macam kesukaran mendatangi Adam dan Siti Hawa dan anak keturunan mereka. Dan hingga sekarang kutukan itu tetap berlangsung, karena manusia tidak bertanya alasannya (pengusiran itu). Alasannya adalah dalam pembangkagan kepada Penguasa Surga. Selama kamu dalam pembangkangan, kutukan itu tetap mendatangi, di sini dan di hari akhir nanti.

Pikirkanlah hal itu, wahai patriarchs (pendeta Yahudi), wahai gereja, wahai synaguoges (tempat ibadah Yahudi), wahai masjid, wahai para ulama/terpelajar, wahai para pimpinan agama!

Saya tidak suka para pimpinan agama, bila mereka tidak memahami kesukaran yang dialami ummat manusia. Saya seorang abdi Allah yang lemah yang sederhana dan kini membuat saya untuk mengalamatkan (menyampaikan) kepada seluruh dunia dalam bulan ini, dari Timur ke Barat dan untuk merubah jalan kita untuk datang pada jalan yang benar. Dan kamu tidak dapat berada di jalan yang benar jika kamu tidak mengikuti mereka yang benar (siddque). Bertanyalah kepada mereka yang siddique, jangan bertanya kepada orang yang memberikan julukan (nama besar) yang kosong kepada diri mereka sendiri. Itu tidak penting. Carilah dan perhatikanlah seorang yang sungguh beriman dan seorang abdi yang patuh kepada Tuhannya dan mengikuti nya. Jika tidak, seluruh dunia ini akan berakhir karena Hari Pengadilan telah berada di ambang pintu. Wahal Tuhan kami! Kirimkanlah seseorang yang mampu merubah jalan kami dari jalan buruk ke jalan yang menuju kepada Mu!

Wahai Tuhan kami. Tawbah, tawbah, tawbah istaghfirullah. Tidak ada yang akan menyelamatkan kamu, apakah kamu Kristen, Orthodox, Muslim, Shia, Wahabi atau apapun. Kamu tidak dapat berubah. Kamu tidak dapat menyelamatkan dirimu sendiri jika kamu tidak merubah jalan kamu. Wahai manusia! Janganlah saling membunuh namun berusahalah mengusir shaythan dalam dirimu! Semoga Allah mengampuni saya.

Tawbah ya Rabbee, tawbah. Fatiha.

(45 menit)

Dumm, dumm , dumm, dumm
Damet senden sharaf sende iman senden

Wahai Tuhan kami, Penguasa Surga
Dumm, dumm , dumm, dumm , dumm

Shukran sarlar,
Shukran sana mennet sana

Allah, Allahuma ampuni kami
Abdi Mu yang lemah, Selamatkan diri kami
Dan kirimi kami, seseorang yang dapat menghancurkan Kerajaan Shaythan di bumi

Wahai Allahuma
Allah Hayy, Allah Hu
Allah Hayy, Allah Hu
Allah Hayy, Allah Hu

Terima kasih telah mendengarkan. Terima kasih telah menyimak. Berdoalah buat saya, wahai para pendengar, janganlah menjadi mereka yang membangkang. Saya memohon ampunan dari Tuhan kami Allah S.W.T.,

Wahai manusia..Jangan lah saling memangsa.
Saling beramah tamahlah.
Cobalah menjadi seperti malaikat,
janganlah seperti shaytans!

Ok? (bagus) As-salaam `alaykum, ok?
Istaghfirullah. Istaghfirullah ,Istaghfirullah,
O Istaghfirullah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar