Sabtu, 29 Agustus 2009

Kegalauan hati Sunahsepa

Kegalauan hati Sunahsepa

Sunahsepa merenung panjang, di depannya duduk bersila Resi Kausika dan berada di sebelahnya Rohita, putra raja Harischandra, keduanya sedang bersamadhi. Aura kedamaian sang resi membuat rasa ketentraman merayapi dirinya.

Sunahsepa ingat, beberapa hari yang lalu dia bersama Rohita berjalan menuju istana dan melewati tempat pertapaan Resi Kausika. Melihat Resi Kausika, raja terkenal yang meninggalkan segala kenyamanan untuk bertapa mencari makna kehidupan hatinya terketuk. Rasa kepedihan, kegelisahan dan kebingungan yang meliputi dirinya seakan menemukan pintu gerbang penyelesaian. Dirinya langsung menjatuhkan kepalanya pada pangkuan sang resi dan menangis terisak-isak. Sang resi membuka matanya dan mengelus-elus kepalanya, “Anak muda, ceritakan apa yang terjadi, sekiranya aku dapat mengurangi penderitaanmu akan kubantu sepenuh hati.”

Dirinya kemudian menjelaskan, “Wahai bapa resi yang suci, kami berniat melakukan dharma. Tetapi selalu ada pertempuran sengit di dalam benak kami. Kami ini dapat disamakan dengan anak yatim piatu, ayah kami sayang dengan kakak sulung, sedangkan ibu kami sayang dengan adik bungsu. Diri kami sudah bersedia berkorban demi kemuliaan keluarga, hanya kadang terasa pedih, bahwa kami seakan-akan tidak dianggap lagi sebagai anggota keluarga mereka. Diri kami pun juga sering merasa sudah tidak dianggap lagi sebagai warga negara. Demi raja dan putra mahkota, kami akan mengorban nyawa, tetapi tak ada satu pun yang memikir diri kami yang akan melakukan pengorbanan. Mereka semua tidak peduli dengan kegalauan perasaan kami. Wahai bapa resi tolong kami”. Kemudian dirinya menceritakan masalah yang dihadapinya kepada Resi Kausika.

Setelah menarik napas panjang dan membuang napas pelan-pelan tiga kali, sang resi melihat putra mahkota Rohita dan berkata, “aku kenal baik dengan kakekmu Raja Trisanku. Aku akan membantu kalian sebisa mungkin.”Istirahatlah beberapa hari di sini!”

Kausika adalah seorang raja besar yang pernah merasa tak berdaya karena dikalahkan resi Vasishta. Tekadnya begitu kuat sehingga dia meninggalkan istana dan bertapa bertahun-tahun. Demi peningkatan kesadaran, Kausika melepaskan kenyamanan dari harta, tahta, dan usia demi peningkatan kesadaran. Upayanya membawa hasil dan dia diberi gelar Rajarsi, raja resi oleh para dewa.

Coba pikirkan, renungkan sejenak : Untuk menjadi dokter kita membutuhkan belasan tahun di sekolah dan universitas. Untuk menjadi sarjana dalam cabang ilmu apa saja, kita membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk hal-hal yang menyangkut nafkah dan profesi kita rela mengorbankan sekian tahun. Berapa tahun yang kita cadangkan untuk olah batin? Untuk olah batin kita tidak punya waktu. Kita menginginkan hasil instant. Kenapa? Karena, sesungguhnya kita tidak menghargai olah batin. Kita melakukannya sebagai pekerjaan sambilan. Dalam hati kecil, kita masih belum cukup percaya bahwa olah batin itu perlu, dan jauh lebih penting dari olah-olah lain. *1 Life Workbook

Raja Trisanku kakek Rohita, pernah dikutuk menjadi seorang candala dan datang mohon pertolongan kepada Kausika yang kemudian membuatkan surga khusus baginya, sehingga Indra pun mengakui kedaulatan surga tersebut. Kausika adalah seorang raja resi yang luarbiasa, dia masih melanjutkan tapanya untuk mencapai tingkat Maharsi.

Perjanjian Raja Harischandra dengan Varuna

Sunahsepa ingat bahwa beberapa minggu sebelumnya Rohita, putra raja Harischandra bertemu dengan Resi Ajigarta ayahnya. Rohita menceritakan masalah yang dihadapinya.

Raja Harischandra mempunyai suatu masalah dan masalah tersebut hanya dapat terselesaikan apabila istrinya melahirkan seorang putra. Sang raja membuat perjanjian dengan Varuna, bahwa Varuna akan membantu sang raja mendapatkan seorang putra, tetapi setelah sang putra lahir akan dipersembahkan kepada Varuna. Demikian kesepakatannya.

Ketika sang putra lahir, sang raja mohon tenggat waktu kepada Varuna agar acara ritual pengorbanan ‘Narameda’, pengorbanan menggunakan manusia sebagai persembahan ditunda, menunggu sang bayi keluar giginya, agar persembahan bisa menjadi lebih sempurna. Saat gigi sang bayi sudah tumbuh, dan Varuna datang menagih janji, kembali sang raja mohon penundaan karena salah satu giginya sedang tanggal dan menunggu tumbuh. Demikian berkali-kali, sampai suatu saat sang raja mohon pengorbanan ditunda sampai sang putra dapat memakai senjata, agar pengorbanan menjadi lebih sempurna saat putranya menjadi seorang ksatriya remaja.

Penundaan tersebut dilakukan penuh perhitungan agar sang putra cepat menjadi dewasa dan memahami keadaannya. Ada rasa penyesalan yang dalam di hati sang raja, mengapa harus mengorbankan putranya yang tidak tahu apa-apa. Masalahnya adalah perjanjian Varuna dengan dirinya, bukan sang putra. Seandainya sang putra cepat memahami persoalan dan melarikan diri, maka dirinya siap menghadapi apa pun yang akan terjadi dengan sepenuh hati.

Pada suatu kali Rohita yang menjelang remaja sadar apa yang akan terjadi pada dirinya, dan dia melarikan diri ke hutan. Beberapa lama berada di hutan, pada suatu saat Rohita mendengar bahwa ayahnya sakit parah karena ingkar janji kepada Varuna dan dia ingin kembali ke istana. Rohita berpikir lebih baik menyerahkan dirinya sebagai korban dari pada ayahnya sakit berkepanjangan. Rohita menyadari, ayahnya sengaja menunda penyerahan dirinya, agar dirinya cepat dewasa dan dapat melarikan diri. Akan tetapi dia merasa hal tersebut tidak menyelesaikan masalah. Kini sebagai akibatnya sang ayah sakit parah dan seluruh masyarakat yang akan menanggungnya. “Sudahlah Gusti, diriku rela mengorbankan nyawaku, agar ayahandaku sembuh dan beliau segera bisa mempunyai putra lain pengganti diriku.”

Perjalanan spiritual Rohita

Sewaktu Rohita akan kembali ke istana, Indra datang dan mencegahnya, “Jangan terburu-buru pulang ke istana dan mati muda, ayahmu belum segera mati, para penasehatnya pun masih dapat menjalankan roda pemerintahan.” Rohita diminta melakukan tirtayatra, ziarah ke sungai-sungai suci selama satu tahun. Diharapkan dalam perjalanan tersebut dia dapat meningkatkan kesadaran dan mendapatkan jalan keluar.

Satu tahun berlalu, dan Rohita kembali mau pulang ke istana. Indra datang dan menyampaikan nasehat bahwa sang ayah masih dapat bertahan, lebih baik dirinya melanjutkan tirtayatra. Setiap kali mencapai satu tahun Rohita mau kembali ke istana, Indra selalu minta agar bertirtayartra lagi. Lima tahun sudah Rohita ziarah ke sungai-sungai suci. Lima tahun yang membuat Rohita menjadi seorang ksatriya yang lebih dewasa, spiritualitasnya meningkat dan bahkan dia sudah dapat mengendalikan dirinya.

Tapa berarti ‘latihan-latihan untuk mengendalikan diri’. Jadi seorang Tapasvi atau ‘praktisi tapa’ adalah seseorang yang telah berhasil mengendalikan dirinya. Yang bisa disebut tapa bukanlah latihan-latihan untuk mengembangkan tenaga dalam. Bukan juga latihan-latihan untuk menambah kewaskitaan Anda. Menambah atau mengembangkan berarti Anda masih “mengejar” sesuatu. Anda belum tenang, Anda masih gelisah. Berarti Anda belum ber-tapa. Tapa juga berarti “disiplin”. Kendati latihannya sudah benar, tujuannya pun sudah betul—untuk mengendalikan diri—jika Anda tidak melakukannya secara teratur, Anda belum ber-tapa. Hari ini latihan untuk mengendalikan diri, besok tidak. Lusa latihan lagi, lalu berhenti lagi. Ini pun belum bisa disebut tapa. Latihan untuk mengendalikan diri secara teratur, itulah tapa. Berlatih untuk mengendalikan diri pada setiap saat, itulah tapa. *2 Atma Bodha

Lima tahun melakukan tirtayatra ke seluruh negeri membuat rasa cinta dalam diri Rohita tumbuh dan berkembang.

Cinta berasal dari hati nurani. Dan cinta tidak pernah takut. Demi cinta, seseorang bisa melakukan apa saja. Bisa membunuh dan bisa terbunuh. Seorang penguasa bisa meninggalkan kekuasaannya. Seorang raja bisa melepaskan kerajaannya. Itu baru cinta. Cinta terhadap seseorang. Apalagi Kasih! Kasih yang berasal dari lapisan nurani yang terdalam, terbawah, lebih berani lagi. Jika Anda sudah mulai kontak dengan suara hati nurani bila Anda mulai mendengarkan suara hati nurani, penemuan jati diri tinggal tunggu hari saja. Bisikannya saja sudah cukup untuk membebaskan Anda dari rasa takut. Sebaliknya, tidak adanya kontak dengan hati nurani membuat Anda tidak mengenali diri sendiri. *2 Atma Bodha

Pengorbanan keluarga resi Ajigarta

Sunahsepa teringat pertemuan Rohita dengan keluarganya. Dalam perjalanan kembali menuju istana, Rohita bertemu dengan ayah, ibu, dirinya dan kedua saudaranya. Rohita menceritakan kondisi dirinya, bahwa dirinya adalah putra mahkota. Ayahnya sedang sakit dan dia segera ke istana memenuhi janjinya dengan Varuna. Resi Ajigarta, ayahandanya terharu dan berembug dengan ibundanya.

Setelah ayah dan ibunya berembug, maka ayahnya berkata kepada ketiga putranya, “Raja Harischandra adalah raja yang bijaksana, dalam pemerintahannya seluruh rakyat berada dalam keadaan sejahtera. Para resi diberi kesempatan luas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Raja harus sembuh, karena tanpa raja, seluruh rakyatnya akan menderita. Rohita sebagai satu-satunya putra mahkota juga harus tetap hidup agar estafet kekuasaan terlaksana dengan baik. Putra-putraku biarlah salah satu dari kalian berkorban demi negara menggantikan Rohita. Pengorbanan adalah mahkota para satria. Tidak perlu aku kaitkan pengorbananmu dengan agama, dengan surga dan dengan para bidadari. Berkorban demi negara adalah dharmamu, kewajibanmu, tugasmu.”

Rohita berterima kasih kepada keluarganya, dan tanpa menunggu siapa putra yang bersedia melakukan pengorbanan, dia berkata, “Bapa resi, ibu dan ketiga putra bapa, saya berterima kasih, hanya Gusti yang dapat membalas kebaikan budi kalian, walau bagaimana pun saya berjanji akan memberikan seratus ribu ekor sapi sebagai penghormatan.”

Terketuk oleh penjelasan ayahnya, Sunahsepa berkata kepada orang tuanya, “Ayah dan ibu telah membesarkan diri kami sampai kami menjadi anak-anak remaja yang baik. Sudah waktunya aku membalas budi kebaikan kedua orang tua dan sekaligus mewakili rakyat membalas budi kebaikan raja. Aku tahu ayahanda cenderung mendidik kakak sulung agar dapat meneruskan tugas ayahanda. Sedangkan ibunda cenderung kepada adik bungsu yang dapat membuat ibu bahagia dalam menghadapi semua kesulitan hidup. Wahai putra raja, aku ikut dirimu ke istana.”

Sebuah kearifan seorang remaja yang luar biasa yang belum tentu dimiliki para dewasa.

“Alam ini memberi apa yang kau inginkan sebagai pengganti persembahanmu. Tetapi bagi yang menikmati pemberian alam tanpa mengembalikan sesuatu, akan dipertimbangkan sebagi seorang pencuri. Ia yang berkarya dengan semangat persembahan menikmati hasilnya, dengan cara demikian ia terbebaskan dari semua kejahatan. Mereka yang mementingkan diri sendiri, dengan cara demikian mereka memperoleh ketakmurnian”. *3 Bhagavad Gita

Syair Kausika

Bagimana pun sebagai seorang remaja, pikirannya masih sering bergolak dan dirinya telah mencurahkan semua perasaannya kepada sang rajarsi. Dirinya melihat sang rajarsi tertegun dan beberapa hari kemudian mengumpulkan seratus orang putranya, “Aku terketuk tindakan Resi Ajigarta yang bersedia mengorbankan salah seorang dari tiga putranya bagi keselamatan negeri. Aku minta salah seorang dari kamu bersedia menggantikan Sunahsepa sebagai korban persembahan.”

Terjadi keributan dan separuh dari putra-putranya tidak mau dikorbankan dan berdalih, “Ayahanda, bagaimana mungkin seorang putra raja menjadi mempersembahkan nyawanya untuk menggantikan seorang anak remaja terlantar yang cengeng?”

Kausika berkata, “Perilaku dan kata-kata kalian tak pantas diucapkan. Aku berharap kalian tersentuh dan bersedia mengorbankan diri demi kebaikan kalian sendiri. Mereka yang menentang ayahandanya tidak layak untuk dihormati. Seperti halnya putra Vasistha, kalian juga akan menjadi bangsa liar Nisadha selama seribu tahun.”

Setelah lima puluh putranya pergi, Kausika berkata pada dirinya, “Jangan takut dengan kutukan seorang resi, kutukan tersebut memang harus terjadi sebagai akibat dari perbuatan seseorang di kehidupan masa lalu. Kutukan tersebut justru akan mempercepat penyelesaian hutang sebab-akibat dan mempercepat perjalanan spiritualnya.”

Untuk menghasilkan anggur kebijaksanaan, hidupmu harus melewati proses penderitaan. *3 SMS Wisdom

“Sunahsepa, kau harus menemani Rohita dan bersedia diikat pada tonggak korban pada acara Narameda. Kau akan disucikan dan sekarang hapalkan dua buah syair ini. Ketika kau diikat pada tonggak, nyanyikan terus kedua syair ini. ”Semuanya tergantung peruntunganmu, tetapi yakinlah, ‘Sapa sing nandur ngunduh’, siapa yang menanam akan memetik buahnya. Yakinlah terhadap hukum sebab-akibat. Bersegeralah dalam bertindak penuh kasih, memberi pertolongan kepada orang yang menderita kemalangan. Kalaupun kau mati, ini adalah mati yang terhormat, mati yang direstui bunda pertiwi. Perbuatan luhurmu akan datang kembali padamu sebagai kebaikan pada kehidupan mendatang. Agar kau tidak takut menghadapi kematian, larutlah dalam nyanyian ilahi yang kuajarkan kepadamu.”

Perhatikan bunda bumi, dia dinjak-injak, digali dilempari sampah dan bangkai tetapi sang bunda tetap memberi kehidupan. Makanan dan minumanmu siapa yang menyediakan selain sang bunda. Rumahmu juga berada di halaman bunda. Tirulah sang bunda yang hanya memberikan kasih tanpa pamrih. Dia tak membeda-bedakan kamu kelompok ajaran yang mana, suku mana, status bagaimana, semuanya dilayani sang bunda dengan penuh kasih.

Akhir yang menyenangkan

Sunahsepa teringat kejadian yang telah dilaluinya, dan butiran-butiran air matanya membasahi pipinya. Dirinya kemudian dengan penuh kesadaran berkata “Gusti telah membantu meningkatkan spiritualitas kami. Gusti selalu memberikan bimbingan lewat perjalanan spiritual yang melelahkan tetapi membahagiakan. Terima kasih bapa resi, paduka adalah wujud pertolongan Gusti kepada kami. Putra Mahkota Rohita, mari segera ke istana, agar raja segera mengadakan acara persembahan Narameda!”

Dirinya ingat bahwa dirinya terus menerus menyanyikan dengan segenap perasaan syair dari nyanyian ilahi selama acara ritual berlangsung. Sudah tidak ada lagi kekhawatiran dalam dirinya, syair lagu tersebut menenangkan hatinya. Tidak ada ketakutan lagi bahwa dirinya sedang diikat dalam tonggak persembahan. Tonggak pengikat pasu, hewan jinak, yang sekarang menjadi tempat dirinya diikat.

Varuna terkesan dengan nyanyian keilahian dari syair lagu tersebut dan membebaskannya dari korban. Sang raja pun segera dimaafkan kesalahannya.

Sang raja merasa keterikatannya kepada sang putra telah menyebabkan peristiwa menjadi berlarut-larut maka dia ingin belajar Brahmavidya kepada Kausika yang dengan sengan hati meng-iya-kannya.
Kausika berkata, “Raja masih terjerat ilusi atau maya. Sekarang raja punya power of the Will, tekad kuat untuk meningkatkan kesadaran, selanjutnya perlu meningkatkan power of Knowingness, pemahaman kesadaran dan setelah itu harus dilaksanakan dengan power of Action, praktek nyata sehari-hari.”

Kita menjalani kehidupan dalam otak kita. Orang yang kita lihat, rasa basahnya air, harumnya bunga, semuanya terbentuk dalam otak kita. Padahal satu-satunya yang ada dalam otak kita adalah sinyal listrik. Ini adalah fakta yang menakjubkan bahwa otak yang berupa daging basah dapat memilah sinyal listrik mana yang mesti diinterpretasikan sebagai penglihatan, sinyal listrik mana sebagai pendengaran dan dan mengkonversikan material yang sama dengan berbagai penginderaan dan perasaan.

Meskipun orang menganggap material ada di luar kita, cahaya, bunyi dan warna di luar otak kita itu tidak ada, yang ada adalah energi. Benda di luar hanya ada dalam paket energi. Paket energi tersebut dilihat oleh retina. Retina mengirim sinyal listrik ke otak. Otaklah yang menginterpretasikan itu adalah suatu benda. Bunyi juga terbentuk kala gelombang-gelombang energi menyentuh telinga kita, kemudian diteruskan ke otak dan diintepretasikan sebagai bunyi tertentu oleh otak kita.

Fisika quantum memperlihatkan bahwa klaim adanya eksistensi materi tidak mempunyai landasan yang kuat. Materi adalah 99,99999 % hampa. Yang ada diluar otak hanyalah paket-paket energi, otaklah yang menginterpretasikan itu adalah benda. Alam semesta seperti yang kita lihatpun hanya ada karena adanya otak kita. Itulah ilusi maya bagi para resi.

Kausika juga kemudian mengambil dirinya sebagai putranya dan berkata kepada lima puluh putranya. “Sunahsepa kini salah satu dari kamu, dia termasuk kaum Bhrigu.”

Dan Parikesit merasa sangat bahagia, dia begitu terpesona dengan keindahan cerita Resi Shuka.....................
.....

Apa pun yang terjadi di dunia ini terkena hukum sebab-akibat. Hanya menyatu dengan Dia, dapat melampaui hukum sebab-akibat. Alam telah memberikan teladan nyata dalam bertindak altruistis, penuh kasih, tidak membeda-bedakan dan hanya bertindak sesuai dengan kodrat yang ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Bagi mind manusia win-win merupakan sesuatu yang indah, tetapi bagi rasa pengorbanan menjadi lebih indah.

Keindahan bukanlah “agama” baru. Keindahan adalah esensi agama, intisari setiap agama. Apabila Kahlil Gibran mengajak anda untuk menjadikan Keindahan sebagai agama dan memujinya, mengagungkannya sebagai Wujud Nyata, sebagai Manifestasi Tuhan, sesungguhnya ia sedang mengajak anda untuk menyelami kedalaman Agama. Kedalaman setiap agama indah sekali. Dan mereka yang masih berada pada permukaan, sesungguhnya belum kenal agama. *5 ABC Kahlil Gibran

Terima Kasih Guru yang telah mengajari tentang keindahan. Jay Gurudev!

Namaste.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar